1 Nol : Kematian Fajar

⚠️ Warning : Death ⚠️

Karunia Fajar Mahendra merasakan dirinya sedang dikejar oleh sesuatu. Tidak, dia tak bisa melihat apa yang mengejarnya karena sekelilingnya gelap. Well, meski rumahnya ada di kota S yang adalah jantung provinsi JTim, tak berarti seluruh wilayah bebas gelap dan terhindar dari sesuatu yang mencekam. Begal misalnya, masih ada.

Dia baru saja pulang dari kantor. Lemburan membuat dia angkat kaki dari laboratorium lebih telat dari biasanya dan waktu kini telah menunjukkan tengah malam. Exactly tengah malamnya itu yang membuat situasi tak nyaman begini. Ha. Harusnya Fajar menginap di kantor saja. Tapi jika dia tidak pulang, istrinya ...

Menggelengkan kepala, Fajar menepis semua pikiran negatif. Mulutnya berkomat-kamit membaca doa, meminta perlindungan pada sang Kuasa untuk menyertainya. Sedang tangannya makin menarik gas, membawa motor gede yang ia tunggangi melesat membelah kebon. Entah mengapa firasatnya tak enak.

'Plap plap!' Fajar mengernyitkan mata. Dia melihat dim diberikan padanya dari kaca spion. Lalu tiba-tiba suara keras gas motor menggaung di keheningan malam, 'broooom!' dan secepat kilat, motor di belakang Fajar mensejajarinya.

'COK!' Fajar menegang. Dia pun auto memutar gas lebih dalam lagi. Cepat ia memacu motornya. Tapi sepertinya orang yang membuntutinya tak menyerah, mereka pun melakukan hal yang sama. Beberapa detik unggul, detik berikutnya Fajar tersusul.

Di balik helm cakil yang ia kenang, Fajar membelalak. Matanya membola lebih besar ketika mendapati manusia yang berada di belakang motor pengejarnya mulai berdiri dan mengacungkan pentungan kasti. Yang sedetik disabetkan kuat-kuat ke arah Fajar.

Untung Fajar merunduk di saat yang tepat. Tubuhnya meringkuk rendah kini, motornya sedikit gonjang-ganjing, tapi dengan tangkas Fajar kembali menguasai. Dan cepat ia membawa motornya menjauh.

Satu hal yang Fajar yakini, begal ini mau motornya apa pun caranya. Mereka tak segan untuk membunuh. Bagaimana tidak? Lihat hei, mereka bersenjat—

BWET! tebasan pentungan kasti kembali diberikan. Kali ini Fajar mengelak dengan meliukkan motornya. Keringat dingin mengalir di punggung Fajar kini.

Damn it. Begal-begal ini serius!

Dan kalau serius ... Harus apa? Harus kemana dia? Pulang? Sumpah?! Begal-begal ini bukan anak muda kurang kerjaan, kurang harta. Dari gerak-gerik dan nyali, mereka sepertinya pro. Dan keyakinan dalam bertindak, membuat Fajar yakin para begal ini sudah mengamatinya. Kalau dia pulang, sama saja dia melibatkan orang di rumah. Mana istrinya sendirian dan rumah mereka nyempil ... tidak, tidak. Fajar tak mau membahayakan istrinya!

Menggigit bibir, pria itu memutuskan untuk berubah haluan. Dia sengaja gas pol seperti mau kabur. Namun tegas ia membawa kendaraannya menuju area pertambakan.

Adrenalinnya berpacu, berkali ia melihat ke arah spion, mengamati pengejarnya yang tak begitu jauh tertinggal. Menggigit bibir, cepat pria berbalut jaket tebal ini membanting setir di pertigaan. Ia melesat di jalanan sempit, pematang tambak satu dengan lainnya.

Kanan kiri Fajar adalah tambak. Air menggenang tinggi di sana dan jika salah perhitungan, ban motor bisa selip. Dia akan terperosok.

Fajar sengaja kabur ke sini. Dia berusaha menyetabilkan dirinya sendiri dan meyakinkan diri dia mampu. Itu yang membuat tanpa ragu, dia berani mengendarai motornya dengan kecepatan 60-80 km/jam di sana.

