3 3. The Perfect Night

Rumah Tua Kediaman Ny. Skye.

Amsterdam, Belanda.

Lensanya tajam menatap setiap adegan panas yang ada di dalam layar televisi besar di depannya sembari terus memasukkan satu persatu camilan masuk ke dalam mulutnya. Aktivitasnya sesekali terhenti kala adegan inti dalam film mulai dipraktekkan oleh para pemainnya.

Dua pasangan yang sedang dimabuk cinta dengan penuh gairah dan ambisi untuk memadukan kisah cinta dalam satu adegan penuh hasrat. Mencumbu satu sama lain dengan sebuah aksi gulat yang saling membanting dan menindih untuk 'memenangkan' pertandingan gulat yang sedang mereka lakukan di bawah hangat dan gelapnya selimut.

Suara lagu kini mulai mengiringi setiap tingkah adegan yang dilakukan. Menarik perhatian kumpulan remaja yang kini semakin tegas membulatkan matanya sebab perlahan demi perlahan selimut terbuka. Suasana gelap yang menyelimuti layar pun kini mulai memancarkan cahaya sebab adegan klimaks sudah hampir selesai dilaksanakan.

Film dewasa.. Siapa yang tak suka jikalau seseorang mengajakmu untuk menikmatinya di waktu penutup senja dengan larut malam yang hampir tiba? Semua orang pasti akan menyukainya! Apalagi kalau dinikmati bersama teman-teman baik dengan puluhan camilan dan minuman kaleng untuk mencegah kantuk datang menghampiri. Menyelesaikannya kala tengah malam tiba, dan mengakhirinya dengan sebuah adegan serupa namun tak sama yang ada di dalam dunia mimpi.

Kesukaan atau bisa dikatakan hobi para remaja yang kini mulai menghela napas dan memandangi satu sama lain setelah ketegangan baru saja menyelimuti dalam diri mereka.

"Sudah selesai? Wah cepat sekali!" gerutu satu laki-laki berbadan krempeng dengan kaos tanpa lengan yang membalut tubuh kurus bak orang tak cukup gizi dalam makananya.

Barend Antonius namanya. Orang-orang biasa memanggilnya dengan sebutan Barend, si pria bertubuh krempeng dengan rambut keriting yang memenuhi kepala bulatnya. Parasnya? Tak terlalu tampan. Standarnya orang Belanda. Mata garis tak terlalu lebar dengan hidung mancung dan alis cokelat muda berbentuk garis yang menyiku di kedua sisinya. Garis rahang tegas sebab pipi tirus dan bentuk dagu persegi dan sepasang telinga sedikit cuping. Senyumnya lumayan manis. Dengan suara bariton lirih yang menjadi jenis suaranya kalau ia sedang berbicara dengan lawan bicaranya.

Barend memang tak tampan, namun jangan salah mengira jikalau ia adalah rajanya jomblo-jomblo yang suka mengoda para gadis muda. Barend adalah kekasih dari Eva Margreeth. Seorang gadis cantik dengan tubuh semampai yang mampu menarik segala perhatian para 'kumbang-kumbang' jantan kala ia berlalu di depan mereka. Paras cantik dengan mata bulat, bibir tebal dan rambut panjang tergerai sepunggung adalah lukis wajah yang ada di dalam diri Eva. Caranya berlaku pun lembut dan anggun. Bak seorang putri kerajaan besar yang hidup sederhana sebab Eva adalah gadis seusia Luna yang gila akan kerja.

"Matikan filmnya dan bersihkan sampah kalian. Kalian boleh menginap jika tak ingin mati kedinginan di luar sana," tawar Luna kini bangkit dari tempat duduknya. Menyibakkan kasar selimut tipis yang sedari tadi membungkus kaki ramping nan panjang yang hanya berbalut celana hot pants nike yang menutupi pinggang hingga jatuh tepat di atas pahanya.

"Kita boleh menginap?" sahut seorang gadis berambut pendek. Noa Cornellia Ardie.

Noa? Tepat! Semua orang memanggil gadis bertubuh sedikit gempal itu dengan nama yang amat sangat singkat. Paras Noa? Memang tak secantik Luna maupun Eva. Namun, Noa bisa dibilang memiliki senyum manis yang cukup menawan. Pipinya cubby mengemaskan. Rambut panjang bergelombang yang jatuh menggantung di atas bahu kecilnya.

Noa adalah teman terdekat dari Luna. Bisa dikatakan bahwa jika dibandingkan dengan Eva atau Barend, Noa adalah orang yang paling baik untuk Luna saat ini. Willi, sang kekasih? Ia sama seperti laki-laki pada umumnya. Club malam dan dunia diskotik penuh wanita seksi yang pandai bergoyang dan menari di bawah gemerlapnya lampu adalah dunia kedua kalau Luna dianggap sedikit membosankan kala itu.

