1 Prolog

🍁🍁🍁

Bagaimana reaksimu jika seorang laki-laki berparas tampan mengajakmu menikah di hari pertama kalian bertemu? Laki-laki itu, dia adalah....

Albi Permana, seorang pencinta wanita seksi dengan bentuk tubuh layaknya seperti gitar spayol, yang sangat molek dan menggoda matanya.

Deretan wanita yang pernah menjadi kekasihnya dan pernah dekat dengannya, rata-rata dari kalangan model, dan beberapa dari kalangan pramugari. Tidak ada yang mampu menolak pesona seorang Albi Permana, karena hanya dengan senyum tipis saja, sudah mampu menarik puluhan wanita untuk berada disisinya.

Hingga usianya menginjak 30 tahun, Albi belum pernah serius menjalin hubungan dengan seorang wanita. Namun ketika sang adik laki-lakinya, Aldo Permana, mengumumkan akan segera menikah. Membuat Albi panas, mereka itu saingan, dia tidak boleh membiarkan Aldo menikah duluan dan menerima ejekan dari Aldo. Oleh karna hal bodoh itu, Albi memutuskan ia ingin juga segera menikah. Namun sayangnya, Albi belum juga menemukan wanita yang tepat untuk mendampingi hidupnya.

Apa yang salah darinya? Pertanyaan itu yang selalu muncul di kepala Albi, namun ia tidak pernah mendapat jawaban yang konkrit mengenai hal itu.

Albi sangat yakin, tidak ada yang salah dari dirinya. Dia memiliki wajah tampan yang selalu di damba-dambakan para wanita, dengan tinggi badan di atas rata-rata serta bentuk tubuh yang atletis, bahkan para laki-laki banyak yang iri dengan kesempurnaan yang ia miliki.

Dan jangan lupa, ia salah seorang pembisnis muda, yang mampu menembus pasar internasional. Dalam hal karir dan keuangan, tidak perlu di ragukan lagi, Albi adalah rajanya. Ia bisa membeli sepuluh rumah beserta perlengkapannya hanya dengan gajinya satu tahun.

Tapi mengapa sulit baginya untuk menemukan sosok pendamping hidup? Padahal banyak wanita yang mengelilinginya.

"Itu kutukan buat lo, Bi." begitulah yang sering teman-temannya katakan padanya. Katanya, itu kutukan karena dia selalu saja mempermainkan hati perempuan selama ini, karena itu, sekarang ia kesulitan mencari pasangan hidupnya.

Ketika Albi tengah gencar mencari wanita seksi untuk ia jadikan pasangan hidupnya, takdir malah mempertemukannya dengan Radintya Karina, seorang wanita bertubuh gemuk, pencinta coklat dan segala jenis makanan yang berlabel halal dan yang terpenting tidak beracun. Bagi wanita itu, makanan adalah segala-galanya.

Makanan bisa mengembalikan mood-nya yang jelek, makanan bisa membuatnya jadi semangat bekerja. Makanan bisa membuatnya kenyang, walaupun ia harus menelan fakta, bahwa makanan jugalah yang membuat tubuhnya membengkak layaknya drum minyak.

Radin terlalu malas untuk memikirkan bentuk tubuhnya. Ia tidak butuh tubuh seksi seperti para model, yang ia butuhkan hanya lah makan sebanyak-banyaknya tanpa harus memikirkan berat badan. Ataupun memikirkan diet, yang sangat menyiksa badan.

"Kalau kamu takut gendut, hanya karena kamu takut tidak ada laki-laki yang menyukai kamu? Itu sama saja kamu tidak percaya dengan takdir Tuhan."

"Aku selalu percaya, jodoh, rezeki, pertemuan dan maut itu sudah di atur oleh-Nya. Untuk apa aku harus repot-repot memikirkan sesuatu yang sudah di takdirkan? Bikin nambah kerjaan aja."

Itu yang selalu wanita itu katakan jika ada yang bertanya tentang dirinya, terutama berat badannya yang melebihi kata ideal untuk seorang wanita.

Yang membuat Albi tak habis pikir, bagaimana bisa wanita bertubuh gemuk itu telah memikat hatinya tepat di hari pertama mereka bertemu. Bahkan pertemuan mereka tidak layak untuk di katakan romantis. Dan gilanya lagi, Albi malah meminta wanita itu untuk menjadi istrinya.

"Jadilah istriku." Ucapnya tanpa sadar. Untuk sesaat, tidak ada yang bersuara, hening, hanya semilir angin yang terdengar bergerak meniup rambut wanita itu yang hanya sebatas bahunya.

Hingga beberapa detik kemudian, wanita itu membuka suara, "Aku beri waktu 60 detik buat kamu mengubah keputusanmu itu." Kata Radin.

***

Hello, Girlsss....

Ini....

Cerita lama,

pengen banget ngepost

Pengen di lanjutin lagi hehe...

Masih ada yang inget gak sama cerita ini?πŸ˜‚πŸ˜‚

Next chapter