Tak banyak yang bisa melakukan ini. Jika perhitungannya benar, maka begal-begal itu pun ...

Senyum kecil merekah di bibir pria berusia 27 tahun itu begitu melihat pengejarnya tak mampu mengikutinya. Secuil rasa lega merekah di hatinya. Tanpa sadar, pacuan motornya berkurang.

Fajar menekan tombol di motornya, maps muncul di sana. Dari peta, dia tahu jika di depan sana akan ada persimpangan. Kalau ke kiri menuju jurang sedang ke kanan ke desa sebelah. Sesaat, Fajar berpikir.

Oke, akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke desa tetangga dulu. Di sana ia akan nongkrong sejenak dengan bapak-bapak ronda sebelum menuju rumahnya sendiri sejam dua jam kemudian.

Fajar mengulum senyum dengan idenya. Sempurna. Tegas ia mengeksekusi rencananya kemudian. Mungkin di tempat ronda dia akan pinjam hp warga dan menghubungi istrinya. Tentu dia tidak akan menceritakan tentang begal yang menginc—

DRAAAAK! Fajar merasakan motornya oleng hebat. Seseorang baru saja terjun dari atas pohon di sebuah percabangan, jatuh mantap di jok bagian belakang.

Ketiba-tibaan ini membuat Fajar tak bisa mengendalikan motornya. Apalagi kecepatannya 50km/jam. Dalam kejapan mata, motor besar itu jatuh dan ngepot di jalan. GRAAAAK! suara berisik bodi moto menggasruk tanah menggaung sebelum debaman mengikuti, benda itu berputar bebas dan nyungsep ke dalam Rawa.

Kondisi Fajar sendiri tak lebih baik. Ia tak bisa bertahan, dia yakin seseorang yang baru saja mendarat di belakangnya tadi membuat motornya makin liar dan momentum membuartnya terpelanting. Jauh sekali sebelum dia terbentur tanah keras, terpental lagi, jatuh, terpental lagi dan berhenti.

COOOK! SAKIIIIIT!!

Fajar mengerang. Tubuhnya bergetar hebat merasakan efek benturan demi benturan yang tadi dia dapatkan. Matanya terpejam kuat, berjuang melawan sakit yang mencekik. Gila. Dia yakin celana kantornya sobek dan kulitnya mengelupas semua! Atau ada tulang patah.

"Kkkkh," desisan meluncur dari bibir Fajar. Dia tak kuasa, tak berdaya. Bagai daging tak bernyawa, ia teronggok di atas tanah; tengkurap.

"Uh? Helmmu bagus, dek," sebuah suara rendah terdengar dari belakang Fajar. Fajar seketika menegang. Hatinya meneriakkan peringatan bahaya. Namun Fajar tak bisa melakukan apa pun, sayup-sayup di kesadaran yang timbul tenggelam, Fajar mendengarkan langkah diseret mendekat.

"Oho~ Jam tanganmu juga mahal."

Fajar menahan napasnya. Dia merasakan pria entah siapa itu girang melihat benda-benda yang menempel di tubuh Fajar. Begal ini menginginkan semua di tubuhnya.

Berhenti di sisi Fajar, manusia entah siapa bergumam. Fajar bisa merasakan dia jongkok dan menoel-toel tubuh Fajar beberapa kali.

Sebelum tiba-tiba ia memutar tubuh Fajar dan menindihnya.

Fajar terkesiap dengan hal ini. Matanya membelalak, napasnya naik turun tak beraturan. Dia tidak langsung dibacok, tidak, yang ada justru dia diperangkap di antara dua tangan kokoh. Lelaki itu mengurungnya di antara tubuh bidang dan tangannya.

Hm? Wait. Wha—

"AAAAARRRRGGGGHHHHH!" Fajar melolong kencang. Begal di atasnya kini tengah menusuk telapak tangan Fajar yang dikunci di atas kepalanya. Belati tajam melesak turun, darah tumpah ruah. Air mata mengalir deras dari mata pegawai kantoran itu.

Sakit. Sakit. SAKIIIIT!!!

Saking sakitnya, Fajar bahkan tak sadar ketika helmnya dilepas dan dibuang entah kemana.

