1 1

Prolog:

Hutan rimba yang sunyi, lebat dan liar. Itulah sekilas gambaran jika memandang hutan itu dari kejauhan.

Namun jika ada yang berani mendekat hingga memasukinya, terdapat tulang belulang manusia dan binatang yang bergantungan di pepohonan. Terdapat pula beberapa garis batas di pinggiran area nya seluas puluhan hektar, disertai simbol-simbol aneh pertanda larangan memasuki kawasan itu.

Namun selama puluhan bahkan mungkin ratusan tahun tak ada yang berani memasuki kawasan hutan itu.

Hutan itu benar-benar dijaga oleh warga sekitarnya. Larangan untuk tidak memasuki hutan itu memang benar-benar dipatuhi.

Ada semacam kutukan yang diyakini warga, akan bangkit jika seseorang memasuki hutan itu. Keyakinan itu turun-temurun dan terus diwariskan ke anak cucu mereka.

Sampai akhirnya...

****

"Aaaaaahhhh!" Lusia menjerit ketakutan sambil menggelepar-gelepar menghentakkan kaki dan tangannya kesana kemari.

Akar-akar pohon di hutan itu membelit tubuhnya semakin kuat. Semakin beringas seakan hendak meremukredamkan tubuhnya.

Salah satu batang pohon aneh yang mengepungnya terlihat membelah diri dan memperlihatkan gerigi giginya yang tajam, gigi itu membuka mengatup seakan-akan mendecap ingin memakan dirinya.

"Tolooong!" Ia menjerit menjerit lagi. Akar pohon itu bahkan membelitnya semakin kuat agar ia tak bisa bergerak, saat pohon bergigi tajam itu bergerak menghampirinya sambil mengangakan rongga mulutnya...

Gadis itu terlonjak bangun dari tidurnya!

Badannya bersimbah peluh dingin. Dan nafasnya tersengal-sengal. Ia terduduk dengan jantung berdetak kencang.

Bingung brrcampur ketakutan ia menatap sekelilingnya. Semua itu hanya mimpi!

Ia mendapati dirinya ia di kamar kost nya yang sepi.

Saat ia hendak bergerak memgambil air minum, tiba-tiba ponselnya berdering.

DRRRTTT.... DRRRRRT....

Malam-malam siapa yang nelpon? Pikirnya, masih termangu-mangu teringat mimpinya barusan.

Ternyata sambungan dari Rina, sahabatnya yang tinggal di kota Sampit. Ada apa dengan Rina malam-malam begini?

"Hallo?"

"Lusia... lagi ngapain?"

"Ng-anu, lagi membajak sawah.... ya mau bobo. Nelpon malam-malam malah nanya ngapain. Rin, apa kabarnya?"

"Memangnya kamu kerbau, pakai membajak sawah segala. Baik. Ringkas aja. Kamu besok berangkat ke Sampit, ya. Ijin dulu sama atasan. Ongkos jalan akan diganti setelah sampai...."

"Tunggu, memangnya ada apa...?"

"Aku belum selesai ngomong! Om Doni ngajak kita jalan-jalan ke Bali...."

"Horeeeee!!!" Lusia langsung kegirangan sambil mengepalkan tangannya.

"Lus? Lusia...?"

"Ya, ya! Aku mengerti. Udah dulu. Aku mau nyiapin pakaian!" gadis cantik berkulit kuning langsat itu langsung melemparkan ponselnya ke atas meja kamar tanpa mempedulikan Rina yang memanggil-manggilnya di seberang telepon. Tapi beberapa detik kemudian ia berpikir, kenapa seperti ada kolerasi antara mimpinya dengan panggilan telepon dari Rina?

Ia seperti merasa ada sesuatu yang menunggunya di sana, seperti ada kaitan dengan mimpinya barusan.

"Ah, peduli amat! Cuma mimpi!" desisnya. Ia lantas bergegas mengemasi baju-bajunya untuk dimasukkan ke dalam ransel.

***

Kota Sampit ditempuh dalam waktu beberapa jam dari Palangka Raya, dan kini Lusia telah sampai di rumah Om Doni. Om nya Rina yang seorang pengusaha perkebunan sawit.

