1 My Future Self

"Hei~~ Fuko! Bagaimana kabar prku? Sudah selesai?"

"..."

"Hei-hei apa-apaan ini kau tidak bisa mendengarku?"

BRAK

PLOK

Misi:melempar buku matematika ke wajah penjahat selesai!

Rasakan itu dasar sialan!

Sok-sokan berkuasa sekali mereka. Menyebalkan.

"UGH! Hei! KAU INI CARI MATI YA!"

"... Kerjakan sendiri bodoh! Memangnya kau kira kau punya otak untuk apa? Tanganmu masih sehat tuh bisa menuliskan?"

"Bocah ini!"

GREP

Perhatian:

-Musuh telah mencengkram kerah seragam anda.

-Anda mulai sesak napas.

-Anda merasakan kedatangan lawan-lawan lainnya.

Hmm~~

Mainnya keroyokan ya?

Dasar lemah.

GREP

Perhatian: Anda mencengkram lengan lawan.

"Heh kalau kau memang mau tanganmu sakit tinggal bilang saja!"

SRAT

"AGH!"

Perhatian:

Anda menyayat lengan lawan dengan cutter.

Eh tidak, tidak.

Aku hanya menggoresnya saja.

Kalau begitu aku ganti.

Perhatian:

Anda menggores lengan lawan. Lawan melepas cengkramannya dan memegangi lukanya.

Nah, ini baru benar.

Hahaha...

Sepertinya karena aku terlalu banyak bermain game aku jadi membuat notifikasi jadi-jadian sendiri.

Tap... Tap... Tap...

Oh? Sepertinya teman-temannya juga ingin ikut bergabung?

"Sialan! Sakit! Kau ini! Heh kalian! Jangan diam saja, HAJAR DIA!"

DRAP... DRAP... DRAP...

Hmm...

Lawannya terlalu banyak.

Ini lantai dua bukan?

Kalau aku jatuh ke bawah apa akan sakit ya?

"Sini kau! Anak CUPU!"

Cih, mereka terlalu banyak.

Aku menghindari serangan mereka dan berlari menuju jendela yang terbuka. Menyabet tasku yang ada di dekat sana dan tanpa pikir panjang aku langsung melompat dari jendela lantai dua itu.

Hmmm

Sepertinya aku harus memberi nama skill ini.

Skill: Elang Kebebasan

...

Cih, namanya menyedihkan sekali.

BRUK

DRAK

SRAK

Aduh! Gilak! Sakit!

Tapi, pendaratannya lumayan mulus sih. Hanya telapak kakiku saja yang sedikit nyeri.

"BOCAH GILA! HEI KEJAR DIA!"

Cih, dasar mereka tidak menyerah juga rupanya.

Yah, sekolah sudah usai. Aku tinggal berlari pulang dan selesai.

BATS

DRAP DRAP DRAP

.

.

.

Hah.. Hah...

Akhirnya sampai juga...

Apartemen kesayanganku.

Terima kasih ibu, ayah dan paman yang telah membiyayainya.

Tenang saja, aku akan merawat apartemen pemberian kalian dengan baik.

Aku melangkahkan kakiku kedalam apartemen sederhana yang berada di tengah-tengah kota ini. Sebenarnya ada beberapa keuntungan aku tinggal disini.

Pertama, sekuritinya yang baik.

Kedua, apartemen ini berhadapan dengan kantor polisi, jadi setidaknya para preman sekolah tidak berani mengejarku sampai sini.

Ketiga, di samping apartemen ada supermarket dan juga cafe plus free wifi.

Hmhm, memang tempat terbaik.

Klik

Karena sudah malam, aku menutup korden dan menyalakan lampunya. Tidak tunggu, mumpung pemandangan malam itu sangat menenangkan apa kubuka saja kordennya?

Tidak tidak. Kalau kubuka kordennya nanti cahaya komputerku akan terganggu karena terlalu terang.

Bruk

Aku melempar tas beratku ke kasur dan langsung duduk ke kursi kesayanganku.

Hmm, main game apa aku hari ini...

Tak tak tak

Klik Klik

Aku mulai mengotak-atik komputerku.

Tunggu sebentar bukannya besok ada ulangan kimia?

Ah sudahlah nanti saja jam 10 aku belajarnya. Lagipula ulangan fisika kemarin saja aku bisa mendapat nilai 100 padahal belajarnya hanya satu jam. Hehehe... Anak pintar. Aku bangga dengan diriku sendiri. Haruskah aku memakan pizza besok sebagai hadiah?

.

.

.

Satu jam kemudian.

*Quest selesai*

Hahh.... Capeknya. Akhirnya selesai juga. Jam berapa sekarang?

Aku menyandarkan punggungku di kursi istimewaku sambil melirik ke arah jam yang ada di samping kasurku.

Hm... Jam 9 yah

Makan ah.

