1 Mengenang mu kembali

JALAN SETAPAK SMA KEJORA

Aku yosi, kini umur ku sudah 27 tahun, lulusan dari SMA KEJORA. Dengan baju kemeja kotak-kotak biru dan celana hitam panjang serta bertengger satu tas selempang di pundak ku, tengah ku menyusuri jalan menuju sekolah lama ku semenjak 7 tahun yang lalu.

Bukan sebagai murid SMA lagi, namun aku kembali untuk merenovasi sekolah lama ku dengan bekal cita-cita dan profesi ku sekarang.

Kini hal itu bisa terwujud berkat dorongan dan motivasi dari seorang gadis yang dulunya belum ku kenal, hingga menorehkan berjuta cerita ku bersama diri-nya, mulai dari tempat ini.

Jalan ini masih sama dan hanya sedikit yang berubah. Kanan-kiri jalan masih banyak pohon-pohon besar nan rindang, serta taman bunga kecil masih terlihat terawat di depan sekolah.

Melalui jalan setapak ini ku kenang kau kembali, gadis berambut lurus sepundak dengan warna hitam kelam.

(flash back)

Kala itu kau pakai setelan baju casual, baju warna kuning dan rok berbentuk klok A berwarna navy dengan panjang selutut, tengah berpayungkan daun talas di tengah rintiknya hujan yang kala itu mengguyur bumi kami, tepat arah menuju sekolah ku.

Aku sempat tersenyum tipis saat melihat-nya berlalu dari ku yang kala itu sedang mengayuh sepeda tua ku, yang ku kayuh lirih dengan ku yang tengah memakai mantel plastik berwarna putih bening.

"lucunya, masih ada ya saat hujan gini dia pakai daun talas!!" pikir ku dalam lamunan

Entah mengapa aku malah sengaja mengikuti-nya dalam diam dan tidak berani untuk menyapanya.

Gadis itu sepertinya anak baru, karena aku ta' pernah melihat sebelumnya di sekolah ini.

Dalam gerimis hujan, tiba-tiba ia berhenti dan menepi. Lihat apa yang ia lakukan??

Gadis itu memberikan payung daun talas-nya pada seekor kucing yang sedang kehujanan di dekat taman bunga kecil tidak jauh dari depan sekolah ku.

Kucing kecil yang meringkuk dan telah basah sebab air hujan hanya terdiam dan sedikit mengaum.

Di tancapkannya daun tersebut, sehingga kucing munggil tersebut tidak lagi kehujanan.

"Baik-baik ya di sini, jangan hujan-hujanan lagi" kata si gadis tersebut. Sambil mengusap lembut bulu kepala si kucing.

Seketika ia langsung berlari kencang masuk ke dalamsekolah ku.

Aku yang menyaksikannya dari belakang, hanya mampu tertawa melihat tingkah si gadis berambut pendek tersebut.

"Siapa ya dia??tapi masuk ke sekolah tuh!! " otakku mencoba berfikir lebih keras.

Ku coba mengikutinya, ku kayuh sepeda ku cepat dan ku parkirkan di dalam tempat sepeda.

Ku cari-cari gadis tersebut, hingga ku tau ternyata ia adalah rosa. Anak dari ibu kantin baru di kantin sekolah ku.

Ia ternyata 5 tahun lebih tua dari ku, ia memutuskan untuk membantu ibunya berjualan setelah lulus SMA.

Lambat laun kami pun mulai dekat, karena aku yang seringkali kepergok dia bolos di kedai ibunya, hampir tiap hari, guna untuk lama-lama bisa lihat paras wajahnya.

(flash back and)

Tidak ku sangka, aku akan kembali lagi ke sekolah ini, sekolah dengan sejuta cerita buat ku.

Kisah ku dengan rosa yang tidak pernah termulai dengan benar, tentang perasaan yang sebenarnya yang hanya bisa ku pendam sendiri.

Hingga akhirnya, orang yang ku sayangi memilih pria lain untuk menjadi pasangan hidupnya.

Apa yang membuat ku semakin terkejut?? ya...pria itu, bukan lah pria asing bagi ku!!

Dia adalah kakak ku sendiri, meski bukan kakak kandung ku. Lebih tepatnya dia adalah anak dari istri baru ayah ku.

