2 Ta'limat

Suasana siang yang begitu hening terlihat sangat damai. Gadis kecil berseragam merah putih berlari kecil memasuki rumah mungil sederhana. Senyumannya yang riang di sambut oleh wanita berparas cantik yang sedang memotong sayuran.

"Bundaaaaa..." teriak Clarisyah sambil memeluk separuh tubuh ibunya yang sedang duduk di kursi meja makan. "Isyi ganti baju dulu baru ke dapur nanti seragam sekolahnya kotor loh" ujar Dewi sambil mengelus kepala putri kecilnya. "Hmmmm, iya bunda" sahut Aisyah.

"Bunda bunda..." teriak Clarisyah berlari dari kamarnya sambil membawa selendang panjang di tangannya.

"Iya sayang, ada apa? kamu udah lapar ya, tunggu sebentar ya. Bentar lagi bunda siap masak kok" sahut bundanya

"Mmmmm....bukan itu Bun, Isyi cuma mau nunjukin ini sama bunda. Lihat deh, cantik gak Isyi pakai jilbab?" tanya Clarisyah sambil melilitkan selendang di tangannya ke seluruh kepalanya untuk menutupi rambut hitam terurai sebahu. Dewi yang melihat tingkah putri sulungnya itu hanya bisa tersenyum tipis sambil membantu merapikan selendang yang melilit hampir seluruh tubuh mungil putrinya.

"Nah sekarang baru terlihat rapi dan cantik"

"Gimana Bun? cantik gak"

"Cantik banget, putri bunda memang yang paling cantik" puji Dewi menghibur putrinya.

Terlihat jelas senyuman lebar menghiasi wajah putri kecilnya itu, dia sangat bahagia bisa melihat putrinya bisa tersenyum dan tertawa lepas karena hal sekecil ini.

"Terus isyi ngapain nunjukin ini sama bunda?" tanya Dewi penasaran sambil menarik tubuh putrinya kedalam pangkuannya.

"Bun Isyi mau kalau isyi tamat dari SD Isyi kepingin masuk Pesantren, karena itu isyi sekarang mau belajar menutup aurat. Soalnya kata ibuk guru kalau mau masuk pesantren harus bisa nutup aurat Bun" celoteh isyi di pangkuan Bundanya.

Dewi yang mendengar kata demi kata yang di lontarkan putrinya yang masih berusia 12 tahun sontak terkejut tidak percaya dengan apa yang dikatakan putrinya.

"Hahahaha...kakak isyi mau pesantren? mengaji saja gak bisa gimana mau mau pesantren" ejek gadis kecil yang berusia lebih muda dari Clarisyah. "Memangnya kenapa? tidak salahkan Bun?" tanya isyi memotong pembicaraan adiknya. "Hhhhhh....gak salah sih sayang tapikan...." Dewi berusaha menyusun kata-kata yang baik agar gadis kecilnya itu tidak kecewa dengan jawaban ibunya. Bagaimana tidak, didalam keluarganya tidak ada satupun orang yang bisa mengajarkan anak kecilnya ini untuk mengerti tentang apa yang terjadi di keluarganya sekarang.

~~~~~~~~~~~~~~🌺~~~~~~~~~~~~~~

"Diikuti ya,yang saya ucapkan Ayshadu Alla ilaha illallah..."

"Ays...Ayshadu Al...Alla ilaha illallah...."

"Wa ayshadu Anna Muhammadarrasulullah..."

"Wa ays...ayshadu Anna Muhamad...Muhammadarrasulullah..." Setelah lantunan kalimat syahadat selesai diucapkan suara ucapan syukur terdengar bergemuruh di dalam masjid, suasana yang awalnya tegang perlahan berubah menjadi haru. Tetesan air mata mengalir deras di pipi seorang gadis berparas cantik yang ditemani oleh seorang pria di sampingnya. Air matanya tidak henti-henti membasahi pipinya, tangisan itu bukanlah tangisan kesedihan, tangisan terlihat jelas bahwa itu adalah tangisan bahagia. Disela-sela tangisannya bibirnya terus mengucapkan rasa syukur atas pilihan yang telah di pilihnya.

"Alhamdulillah... semoga Istiqomah ya, ayo-ayo ini mana kerudungnya. Nah, ini cepat di tutup auratnya" ujar seorang laki-laki paruh baya sambil menyodorkan sebuah selendang kepada gadis yang dibimbingnya tadi.

"Baik ustadz..."sahut gadis itu sambil melilitkan selendang di kepalanya untuk menutupi rambut hitam panjangnya yang terurai.

~~~~~~~~~~~~~~🌺~~~~~~~~~~~~~~

"Bunda..." panggil Clarisyah

"Ah...iya sayang" sahut Dewi yang tersadar dari lamunannya.

"Bunda Kenapa?" tanya Clarisyah penasaran melihat bundanya yang tiba-tiba terdiam membisu.

"Eheehh...bunda gak apa-apa kok,cuma teringat sama kenangan bunda dulu aja" jawabnya sambil sedikit tersenyum untuk menutupi kesedihannya.