Rumah itu sangat besar dan megah. Lusia turun dari travelnya, yang disambut oleh Rina sahabatnya SMA. 

"Woi, kamu datangnya tepat waktu!" teriak Rina dari dalam rumah. Gadis hitam manis itu langsung menyambanginya ke depan pagar. Ia tersenyum gembira.

"Memangnya aku salah?" Lusia mencibir seraya masuk ke area rumah yang megah.

"Masuklah! Om Doni sekeluarga masih pada pergi. Sebentar lagi pulang. Yang ada cuma pembantu," kata Rina. "Bawa pakaian yang banyak gak? Tas kamu kok kecil?"

"Memang berapa lama kita ke Bali?"

"Kira-kita tujuh tahunan lah...," cetus Rina asal jawab. Lusia langsung mencibir mendengarnya.

Rina membawa Lusia memasuki sebuah kamar di rumah itu, di bagian lantai atas.

"Habis ini kamu cepat-cepat mandi ya. Biar segar, soalnya habis perjalanan jauh," Rina merapi-rapikan sejenak sprei kasur yang ada di situ. "Lagipula ada Hendra tuh. Kan malu kalau ketemu dia tapi masih belum mandi..."

"Siapa Hendra?" Lusia tercengang.

"Ya sejenis biawak, " jawab Rina asal-asalan lagi.

"Paling-paling juga tukang servis kipas angin, " kata Lusia sambil tertawa.

"Meremehkan kalau belum melihatnya," sahut Rina lagi.

Lusia langsung merebahkan diri di kasur dan tertidur, sementara Rina sibuk membenahi kamar.

"Tapi kita berangkatnya lusa, soalnya Om Doni ada urusan mendesak di perusahaan," kata Rina di sela kesibukannya.

Lusia langsung terlelap lagi secara aneh. Mimpi aneh kembali menghantuinya.

Ia seakan-akan berada kembali di sebuah hutan yang lebat dan asing.

Langkahnya tergesa-gesa. Seperti ada sesuatu yang mengejarnya.

Srek! Srek! Srek! Krosak!

Ia tersaruk-saruk melangkah di antara semak dan ranting kering.

Tubuhnya bersimbah peluh. Tapi ia terus berlari dengan ketakutan.

Terdengar seperti langkah kaki lain menyusulnya dari belakang.

"Oh ada apa pula ini? Di mana aku?"

Ia terus memacu larinya kendati nafasnya mulai terasa sesak.

Suatu ketika ia terjatuh karena tersandung sesuatu di tanah.

Tubuhnya terjerambab ke tanah. Ia menjerit-jerit ketakutan.

Ia ingin bangkit kembali berlari. Tapi sesuatu seperti membelit kakinya. Sesuatu yang kenyal, basah dan berlendir.

Sesuatu yang membuat ia tak bisa bangkit lagi. Bahkan menyeret ia ke dalam hutan.

"Toloooong! Lepaskan! Lepaskan!" Ia meronta-ronta.

"Lus! Lusia!" Rina mengguncang-guncang tubuhnya.

Lusia terbangun. Tubuhnya gemetaran.

Ia menatap Rina dengan kebingungan dan ketakutan. "Oh?! Aku..."

"Kamu mimpi buruk ya?"

Lusia tak langsung menjawab. Nafasnya megap-megap. Dan matanya juga masih membelalak ketakutan. Ia hanya duduk di tepi ranjang dengan dada turun naik.

"Kamu membuat aku takut!" Rina mengernyitkan alis.

"Sori, Rin! Aku cuma kaget aja dengan mimpiku barusan..." Lusia mengatur nafasnya.

"Mimpi apaan? Mimpi kawin sama sopir travel tadi...?" Rina jadi penasaran.

"Amit-amit jabang bayi!" Lusia seketika menjerit. "Itu lebih menakutkan dari mimpiku barusan!"

"Ya sudah! Mending kamu warasin aja lagi otakmu. Jangan menjerit-jerit kayak orang gila begitu!" Rina menggaplok kepala Lusia dengan bantal.

Lusia nyengir.

