1 Sebelah Tangan

Gadis yang tengah memindahkan bayi mungil dan lucu di tangannya itu kepada sang ibunya mulai menangis. Gadis itu, Melati.

Melati berpamitan kepada majikannya setelah tiga bulan mengurus bayi mereka, setelah menjadi baby sitter bagi baby lima bulan itu.

Melati sedang makan di dapur. Ia terlihat murung karena ia harus berhenti kerja. Bukan karena ia bermasalah, melainkan majikannya akan pindah keluar negeri.

Melati merasa sedih. Sebab ia sudah menyayangi si bayi. Rasanya ia tak sanggup bila harus berpisah.

"Kamu mau ikut sama kami ke luar negeri Melati?" Pertanyaan itu membuatnya kaget. Hingga ia tersedak dan segera mengambil segelas air putih.

"Mak--maksudnya Ibu. Saya terbang naik pesawat terus enggak di Indonesia lagi?" tanyanya dengan polos.

Si majikan tertawa kecil, bagaimana pun juga mereka sudah menaruh hati dan menyayangi Melati seperti adiknya sendiri.

Mengangguk, "itu kalau kamu mau." Dengan segera ia menggeleng, "maaf, Buk. Ati enggak bisa ninggalin keluarga Ati," balasnya sendu, meringis karena tawaran bagus itu ditolaknya.

"Ya sudah. Kamu beres-beres sana gih. Biar nanti kami antar ke kampung."

Gadis itu menuju kamarnya. Menyusun baju serta barangnya. Setelah itu mereka pun menuju kampung Melati.

***

Di dalam mobil, Melati bercakap-cakap dan bermain dengan anak yang ia jaga selama tiga bulan ini.

"Jadi Melati mau kerja apa setelah ini?"

"Untuk sementara Ati mau di kampung dulu, Buk. Sambil menunggu panggilan kerja dari yayasan lagi," jawab Melati tersenyum.

Setelah sampai, Melati berpamitan. Sudah seminggu Melati di kampungnya. Ia mulai merasa bosan dan jenuh.

Pekerjaan sehari-hari yang dilakukannya adalah ke ladang. Membantu Ayah dan Ibu serta merawat beberapa ekor ternak.

Melati yang tengah melamun dikagetkan oleh Ibunya yang membawa sekarung rumput. Ia mendekat, lalu membelai rambutnya.

"Kenapa? Enggak betah ya di kampung, Nak."

Melati tersenyum palsu, "Bukan enggak betah, Buk. Hanya jenuh saja. Ati sudah enggak bisa bantu kasih uang buat Ayah dan Ibuk." Ada penyesalan di suaranya.

Bagaimana juga orang tua tahu mana apa yang sedang dirasakan oleh anak mereka. Bukan uang atau harta, melainkan ketulusannya.

Melati merupakan anak kedua dari lima bersaudara. Dan Melati juga anak perempuan tertua setelah Abangnya.

Ia harus berhenti sekolah sebab kedua orang tuanya tak lagi sanggup membiayainya. Dengan berat hati Melati merelakan masa sekolahnya dengan berkecimpung di dunia pekerjaan. Yang mana ia masih butuh untuk belajar, berteman dan bermain dengan teman sebayanya. Nasib memang tidak ada yang tahu. Dan mereka pun tak bisa memilih untuk berada di roda yang mana.

Di saat Melati ditinggal sendirian oleh Ibunya, ia tak sengaja bertemu dengan teman lama.

Dia adalah rival Melati semasa sekolah. Yang sekarang ia sudah memakai seragam putih abu-abu.

Melati malang. Gadis itu hanya bisa menelan ludah saat melihatnya melambaikan tangan dan tersenyum.

"Hai, Ati. Lama tidak bersua. Apa kabarmu?" sapanya dengan sopan. Ya, gadis itu memang beretika dan memiliki sopan santun yang bagus.

Wajar, ia dididik dan disekolahkan di sekolah ternama dan terlahir dalam keluarga yang berada.

"Oh jadi kamu di kampung untuk sementara aja, Ti. Terus kalau ada kerjaan dari yayasan kamu mau pergi lagi gitu?" balasnya dengan suara yang melemah. Seperti merasa kehilangan.

Gadis yang memegang dagu sambil tersenyum itu berdiri. Ia meraih tangan seseorang dan mengajaknya untuk naik ke atas bukit.

Di sana, mereka berdua berbagi pengalaman masing-masing. "Ahsa, kamu masih enggak suka sama pelajaran seni budaya, haha." Gadis baju abu-abu itu mengangguk kesal, "iya. Kamu tahu kan Ati. Kalau aku itu kaku. Kaku banget malahan. Gak sama kayak kamu yang lentur seperti permen karet." Pujinya.

