1 Bab 1 : Pisau Tajam Yang tumpul

"Apakah dosa itu dipilih atau ditentukan? Bisakah orang kehilangan dosanya jika ia lalai?" Seorang pemuda dengan rambut acak acakan sedang bergumam sambil tiduran di sebuah dipan usang samping rumah nya.

Sebuah koran melayang tepat diwajah pemuda itu.

"Aduh" pekik nya kaget.

"Jangan malas malasan, cari uang sana" Ujar seorang lelaki Paroh baya yang tanpa permisi duduk disamping si pemuda.

"Apa yang membuat seorang 'Paman Taka' kesal?" Timpal pemuda itu peka.

"Lihat berita di koran itu" Taka mendecak sambil kemudian menghisap sepuntung rokok merek abal-abal.

"Seorang gadis ditemukan mati tertusuk, pelaku bilang tak bersalah, polisi kewalahan mencari bukti?" Pemuda itu membaca cermat sebuah artikel yang terpampang besar tepat di tengah lembaran koran.

"Apanya yang penting?".

" Kau tidak lihat? Gadis itu adalah anak temanku, cepat selesaikan agar ayahnya bisa segera membayar hutangnya padaku" Taka meletakkan lembar uang yang ia rogoh dari saku nya.

"Bilang saja paman kasian pada teman paman, 'tsundere'  sudah tak jaman sekarang ini" Gurau pemuda itu sambil menghitung uang yang ia dapat.

"T-tak usah banyak omong cepat selesaikan, ayo ikut aku" Taka nampaknya bersungut kesal bercampur malu.

Pemuda itu hanya angkat bahu kemudian mengikuti Taka ke tempat kejadian.

***

Setelah beberapa menit mengendarai mobil, akhirnya nampak juga garis polisi dan beberapa detektif nampak lalu lalang. Ilalang liar bergoyang diterpa angin senja.

"Terlalu banyak orang hanya akan merusak TKP" gumam 'pemuda' itu.

"Benarkah? Akan kusuruh mereka untuk mengurangi personil" Taka menggaruk tengkuknya, ia kira lebih banyak orang maka lebih cepat.

"Apa ada saksi?" Tanya pemuda itu keluar dari mobil kemudian melangkah lalu jongkok menerobos garis polisi dan berhenti tepat di depan bercak darah.

'Pemuda' adalah seorang lulusan SMA dan kini menganggur karena sebuah alasan yang bahkan ia lupa apa itu, ia enggan melanjutkan studi, hidupnya membosankan, hanya bergantung pada uang yang dikirim orang tuanya tiap bulan, kerjaannya hanya tidur, main game dan makan, ia sempat mengeluh bertanya apa makna hidup, sampai ia bertemu dengan tetangga baru nya Taka, Taka adalah polisi yang baik tapi agak canggung kalau soal perasaan. Taka kadang meminta sang pemuda untuk membantunya memecahkan kasus dan memberinya uang, Ia tau kalau 'pemuda' ini memiliki insting yang tajam layaknya pisau, semenjak beberapa bulan lalu 'pemuda' itu sempat membantunya.

Beberapa bulan yang lalu.

"argh yang benar saja? lagi?" Umpat seorang Pemuda yang baru saja mau mandi namun air dari keran untuk mandi tak mau keluar, dengan desahan nafas kesal pemuda itu melangkah menuju dapur dan mengerang kesal sesaat di lihatnya kulkas yang hanya ada es batu dan daun seledri saja. Malang nian nasib pemuda itu seakan didapatinya hanya nasib buruk saja, apa saja yang dia perbuat dulu?, Pikirnya.

Saat senja mulai merangkak turun digantikan dengan sinar remang rembulan, Pemuda itu bergegas mengenakan kemeja nya, memakai sepatu dan melangkah pergi ke supermarket terdekat untuk sekadar mengganjal perut kempes yang sedari tadi berteriak minta diisi.

Sejenak ia berhenti dan melihat sebuah mesin minuman yang sangat menggiurkan, dirogoh kantung kemejanya, hanya ada sedikit rupiah tertinggal dan ia berencana untuk mendapat mie instan dengan uang itu, dengan senyum jahil ia melihat sekeliling, saat dirasa tak ada orang, iapun segera mengotak-atik mesin minuman itu dan beberapa menit kemudian muncul beberapa minuman kaleng menggelinding dari dalam mesin tanpa harus memasukkan uang receh.

"Wah pintar juga" Celetuk seseorang dari belakang, seketika Pemuda itu langsung tercengang, ia menelan ludah dan perlahan berbalik untuk mengetes seberapa buruk nasibnya.

