2 One. Bunuh Diri?

'Kriingggg!!!!'

Suara bel sekolah yang memekakan telinga itu, membuat seluruh siswa di sekolah menutup telinga mereka. Punya dendam apa petugas sekolah yang membunyikan bel ini? Seolah seluruh siswa memiliki masalah padanya. "Gila, ini bel di pasangin toa lagi apa? Sakit kuping aku." Keluhnya, dengan pandangan yang menatap kearah bel sekolah berada. Tanpa mau memperdulikan hal lain, ia kembali berjalan, menyusuri lorong kelas yang dipenuhi oleh siswa dan siswi disini.

"Semua siswa dimohon untuk masuk ke dalam kelas sekarang! Karena ada keadaan genting!" Teriak salah satu guru disana, yang berbicara menggunakan pengeras suara, dan berjalan mengelilingi setiap koridor sekolah yang ada. Ia yang melihat hal ini hanya menggeleng kecil, seraya berjalan menjauh dari guru itu. Dasar guru BK, hobbynya teriak–teriak, pikirnya.

Semua siswa kelas 12 sudah masuk ke kelas mereka masing–masing, akan tetapi hal ini berbeda dengan dirinya yang masih mencari kelas baru untuk ditempati. Kemana pindahnya kelas 12? Ah, sepertinya ia saja yang lupa dengan denah sekolah ini. Karena masih belum menemukan kelasnya, gadis berusia 17 tahun ini lari ke lapangan, kemudian ia melihat kearah lantai 2 dan 3, untuk menemukan label angka romawi yang menunjukan angka 12. "Oh itu, di lantai 3." Ujarnya, kemudian ia melangkahkan kaki hendak kembali ke koridor sekolah.

'Brak!'

Namun, ketika dirinya hendak kembali, ada suara seolah barang jatuh dibelakangnya. Kemudian, pandangan gadis itu tertuju pada seluruh siswa di atas sana, yang menatap kearah belakang tempatnya berdiri. Hey, what happend? Karena penasaran, kemudian ia berbalik, dengan bacaan bismillah yang tak luput dari pelafalannya. "Astagfirullah!" Serunya, ketika melihat salah satu siswi sekolah yang kini terkapar dengan darah yang mengalir deras dari tubuhnya.

Melihat ada mayat yang tewas dengan cara yang mengenaskan, ia mundur beberapa langkah ke belakang, sampai tubuh mungilnya itu menabrak tembok penyangga gedung sekolah ini. Nafas gadis ini tercekat, dadanya naik turun seolah ia takut dan panik. Siapa gadis yang tewas itu? Apa penyebab dirinya bisa terjatuh dari lantai atas seperti itu? Ya tuhan, sungguh dirinya tidak tahu apapun sekarang.

"Kamu syock?!" Ucap salah satu lelaki, dan sekarang menarik dirinya dari hadapan mayat siswi yang bersimbah darah. Siswi itu sekarang dikerumuni beberapa anggota osis dan guru, mereka menutupi mayat siswi malang itu dengan koran–koran yang mereka bawa. Sebagian anggota osis lain menahan ratusan murid yang ingin melihat mayat gadis itu, sebagian dari mereka menatap sinis sang saksi, karena kini ia sedang berdiri bersama dua orang primadona sekolah, yaitu senior mereka yang sudah lulus dari sekolah.

"Bagi tim buat ke ruangan cctv, bubarin kerumunan, dan aku yakin kasus ini bukan kasus bunuh diri." Ucap salah satu siswi berhijab, yang langsung diangguki beberapa anggota osis lain. Mereka mulai berpencar, mencari ruang cctv sekolah agar ketika polisi datang mereka tinggal melakukan olah tkp. "Dean, bawa cewe ini ke uks, kayaknya dia kaget banget sampe tubuhnya gemeter gini." Ucap salah satunya, dan Dean yang mendengarnya langsung mengangguk. Tapi, ketika Dean hendak membawa gadis itu, ia menahan, dan menggeleng. "Engga usah kak, aku gapapa." Tegasnya, dengan nada yang sedikit dingin.