"Oh iya. Gimana kerjaan kamu di kota. Enak?"

Seperti ada sengatan listrik yang datang, Ati menarik napas panjang. "Gak seenak hidup kamu, Sa. Terkadang kalau aku dapat majikan yang baik, ya senang. Kalau jutek, judes terus pedas. Nyesaknya ya ampun."

"Terus terus?" tanya Ahsa dengan menggebu-gebu.

"Terus nabrak mobil deh. Mati deh. Haha."

"Bercanda deh kamu, Ati."

Masa sekolah memang masa yang indah dan tak terlupakan. Lalu apa jadinya jika kamu tidak bisa menikmati masa-masa itu? Berkumpul dengan teman-teman, bermain, belajar dan merasakan jatuh cinta pada pandangan pertama.

Bertemu di depan kelas, lantas saling malu-malu ketika tidak sengaja berpapasan. Bukan hanya itu, kamu juga tidak punya keberanian untuk menatap mata atau hanya sekadar mengucapkan kata sehay.

Ahsa berhenti sejenak, ia memainkan jari-jarinya. Perasaan yang tak pernah terbalas. "Yang sabar ya, Sa. Aku yakin kok, suatu saat nanti itu cowok akan nyesal karena udah sia-siain kamu." Melati memberikan semangat dan rasa percaya diri.

"Kalau kamu gimana, Ti. Sudah pernah ngerasain jatuh cinta belum?"

"Sa, jangan pernah menanyakan hal seperti itu padaku. Sebab, cinta pertamaku adalah Ayah dan Ibu."

Suara jangkrik mengalun, angin menyertai dan pohon-pohon bergoyang. Bak merestui apa yang diucapkan oleh Melati.

"Ahsa, Melati. Ayuk pulang. Sudah sore ini." Ibu Melati berteriak dan membuat kedua remaja itu membalikkan badan dna mengekor di belakang.

Jauh di dalam hati. Melati juga ingin merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta pandangan pertama. Bertemu di depan kelas dan tersipu malu. Namun harapan itu hanyalah khayalan saja.

Takdir tidak berpihak. Dan alam pun menolaknya. Kisahnya sudah ditetapkan untuk menjadi tulang punggung keluarga dan bekerja. Bukan untuk mengenyam pendidikan.

"Anak gadis enggak boleh duduk di depan pintu apalagi masuk waktu magrib. Pamali." Dengan segera Melati beranjak masuk ke dalam, dan menyiapkan makanan seadanya.

"Kamu capek kerja Sayang?"

"Enggak, Buk. Demi kebahagiaan Ibu sama Ayah dan adik-adik, Ati harus tetap semangat. Ya kan Dek?"

"Hehe, iya dong. Kak Ati harus semangat biar kami bisa makan ayam goreng."

"Hore. Ayam goreng." Tiga adiknya berteriak girang dan air matanya menetes.

"Aku harus kuat. Demi mereka." Ati mengusap air matanya, dan menyuapi adik bungsunya dengan sayang.

Kebahagiaan yang tak pernah didapatkan selama di kota. Setiap bulannya Ati rutin dan terus mengirimkan uang demi memenuhi kebutuhan di kampung. Tak apa jika dirinya kekurangan di kota, asalkan orang yang di kampung bahagia. Tak apa jika baju usang didapatkan, selama mereka mendapatkan baju baru.

Karena hujan tak pernah salah untuk menumpahkan airnya. Ia memilih tempat yang pantas untuk mendapatkan rasa segar.

Mencari orang yang membutuhkan dan memilih untuk bersyukur meski itu hanya bagian terkecil dalam rantai kehidupan.

"Kamu istirahat sana gih. Jangan kecapekan."

"Iya, Buk. Ini Ati mau tidur kok."

Melati mulai menyalakan obat nyamuknya. Di depannya ada orang-orang yang berharga dan penting. Mereka sedang tertidur nyenyak meski dalam keadaan yang kekurangan.

Rumah yang beralaskan kayu, di terangi dengan lampu corong serta sesak. "Inilah alasannya kenapa aku harus semangat dan kuat untuk mencari uang. Agar kalian dapat hidup dan tidur di tempat yang lebih besar lagi." Ati merebahkan tubuhnya dan memejamkan mata. Merasakan tubuhnya beralaskan alas yang tak empuk sama sekali.

Tetaplah menjadi bintang, meski malam tak membutuhkanmu. Tetaplah bermimpi meski itu hanya khayalan semata. Terus bermimpi hingga mimpi itu sendiri yang datang menemuimu. Karena orang hebat adalah mereka yang bisa melampaui batas.

Next chapter