1 Dream Mirror

Hati yang tersesat datanglah ke dream wishes,

Apapun permohonanmu akan kukabulkan,

Asalkan kamu mau menukarkannya dengan sesuatu yang berharga.

Malam yang cerah, kilau lampu dari rumah minimalis ini membuat siapapun yang melewatinya akan merasa penasaran untuk masuk ke dalam. Pajangan-pajangan yang unik dan lucu bertengger di dalam rak dan lemari kaca yang menempel di setiap dinding putih rumah. Berbagai jenis obat-obatan maupun batu-batu kristal dipajang di atas meja bundar dengan diameter 60 cm, kaca berbentuk tabung dengan tinggi 1 meter sebagai penopang meja.

Seekor Lynx putih sedang membersihkan debu-debu yang menempel di pajangan dengan kemoceng yang diapit ekornya yang panjang dan ramping. "Fei, kapan kita bisa liburan bersama? Kamu tidak capek tiap hari buka toko terus dan jarang beristirahat?" tanya Lynx.

"Kapan-kapanlah." jawab Fei pendek sambil menyusun cermin langka yang baru ia dapat kemarin. Lynx mulai kesal dan menggerutu sepanjang membersihkan pajangan. Fei hanya tersenyum melihat tingkahnya.

Tok Tok Tok

"Ada tamu." Fei segera berjalan ke arah pintu lalu membukanya, seorang gadis berambut pendek model bob berdiri di hadapannya. Rambutnya yang hitam pekat memancarkan kilau, wajahnya yang kebigungan membuat Fei tersenyum.

"Selamat datang di toko Dream Wishes. Apa permohonanmu?" tanya Fei langsung tanpa basa basi.

"Maaf, aku ada di mana yah? Barusan aku masih terbaring di kasur baca komik." tanya balik gadis ini.

"Kamu berada di perbatasan dunia mimpi dan dunia nyata, hati yang sedang gundah akan dengan sendiri datang ke tokoku."

"Oh..." jawabnya pendek.

"Apa-apaan sih. Dijelaskan hanya jawab oh." ngomel Lynx.

"Sudah Lynx. Jangan ketus terhadap pelanggan."

"Maafkan tingkahku ini, aku sedang kebigungan," jelas gadis itu. Tangan kuning langsat Fei menepuk pelan bahunya, "Tidak masalah, jadi apa permohonanmu?"

Gadis itu terdiam sejenak, "Aku sedang jatuh cinta dengan sahabatku, tapi aku tidak tahu apakah dia juga memiliki perasaan terhadapku atau hanya sebatas sahabat. Dia menyukai tipe gadis berambut panjang ikal di ujung, feminim, sedangkan aku kebalikannya. Semakin lama, hatiku semakin gusar. Jika aku menembaknya, hubungan persahabatan kami bisa saja terancam." wajahnya terlihat semakin murung, kedua tangannya dikepal dengan erat.

"Ambillah cermin mimpi ini, aku baru mendapatkannya kemarin. Dengan cermin ini, masuklah ke dalam mimpi sahabatmu dan menjadi seperti gadis yang dia sukai. Endingnya tergantung dari dirimu sendiri, apapun hasilnya jangan sampai kamu menyesalinya. Sebagai gantinya berikan padaku sesuatu yang berharga darimu, tergantung dari pilihanmu. Ingin menjadi gadis yang dia sukai atau menjadi dirimu sendiri."

"Baik. Berikan cerminnya." gadis ini menatap Fei dengan tatapan mata yang mantap dan jawabannya terdengar tegas. Fei tersenyum, "Ini tanda perjanjiannya." jari telunjuk tangan kanannya menyentuh dahi gadis itu, muncul sinar biru dari ujung telunjuk dan meninggalkan sebuah tanda milkyway yang bersinar di dahi gadis itu.

"Saat perjanjian kita berakhir, tanda ini akan hilang dengan sendirinya. Hanya kamu yang bisa melihat tanda ini. Jika kamu melanggar perjanjian kita, maka tanda ini akan membekas seumur hidup."

***

"Hei! lagi ngelamunin apa?" Rio menubruk bahu Lisa dari belakang.

LIsa tersentak sesaat menatap Rio lalu memalingkan wajahnya lagi ke arah jendela, "Nggak." jawabnya pendek.

Melihat tingkah sahabatnya yang tak biasa ini, Rio mengalungkan lengan kanannya ke leher Lisa dan menariknya ke dada hingga dia meronta-ronta. "Stop! Stop! Riooo!!" jerit Lisa berusaha melepaskan diri dari rangkulan Rio. Kelas yang semula sunyi senyap menjadi riuh dibuatnya.

Rio tertawa, "Oke.Oke." sembari melepaskan rangkulannya.

Lisa terbatuk-batuk, "Dasar kamu, kurang kerjaan." omel Lisa. Rio tertawa lagi, "Makanya jangan banyak tingkah sama aku." dicubitnya hidung Lisa.

