1 Sepatu

Hujan semakin turun dengan deras di luar sana, kilatan petir pun ikut adil membuat suasana malam semakin mencengkram. Namun tidak ada satu titik pun ketakutan yang aku rasakan. Aku hanya diam, memandang televisi yang sedang menampilkan sebuah berita liburan.

Sekarang memang sedang liburan akhir tahun, dan memang seharusnya semua orang sedang berlibur ke tempat seperti pantai, taman, pulau, dan tempat lainnya. Sedangkan aku memilih untuk berdiam diri saja di rumah, bukan karena tidak ingin berlibur tapi ada suatu alasan yang membuat ku memilih untuk tetap tinggal.

Waktu sudah semakin larut, tapi Ibu belum juga pulang. Bukan karena aku merasa takut sendirian di rumah, apalagi khawatir. Hanya saja aku takut dia mati terkena petir, dan malah membiarkan ku hidup sendirian. Jangan sampai itu menjadi kenyataan, karena seharusnya aku yang lebih dulu meninggal dari pada orang sepertinya.

Find authorized novels in Webnovel, faster updates, better experience, Please click www.webnovel.com/book/horor-story_17620585106968705/sepatu_47300247298295606 for visiting.

Sedikit mengesalkan memang harus hidup dengan bergantung pada seseorang, rasanya sungguh tidak bebas. Aku ingin keluar dari semua masalah ini, tapi nyatanya memang tidak bisa. Selama aku tinggal bersamanya, maka aku akan mendapatkan tempat tinggal yang nyaman juga makanan enak, yang belum tentu orang lain bisa memberikannya padaku secara percuma. Walaupun sebenarnya aku tidak ingin seperti ini, karena nyatanya harus tetap ada ganjaran dari semua perakuan baiknya padaku.

Namun aku sudah tidak mempersalahkan nya, karena itu sudah berlalu. Jangan salah, meski aku terlihat biasa saja, tapi dendam masih tumbuh besar di dalam diriku. Semakin hari malah semakin besar, dan aku tidak akan pernah melukapan semua kejadian itu.

Baru saja aku bicarakan, Ibu sudah pulang dengan keadaan basah kuyup. Sepertinya dia memang kehujanan, tapi siapa yang perduli aku memilih membiarkannya.

"Hallo sayang, Ibu pulang!"

"Iya Bu." Jawab ku seadanya.

Dia terlihat sangat senang, entah apa yang membuatnya tekrihat begitu bahagia. Sekali lagi aku bilang, tidak perduli. Masih dengan bajunya yang basah dia menghampiriku, dan memberikan ku keresek yang berisi kardus sepatu. Ya aku bisa melihat karena kardus basah itu karena kerek itu tidak bisa membukusnya kardus itu keseluruhan.

"Lihat Ibu membeliksn kamu spatu model terbaru, warnanya sangat cocok dengan bola mata biru mu. Ayo di coba."

Jika semua orang senang dengan pemberian seorang Ibu, dan bahkan rasa sayang mereka akan semakin besar padanya. Berbeda dengan ku, kebencian akan semakin meluap jika dia memberikan ku barang, aku sangat membencinya. Semua pemberian barang yang dia belikan untuk ku, pasti berkaitan dengan itu. Sungguh aku sangat membencinya.

"Ayo dibuka, dan di pakai. Kalau tidak cukup biar aku ganti ke tokonya nanti."

Entahlah sampai detik ini pun aku tidak pernah mengerti semua jalan pikirannya. Aku tidak tau apa dia memang benar pelupa, atau sengaja lupa untuk mengejek ku.

"Cepat pakai!"

"Mau aku pasang di mana, apa kau lupa 5 tahun yang lalu kau sendiri yang potong kedua kaki ku."