1 Prolog.

Seorang gadis sedang termenung dibalkon kamarnya. Memikirkan bahkan yang tak memikirkannya. Kali ini pikirannya melayang menembus kejadian yang memang tak diinginkannya.

Kali ini hujan turun dengan deras. Seakan tahu perasaan gadis itu. Gadis itu selalu menangis dalam diam. Dia memang tak ingin menceritakan keluh kesahnya pada yang lain, karena baginya ini percuma.

"Terkadang orang lain memang menuntut ingin tahu tanpa ingin peduli" Pikir gadis itu

Entahlah mungkin dia hanya takut, dia hanya takut semuanya pergi dan dia sendiri disini. Salahkah jika dia mengharap dapat sandaran? Bahkan mungkin dia hanya ingin bahu seorang ayah yang siap menanggung semua rasa sakitnya serta tangan lembut seorang ibu yang mampu menghapus semua keluh kesahnya. Bahkan hal sesederhana itu tak mungkin pernah dia dapatkan lagi.

"Apakah aku hanya sesuatu yang tak berguna hingga semesta menghakimiku dengan tidak memberi sedikit kebahagian dihidupku?" Batinnya bersuara seolah tak terima dengan garis takdir.

Baginya setiap hari memang sama. Merenungi garis takdir yang memang membawanya entah kemana. Terkadang ia ingin menyalahkan takdir yang begitu kejam. Tapi ia bisa apa? Ia hanya gadis lemah yang memang berpura pura tegar.

Namanya Anastasya Sabina Clarissa, gadis cantik dengan berjuta-juta rahasia. Selama 16 tahun dia hidup, dia hanya punya satu sahabat, namanya Ellisa Rachel Anindhita. Mungkin hanya Rachel yang tau setiap rasa sakit yang ditanggung Sabina.

Sabina memang cantik, tapi jangan salahkan dia jika sifatnya berubah semenjak kejadian itu terjadi. Dia berubah menjadi gadis cantik yang dingin dan tak tersentuh. Dia membenci keluarganya, sungguh.

Next chapter