"Ada kamar kosong. Toh juga, aku tinggal sendirian." Luna menyahut dengan nada lirih. Berjalan ke sebuah meja panjang dan menuang wine yang ada di dalam botol. Menggoyangkan gelas kecil yang ada di dalam genggamannya sembari menatap para sahabat dekat.

"Willi juga tak akan—"

Ting! Suara bel menyela. Membuat Luna yang baru saja ingin menyelesaikan kalimatnya itu terhenti. Menempatkan fokus lensa cokelat miliknya ke arah pintu yang baru saja dibuka dari luar ruangan.

William Brandy! Laki-laki yang baru saja ingin diceritakannya pada sang sahabat bahwa ia tak akan datang kemari jikalau besok adalah akhir pekan. Luna hapal benar, jikalau malam menjelang akhir pekan, Willi akan lebih memilih club malam untuk menjemput pagi ketimbang datang ke rumah sang kekasih.

"He is here, Nona Skye." Goda Noa melirik sang sahabat.

"Kalian bisa pulang, sekarang." Luna menimpali. Tersenyum ringan pada laki-laki yang baru saja menutup pintu. Menatap sang kekasih dengan penuh senyum kebahagian meskipun semburat kelelahan ada di atas paras tampannya.

Luna ikut melemparkan senyum manis di atas parasnya. Mengambil nampan dan meletakkan sebotol wine yang ada di atas meja dengan ditemani satu gelas berbentuk identik yang ada di dalam genggamannya saat ini. Kemudian kembali melirik Wiliam yang baru saja meletakkan tas jinjingnya di atas meja. Mengangguk ringan seakan paham kode apa yang baru saja diberikan Luna untuknya.

Find authorized novels in Webnovel, faster updates, better experience, Please click www.webnovel.com/book/imperfect-ceo_19128044705360405/3.-the-perfect-night_51383386253613256 for visiting.

Kamar tidur adalah ruang yang menjadi tujuan Luna dengan langkah lenggak-lenggok bak seorang model peraga yang sedang memamerkan busana dan segala atribut yang dikenannya di atas panggung.

"Tolong tutup pintunya dengan benar jika kalian keluar nanti," pintanya melepas mantel yang dikenakannya saat ini.

William kini berjalan ringan. Menyusul sang kekasih masuk ke dalam kamar kemudian menutup pintu kamar dengan lirih. Menatap gadis yang kini sudah duduk di atas sofa besar menghadap ke luar jendela.

Pemandangan yang sempurna. Jalanan Kota Amsterdam yang indah disorot oleh jajaran lampu remang dengan lalu lalang para pengguna jalan.

"You don't welcome me?" lirih William berdiri di belakang sofa. Meraih tubuh sang kekasih dan merangkulnya perlahan.

"Welcome to my room, honey." Suara manis nan lirih kini terdengar masuk ke dalam telinga Willi. Membuat laki-laki itu sigap melompat ke satu sisi sofa dan duduk berhimpit dengan sang kekasih.

"Kau menonton film lagi?" tanyannya kemudian.

Luna tersenyum ringan. Menganggukkan kepalanya untuk mengiyakan kalimat William.

"Barend yang mengajak," ucapnya lirih sembari memainkan kancing baju kemeja yang dikenakan oleh Willi.

"You're teasing me, right?" William menyela. Melirik gerakan jari sang kekasih yang kini mulai membuka dua kancing atas kemeja polos yang dikenakannya.

"Maybe," balas Luna tersenyum manis.

"Haruskah kita melakukannya malam ini?"

Luna menganggukkan kepalanya samar. "Aku hanya mengikuti—" Ucapan gadis itu terhenti kala gerakan cepat mendorong tubuhnya jatuh ke sisi sofa hingga menciptakan posisi setengah tidur.

William menatap tajam sang kekasih yang terus saja mengusap lembut dada bidang miliknya. Jari jemari Luna kini semakin ganas membuka satu persatu kancing kemeja sang kekasih. Seakan ingin mengelitik perut kotak-kotak milik William, gadis itu kini semakin tegas melajukan gerak tangannya.

William kini terpacu. Membalas gerakan sang kekasih dengan mulai meletakkan bibirnya pada permukaan tengkuk leher Luna.

"Kau dalam bahaya, Nona Skye," lirihnya berucap. Membuat sang kekasih hanya terkekeh kecil nan ringan.

Benar, Luna dalam bahaya karena ulahnya sendiri malam ini.

... To be Continued ...

Next chapter