Dean menoleh kearah teman perempuannya, kemudian keduanya mengangguk. "Siapa nama kamu? Aku Ercha." Dengan sebelah tangan yang terulur, Ercha memperkenalkan dirinya. Gadis yang ia amankan tadi membalas uluran tangannya, kemudian ia berucap. "Panggil aja aku Nessa." Balasnya, kemudian melepaskan uluran tangannya, dan berjalan kearah mayat siswi yang kini sudah dipasangi garis kuning polisi.

Beberapa polisi itu hendak menahan pergerakan Nessa, tapi gadis itu meyakinkan para polisi agar percaya padanya. Nessa mengambil sebuah plastik kecil, kemudian ia mengambil sedikit sampel darah itu, dan memasukanya ke dalam plastik kecil yang ia ambil tadi. Setelah itu, Nessa membuka sedikit koran yang menutupi wajah mayat gadis ini, dan ia melihat kedua bola mata gadis itu yang masih terbuka lebar. "Pak, kasus ini harus segera ditangani, sebelum semuanya terlambat." Ucapnya, seraya memberikan sample darah itu kepada salah satu petugas polisi yang membalut tangannya dengan sarung tangan medis.

Nessa kembali berjalan kearah Dean dan Ercha, dua orang itu kini menatap aneh dirinya, seolah ada sesuatu yang mengganjal dari prilaku yang ia tunjukan. "Kak, dia jatuh dari lantai berapa?" Tanya Nessa, yang membuyarkan lamunan keduanya. Ercha tersenyum kecil, kemudian menjawab.. "Lantai 4 tempat terbuka sekolah kita. Anak osis sama polisi sekarang lagi ngecek kesana, kita juga gatau apa yang sebenernya terjadi disini." Ucapnya, sedikit menjelaskan kronologi, dan keadaan yang kini sedang terjadi.

Nessa sedikit mengerti dengan kasus–kasus yang seperi ini, gadis itu banyak membaca buku–buku tentang penyelidikan, mata–mata, hingga pembunuhan. Jika ia lihat dari kedua bola mata korban yang terbuka lebar, Nessa yakin, jika korbannya bukan terjatuh karena ia sengaja melompat, akan tetapi ada orang lain yang mungkin menjadi tersangkanya disini. Tapi sayangnya, pelaku itu mungkin sudah membebaskan diri dengan bantuan kerumunan massa yang terjadi disini. "Kalian gak ikut ke ruang cctv?" Tanya Nessa, yang dibalas gelengan kepala oleh keduanya.

Melihat semua siswa sudah kembali masuk ke kelas, Nessa yang tadinya ingin menyusul anak osis pun jadi mengurungkan niatnya. Setelah berpamitan pada Dean dan Ercha, Nessa segera berlari kearah tangga, agar ia bisa cepat mengikuti kelas diawal semester satu ini. "Eh? Gak ada guru?" Ujarnya, ketika sudah sampai di depan ruangan yang kini menjadi kelas barunya. Tahun ajaran baru, kelas baru, dan teman–teman baru juga. Mungkin seperti itu konsep sekolah Internasional?

Keadaan di dalam kelas barunya sedikit mencekam, siswa siswi di dalam sini cendurung dingim dan diam, hanya ada beberapa diantar 24 murid kelas XII B ini yang menyapa dirinya. Dan sialnya, semua kursi sudah penuh, kecuali kursi yang berada dipojok kanan barisan kedua dekat jendela, masih ada satu kursi yang bisa ia tempati. "Excuse me? Boleh aku duduk disini?" Tanya Nessa, pada seorang siswi perempuan berkacamata, dan siswi itu hanya mengangguk sembari menggeser posisi duduknya menjadi ke pojok.

Ya ampun, suasan kelas macam apa ini? Kenapa semua orang yang berada di dalam kelas ini memiliki aura yang dingin? Circle kelas macam apa ini? "Kau gadis yang menjadi saksi tadi?" Tanya teman sebangkunya, dan Nessa mengangguk untuk menjawab pertanyaanya. "Anessa Pramudya, senang berkenalan dengan mu." Lanjutnya lagi, dengan tangan yang terulur, dan senyum tipis yang menyertai. "Ya, nice too meet you, friends!" Balas Nessa, dengan perasaanya yang gugup, ia mencoba untuk membalas uluran tangan gadis misterius ini.

~~~~~

Next chapter