Lisa tersenyum kecil, "Eh, menurutmu aku feminim nggak?"

Mendengar pertanyaan sahabatnya, Rio langsung tertawa lagi. "Hahahaa.." Lisa meninju lengannya agar diam, "Kamu? Feminim? Mana mungkin. Dilihat dari segi manapun kamu tuh tomboy abis." lanjut Rio berusaha menahan tawa.

Lisa menghela nafas, dalam hati dia tahu bahwa dia tidak mungkin terus-terusan menyembunyikan perasaanya terhadap Rio, cepat atau lambat akan ketahuan juga. Kalaupun tidak ketahuan, dia akan menyesal jika sampai Rio direbut cewek lain.

"Dengar-dengar kamu suka ya sama cewek feminim?" tanya Lisa tanpa basa basi.

"Darimana kamu tahu? Kamu nguping pembicaraan kami?" Rio mulai menggoda Lisa.

"Ahh..nggakk. Kebetulan saja aku lewat depan pintu kelas." Lisa mengelak.

"Iya, cewek feminim itu sangat anggun. Apalagi kalau rambutnya panjang, bisa kamu bayangkan kan jika dia jadi mama dai anak-anakku." Rio mulai membayangkan. Lisa semakin cemberut mendengarnya, dia langsung bangkit dari bangkunya lalu berjalan keluar kelas.

"Ei, Lis! Aku belum selesai ngomong nih." Lisa tidak menghiraukan panggilan Rio.

***

Malam harinya, Lisa mencoba cermin mimpi yang dia dapat dari toko dream wishes. Cerminnya disandarkan di bantal, dengan tatapan yang penuh konsentrasi dia membayangkan wajah Rio sampai muncul awan-awan di dalam mimpi Rio. Tanpa menunggu lagi Lisa menyentuh cermin dan dia tersedot ke dalam.

Cahaya yang menyilaukan membuat Lisa memejamkan matanya, hembusan angin yang kuat membuat rambut Lisa melambai-lambai. Perlahan-lahan cahaya yang terang mulai meredup, saat Lisa membuka matanya, betapa terkejutnya ia melihat rambut pendeknya menjadi panjang dan ikal di ujung. Busana casual yang biasa dia pakai, berubah menjadi gaun yang sangat cute. Ditatapnya kedua jemarinya, kukunya menjadi indah dengan warna pink muda. Sneakers putih yang biasa dia pakai berubah menjadi sandal ballet warna cream muda.

"Oh My God! Apa yang terjadi denganku?!" Lisa menjadi histeris melihat perubahan drastis dirinya. Dia segera berlari mencari sesuatu untuk bercermin, rasa penasaran menggerogoti pikirannya, akan seperti apa wajahnya. Langkah kakinya terhenti di depan jendela kaca sebuah cafe. Matanya tertuju pada sosok cowok dengan kaos kerah warna ungu muda, celana kain panjang warna putih yang sedang duduk di barisan kedua dari jendela. "Rio!" serunya.

Rio menoleh ke arah jendela, dilambaikannya tangan. Deg! Deg! Deg! hati Lisa berdegup dengan kencang, jemarinya yang ramping mencengkram erat gaun putih yang dia pakai. Dengan langkah yang agak kaku dia berjalan masuk ke dalam cafe.

Rio tersenyum lembut padanya sembari menarik kursi kayu putih keluar, dipersilahkannya Lisa duduk. (Oh My God... romantisnyaaaa...) hati Lisa terasa berbunga-bunga, semua bunga di dunia lengkap di hati.

"Manis banget kamu malam ini." ucap Rio, tangannya memainkan ujung poni Lisa. Wajah Lisa semakin panas membara, "Biasa aja." LIsa mencoba menenangkan hatinya yang memberontak.

"Kamu jadi sangat cantik dengan model rambut panjang seperti ini, sangat anggun." lanjut Rio dengan tatapan mata yang lembut. Lisa semakin tidak bisa berkata-kata, (Tidakk...rasanya semakin meleleh... Nggak nyangka Rio bisa seromantis ini)

Tangan kiri Rio menggenggam erat tangan kanan Lisa dengan lembut, sedangkan tangan kanannya merongoh sesuatu di saku celana kanannya. Dikeluarkannya sebuah cincin dengan hiasan batu zinc bentuk bunga, dipasangkannya ke jari manis kanan LIsa. "Lisa.. Aku mencintaimu.. Maukah kamu jadi pacarku?"

Lisa mematung mendengar pernyataan cinta dari Rio, dia tidak menyangka akan ditembak Rio. Dengan senang hati Lisa mengganggukkan kepala menerima pernyataan cinta Rio. "Aku juga men..." belum selesai Lisa menyelesaikan kalimatnya, wajah Rio semakin dekat dengan wajahnya. "Ri..." mata Lisa kemudian tertuju pada bayangannya di jendela kaca.