Tak berapa lama....

Terdengar ketukan di pintu kamar.

Rina membuka.pintu. Ternyata sang pembantu.

"Ditunggu Pak Doni sekeluarga di meja makan..." itu ucapan wanita separuh baya yang ada di ambang pintu. Sejenak ia memandang Lusia sambil tersenyum.

"Om Doni sudah datang? Kok.gak ada suaranya dari tadi? Tahu-tahu sudah ada di meja makan? Ya, Bi, kami sebentar.lagi ke sana,"

Rina bergegas menarik tangan Lusia, tapi menuju kamar mandi. "Kamu mandi sana cepat! Aku sudah lapar!"

"Kalau gak mandi gak apa-apa kan?" Lusia berdiri malas-malasan.

"Ya, gak apa-apa lah. Tapi nanti kamu menyesal..." Rina terus mendorong Lusia untuk masuk kamar mandi.

Lusia akhirnya masuk ke kamar mandi dengan bibir manyun. Ia mandi secepatnya, lantas buru-buru berganti pakaian seadanya.

Saat keluar dari kamar mandi, Rina sudah tidak ada di kamar.

Lusia tersenyum. Mungkin dia lapar sekali, jadi gak sabar menunggu, pikirnya.

Langkahnya gontai saat menuju ruang makan.

Dan....

Oooohhhh!

Langkah Lusia sejenak tertahan.

Di meja makan telah duduk Om Doni dan isterinya, Rina, kedua putra Om Doni yang masih berusia sekitar 10 tahun dan 7 tahun, dan....

Ini yang membuat Lusia sejenak menghentikan langkahnya.

Matanya membelalak.

Seorang pemuda berjaket jeans warna biru duduk di samping Om Doni dengan wajah menunduk mengamati ponselnya.

Tidak terlihat ia sibuk mengambil makanan seperti yang lain. Matanya hanya tertuju pada ponselnya yang tengah ia pegang.

Gila! Itu cowok tampannya kelewat kronis! Pikirnya. Apa dia keluarga Om Doni?

Kulitnya putih, alisnya tebal, hidung mancung, garis.wajahpun sempurna, sekelas bintang sinetron!

Lusia melangkah pelan-pelan ke meja makan. Ada penyesalan di hatinya kenapa ia tidak dandan habis-habisan.

"Lusia, ayo makan," sapa Om Doni.

Ia duduk di kursi agak kikuk. Sungguh mati baru sekali ini ia bertemu dengan pria setampan itu.

Rina dilihatnya tersenyum mengejek ke arahnya.

"Masih capek?" Tanya Om Doni. Pengusaha bertubuh agak gendut itu menyorongkan nasi dan piring lauk-pauk ke arahnya.

Find authorized novels in Webnovel, faster updates, better experience, Please click www.webnovel.com/book/hutan-terkutuk-(curse-forest)_17638864606097405/1_47349060406928309 for visiting.

"Ma-kasih, Om..." kata Lusia agak-agak grogi.

Dilihatnya pemuda tampan itu menatapnya sejenak, tapi.kemudian menunduk kembali menatap ponselnya.

"Kamu mau makan nasi apa mau makan HP, Hendra?" Tegur Om Doni saat dilihatnya pemuda itu hanya memperhatikan layar ponselnya.

"Oh, sebentar pak. Aku lagi memperlajari.peta lokasi lahan yang diributkan itu," kata pemuda itu. Sejenak ia menatap Om Doni seraya tersenyum, lalu kembali menatap ponselnya.

Lusia tanpa sadar terus menatapnya.

"Lus! Ayo makan!" Rina terdengar menyentak dan menepuk bahunya. Karena terkejut sendok nasi di tangannya sampai terlepas dan jatuh ke lantai.

"Ooooh! Sendokmu sampai terempas? Ada apakah dengan dirimu???" Rina membelalak pura-pura terkejut.

Semua mata yang duduk mengelilingi meja langsung tertuju pada dirinya.

Lusia merasakan wajahnya memerah. Ia melirik tajam ke arah Rina. Merasa kesal dengan ulah sahabatnya itu.

Next chapter