19 Dia yang di Sana

Melati menjalani hari-harinya dengan bekerja keras. Gaji yang kecil membuat dirinya harus pandai berhemat. Untuk mengabari keluarganya di kampung, Melati masih menggunakan ponsel jadulnya.

Meski sering diolok oleh Leta tidak membuat dirinya sedih. Bahkan Melati sudah memberanikan diri untuk membalas ucapan Leta.

"Haha, itu handphone atau sabun sih. Kaku banget. Dih kasian, gak bisa Facebookan, wa sama vc an. Duh nangis deh." Oloknya dengan tertawa terjungkal di meja kasir.

Sedangkan Melati memasukkan ke kantung bajunya. Lalu mulai menjemur pakaian. Dari gedung tingkat atas, Melati melihat betapa indahnya gedung-gedung pencakar langit.

Di arungi dengan jalanan hijau. Wah, tidak membosankan. Ia menghembuskan napas, lalu menlap peluh yang ada.

Turun ke bawah, melihat nasi yang sudah di masaknya ternyata tinggal sedikit. Ia melihat Leta yang sedang makan dengan santai sambil memainkan gadgetnya.

Perutnya keroncongan. "Ya Allah laper banget." Melati memutuskan untuk pergi ke warteg. Ia memesan sepiring nasi dan sup.

Keesokan harinya, Melati kembali membeli makanan di warteg yang sama. Tak sengaja ia berkenalan dengan seorang mahasiswa. Sagar, sebut saja namanya Sagara.

Laki-laki yang berambut gondrong, memiliki alis tebal dan senyuman yang menggoda.

Sagara tak sengaja menumpahkan minumannya di baju Melati. Jujur, Sagara tak sengaja.

"Maaf, Mbak. Saya tidak sengaja," kata Sagara. Ia melihat gadis itu tengah membersihkan sisa minumannya di baju.

"Iya, tak gak apa-apa kok, Mas." Balas Melati. Mata mereka saling beradu.

Sagara tidak percaya dengan mata Melati yang indah. "Cantik." Pujinya.

Namun Melati sudah pergi. Keesokan harinya, Sagara datang lebih awal. Bermaksud ingin meminta maaf lagi sekaligus berkenalan.

Melati yang baru datang bingung harus duduk di mana. Sebab, semua meja sudah terisi penuh. Gadis itu pun memilih putar balik. Namun, ia ditahan oleh seseorang.

Pemilik alis tebal yang mengotori bajunya. "Mbak, duduk sini saja. Teman-teman saya sudah mau pergi kok." Sagara mempersilahkan dirinya untuk duduk.

Karena perut yang sudah kelaparan, Melati tak menolaknya. Dua minggu mereka berkenalan. Setiap hari Sagara selalu menyediakan tempat duduk untuk Melati.

Melati merasa diperlakukan dengan baik. Tetapi, ia tak ingin terjebak dengan cinta. Ia harus bekerja keras agar memberikan fasilitas yang bagus untuk keluarganya di kampung.

"Mbak Melati tinggal di mana?"

"Hm, saya kerja di laundry depan situ, Mas." Melati menunjuk Leta yang sedang berselfi-selfi.

Sagara hanya mengangguk, paham. "Kerja atau yang punya?"

"Kerja, Mas." Jelas Melati lagi.

Karena rasa laparnya sudah hilang. Melati pun membayari makanan itu dan berpamitan untuk kembali ke laundry.

Diam-diam Sagara memperhatikan Melati. Ia melihat Melati yang begitu keras bekerja, semangat yang membara. Ia kagum dan terkagum.

"Woi, lagi liatin siapa sih Lo!" Tegur salah seorang kawannya.

Sagara tertawa kecil, "ada deh."

"Cewek ni pasti. Bagi-bagilah, brother."

"Lo kira makanan bisa dibagi, Oon."

Melati merasa letih, ia terduduk di belakang. Tetapi tangannya masih sibuk memilah pakaian.

Di depan ada keributan. Ia segera ke depan. Leta sedang cekcok dengan seseorang.

Wanita itu memaki teman kerjanya. Melati ikut bicara untuk menenangkan situasi.

"Buk, ada apa ini?"

"Mel, ini. Si Leta kerjanya gak becus. Masak ngebungkus baju saja tidak rapi. Apa sih yang dikerjakan dia."