Dia baru sadar bahwa semua ini hanya dalam dunia mimpi, air matanya pun mengalir, "Rio.. Aku juga mencintaimu.. Tapi aku sadar bahwa yang ada di depanku sekarang ini bukanlah hal nyata, melainkan hanya sebuah mimpi. Maaf sudah mengganggu mimpimu.." Lisa segera bangkit dari tempat duduk dan berjalan keluar cafe.

Rio hanya termenung menatap Lisa yang berlalu dari pandangannya.

Lisa kembali ke dunia nyata, dipeluknya erat guling winnie the pooh. Air matanya mengalir terus tiada henti, seperti kran air ledeng yang bocor. "Rio bodoh." omelnya terisak-isak.

***

Keesokan harinya, Lisa termenung lagi. Kali ini duduk termenung di bangku taman sekolah. Tatapan matanya kosong biarpun bola matanya bergerak-gerak mengikuti teman sekolahnya yang berlalu lalang di depannya.

Tiba-tiba, "LISA!" Rio mengagetkannya dengan melompat tepat ke hadapannya.

Lisa hanya diam tidak menghiraukan Rio, "Hei, ngelamunin apalagi?"

"Bukan urusanmu, mending kamu pergi aja deh. Cari cewek rambut panjang yang jadi idamanmu." ucap Lisa ketus.

"Nah, ini nih. Aku mau cerita, semalam aku mimpi kamu loh. Feminim banget, udah itu cantik lagi. Coba kamu yang sekarang jadi feminim gitu, pasti banyak yang suka." goda Rio sembari menyiku lengan Lisa.

Lisa spontan menghempas lengan Rio, "Feminim! Feminim! Selalu feminim!" marah Lisa.

"Loh, kok jadi marah? Aku kan cuma gurau. Dulu aja kamu nggak marah kok."

"Brisik! Kamu tahu nggak sih? Kamu yah sejak kita naik kelas 2 SMA, selalu aja mendikte tingkah laku dan cara aku berpakaian, selalu membandingkan aku dengan yang lain. Sakit tau nggak???!"

"Kamu cuma seorang sahabat! Bukan pacar! Kamu tidak usah sok-sok an gitu." lanjut Lisa marah, saking geramnya dia menahan air mata yang hendak mengalir.

"Aku hanya gurau Lis! Bagiku kamu bukan hanya sekedar seorang sahabat!!" balas Rio, dia menarik lengan Lisa ke arahnya dan menatap matanya lekat-lekat.

"Apa tadi kamu bilang?"

Rio langsung memeluk Lisa, "Aku.. Aku hanya ingin tahu bagaimana perasaanmu terhadapku, makanya aku sengaja membuat gosip tentang gadis rambut panjang yang feminim." jelas Rio.

"Kamu pasti bercanda."

"Nggak. Aku serius, aku suka padamu Lisa. Dari dulu hingga sekarang, hanya saja aku tidak tahu harus bagaimana mengungkapkannya, aku takut kamu tolak." pelukan Rio semakin erat.

Lisa terdiam sesaat, dia tidak menyangka perasaannya benar-benar terbalas. Air mata pun tak terbendung lagi, "Rio bodoh! Aku juga suka padamu." Lisa menangis.

"Kamu juga bodoh, tidak peduli seperti apa dirimu, kelakuanmu, gayamu. Aku tetap suka dengan dirimu apa adanya." Rio membelai lembut rambut Lisa.

***

"Fei! Kenapa cermin mimpinya kembali ke tempatnya lagi?" tanya Lynx.

"Oh, jika gadis itu memutuskan memilih dirinya sendiri maka cermin mimpi ini akan kembali ke sini," jawab Fei sambil menyiapkan makan.

"Jadi kita tidak mendapatkan imbalan donk?'

"Iya." jawab Fei pendek.

"Fei."

"Apa?"

"Bodoh ya." Lynx menatap Fei dengan pandangan emoji meh.

Fei tersenyum kecil, "Ehmm... setidaknya aku nggak sebodoh seseorang yang pura-pura menjelma menjadi Lynx hanya untuk tinggal bersamaku di rumah ini."

"BUKA PINTUNYA!!! LEO!!!" Lynx asli mengedor-ngedor pintu gudang yang ada di bawah tangga kayu.

Lynx palsu tersentak sesaat, "Aishhh.. Ketahuan juga." Leo merubah wujudnya kembali seperti semula.

"Aku tahu kok kamu pura-pura jadi Lynx. Soalnya tidak mungkin aku tidak tahu kebiasaan sahabatku ini." Fei tersenyum geli.

"Hmm.." Leo terdiam seribu bahasa.

"Ayo kita makan sama-sama." ajak Fei sembari berjalan ke arah pintu di bawah tangga.

***

Next chapter