Ayah ku tergoda oleh seorang wanita kaya dari perusahaannya bekerja, ia pun memilih meninggalkan ibu ku dan memilih hidup bersama wanita tersebut.

Aku pun tidak habis fikir, apa yang ada dalam fikiran ayah ku kala itu. Dia bilang itu adalah sebuah alasan untuk masa depan ku yang lebih baik.

Tapi apa kau akan setuju bila di beri alasan tersebut?? terlalu tidak masuk akal bagi ku!!

Keluarga yang ku kira baik-baik saja, kini hancur berantakan bagai kepingan kaca yang pecah.

Ku pilih untuk tinggal dengan ibu ku setelah perceraian mereka. Dan sebisa mungkin untuk menunjukkan bahwa aku bisa hidup layak dan sukses tanpa bantuan dari ayah ku tersebut.

Dari sekian banyak pria, kenapa harus kakak tiri ku yang dia pilih?? orang yang paling aku benci, meski aku tau. Dari segi tampan dia punya, di tambah lagi dia juga kaya dan sudah menjabat jadi CEO di perusahaan ibunya.

Namun hati ku tetap saja benci pada-nya. Benci karena ia tetep lah anak dari seorang wanita yang telah menghancurkan keluarga ku.

Mengetahui itu semua membuat ku sakit hati dan memilih untuk menghindari diri dari rosa dan keluarga suaminya tersebut.

Semenjak 6 tahun yang lalu, setelah ku ketahui rosa telah menikah, aku sudah jarang berkomunikasi dengan dirinya dan memilih untuk mundur.

Aku pun juga memutuskan untuk membawa serta ibu ku, untuk tinggal bersama ku di kosan dekat tempat ku berkuliah.

Beliau pun menuruti permintaan ku tersebut.

Dan kini setelah semua terlalui, aku pun telah bekerja di sebuah perusahaan di bidang arsitektur dan kini diri ku di tempat kan kembali di tempat tinggal asal ku berada.

Dan kabar lainnya adalah aku di tunjuk untuk menangani proyek perenovasian kantin di SMA ku yang lama.

Ku percepat langkah kaki ku setelah ku ketahui seseorang dengan seragam satpam tengah berdiri tegap menyuruh anak-anak yang masih di luar gerbang untuk segera masuk.

Hari ini memang sudah termasuk siang, bila saja aku masih sekolah, mungkin kali ini aku akan kena hukuman lagi seperti biasa karena telat sekolah.

Orang yang biasa memarahi aku, namun selalu punya sejuta cara untuk menasehati diri ku yang super bandel ini.

Kini ia sudah terlihat cukup tua, wajahnya pun sudah mulai berkeriput dan lagi sekarang rambutnya yang dulu hitam legam, kini telah di tumbuhi oleh uban berwarna putih.

Tubuh-nya pun sudah ta' setegap dulu, kini tinggal tulang-tulang dengan kulit dan daging tipis yang terlihat.

Mungkin kini usianya sudah menginjak 60 tahun, dan wajar saja jika struktur tubuhnya sudah banyak yang berubah.

Ku hampiri dirinya secepat mungkin, dengan terengah-engah ku sapa dirinya.

"Pak...masih ingat aku??". sapa ku padanya.

"Siapa ya nak?? banyak alumni yang datang akhir-akhir ini, jadi bapak lupa". kata pak salim sambil menunjukkan senyum pepsoden-nya.

Ku peluk tubuh kurusnya itu tanpa bertanya lagi pada pak salim.

Tidak terasa mata ku berkaca-kaca dan air mata pun mulai mengalir membasahi pipi ini.

Teringat bahwa pria paruh baya ini bagaikan ayah ke dua bagi ku di sekolah setelah percerain kedua orang tua ku.

Beliau pun bingung, dengan apa yang ku perbuat. Ia hanya memeluk ku kembali dan mencoba untuk menenangkan ku.

"Tenang lah nak!! " kata pak salim sambil menepuk halus pundak ku

Aku makin tenggelam dalam tangis dan peluk ku. Sedangkan pak salim hanya memendam kebingungan-nya sendiri.

Dalam benak-nya mungkin bergeming siapakah anak ini?? dan mengapa pula ia menangis saat memeluk diri-nya.

Next chapter