Satu hal yang Fajar ingat adalah di tengah matanya yang mengabur, ia bertemu pandang dengan begal di atasnya. Orang itu menangkup wajahnya dan memanggil Fajar lagi, "Zen, Zen ... Sayang ..."

Zen? Siapa itu Zen? Otak pemilik rema lurus hitam dan bermanik coklat ini bertanya-tanya. Dia tak mengenali nama yang diucapkan orang itu, tapi entah mengapa ... rasanya familiar.

"S-siapa?" suara serak Fajar mengalun. Ia bertanya, mempertanyakan identitas begal yang entah mengapa tak asing. Dan orang itu, begal berwajah kokoh di sana, tersenyum. Fajar tak bisa melihat dengan jelas, tapi dia yakin guratan di ujung bibir yang melengkung itu ... setengah hati.

Pria itu sepertinya tersenyum dipaksakan. Kenapa?

Namun tanpa bisa mendapatkan jawaban, wajah Fajar di tangkup tangan-tangan besar nan panjang. Fajar hanya bisa berdiam, merasakan lelaki di atasnya makin merunduk, mendekatkan kepalanya ke arah Fajar. "A-apa y—" tanya Fajar terhenti. Suara yang mau keluar terbungkam. Mata Fajar membelalak lebar, hal ini dikarenakan begal di atasnya ... menempelkan hidung mereka.

Bulu roma Fajar berdiri semua. Dia tak mengerti, serius. Apa yang terjadi? Mengapa Begal ini—

"Nganti kapan koen mblenjani janji, Zen? (Sampai kapan mas, kamu mengingkari janji?)," tanya sosok itu dengan mata bergetar, "eh, saiki jenengmu Fajar yo, (eh, sekarang namamu Fajar ya)" lagi senyum lelah tersungging. Namun sekejap mata, senyuman itu hilang, bibir asing mempel di atas bibir Fajar.

Fajar hanya bisa membeku. Jantungnya berdebar kencang sekencang-kencangnya. Memori tak ia kenal mencuat ke permukaan. Suara imajiner memanggil nama yang bukan namanya, menggaung. Mulanya pelan, sebelum lambat laun mengencang. Kencang ... kencang ...

"Nganti kapan, koen lali karo aku? (sampai kapan kamu lupa padaku?)" sang Begal bertanya lagi, nadanya sedih. Detik kemudian kesedihan itu berubah. Amarah meledak-ledak dari suara begal di atas Fajar. "NGANTI KAPAN KOEN TEGO NGELARANI AKU, HA?! NGANTI KAPAN?! (SAMPAI KAPAN KAMU TEGA NYAKITIN AKU, HA?! SAMPAI KAPAN?!)"

Namun melihat Fajar yang tak menjawab dan bahkan berikan tatapan tak paham, ia tertawa. Cepat, ia membawa tubuhnya yang semula melengkung di atas Fajar menjadi tegak. Dan tawanya makin kencang.

Pedih, kental pada tawanya.

Di atas pinggang pria berema hitam itu, sang Begal tersenyum lagi sembil mengeluarkan pisau lipat lainnya. Lihai ia memutar-putar benda tajam itu di depan sang mangsa.

Sayang, Fajar tak memberikan reaksi. Dia hanya memandang lurus sosok di atasnya tanpa bersuara. Itu membuat sosok yang agaknya lebih muda—dari kontur wajah—di sana menghela napas. Senyum getir melengkung. Sedetik dua tiga sepuluh detik, mereka bersitatap.

Hanya saja, karena Fajar masih memandangnya dengan tatapan tak percaya, lelaki itu memilih mengangkat pisau lipatnya tinggi-tinggi.

Dia menarik senyum sesak. "Nek koen ra iso tak miliki, Zen. Koen mending mati, (kalau kau tak bisa aku miliki, Zen. Kamu lebih baik mati)" katanya sebelum 'jleb!' ia tancapkan pisau di tangannya di jakun Fajar.

Detik berikutnya ... dunia Fajar berhenti.

Dan entah mengapa, sebelum mati, Fajar merasakan hatinya mencelos mendengar nada duka si Begal. Ia ingin memeluk pria itu, ingin meminta maaf.

Namun semuanya sudah terlambat.

Ia mati.

[]