Yup, sangat buruk ternyata orang itu adalah paruh baya menggunakan seragam polisi, tamatlah riwayat hidup nya kali ini.

"Saya mohon maaf! jangan penjarakan saya!" Pemuda itu memohon sambil membungkuk.

"Aneh juga kau nak, ku kira kau akan kabur" Jawab Paruh baya itu.

"i-itu ..".

"Ayo cepat bawa aku ke rumah mu aku akan mendengar kesaksian mu disana" Ujar Polisi itu mulai melangkah.

"Tunggu..Rumah?Rumahku?! tapi pak biasanya kan di kantor--".

"Oh kau lebih suka di kantor polisi yasudah lah kala--".

"BAIK PAK! LEWAT SINI!" Potong pemuda itu cepat kemudian mulai melangkah menunjukkan jalan ke rumahnya.

Setelah melangkah lima menit akhirnya mereka sampai di depan kontrakan usang yang pemuda itu tinggali.

"tidak seperti rumah yang ditinggali anak muda" Kata Polisi itu sarkastik.

"A-ada banyak hal terjadi akhirnya saya tinggal di kontrakan ini pak, ayo silahkan masuk" Pemuda itu dengan canggung mempersilahkan polisi itu masuk.

Ada banyak barang berserakan, kantong plastik tempat sampah juga nampak penuh, tak ada kursi hanya meja jadi mereka lesehan.

"Sial sekali hari ini, yang benar saja aku akan masuk penjara karena beberapa kaleng minuman?ya normal saja sih ngomong entah apa itu aja dipenjara" Batin pemuda itu sembari mendesah berkali kali.

"Desahanmu sudah seperti kakek tua yang kena encok" Ujar Polisi itu sambil meletakkan beberapa nasi bungkus dan minuman botol.

"Pak saya akan membayar denda jadi saya jangan dipenjara--tunggu saya tidak punya uang untuk bayar denda, yasudah penjara saya saja pak setidaknya itu juga bisa hemat--Aduh!" Pekik pemuda itu belum sempat menyelesaikan kalimatnya karena polisi itu memukul kepalanya dengan minuman botol.

"Bodoh! anak muda seperti mu masih memiliki banyak jalan hidup dan impian jangan sampai berpikir penjara lebih baik itu pikiran yang menjijikkan untuk seorang anak muda seperti mu" Ujar Polisi itu sambil membuka nasi bungkus nya dan segera memasukan sesuap nasi ke mulutnya dengan lahap, eh tunggu polisi itu makan? numpang makan?.

"Ano--" Ujar pemuda itu ragu setelah Lima menit hanya melihat polisi itu makan.

"Kau mau? ini makanlah".

"Baik pak selamat makan--eh bukan itu, bukankah bapak akan menangkap saya karena mencuri minuman kaleng dari mesin minuman?" Pemuda itu merasa bodoh karena menanyakan hal itu, tapi dia ingin segera mengakhiri rasa canggung luar biasa walaupun itu harus dipenjara sekalipun.

"Siapa bilang aku akan menangkap mu?aku hanya ingin menasehati mu kalau kau melakukannya lagi saat ada polisi mungkin kau akan dipenjara" Jawab polisi itu dengan mulut penuh dengan nasi.

"Bukankah bapak adalah polisi?" Tanya pemuda itu.

"Dulunya" Jawab polisi itu singkat sambil minum.

"Sekarang bapak sudah pensiun?wah syukur--"

"Sekarang aku detektif" Pemuda itu terperanjat saat mendengar jawaban paruh baya itu, bukankah detektif malah lebih keren? bukan bukan maksudnya dia masihlah aparat keamanan tamatlah riwayatnya.

"Untuk sekarang aku tak akan menangkap mu tapi dengan satu syarat".

Satu jam kemudian.

"Pak Taka! kemana saja anda pergi? dan siapa anak itu? jangan-jangan--" Sapa Teman sesama detektif Taka, paruh baya yang tak jadi menangkap pemuda itu namun dengan satu syarat.

"tak usah bikin rusuh, anak ini ada urusan denganku, tidak, dengan kita, dia akan membantu kita masuk ke markas penyelundup itu kita tak usah tambah personil" Ujar Taka sambil menepuk pundak pemuda itu.

"Ternyata anda benar benar tak menyukai personil baru kita nanti" Detektif itu menyayangkan.

"Sudahlah berhenti bicara, langsung berangkat saja, bagaimana keadaannya?" Taka bicara sambil masuk mobil diikuti oleh pemuda itu dan detektif tadi.

