1 Part 1

Zevia saat ini sedang berada di meja kerjanya. Ia tengah mengerjakan pekerjaannya di meja kerjanya, di kantor. Tiba-tiba, seseorang menghampirinya.

"Ze, kamu dipanggil boss di ruangannya," ucap Aldo yang mana merupakan asisten dari CEO perusahaan tersebut.

"Aku? Dipanggil sama boss?" tanya Zevia bingung.

Aldo pun mengangguk.

"Iya, buruan, ntar ngamuk itu dia," ucap Aldo.

Zevia pun mengangguk.

"Ya udah kalau gitu, thanks ya do," ucap Zevia.

Aldo pun mengangguk. Zevia lalu melangkahkan kakinya menuju ruangan bossnya.

Tok Tok Tok…

Zevia mengetuk pintu ruangan bossnya terlebih dahulu sebelum memasukinya.

"Masuk!" sahut boss dari dalam ruangannya.

Zevia lalu membuka pintu ruangan tersebut dan memasukinya. Ia lalu menutup kembali pintu ruangan tersebut setelah memasuki ruangan tersebut.

Zevia melangkahkan kakinya menuju meja sang boss.

"Maaf,ada apa ya bapak memanggil saya ke sini? Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Zevia pada sang boss.

"Jika di depan mereka, kamu memang bawahan saya, tapi di belakang mereka, kamu tetaplah kekasih saya," ucap boss dengan ekspresi datar.

"Kalau gak ada yang ingin kamu bicarakan, aku mau ke luar," ucap Zevia ketus.

Dengan cepat, Elvano bangkit dari posisi duduknya.

"Tetap di situ!" ucap Elvano dengan tegas.

Zevia menatap malas Elvano.

"Mau apa sih? Pekerjaan aku itu banyak, jadi jangan ganggu aku kalau itu gak penting," ucap Zevia.

Elvano lalu melangkahkan kakinya menghampiri Zevia.

"Aku mau kita menikah," ucap Elvano seraya mengambil satu tangan Zevia dan menggenggamnya.

Zevia mengernyitkan keningnya.

"Apa? Menikah? Kamu sudah gila ya?" tanya Zevia.

"Kenapa? Kamu gak menikah sama aku? Kamu sudah tidak mencintai aku?" tanya Elvano.

"Elvano, bukan seperti itu. Aku dan kamu itu berbeda, bahkan hubungan kita tidak pernah bisa diterima oleh mama dan papa kamu," ucap Zevia.

"Aku gak peduli, pokoknya aku dan kamu harus menikah," ucap Elvano.

Zevia menggeleng tak habis pikir.

"Jangan aneh-aneh, aku gak mau mencari masalah dengan kedua orang tua kamu dan seluruh keluarga besar kamu," ucap Zevia.

"Apanya sih yang aneh? Aku benar-benar serius ingin menikah dengan kamu, kamu ini kenapa sih? Ngapain sih mikirin kedua orang tua aku dan juga keluarga aku? Mereka itu gak penting dan gak tahu apa-apa tentang hubungan kita. Yang menjalani hubungan ini adalah kita, jadi kita berhak memutuskan apa yang terbaik untuk hubungan kita, gak usah pedulikan mereka," ucap Elvano.

"Tapi aku takut El, aku ini gak ada apa-apanya dibandingkan dengan keluarga kamu itu, atau lebih baik kita akhiri aja ya hubungan kita, aku gak mau ambil resiko," ucap Zevia.

Elvano menekan pundak Zevia, ia lalu mendongakkan kepala Zevia untuk menatap matanya yang menyorot begitu tajam.

"Kamu bicara apa tadi? Mengakhiri hubungan ini? Benarkah?" tanya Elvano.

Glek!

Zevia menelan salivanya sendiri dengan susah payah.

"Iya, aku ingin kita mengakhiri hubungan ini," ucap Zevia.

Elvano semakin menekan kuat pundak Zevia mendengar pernyataan Zevia barusan.

"Sampai kapan pun aku tidak akan pernah mengakhiri hubungan ini!" ucap Elvano dengan penuh penekanan.

"Aku capek harus terus-terusan menjalin hubungan seperti ini sama kamu! Aku capek! Mereka selalu menghina aku, merendahkan keluargaku yang bukan berasal dari keluarga kaya raya seperti kamu, aku capek! Apa kamu tahu itu, Elvano? Kamu gak tahu dan gak akan pernah mau tahu! Aku yang menderita karena hubungan ini! Aku, el," ucap Zevia sedih.