"Enak aja nyalahin gue. Tu salahin si Melati. Dia yang ngemas pakaian ini semua." Cecarnya dengan berapi-api, namun merasa tidak bersalah.

"Sebentar biar saya lihat dulu." Melati mengambil plastik hitam itu dari tangan si Ibu.

Ia bingung, karena kemasannya sudah berbeda. "Mbak, ini kenapa kemasnya sudah robek?"

Melati mengangkat tangannya. Ia ingat betul bahwa ia dengan bagus dan rapi. Tidak ada lecet sedikitpun.

"Lah kok lo nanya ke gue. Itu salah lo lah." Jawab Leta dengan emosi.

"Kalau kamu tidak salah kenapa harus marah-marah?"

"Siapa yang nggak marah distuduh kek gitu, coba kalian di posisi gue. Pasti kalian akan marah juga!'" isaknya. Dengan pandai berakting dia layak menjadi bintang film.

Tetapi mereka sudah mengenal Leta, tetap tidak percaya. Dan memilih untuk percaya kepada Melati.

"Kami percaya kepada Melati. Bukan sama kau, karena kau sudah sering berkilah." Tambahnya dengan kesal, lalu menjambak rambut Leta.

Terjadilah adegan berantem di keduanya.

Kepercayaan dan kejujuran sangat diperlukan dalam dunia sekarang. Karena generasi kini sudah hilang akal akan hal itu. Mereka merasa tidak bersalah dan percaya diri dengan menipu orang lain.

Apalagi orang tersebut lemah dan tidak membalasnya. Yang ada mereka akan sangat senang bermain dengan mangsa.

Melati sudah mencoba untuk melerai mereka. Namun, hal itu malah semakin terjadi lagi. Gadis itu pun memilih ke belakang, mengerjakan tugasnya lagi.

Membiarkan mereka menjadi tontonan banyak orang.

Sagara terlihat melongo. Tetapi ia hanya melihat, bukan membantu. Sebab, Melati tak ada di sana. Jadi gadis pujaannya aman.

Melati mendengar masalah itu akan dibawakan ke hukum, ia segera berlari ke depan. Meminta agar tidak memperpanjang masalahnya.

"Buk, saya akan ganti pakaian Ibu yang rusak. Tolong jangan dibawa ke ranah hukum," mohon Melati.

Melihatnya, membuat si Ibu mengurungkan niatnya. Lalu memperingati Leta agar tidak menyentuh pakaiannya lagi.

"Awas kau ya!" Menjambak sekali lagi rambut panjang Leta yang sudah berantakan.

**

Malam datang dengan cepat. Lauk pauk habis, Melati bingung harus bagaimana. Ia mengintip dari balik jendela keluar rumah.

"Aman, bismillah. Semoga gak kenapa-kenapa." Ia melangkahkan kaki membeli sayur.

Sedikit gelap, dan tidak terlalu terang. Keadaan jalanan cukup ramai, jadi nyali Melati ada untuk berjalan seorang diri.

Setelah selesai, dirinya langsung bergegas ke laundry dan mengunci rapat-rapat.

Dia makan dengan lauk seadanya dan nasi yang hanya tinggal kerak saja. Letta begitu rakus dengan menghabiskan semua makanannya.

Tetapi Melati masih bersyukur bisa makan, tidak tahu bagaimana dengan orang luar sana.

"Alhamdulillah," ia mengucapkan syukur saat selesai makan.

Tidur dengan kasur yang usang, namun terlihat bagus di matanya. Melihat kembali buku harian, mencurahkan isi hati.

Bagaimana dengan Devano? Apakah dia sudah tidur. Lalu terapinya masihkah berjalan? Huh, ia meniup ujung poninya.

"Semoga kamu baik-baik di sana ya," ia masih menyimpan gelang tangan yang mereka beli ketika berada di pasar kala itu.

Melati memilih membawa barang yang tidak berharga bagi orang lain, namun itu sangatlah penting bagi dirinya.

Ia menatap gelang itu dengan syahdu, mengingat senyuman Devano. Kenapa wajah laki-laki itu terus menghantuinya?

Apakah dia merasakan hal yang sama dengan Melati? Entahlah, ia tak tahu. Yang jelas, mereka berdua sekarang tidak memiliki sangkut paut apa pun.

Semoga bahagia selalu. Jangan lupa tersenyum. Walau pun hidup ini kejam, kita harus lebih santai namun mematikan.

Next chapter