1 Harapan Yang Sirna

Disebuah desa kecil, tinggallah gadis mungil bernama Neri. Neri bersama keluarganya, ia hidup dalam kesederhanaan dan berkecukupan. lingkungan keluarga dan tempat tinggal Neri yang masih kental dengan budaya daerah, membuatnya selalu bertindak dengan berfikir terlebih dahulu. Neri gadis kecil yang belum bisa apa2 senang bergaul dengan siapa saja, dia selalu bersikap sopan santun dan ramah tamah. pada suatu hari ketika di pinggir jalan yang sempit Neri melihat seorang anak kecil menenteng tas, memakai sepatu, dan memakai seragam. Dalam benaknya Neri berkata, kapan kah Neri akan mulai sekolah? sambil berlari lari riang Neri pulang kerumah, ibuuu ibuuu teriak Neri, ada apa sayang ? kenapa kamu pulang teriak-teriak? apakah temanmu ada yang nakal? tidak ibu jawab Neri.

Aku hanya ingin menanyakan, kapan aku bisa sekolah? hmmm ibu bergumam, coba kemari sayang ukurlah terlebih dahulu tanganmu apakah sudah sampai memegang bagian telinga yang sebelah kiri Neri bingung dengan perkataan ibu. Ibu melanjutkan perkataannya, angkat tangan kanan mu raihlah telingamu dengan tangan kananmu yang melintasi kepala mu,apakah bisa kamu pegang, Neri pun mengikuti perintah Ibu. wooow belum sampai ibu, ibu tertawa terbahak -bahak tentu saja tak sampai karena usiamu baru lima tahun.kalau mau sekolah usiamu harus sudah enam tahun.

Hari-haripun berlalu hingga waktu pendaftaran murid baru tiba. saat bermain bersama dengan temannya yang bernama Ita, Ita sedang menyiapkan perlengkapan sekolah yang sudah di belinya. Neri bertanya kepada Ita; ta emang kamu mau sekolah dimana? yang dekat rumah saja biar jalan kaki, kamu mau sekolah tidak tanya Ita, sebenarnya sih aku kepingin sih. kalau kamu pingin sekolah sana bilang ke ibumu neri,, besok aku mau daftar sekolah di SD tiga, kalau kamu sekolah nanti kita bisa belajar bersama. Neri pun pulang ke rumah menghampiri ibu,

ibu besok temanku Ita mau daftar sekolah, aku juga kepingin sekolah ibu, iya iya saut ibu, besok akan ibu daftarkan ke sekolah.

Alhamdulillah akhirnya Neri daftar sekolah. Neri sangat semangat sekali pergi sekolah, setiap hari bangun pagi dan menyiapkan perlengkapan sekolah. ibupun mendaftar kan Neri belajar mengaji saat sore hari. Hari- hari Neri sangat indah dan selalu bahagia sejak Neri bersekolah.

Ditengah kebahagian tersebut Allah memberinya ujian yang sangat besar, Allah mengambil ayah Neri saat dia duduk di bangku kelas 3 SD, ayah Neri meninggal dunia karena sakit. Neri sangat sedih dan terpukul hatinya. kehidupan Neri sekarang berbeda hidup yang serba kekurangan