Elvano lalu perlahan menjauhkan tangannya dari pundak Zevia.

"Aku cinta sama kamu, aku gak mau hubungan kita berakhir, aku gak mau Ze," ucap Elvano.

"Aku juga cinta sama kamu, tapi aku gak kuat kalau aku harus terus menderita karena keluarga kamu," ucap Zevia.

"Kita bisa menikah secara diam-diam tanpa sepengetahuan mereka, ayolah ze, menikah denganku, aku gak mau kehilangan kamu, aku ingin bisa memiliki kamu seutuhnya," ucap Elvano.

Zevia terdiam sejenak.

Tok Tok Tok

Tiba-tiba pintu ruangan Elvano diketuk oleh seseorang.

"Sepertinya kamu ada tamu El," ucap Zevia.

"Kamu tunggulah di ruangan sebelah, kita akan melanjutkan obrolan kita nanti," ucap Elvano.

"Aku ke luar aja, aku ingin melanjutkan pekerjaan aku," ucap Zevia.

"Nanti, nanti biar aku ke luar terlebih dahulu, setelah itu kamu boleh ke luar dari ruangan ini, jangan sampai mereka curiga," ucap Elvano.

Zevia pun mengangguk. Zevia lalu bersembunyi di sebuah ruang rahasia di dalam ruangan tersebut. Sedangkan Elvano, dirinya lalu melangkahkan kakinya menuju pintu ruangan. Ia lalu membuka pintu ruangan tersebut.

"Ada apa?" tanya Elvano pada sekretarisnya.

"Maaf pak, saya hanya ingin mengingatkan bahwa sebentar lagi kita akan melakukan meeting dengan klien dari PT. Berkah," ucap sekretaris.

Elvano pun mengangguk.

"Saya ingat. Kamu boleh pergi. Sebentar lagi saya akan ke ruangan meeting," ucap Elvano.

"Baik pak, kalau begitu saya permisi," ucap sekretaris lalu pergi dari hadapan Elvano.

Elvano lalu kembali memasuki ruangannya dan menutup pintu ruangannya.

Elvano lalu memanggil Zevia di ruangan tersembunyi.

"Ze, ke luar," ucap Elvano.

Zevia lalu ke luar dari ruangan tersebut.

"Ya udah kalau gitu aku mau balik kerja ya," ucap Zevia.

"Tunggu," ucap Elvano menahan kepergian Zevia dengan memegang lengan Zevia.

"Ada apa lagi?" tanya Zevia.

"Kamu belum menjawab pertanyaan aku yang tadi," ucap Elvano.

"Pertanyaan kamu yang mana?" tanya Zevia.

"Kamu mau kan menikah sama aku secara diam-diam?" tanya Elvano.

Zevia terdiam selama beberapa saat.

"Gimana? Kamu mau kan? Supaya kita bisa ada ikatan dan orang tua kita gak bisa lagi menentang hubungan kita jika kita sudah menikah," ucap Elvano.

"Hmm, aku gak bisa menjawab sekarang, aku butuh waktu, El, maaf," ucap Zevia.

"Kapan? Kapan kamu akan memberi jawaban atas pertanyaan aku?" tanya Elvano.

"Mungkin besok," ucap Zevia.

"Gak bisa Ze, aku butuh jawaban itu hari ini juga, dan selambat-lambatnya itu nanti malam supaya kita bisa segera merencanakan semuanya dan mengurus semuanya karena untuk hal ini, aku akan melibatkan diri aku dan kamu secara langsung tanpa campur tangan orang lain termasuk Aldo," ucap Elvano.

Zevia menghela nafasnya.

"Oke, nanti malam aku akan kasih jawabannya ke kamu," ucap Zevia.

"Oke, nanti pulang ngantor, kamu bareng aku," ucap Elvano.

"Aku pulang sendiri aja, aku ada urusan soalnya sepulang ngantor," ucap Zevia.

"Urusan? Urusan apa? Kenapa tumben sekali?" tanya Elvano.

"Elvano maaf, aku harus kembali ke meja kerjaku, permisi," ucap Zevia lalu ke luar dari ruangan Elvano.

"Entah kenapa gue merasa bahwa ada sesuatu yang Zevia sembunyikan dari gue? Zevia gak biasanya seperti itu. Ini pasti ada apa-apanya ini, gue harus mencari tahu tentang hal ini," gumam Elvano.

Elvano lalu kembali duduk pada kursi kekuasaannya.

...…

Next chapter