15 Trauma Masa lalu

Selena sedang berada di dalam kamar. Dia melihat tangannya yang sudah dilepas perbannya.

Find authorized novels in Webnovel, faster updates, better experience, Please click www.webnovel.com/book/diam-diam-cinta_18407635505560305/trauma-masa-lalu_52042254369486579 for visiting.

Pergelangan tangan Selena masih bengkak dan jari kelingkingnya sudah bisa digerakkan, karena dia memiliki alasan untuk terus belajar dan mengurung dirinya di kamar. Selena bisa bernafas lega dengan tenang, karena tidak harus keluar dari ruangannya.

Selena meraih salep di atas nakas, itu salep pemberian Lucas.

"Selena.... buka pintu!" gedoran keras dari luar kamarnya, mengagetkan Selena yang sedang duduk melamun.

"Kenapa harus dikunci segala?" Lyana melotot marah.

"Maaf Ma." Selena mengkerut takut.

"Mama mau keluar ke tempat Om mu. Bersih-bersih dan masak." suruhnya dengan nada suara keras. Padahal tanpa perlu wanita itu berteriak, Selena mendengar sangat jelas setiap ucapannya.

"Hahh!" Selena menghela napas. Menatap kepergian ibunya dengan mata penuh harap.

Seandainya saja waktu tidak berubah, berapa bagusnya itu?

Lyana Anastasya merupakan ibu kandung dari Selena, wanita itu baru berusia 32 tahun. Wajahnya sangat cantik dengan kulit putih pucat dan rambut panjang bergelombang. Lyana merupakan wanita tercantik di desa ini, yang kurang beruntung.

Jika saja bukan karena paksaan dari kakek Selena yang memaksa menikahkan Lyana dengan suaminya saat ini. Bisa dipastikan Lyana akan menjadi istri dari mandor di desa ini yang lumayan kaya.

Tapi karena Lyana takut pada kedua orang tuanya, Lyana terpaksa menikah dengan Rayhan yang hanya seorang kuli.

Karena ketidakpuasan dari kehidupan beberapa tahun bersama Rayhan yang penuh kekurangan. Serta didikan keras dari ayahnya; Raynar Raksa sedari kecil, membuat Lyana berwatak keras dan sangat disiplin dalam mendidik anak. Tidak segan dia akan melayangkan tangannya tanpa perasaan menyesal sedikitpun.

Dan Rayhan merupakan sosok suami penurut yang memanjakan istrinya. Bahkan jika Rayhan melihat Selena dipukuli dengan brutal, dia hanya berdiri di sana tanpa sedikitpun menyela untuk sekedar menenangkan amarah dari istrinya.

Kejadian itu masih membekas dalam benak Selena dan itu adalah kejadian yang membuatnya sangat takut pada ibunya sampai sekarang.

Waktu itu Selena masih duduk di kelas 5 sekolah dasar.

Ayahnya baru saja pulang dari rantau. Rayhan mendapatkan pekerjaan selama dua bulan di Bali. Dan saat Rayhan pulang, dia membawa ponsel smartphone yang mulai tren tahun itu.

Selena menatap penasaran ke arah ponsel persegi berwarna hitam. Dia diam-diam meminjamnya saat Ayahnya sedang pergi keluar untuk menjemput ibunya di kebun.

Selena yang tidak tahu apa-apa, dengan raut bahagia dia terus menggenggam ponsel itu ditangan mungilnya.

Saat itu Selena pergi ke rumah Novi, salah satu sahabatnya yang beda sekolah. Tadinya Selena ingin ke tempat Cristine untuk bertanya bagaimana cara menggunakan ponsel pintar itu. Sayangnya, Cristine sedang keluar kota bersama keluarganya. Jadi dia memutuskan untuk pergi ke tempat Novi.

Selena tiba di sana, di rumah berlantai dua milik sahabatnya; Novi sedang bermain dengan ponsel Nokia hitamnya. Dia sedang asyik mengetik di keyboard ponsel itu. Bunyi ketik keras dari jari-jari Novi yang menari lincah diatasnya, selalu membuat Selena terpana. Apalagi saat Novi menyapanya dengan ramah dan jarinya terus bergerak. Menurutnya itu keren sekali.