Aku beranjak dari kursiku, berjalan menuju dapur.

Clek

Ada mie, sosis dan telur. Baiklah ini saja cukup.

Srak srak

Satu persatu kukeluarkan bahan-bahan makanan itu dan menatanya di meja dapur. Hei kalian jangan salah ya, laki-laki begini aku jago memasak loh. Tapi karena persediaan makanan yang sedikit aku jadi tidak bisa memasak masakan yang mewah. Sebaiknya aku belanja besok.

"Aishh, aku lupa melepas kacamataku. Tapi ternyata semakin lama aki memakainya semakin aku terbiasa. Padahal biasanya hidungku akan gatal."

Aku melepas kacamata palsuku dan menaruhnya di meja dekat televisi. Kenapa aku menyebutnya kacamata palsu? Karena sebenarnya mataku masih sehat, hanya saja aku memakai itu untuk penyamaran.

Sejak kecil ada saja ibu-ibu atau anak perempuan yang menyebutku tampan. Sampai aku kerepotan saat mereka berkelompok dan menghampiriku. Huh... Melelahkan. Padahal aku hanya mau kehidupan yang normal. Teman yang normal. Bukan yang menempel hanya untuk memanfaatkanku saja. Hah...

Sekali lagi aku mendesah. Sudah berapa ksli aku mendesah hari ini? Melelahkan. Hari ini melelahkan!

Sring

Aku mengeluarkan pisau dan mulai memotong sosis-sosis itu. Aku akan memotongnya kecil-kecil dan mencampurkannya di mangkuk mieku. Kenapa aku tidak memakannya secara terpisah? Karena aku pribadi lebih menikmati sosis yang dinikmati bersama kuah mie yang lezat.

Tuk tuk tuk

Syurr

Aku mengisi panci dengan air dan mulai merebus mieku. Disisi lain kompor, aku merebus telur. Agar lebih cepat selesai lebih baik seperti ini.

Aku kembali ke kulkas dan mengeluarkan jus jeruk yang tersimpan disana. Menyajikannya di gelas dan meminumnya sedikit kemudian mengisinya lagi sebelum kusajikan bersama mieku.

7 menit sudah berlalu dan jadilah mieku yang lezat ini. Hehehe...

Aromanya nikmat.

Apa aku harus membeli mie merek ini lagi ya?

Aku membawa nampanku dan meletakkannya di meja tempat aku menaruh kacamataku tadi.

Di depan meja itu terdapat sebuah tv yang menempel di dinding. Tapi aku agak jarang memakai tv itu karena aku kurang suka mendengar berita. Aku tahu berita itu penting sih tapi tetap saja aku lebih memilih menonton serial-serial film tentang misteri atau sejarah. Disitulah masalahnya,chanel di tv itu jarang memunculkan film-film seperti itu.

Apalagi...

Acara seperti itu tidak ditayangkan harini. Di semua chanel tv.

Huhhh....

Sudahlah.

Aku berniat mematikan tv yang tadi sempat aku nyalakan, tetapi ternyata aku malah salah memencet tombol dan berakhir dengan layar putih.

Apa-apaan ini? Apa tvku ngelag?

Haduh, bagaimana aku memperbaikinya...

Saat aku baru saja ingin melahap nasiku, tiba-tiba cahaya putih di tvku semakin terang sampai menyilaukan mataku. Perlahan-lahan aku merasakan tubuhku yang mulai diseret oleh sesuatu.

"Apa ini?!"

Sringggg

.

.

.

" Hei kau! Bangunlah manusia!"

Ughhh

Siapa?

Kepalaku... Sakit...

Aku bangun dari posisi tidurku sambil memegangi kepalaku yang masih sakit ini.

Perlahan-lahan aku membuka mataku. Tampaklah seekor angsa besar ada di hadapanku.

"Ugh... Siapa anda?"

"Aku tidak punya banyak waktu. Cepat taruh tanganmu di meja yang ada di hadapanmu itu."

Huh, tidak sopan. Baru saja aku terbangun, sekarang kau buru-buru mengusirku?

"Untuk apa meja ini? Aku tidak mau melakukan sesuatu yang berbahaya."

" Dasar sombong. Memangnya kau sendiri peduli dengan nyawamu?"

Itu benar, aku orang yang kadang tidak takut mengambil resiko. Intinya aku kurang peduli terhadap nyawaku sendiri saat aku melakukan sesuatu. Memikirkan tentang nyawa adalah hal yang jarang kulakukan.

Tap

Rasa penasaranku meningkat. Tanpa pikir panjang aku menaruh telapak tanganku di meja bundar yang memiliki motif-motif aneh di pinggir-pinggirnya ini.

