8 Keyakinan

Selena diam. Susu vanila di tangannya sudah habis dia minum, "Aku tidak bisa menolaknya begitu saja, Ris."

Cristine mengayukan tangannya di udara, tidak ingin melanjutkan pembicaraan yang menurutnya tak penting.

"Aku membawakanmu nasi goreng. Masih hangat, makanlah." ucap gadis itu sambil menyodorkan nasi goreng yang diletakkan di sterofom.

Selena membuka tutup itu, dan uap dari nasi goreng menguar. Aroma daging ayam dan sayur-sayuran membuat Selena menelan ludah. Rasanya tidak perlu diragukan lagi. Selain bakso dan mie ayam yang terkenal di kantin sekolah, nasi goreng itupun juga merupakan makanan berat yang para siswa siswi favoritkan.

"Terima kasih." Kata Selena tulus.

"Hum,"

Selama Selena makan, Cristine menatap perhatian pada perban di tangan Selena. Gadis itu hampir saja lupa jika sahabatnya itu sedang terluka. Jadi dia pun meletakkan sendoknya di atas nasi goreng yang sudah separuh dia makan. Lalu mengambil tangan Selena, membelainya penuh perhatian.

"Apakah sakit?" tanya Cristine dengan wajah sendu.

Find authorized novels in Webnovel, faster updates, better experience, Please click www.webnovel.com/book/diam-diam-cinta_18407635505560305/keyakinan_52024190273899848 for visiting.

Selena mendongak, senyum hangat dari bibirnya yang pink terulas, "Tidak apa-apa. Selama aku mengoleskan salep yang ibu Emi berikan secara rutin, nyerinya akan hilang."

Cristine menggigit bibirnya yang bergetar.

"Maaf," ucapnya lirih yang masih bisa Selena dengar dengan jelas.

Selena membeku dengan tangannya yang memegang sendok terangkat setengah jalan, nasi yang sudah dia ambil kembali diletakkan begitu suara serak dari Cristine ia dengar.

"Bukan salahmu, Ris. Please... Jangan seperti ini." Selena tidak menginginkan sahabatnya bersedih seperti ini. Apalagi jika itu adalah karena dirinya.

Namun Cristine sepertinya tidak berpikir sesederhana Selena. Gadis cantik itu tetap merasakan rasa bersalah dikarenakan janji yang dulu dia katakan, memang terbukti hanya ucapan semata.

Andre, benar. Pikir Cristine. Sejak awal, aku hanya bisa berkata-kata saja tanpa pernah membuktikan perkataanku menjadi sebuah kenyataan.

Cristine mengusap matanya yang memerah menggunakan punggung tangannya, sebuah senyuman terbit di bibirnya kemudian, "Ya... Aku tahu, Selena. Maafkan aku, aku tadi terlalu emosional."

Selena bagaimana pun juga tetap merasa tertekan untuk sang sahabat. Dengan penuh kelembutan, gadis itu menggenggam tangan Cristine, meremasnya, "Bukan salahmu, oke?" tanyanya lagi mengingatkan sekaligus meyakinkan.

Cristine mengangguk, "Ini, makanlah..." katanya sambil meletakkan potongan daging ayam ke dalam makanan Selena.

***

Di dalam kelas 11-A, Sosok pria yang tak lain ialah Lucas sedang duduk di kursinya di dekat jendela dengan mata terpejam dan sebuah earphones di pasang lengkap di telinga kiri dan kanan. Sinar mentari siang menyinari sosok pria tampan itu, memberikan siluet bercahaya pada tubuhnya yang ramping namun kokoh.

"Kau yakin tidak mau mengajaknya pergi berkencan wekeend ini?"

Suara seorang gadis di dalam kelas itu membuat salah satu temannya, sigap menutup mulut temannya tersebut. "Selvia, sudah aku katakan padamu, jangan keras-keras kalau bicara!"

Selvia mengangguk, dengan tangannya dia melonggarkan bekapan tangan Byanca dari mulutnya. "Maaf By... Aku tidak sengaja."

