8 BAB VII

Seminggu kemudian..

Wanda dikurung orang tuanya dan mereka memberhentikan Wanda dari sekolah. Wanda tidak boleh keluar rumah tanpa ijin lagi karena waktu itu orang tuanya pikir Wanda sudah berani melanggar batasan. Ini semua gara-gara Ical.

Bekas ciumannya masih kentara walau sudah pudar. Kalau dipikir-pikir bagus juga ia dikurung. Kecil kemungkinan akan bertemu Ical.

Ada yang ia sesali. Belanjaannya dan tas sekolahnya ada di atas mobil Ical. Pasti sudah dibuang, pikirnya.

"Wanda, guru privat nya sudah datang.." Mamanya membuka pintu lebar mempersilahkan sang guru masuk.

Ini hari pertama Wanda didatangkan guru laki-laki. Masih muda. Mungkin seumuran.

"Oh, ini anak saya namanya Wanda. Dia putus sekolah karena pergaulannya kurang baik. Barang kali bapak bisa bantu menyadarkan Wanda dan menyemangati Wanda supaya ada wajah cerianya lagi."

Apa sih mama? Ngawur aja.

"Saya akan berusaha membuat Wanda menjadi lebih baik lagi, Bu."

"Oh terima kasih loh.." mamanya mengulurkan tangan mengajak berkenalan guru les Wanda.

Jadi mama tidak kenal laki-laki ini?

"Rega." Membalas uluran tangan mama.

Find authorized novels in Webnovel, faster updates, better experience, Please click www.webnovel.com/book/eleven-pelabuhan-hati-sang-lady-killer_14012619105965105/bab-vii_38079755404231703 for visiting.

"Isabella. Yasudah saya ambilkan minum dulu. Mau minum apa nak, Rega?"

"Kopi hitam saja, Bu."

Mamanya berbalik pergi.

"Aku gak ditanyain mau minum apa?" Wanda cemberut.

"Mama udah tahu pesenan kamu. Sudah sana belajar." Mamanya langsung pergi ke dapur.

"Dikit-dikit dimarahin. Sebel sama mama." Wanda memanyunkan bibirnya.

Rega gemas melihat anak didiknya.

"Wanda?" Yang dipanggil menatapnya.

"Kamu susah dalam pelajaran apa?" Tanya Rega lagi.

"Dalam pelajaran hidup." Wanda datar.

Rega tertawa menatap Wanda. Lucu juga.

"Oke. Sepertinya kamu butuh cerita. Saya akan mendengarkan." Rega mengambil posisi duduk di karpet bulu-bulu tebal samping kasur.

Wanda ikut duduk di sebrang Rega.

"Minumannya datang." Mamanya menurunkan satu persatu gelas juga cemilan.

"Makasih, Bu." Rega sopan.

"Sama-sama. Selamat belajar ya." Mamanya menutup pintu kamar setengah.

"Kamu suka susu coklat?" Rega melihat wajah bahagia Wanda yang menatap susu coklatnya.

Wanda mengiyakan.

"Bapak suka kopi hitam?" Mata tajam yang menatap polos Rega membuatnya terpesona.

"Jangan panggil bapak, ketuaan. Panggilnya kakak aja."

Wanda tersenyum lewat sedotannya.

"Hari ini kita sharing aja. Saya mau tahu tentang kamu."

Wanda menceritakan dirinya dan berbagi kisah dengan Rega.