"Huuuu... palingan bunda malas aja dengarin permintaan kakak tentang pesantren itu, haaaaahhh....gak seru ah" keluh adik perempuan Clarisyah meninggalkan kakaknya dan bundanya berdua. "Hahhhhh...Caca kamu ini suka kali sih gangguin kakaknya, udah sana pergi main di luar aja" tegur Dewi setelah itu matanya teralihkan kepada Clarisyah yang tertunduk dengan wajah murung.

"Hah iya... Isyi sekarang ke kamar aja dulu ya sayang bunda mau ngelanjutkan masak dulu, kan bentar lagi ayah mau pulang kerja" ujar Dewi mengalihkan perhatian Clarisyah.

"Tapi Bun___"

"Oh iya, kalau masalah pesantren nanti bunda tanyakan sama ayah ya, jadi Isyi sekarang ganti baju dulu terus temanin Caca main diluar" Seketika wajah murung Clarisyah mulai memudar dan berganti dengan senyuman tipis yang menghiasi wajahnya.

**********************************************

Setelah hari berganti malam suasana hati Dewi masih saja gusar. Wajahnya dipenuhi dengan rasa bersalah dan bimbang. Dia tidak tau bagaimana dia bisa meyakinkan suaminya untuk memperbolehkan anaknya untuk sekolah di pesantren. Tubuhnya terus bergerak kesana-kemari mengelilingi kamar, yang ada di pikirannya hanyalah rasa cemas dan khawatir. "kamu kenapa sih,dari tadi mondar-mandir terus" tegur Zaki menghentikan istrinya. Langkah Dewi langsung terhenti, tubuhnya langsung terduduk di samping suaminya.

"Mas..."

"Iya, ada apa?"

"Hmmmm.... Isyi, Isyi"

Ketika mendengar nama Clarisyah wajah Zaki langsung berubah ketus "Kenapa dengan Isyi? dia buat masalah lagi ya? masalah apa lagi yang sekarang dia buat? anak itu selalu saja buat masalah"

Dewi yang melihat wajah dan suasana hatinya sedang tidak bagus langsung berusaha menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya "Mas...gak ada masalah apa-apa kok, cuma Isyi tadi bilang dia ingin masuk pesantren mas. Aku bersyukur banget kalau___"

"Gak! gak boleh, Isyi gak boleh masuk pesantren titik!" tegas Zaki kepada istrinya.

"mas...kamu kan tau sendiri Isyi kepingin banget belajar agama,aku sih kepingin banget ngajarin dia. Tapi, aku shalat aja belum benar mas, lah kamu sendiri gimana? kamu sama sekali gak pernah peduli dengan kami maupun ibadah kamu sendiri" ujar Dewi kesal

"Loh kamu kenapa tiba-tiba bawa-bawa masalah aku gak beribadah atau gak sih, kan sudah aku bilang aku sibuk sama kerjaan ku. Aku gak punya banyak waktu, jadi wajar dong kalau aku jarang shalat atau apalah yang lainnya itu. Toh juga kamu kan udah aku ajarkan cara shalat dan membaca Al-Qur'an, ya sudah gak usah ada acara masuk-masuk pesantren segala ngabisin uang aja"

"Tapi mas setidaknya kamu ngerti dong sama keinginan anak kamu, aku aja bangga loh sama Isyi dia masih kecil udah punya keinginan untuk menutup aurat dan belajar agama. Padahal... padahalkan kita sama sekali gak ada membimbingnya sama sekali"

Suara gertakan terdengar jelas didalam rumah keributan yang selalu terjadi tiba-tiba, itu semua membuat Isyi dan Caca ketakutan. Memang betul, ayah dan bundanya sering sekalu bertengkar akibat perilaku Isyi yang selalu saja membuat ayahnya marah walaupun itu terkadang hanyalah hal kecil.

"Kak aku takut, ayah sama bunda bertengkar lagi ya? pasti ini gara-gara masalah kakak tadi ya" tanya Caca dari balik selimut, hanya gelengan kecil yang bisa Clarisyah jawab dari pertanyaan adiknya.

"Mas...kamu tau kan aku ikut memeluk kepercayaan kamu bukan karena kamu, aku memeluknya karena aku yakin inilah pilihan yang terbaik, kamu bilang kita akan berubah bersama, kamu bilang akan membantu membimbingku. Tapi apa mas? sampai sekarang kamu gak pernah menjadi imam di rumah ini, Isyi gak pernah mau belajar ngaji yah karena kamu, kamu terlalu keras mendidiknya. Dia menyangka semua orang akan berperilaku sama seperti kamu jika dia melakukan kesalahan. Dia jadi nakal bukan karena keinginannya mas, dia nakal karena dia ingin kamu memperhatikan dia" ujar Dewi sambil meneteskan air matanya. Dulu dia mengira suami yang dia nikahi adalah suami yang akan membimbingnya hingga akhir tapi ternyata itu hanyalah khayalan belaka semuanya hanya bagaikan mimpi yang hanya terjadi dalam sekejap mata.

Suasana malam itu hening tidak ada suara sedikitpun, hanya sesekali terdengar suara isakan Dewi yang mengantarkan kedua anaknya kedalam mimpi.