1 Prolog

Sudah 45 menit Mika bergeming di tempatnya, menatap kagum dari tempat persembunyiannya pada seorang gadis berambut sebahu yang tengah menikmati alunan musik yang ia ciptakan sendiri. Suara lembutnya mengisi ruangan kosong yang hanya diisi oleh petikan gitar dan hembusan angin sejuk dari pendingin ruangan.

Mika mengingat-ingat. Kalau tidak salah, gadis itu bernama Grizelle Zemira, gadis yang sejak tahun pertama di sekolah menengah dipuja-puja karena suara dan bakatnya. 'Ah' Mika meringis. 'Mungkin tidak sepenuhnya dipuja' batinnya. Ya, mengingat bagaimana gosip-gosip tak pernah luput dari nama Grizelle karena sikap tak hangat gadis itu yang terkesan serampangan. Tak hanya sikap, kalau dilihat-lihat, penampilan gadis itu pun tidak terlalu rapi seperti kebanyakan gadis pada umumnya. Hoodie hitam dengan sablon "Fuck Off" di depannya, tindik perak, sepatu kets putih, kaus kaki pendek, rok seatas lutut dan rambut bob yang tidak disisir. Grizelle seharusnya bersyukur karena parasnya enak dipandang dengan kulit putih bersih dan alis tebal dilengkapi pipi tirus dan bibir sedikit tebal.

Mika merekahkan senyumnya begitu Grizelle menyanyikan bagian reff, kemudian mengerutkan keningnya saat gadis itu terhenti diiringi decakan kesal. "Payah," gumam Grizelle sembari mengacak-acak rambutnya. Grizelle meletakkan kembali gitarnya dengan kasar sesaat sebelum Mika tiba-tiba terperanjat kaget hingga tak sengaja keluar dari tempat persembunyiannya.

"Akh!" pekik Mika untuk kedua kalinya ketika sebuah pel jatuh dan mengenai kepalanya. Sambil mengaduh, ia memandang takut-takut pada Grizelle yang sudah berdiri di depan tempat ia jatuh terduduk. "H-hai?"

Grizelle tak berucap sepatah kata dan mencoba mengintimidasi Mika dengan tatapan mata tajamnya. Yang Grizelle tahu, ruang musik hanya bisa di akses oleh ia dan siswa siswi yang mengikuti ekstrakulikuler musik karena hanya ada 2 kunci yang diberikan oleh pihak sekolah. Dan Grizelle yakin ia tak pernah melihat gadis berwajah bulat dengan rambut hitam panjang dan pipi gembung yang kini makin membesar itu ada di antara para anak musik.

Mika hanya bisa cengar cengir. Ia cepat-cepat berdiri dan menepuk-nepuk rok nya agar tidak kotor. Mika menggigit bibirnya sebelum berkata, "permainan musikmu bagus! Apa kamu les tataboga?" Usainya, begitu menyadari alis Grizelle yang terangkat sebelah, Mika menepuk-nepuk mulutnya sendiri. 'Apa hubungannya gitar dan tataboga, Mika?!?' jerit Mika dalam hati. Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal. "M-maksudku les gitar."

'Mau mati saja rasanya' batin Mika dengan pipi yang memerah karena malu telah bertingkah konyol. 'Tuhan, tolong kutuk aku jadi sapu'

Grizelle menghela nafas. "Apa yang kau lakukan di sini?" tanya nya dengan nada datar yang seolah merasa terusik dengan keberadaan Mika saat ini. Mika memanyunkan bibirnya. "Aku hanya mau melihatmu bermain gitar."

"Hm?" Grizelle bersedekap dada, semakin menajamkan tatapannya.

"Ah baiklah baiklah! Aku hanya mencoba.. mencuri pel," ungkap Mika dengan kepala tertunduk dan nada yang ia pelankan. "Aku disuruh teman-teman sekelasku! Sungguh! Hari ini jadwal piketku dan sapu di kelas kami hilang!" kata Mika lagi dengan wajah memelas yang berusaha meyakinkan Grizelle. Sedangkan gadis di hadapannya hanya memijat kening.

"Pakailah, kembalikan besok" cetus Grizelle yang kemudian memasukkan gitarnya ke dalam tas gitar dan mengambil sembarangan kertas-kertas yang berisi not musik. Tentu saja, Mika yang hanya merasa bersalah hanya bisa gigit jari dengan gugup dan memikirkan cara agar Grizelle tidak berburuk sangka sedemikian rupanya pada Mika.

Mika mengambil pel yang ia butuhkan, kemudian mengekori Grizelle setelah memastikan ruang musik terkunci. Sepanjang lorong, keduanya hanya diam walau suara gelisah Mika dan cara jalan gadis itu yang berisik membuat Grizelle kesal. Ia menghentikan langkahnya, memejamkan mata untuk menetralkan emosi saat Mika menabrak punggung Grizelle. "Hey," Grizelle membalikkan tubuhnya, memandang Mika dari atas sampai bawah. "Kenapa kamu berisik? Apa tidak cukup kamu menggaguku di ruang musik dan mengikutiku sampai sini?" tanya Grizelle.

"Ah, maafkan aku. Aku hanya ingin meminta maaf karena sudah mengganggumu. Tapi aku serius soal permainan gitarmu yang-"

Mika terkejut ketika omongannya di sela oleh decakan Grizelle yang terdengar keras. Gadis itu mendekat ke arah Mika hingga tinggal sepersekian inchi. "Aku tidak peduli, little gurl." Grizelle menyeringai, sementara Mika tak dapat berkutik dan membeku walau hembusan nafas hangat Grizelle menerpa wajahnya. Tak lama dari itu, Grizelle berjalan mundur sambil memegang kedua sisi sablon "Fuck Off" hoodienya dengan senyum miring yang masih terukir diakhiri dengan acungan jari tengah gadis itu yang kemudian berbalik badan dan melenggang pergi begitu saja, meninggalkan Mika yang tak berkedip karena terkejut.

Mika mengatur nafasnya. Dalam hati ia berjanji pada nyawa nya bahwa ia tak akan lagi terlibat hal apapun dengan gadis berbahaya bernama Grizelle.

Find authorized novels in Webnovel, faster updates, better experience, Please click www.webnovel.com/book/in-another-life._17951725205689705/prolog_48189634345229087 for visiting.

Next chapter