"Aman, kita tinggal menyusup masuk dan ambil barang bukti sehingga saat polisi menyergap mereka tak akan bisa berkelit lagi, tapi memecahkan kode brangkas dan pintu masuk itu--".

"Anak ini yang akan melakukan nya" Taka menunjuk pemuda itu.

"Tunggu anda tidak bilang kala--" Belum selesai pemuda itu protes Taka menunjuk borgol di sakunya, pemuda itu kemudian menelan ludah dan mengangguk cepat. "Baik, Pak!".

Tak berapa lama akhirnya mereka sampai di markas penyelundup obat terlarang dan obat oplosan berbahaya. Dengan mengendap-endap mereka berhasil sampai di depan markas tersebut, seperti yang diperkirakan pintu terkunci rapat dengan pintu masuk kode dan juga rantai besi.

"Ayo sekarang giliran mu" Taka mendorong pemuda itu untuk segera melakukan tugasnya, Pemuda itu mengangguk kemudian mengambil peniti dari kemejanya dan segera mengotak-atik gembok berantai itu, kemudian beberapa saat kemudian terdengar suara klik dan gembok pun terbuka, Taka hanya tersenyum seakan sudah mengira hal itu sedang sang detektif satunya menatap kagum. Setelah selesai dengan gembok, pemuda itu segera meraut pensil yang ia bawa dan meniup bubuk hitam dari pensil ke tombol tombol yang ada dipintu, kemudian setelah memencet banyak tombol akhirnya pintu itu pun terbuka.

"Kerja bagus nak! Kau Andy lanjutkan misi aku akan antar dia pulang ini sudah sangat larut" Perintah Taka.

"Eh? tapi aku akan melewatkan bagian seru nya" Pemuda itu menolak karena penasaran dengan apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.

"Ini sudah bukan bagianmu nak, setelah ini biar kami yang meneruskan nya" Ujar Andy, Pemuda itu mengangguk saja kemudian mengekor Taka pergi mengantarkannya pulang.

Keesokan harinya...

"Hoaaaam...Ehhhhh?!!!!" Pemuda itu baru saja bangun tidur kemudian menguap dan kaget saat ia hendak pergi ke supermarket untuk beli mie instan namun di lihatnya Pak Taka sedang merokok santai di samping rumahnya.

"Kata bapak saya sudah bebas?!".

"Oh selamat pagi Nak sekarang aku tetangga barumu, waah kontrakan disini sangat murah, dunia sempit ya kebetulan sekali kita tetanggaan" Ujar Taka sambil menyeruput kopi hangat. Pemuda itu dengan mata tak percaya hanya mendesah kesal.

"Mana ada kebetulan, pastinya ini sudah rencana pak tua itu agar bisa memperalat ku".

***

"Apa ada saksi?" Tanya pemuda itu keluar dari mobil kemudian melangkah lalu jongkok menerobos garis polisi dan berhenti tepat di depan bercak darah.

Taka dan Andy menggeleng.

"Hmm.." Pemuda itu berdiri kemudian melihat sekitar TKP, dan melangkah kesana kemari sembari berpikir dengan otak cerdas nya menganalisis perkiraan kejadian dan kemungkinan nya.

"Aku akan membeli minuman hangat!" Andy yang melihat Pemuda itu berpikir keras dengan peka melangkah pergi untuk mencari sesuatu untuk menggajal perut pemuda itu.

Beberapa saat terdengar suara telepon, Taka segera merogoh kantong nya dan melangkah pergi untuk mengangkat telepon tersebut.

"akhirnya tak ada pengganggu" Gumam pemuda itu melanjutkan analisisnya.

Suara gemerisik kembali mengusiknya, dari balik semak semak.

"sekarang apa lag--ahhhh!" Pemuda itu terperanjat kemudian melangkah mundur dengan cepat saat seekor anjing gila liar tiba-tiba muncul dari balik semak-semak, pemuda itu terpojok dan anjing itu hendak segera menggigit nya, Pemuda itu tak berhenti berteriak namun tak ada yang datang, saat anjing itu meloncat ke arahnya segera pemuda itu memejamkan matanya.

...

"Sekarang sudah tidak apa apa kamu bisa membuka matamu" Ujar seseorang.

Pemuda itu perlahan membuka matanya, sejenak hanya terdengar hembusan angin, saking kaget dan terpesona nya Pemuda itu tak sanggup berkata apapun.

Berdiri didepan nya seorang gadis cantik, dengan rambut agak bergelombang panjang diterpa angin, wajahnya ayu berseri dengan senyum yang manis, gaunnya putih agak transparan, tubuhnya begitu putih dan sangat rapuh seperti dandelion.

"K-kau ...".

Bersambung.

Next chapter