Byanca yang tadi melotot dengan pandangan penuh peringatan kemudian kembali berekspresi santai.

"Untuk masalah itu, aku sudah memiliki rencanaku sendiri." katanya singkat.

Selain penasaran, "Beritahukan padaku, apa rencanamu?"

"Aku berniat untuk menembak Lucas pada saat acara pelantikan anggota OSIS dihelat. Ada prosesi api unggun di malam terakhir diklat. Saat itu, aku akan menyatakan perasaanku padanya."

Selvia tertawa, dia merasa lucu karena keberanian yang ditunjukkan oleh teman sekelasnya itu. Meskipun berita tentang Lucas yang sangat kejam terhadap perempuan sudah diketahui oleh banyak orang di lingkungan sekolah, tidak membuat para gadis ini menyerah untuk mengatakan cintanya pada pemuda tampan tersebut. Termasuk Byanca. Yang dia ketahui sudah memendam suka pada Lucas sejak semester pertama awal tahun lalu.

"Aku mendoakan semoga kamu berhasil, By."

Byanca tersenyum. Sangat yakin bahwa dia tidak akan mungkin di tolak. Menjadi seorang dewi di sekolah membuat gadis luar biasa cantik itu memiliki sifat percaya diri. Selama ini, dia tidak pernah di tolak oleh laki-laki mana pun. Yang ada, justru para laki-laki itulah yang berbondong-bondong dalam mendekati dirinya.

Meskipun Lucas terkenal dengan sifat dinginnya, dia yakin, Lucas tak akan menolak penyataan cintanya. Lagipula, siapa di dunia ini yang tidak suka dengan penampilan cantik dan anggun sepertinya?

Suara berisik dari sampingnya, membuat Lucas lagi-lagi harus mengembuskan napas lelah. Dia tidak dapat memahami sama sekali, para gadis yang sangat berisik ini ada saja yang dibicarakan tiap harinya. Apakah tidak ada hari dimana dia bisa hidup dengan tenang?

"Lucas..."

Tepukan dibahu pemuda itu menyebabkannya memutar kepala ke samping. Lucas mendapati seorang temannya sedang memanggilnya. "Ada apa, Ben?"

Ben, merupakan anggota OSIS yang menduduki posisi keamanan dan ketertiban sekolah serta para murid-muridnya dibawah perintah Lucas.

"Aku sudah menyelesaikan laporanku untuk acara kita akhir bulan nanti. Dan sebelum aku menyerahkannya pada Pak Sasmita, alangkah baiknya kalau kamu mengeceknya terlebih dulu. Setidaknya, saat ada beberapa hal yang perlu aku rubah, aku dapat merevisinya dengan cepat atas saran darimu."

"Kirimkan saja salinan dokumennya ke email-ku, Ben. Nanti aku akan meninjaunya terlebih dulu." Kata Lucas setuju.

Ben tersenyum sumringah. Jika dia berhasil mendapatkan persetujuan Lucas yang akan membantu tugasnya, kemungkinan untuk di kritik oleh guru pembinanya berkurang banyak.

"Oke... Terima kasih, Kapten."

Bersamaan dengan ucapan Ben baru saja, ruang kelas yang tadinya tampak gaduh mulai berubah anteng, tatkala seorang guru perempuan berjalan masuk ke dalam ruangan tersebut.

"Selamat siang, para murid."

"Siang, Buk..."

Lucas mengalihkan tatapannya yang tadi tertaut ke depan kelas menjadi memandang ke samping, langit cerah di luar sana menjadi obyek pandangannya. Dari awal sampai akhir, pemuda itu tidak memerhatikan pelajaran yang sudah guru sampaikan, namun meski begitu, tak ada yang mengeinterupsi ketidaksopannya itu bahkan jika itu sang guru sekalipun.

***

If you like this story, don't forget give me star, review and coment.

Thank you for Reading.

Next chapter