1 Bab 1

Nao memasuki sebuah rumah kayu, tangan kanannya menenteng keranjang belanja berisikan bahan-bahan untuk masak.

Aroma yang sudah akrab dengan hidungnya menyambut Nao ketika menginjakkan kakinya. Ricard-pamannya sedang tertidur pulas di atas kursi kayu yang sudah usang namun, masih cukup kuat.

Setelah Nao meletakkan barang belanjaannya, ia berjalan perlahan mendekati sang paman, mengambil kendi yang dipegangnya. Pun, menciumnya.

"Minum arak lagi ya" ujar Nao membawa arak itu, lalu membuangnya.

Nao kembali ke dapur untuk memasak. Ia tak habis pikir, kenapa pamannya begitu menyukai meminuman  arak. Bukan maksud Nao ingin  melarangnya, hanya saja sudah begitu banyak uang dihabiskannya hanya sekedar untuk membeli arak.

"Eemm ... Harum sekali, paman pasti suka"

Nao membawa beberapa makanan untuk diberikan kepada pamannya.

"Paman sudah bangun? Kebetulan Nao juga sudah selesai masak. Silahkan paman" Nao mempersilahkan Ricard untuk makan, menyodorkannya agar lebih dekat dengannya.

"Kau kemana kan arak paman?" tanya Ricard dengan suara paraunya.

"I-itu ... M-maaf paman" ucap Nao gugup.

"Kau membuangnya?" Ricard mendekat, menatap wajah Nao yang kini tengah menunduk; takut.

Nao meringis ketika Ricard mencengkeram wajahnya kuat-kuat.

"Kau pikir, berapa uang yang aku habiskan untuk membeli arak itu?"

"Dan kau malah membuangnya?"

"TIDAK TAHU DIRI!" teriaknya sembari menghempaskan wajah Nao.

"Kau seharusnya membelikannya untuk ku! Bukan malah membuangnya!" suaranya kini naik hingga beberapa oktaf.

"Kau selalu saja mengganggu kesenangan ku. Hah!" Ricard mengacak rambutnya frustasi. Pasalnya, dirinya tidak lagi memiliki cukup uang untuk membeli arak.

"Paman, Nao tidak ingin paman tenggelam lebih dalam lagi" ucap Nao akhirnya mulai memberanikan diri.

"Tau apa kau ini. Tidak usah menasehati ku. Asal kau tahu saja, kehadiran kau di sini, hanya menjadi beban saja untuk ku!"

Nao sangat tertohok dengan penuturan pamannya. Ternyata selama ini, pamannya itu hanya menganggap Nao sebagai beban. Bahkan, Nao tidak sampai berpikir sejauh itu.

"Maaf, kalau kehadiran Nao, hanya menjadi beban untuk paman"

Nao mencoba untuk menerima penuturan pamannya; memaksakan senyumnya.

"Ah! Ini paman, selagi hangat, makanlah."

Setalahnya, Nao berlari ke arah hutan. Di bawah pohon besar, Nao menyandarkan punggungnya. Sembari tangannya memainkan daun yang jatuh berguguran.

Aku pikir, selama ini paman tulus merawat ku. Ternyata aku ini hanya beban untuknya.

Apa kedua orang tua ku juga menganggap ku sama seperti paman?

Nao, Nao, kasihan sekali kamu. Di besarkan tanpa cinta dan kasih sayang, lalu di buang begitu saja seperti tidak diharapkan.

Hahaha... Menyedihkan!

"Akhirnya kau pulang juga Nao, paman khawatir dengan mu" ucap Ricard, mengelus rambut Nao lembut.

Ada yang janggal dengan pamannya itu, tapi Nao memilih untuk menepis pikiran buruk tentang pamannya.

Nao tersenyum tipis, "Maaf, Nao sudah membuat paman khawatir"

"Lain kali, jangan diulangi lagi"

Nao hanya mengangguk.

Melangkahkan kakinya menuju kamar miliknya. Nao membaringkan tubuhnya, ia masih memikirkan perlakuan pamannya yang berubah begitu drastis. Ada apa sebenarnya?

Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari. Selama itu pula, Nao selalu mendapatkan perlakuan baik oleh pamannya, entahlah, Nao juga tidak tahu apa penyebabnya. Yang jelas dirinya merasa senang dan tak ingin memikirkan yang aneh-aneh tentang pamannya.

Nao sedang memasak di dapur, tiba-tiba sebuah tangan kokoh melingkar di pinggangnya. Reflek. Nao berbalik lalu mendorong orang tersebut.

"Bernard! Apa yang kamu lakukan di sini?!"

Yah, orang itu adalah Bernard, laki-laki yang berusaha keras untuk mendapatkan Naori.

"Aku? Tentu saja ingin menemani calon istriku memasak" jawabnya enteng.

"Jangan seenaknya berbicara!"

Beberapa kali Bernard berusaha melingkarkan kembali tangannya ketika Nao sedang sibuk memasak.

"Jangan salahkan aku jika pisau ini akan menembus perut mu, jika masih berusaha memelukku!" ucapnya penuh ancaman.

Bernard tertawa renyah.

"Hahaha... Nao, Nao, jangan seperti itu, sebentar lagi kita akan menjadi satu keluarga"

"Ck! Dalam mimpi mu!"

"Hahaha.... Apa paman mu itu tidak memberitahukan mu?"

Bernard mendekatkan wajahnya dengan wajah Nao, membuat dirinya begitu jelas melihat wajah Naori yang halus tanpa polesan.

"Apa maksud mu?"

Nao mulai heran dengan perkataan Bernard.

"Hahaha... Kamu benar-benar ingin mengetahuinya?" Godanya membuat Naori semakin kesal.

"Kamu ingin memberi tahu atau tidak?"

"Baiklah-baiklah, paman mu itu telah menukar kamu dengan beberapa minuman arak. Hahaha ..."

PLAK!!!

"Hati-hati dengan ucapan mu itu Bernard!"

Setelah menampar wajah Bernard cukup keras, Nao pergi berjalan keluar. Dengan Bernard yang mengikutinya dari belakang.

"Sudahlah Nao, lebih baik kamu menerimanya"

"Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah sudi menjadi istrimu!"

"Sayang sekali, tapi paman mu sudah menyerahkan kamu pada ku.Hahaha ... "

"Apa kamu tidak bisa mencari gadis lain selain diriku?"

"Tidak. Karena aku hanya menginginkan mu Nao"

"Tapi aku sama sekali tidak menginginkan mu!"

"Hahaha... Sekarang kamu boleh berkata seperti itu, tapi nanti, aku pastikan kamu akan bertekuk lutut di hadapan ku. Merengek untuk menjadi istriku"

"Cih! Itu tidak akan pernah terjadi"

"Ngomong-ngomong, di rumah ini hanya ada kita berdua ya, bagaimana kalo kita bersenang-senang?"

"Jangan gila!"

"Tidak Bernard! Lepaskan aku! Mau apa kamu hah!?"

Bernard membawa Naori masuk ke dalam kamarnya. Menutup pintunya, menghempaskan tubuh Nao di atas ranjang.