"Hm, kau cukup tenang juga sebagai seorang manusia. Padahal tadi aku hanya sedikit berbasa-basi saja. Apa sebegitu tidak pedulinya kah kau terhadap nyawamu sendiri? Dan ternyata kau tidak cerewet juga ya. Apa kau tidak penasaran kenapa kau bisa berada disini? Biasanya kan para manusia seperti kalian akan meminta pulang sambil marah-marah."

Yah, aku sudah banyak bermain game dan membaca cerita-cerita fiksi sih, jadinya aku tidak terlalu terkejut. Aku terdiam tidak menanggapi pertanyaan si angsa, malah aku yang bertanya balik kepadanya.

"Hei tuan angsa. Apa maksud dari motif-motif ini?"

Tanyaku sambil memandang angsa putih besar yang memakai sebuah mahkota perak di kepalanya itu.

Apa dia semacam raja angsa?

Atau seperti pemandu awal seperti dalam game?

Tapi kenapa pemandu awalnya adalah seekor raja angsa?

Biasanya kan pemandu awal itu berbadan kecil atau lemah karena kebanyakan dari mereka tidak ikut andil dalam konflik cerita.

"Fuko Shilvary. Usia 16 tahun. Anak yatim piatu. Tinggal sendirian dengan dibiyayai pamannya. Anak pintar yang selalu ranking satu di kelas dan seorang gamer."

"... "

Sringgg

Aku mengalihkan pandanganku ke meja yang sekarang sudah bersinar itu.

Setelah beberapa lama, sinar di meja itu hilang dan seekor burung hantu tiba-tiba muncul di hadapanku.

"Apa ini?"

"Dia adalah pelindungmu. Sumber kekuatanmu. Penjagamu."

"Hei tuan angsa, bisakah kau jelaskan lebih detail tentang semua ini?"

"Singkatnya, kau orang terpilih. Menuju masa depan. Dunia dalam bahaya. Hewan pelindungmu. Sumber kekuatanmu. Teman perjalananmu. Tidak ada waktu. Aku pergi."

Angsa itu perlahan-lahan mulai menghilang.

"Hei! HEI TUNGGU!"

Aku berdiri sambil berteriak memanggilnya. Tapi si angsa itu tidak mendengarkanku sampai sepenuhnya ia menghilang.

Apa-apaan tadi itu?

Lingkungan di sekelilingku mulai berubah semenjak angsa itu menghilang. Ruangan yang tadinya putih menjadi pemandangan teror yang mengerikan.

Rumah-rumah yang hancur. Asap. Orang-orang berlarian. Dan monster...

Apa-apaan ini?

Memangnya ini dunia game?

Apa ini mimpi?

PLAK!

...

Ini bukan mimpi?

DRAP DRAP DRAP

DUK

Aduh!

BRUK

"Ah maaf! Kau tidak apa-apa?"

Aku menerima uluran tangan orang itu yang berniat untuk membantuku berdiri. Tunggu sebentar, aku merasa tidak asing dengan suaranya.

Setelah aku memandangi baik-baik wajah pemuda itu, akhirnya aku menemukan jawabannya.

"KAU!"

"AHH!!"

Diriku di masa depan?

Aku mengedip-ngedipkan mataku, masih tidak percaya dengan semua ini. Sepertinya pemuda di hadapanku juga merasakan hal yang sama.

"Haha... salam kenal diriku di masa lalu."

"... apa-apaan ini? Kau dari masa depan?"

"Lebih tepatnya, kau yang datang ke masa depan."

... itu benar, kalau tidak salah angsa itu juga bilang seperti itu.

"Sepertinya kau memiliki pelindung burung hantu ya... hm...."

"Hei apa yang sebenarnya terjadi disini?"

"Singkat cerita, portal. Monster datang. Pelindung. Kekuatan dan uang."

Cih, kau sama saja dengan angsa itu.

"Ah, aku punya ide. Fuko, diriku, maukah kau bergabung denganku? Ayo kita berpetualang bersama dan menyelamatkan dunia ini.

Huh!

Aku menyeringai mendengar perkataannya. Hampir saja aku tertawa...

"Memangnya aku akan percaya itu? Sekarang aku itu licik, apalagi kalau di masa depan. Alu tidak akan terjebak dalan tipuan yang kubuat sendiri."

"... Ahahaha! Menarik-menarik! Aku bangga pada diriku. Hahaha.."

Berhentilah tertawa bodoh!

KRUUKKK~~~

....

"... kau lapar?"

Sial! Karena tadi aku kurang makan dan langsung di seret oleh angsa itu, aku masih lapar!

"Bagaimana kalau kita bicarakan semua ini di sebuah tempat makan?"

katanya sambil tersenyum padaku.

Memang ada yah tempat makan yang masih buka di situasi begini?

Aku lapar, sudahlah nanti saja di pikirnya. Toh dia tidak akan membunuhku kan? Kalau dia membunuh dirinya di masa lalu berarti dirinya sekarang akan lenyap.

Next chapter