1 Natalia Alisya

"Dan pada akhirnya, sang pangeran hidup bahagia dengan putri mahkota raja. Selesai."

Seorang gadis dengan kaca mata bertengger di hidung bangirnya tersenyum riang. Bibir tipis dengan warna merah murni membuatnya terlihat begitu cantik dan juga menawan. Ditambah dengan rambut sebahu yang hanya dikuncir dengan capitan kecil dan poni di samping kiri, membuatnya terlihat begitu manis di usia yang sudah menginjak dua puluh tahun.

Natalia Alisya, seorang gadis yatim piatu yang saat ini sukses menjadi seorang penulis buku anak-anak. Dia tidak berniat membuat buku mengenai kisah cinta yang menurutnya terlalu klasik. Ditambah dia yang tidak pernah merasakan cinta sama sekali. Bahkan, dari kedua orang tuanya saja dia tidak pernah.

Natalia bangkit dan merenggangkan otot tubuhnya yang terasa kaku karena seharian berada di kursi dan mengetikan beberapa kisah kesukaannya. Kaki jenjangnya mulai melangkah ke arah lemari pendingin dan mengambil jus yang sudah dibuatnya sejak beberapa hari yang lalu.

"Aku rasa masih enak," komentarnya dengan tawa kecil.

Natalia melangkah ke arah kursi ruang tamu di apartemennya dan meraih remot yang ada di dekatnya, menekan tombol power dan mulai menyalakan televisi. Matanya masih asyik menatap seorang kucing yang sejak tadi mengejar tikus, membuat Natalia tertawa kecil karena lucu. Sampai ketukan di pintu apartemen terdengar, membuat Natalia menatap ke asal suara.

Natalia melangkah ke arah pintu dan mengintip siapa yang datang. Setelah dia tahu, dia mulai membuka dan menatap lekat.

"Natalia, kamu gila, hah? Kamu tidak datang di jam kuliah kita hari ini," teriak gadis dengan rambut sepinggang dan dikunci kuda.

Natalia yang mendengar hanya diam dan memutar bola mata kesal. Dia mulai membalik langkah dan menuju ke arah sofa. Rasanya lebih baik melihat acara di televisi dari pada mendengar celotehan Sasa—sahabatnya.

Sasa yang melihat wajah tidak peduli Natalia mulai berdecak kecil. Rasanya ingin sekali memaki gadis tersebut. Namun, rasa haus yang menyerang membuatnya menghentikan niat dan memilih meneguk minuman di depannya.

Natalia hanya berdecak kecil dan menggeleng tidak percaya. "Kamu datang, membuat keributan dan sekarang menghabiskan minumanku," ucap Natalia dengan nada menyindir.

Sasa menatap Natalia yang tertawa dengan sebelah bibir terangkat. Namun, dia memilih diam dan menyandarkan tubuh di sofa, lelah seharian mengikuti pelajaran di kampus. Dia baru menutup mata dan siap terlelap, tetapi semuanya gagal karena dering ponsel Natalia yang mengganggu. Dengan kesal, dia membuka mata dan menatap sahabatnya tajam.

Natalia segera meraih ponsel dan mengangkat panggilan tersebut. "Halo, Pak Arav," sapa Natalia sopan.

Seketika, Sasa yang mendengar menegakan tubuh dengan mata berbinar. Ada semangat dan bahagia ketika mendengar nama pria tersebut diucap. Netranya masih mengamati Natalia yang hanya diam, mendengarkan penjelasan di seberang.

"Baik. Saya akan segera ke sana," ucap Natalia sembari mengakhiri panggilannya.

"Pak Arav bilang apa?" tanya Sasa semangat.

Natalia yang mendengar mengerutkan kening dalam dan memutar bola mata kesal. "Dia menyuruhku untuk datang ke kantor penerbitan. Ada yang mau dia katakan katanya," jawab Natalia santai.

"Kamu membawa mobil?" tanya Natalia.

"Bawa. Kenapa?" Sasa menatap ke arah Natalia dengan pandangan curiga.

"Antar aku ke sana," ucap Natalia tanpa beban sama sekali. "Sekarang aku ganti pakaian dulu," lanjutnya sembari bangkit.

Sasa yang mendengar menatap dengan kening berkrut dalam. Apa? Memangnya dia pikir aku ini sopir dia, batin Sasa kesal.

"Makanya beli mobil, Nat," teriak Sasa menyindir.