"Kamu sibuk?" Tanya Selena sambil duduk di sebelah Novi.

Novi menggeleng. Kemudian melirik ke arah Selena, mata sipitnya berbinar saat dia melihat ponsel di tangan Selena.

"Punyamu? Kapan kamu beli? Ini android, keren sekali!" Teriak Novi heboh.

"Punya Ayah. Aku hanya meminjam sebentar. Tapi aku tidak tahu bagaimana menyalakannya. Lihat, itu mati." Katanya sambil memberitahu Novi. Novi mengambil ponsel di tangan Selena, dia mengutak-atik ponsel tersebut. Dan saat akhirnya dia tidak tahu bagaimana menggunakan ponsel itu, Novi menyerah. Lalu kemudian dia tiba-tiba mengusulkan untuk meminta bantuan kepada saudaranya.

Selena mengangguk setuju dan dia di tinggalkan sendiri di sana, dengan ponsel jadul Novi ditangannya, Selena bermain game puzzle.

Karena Selena sudah terbiasa sendirian dan lupa tidak mengecek waktu, itu sudah setengah jam saat Novi meninggalkannya di teras.

Selena sudah selesai bermain game itu dan naik level 4 peringkat. Dia melihat Novi datang dari dalam rumah dan tersenyum lebar kearahnya. Selena sedikit curiga tapi tidak bertanya.

"Ponsel ini mati tadi, baterai habis, jadi aku pinjam milik saudaraku untuk mengisi daya." Kata Novi memberitahu.

Selena hanya mengangguk-angguk saja. Dia meraih ponsel tersebut yang sudah menyala. Cahaya terang terpantul ke matanya dan foto mamanya yang cantik berada di layar, Selena tersenyum. Dia sangat mengagumi dan mencintai sangat ibu.

Novi mencolek tangan Selena, kepalanya menoleh, bingung.

"Apa?"

"Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu. Tapi ini rahasia kita, apa kamu penasaran dan ingin tahu." Novi berbisik pelan ke telinga Selena dan dia merasa geli akibat bisikan menggelitik itu.

Sebelum Selena mengiyakan atau menolak. Novi mengambil ponsel di tangannya. Selena hanya membiarkan meskipun tidak suka.

Lalu ada suara wanita dan pria berbincang. Selena mengerjap dan menoleh ke samping kiri dan ke kanan, mencari suara yang tiba-tiba muncul.

Novi menyetel diam suara di ponsel tersebut. Dengan tertawa mesum dia menyerahkan ponsel itu ke arah Selena, dia tertegun lalu wajahnya memerah malu, telinganya panas dan tangannya gemetar.

Dalam video itu ada seorang wanita dan pria telanjang, mereka berpelukan erat dan bibir keduanya saling menempel. Terakhir saat dilihat oleh Selena adalah pria itu menarik bibir wanita itu dan ponsel pun dia lempar karena terkejut. Ponsel pun mati.

Tangan Selena berkeringat dan wajahnya di penuhi rasa penyesalan dan sedih. Seakan apa yang dilihatnya barusan adalan dosa yang tidak pantas dia ketahui saat ini. Belum waktunya.

"Aku mau pulang."

Sebelum Selena pergi dia berbalik dan menatap serius ke arah Novi.

"Nov, lain kali jangan tunjukkan hal seperti itu lagi padaku. Sangat menjijikkan." Lalu Selena terburu-buru pergi.

Setelah kejadian itu Selena tidak lagi meminjam ponsel Ayahnya. Karena dia memiliki perasaan bersalah dihatinya, Selena gugup dan takut. Dia seperti sudah berbuat dosa pada orangtuanya. Dia ingin mengakuinya, namun rasa takut lebih mendominasi dirinya, Selena menjadi dilema.

***

Don't forget support for this novel. Please vote, review and comment if you like this story. Thank you, guys.

Next chapter