"Masih proses, Sa," jawab Natalia dengan suara lantang.

Sasa berdecak kecil mendengar jawaban Natalia. Dari dulu juga bilangnya gitu, gumam Sasa dengan tatapan kesal.

*****

"Kamu yakin tidak mau aku tunggu?" tanya Sasa sembari melongokan kepala dan menatap Natalia yang sudah berdiri di sebelahnya.

Natalia menggeleng pelan. "Tidak perlu, Sa. Aku bisa pulang sendiri saja nanti," jawab Natalia.

"Ya sudah, kalau begitu aku pulang. Jangan lupa katakan dengan Arav kalau aku menyukai dia," ucap Sasa tanpa dosa.

Natalia berdecak kecil dan menatap Sasa kesal. "Jangan begitu, dia sudah punya istri, Sa. Nanti kamu dikira pelakor lho," ujar Natalia mengingatkan.

"Gak masalah dong kalau dia mau," sahut Sasa dengan wajah menggoda.

"Dasar gila," ucap Natalia dengan gelengan kecil.

Namun, Sasa hanya tertawa keras dan menjalankan mobil. Tangannya melambai, membuat Natalia berdecak kecil dan menatap tidak percaya.

Natalia mulai melangkah ke arah perusahan dengan empat lantai di depannya. Bibirnya mengulas senyum tipis ketika bertemu dengan karyawan di perusahaan tersebut. Pasalnya, ini bukan kali pertama dia datang dan semua karyawan di sana sudah mengenalnya.

Natalia melangkah ke arah meja resepsionist dan tersenyum lebar. "Pak Arav ada di ruangan?" tanya Natalia santai.

"Ada. Beliau masih di ruangan dan sedang menunggu kamu," jawab resepsionist tersebut santai.

"Terima kasih," ucap Natalia.

Natalia kembali melangkahkan kaki ke arah tangga. Tidak ada lift di perusahaan tersebut. Kakinya terus menapak satu per satu anak tangga menuju ke ruangan pria tersebut. Hingga dia berada di lantai teratas. Sejenak, dia menghentikan langkah dan membuang napas pelan.

"Kapan pria pelit ini memberikan lift di kantornya," gumam Natalia sembari menegakan tubuh. Dia mulai melangkah ke arah ruangan di depannya santai.

Natalia mengetuk pelan pintu kayu di depannya, menunggu seseorang memberikan izin masuk. Hingga tidak beberapa lama kemudian, terdengar sahutan yang membuat Natalia membuka pintu pelan.

"Natalia. Masuk," sapa pria dengan mata sipit dan kacamata bertengger di hidung mancungnya.

Natalia mengikuti apa yang Arav—pemilik Mega Media, perusahaan penerbitan paling besar. Dia mulai melangkah semakin masuk dan duduk di bangku berseberangan dengan atasannya.

"Ada apa ya, Pak. Kenapa Bapak memanggil saya?" tanya Natalia penasaran.

Namun, Arav hanya diam. Dia malah sibuk membuka laci meja kerjanya, mencari sesuatu yang sudah disimpan. Sampai dia menemukan kertas putih panjang, membuatnya mengulas senyum tipis.

Arav segera menegakan tubuh dan menatap ke arah Natalia lekat. Usia yang sudah menginjak tiga puluh lima tidak membuatnya terlihat tua sama sekali. Perlahan, dia melepaskan kacamatanya dan memberikan kertas tersebut dengan Natalia.

"Ini apa, Pak?" tanta Natalia bingung.

"Buka saja, Nat. Itu memang buat kamu," jawab Arav santai.

Natalia yang sudah merasa penasaran segera membuka. Dengan tergesa, dia mengambil kertas dalam amplop dan membaca khusyuk. Namun, baru beberapa kalimat yang dibaca, keningnya sudah berkerut dalam dan mengalihkan pandangan, menatap Arav dengan rasa tidak percaya.

"Ini maksudnya apa, Pak?" tanya Natalia masih tidak yakin dengan isinya.

"Iya, Natalia. Sebuah penerbitan besar menawarkan kerja sama dengan kamu dan mereka hanya mau kamu. Namun, kali ini bukan cerita anak-anak, melainkan cerita dengan konten dewasa di dalamnya," jelas Arav santai.

Natalia mendengar mengerutkan kening dalam dan wajah yang semakin terkejut.

*****

Next chapter