2 4 tahun

Turun dari pesawat wanita cantik berperawakan tinggi bak model , menggunakan gaun dress hijau selutut tanpa lengan wajah cantik itu di tutupi oleh kacamata hitam besar mendorong koper dan di salah satu tangannya menggandeng anak laki laki yang sangat imut usia anak itu sekitar 4 tahun menggemaskan, cerdik ,tampan bagaikan pangeran setiap orang yang melewatinya pasti tersipu malu anak berusia 4 tahun tapi entah kenapa ada aura kedewasaan yang membuat hati yang memandangnya tersipu.

melihat sikap pengunjung bandara wanita yang mengandeng lelaki kecil itu pun tersenyum anaknya telah tumbuh menjadi sosok lelaki tampan memperhatikan anaknya dan mengusap sayang kepala anak lelaki kecil itu dan mereka memasuki mobil dan meninggalkan bandara bersama.

yang tidak di ketahui oleh sosok wanita dan bocah lelaki itu ialah ada seorang pria tampan jika di perhatikan si bocah lelaki tadi sangatlah mirip dengan pria tersebut hanya bedanya si kecil adalaha versi mini dari pria itu.

pria itu mematung sekilas ada yang menangkap penglihatanya dia bisa melihat punggung wanita itu memasuki mobil entah kenapa jantungnya berdetak sangat kencang melihat mobil yang wanita itu menjauh yang di rasa oleh pria itu seakan tak rela tapi ia membuang perasaan tak nyaman itu .

" tuan austin apa anda baik baik saja " melihat sang tuan tiba tiba berhenti berjalan dan memegang dadanya sang asistenpun merasa khawatir terhadap tuanya ini.

tanpa menjawab asistenya austin berjalan dan memasuki mobil yang sudah lama terparkir.

di sepanjang jalan austin selalu memikirkan sosok wanita tadi padahal ia hanya melihat sekilas dari punggung wanita itu tapi entah kenapa austin merasa jika ia pernah bertemu tapi dimana ia tak ingat.

tak mau memikirkanya lagi austin menggeleng pelan kepalanya dan fokus pada laptop yang ada di pangkuanya.

" tuan kemana kita akan menuju " sang asisten bertanya

" kembali ke kantor "

" maaf tuan tapi sedari tadi nyonya besar menelpon ia bilang kalau tuan harus balik kerumah besar jika telah tiba .

mendengar itu austi pun tetap acuh ia tahu sang ibu menyuruhnya pulang dari kemarin ia di teror dengan telfon ibunya yang mengeluh austin malas menghiraukan omelan sang ibu ia tahu tidak ada topik yang di bahas sang ibu selain tentang pernikahan selama 4 tahun ini sang ibu sibuk mencarikan pendamping untuk austin berbagai cara ia lakukan tapi austin selalu menolak siapa pun wanita yang mendekatinya. austin akan merasa jijik apalagi melihat tingkah laku wanita wanita itu dengan bedak tebal dan bau parfum yang menyengat itu membuag austin semakin mual ia benci wanita .

" kembali ke rumah "

" baik tuan " akhirnya tuanya ingin pulang juga ia capek ikut ikutan di teror oleh nyonya besar.

oo0oo

Mobil hitam itu memasuki pekarangan rumah yang sangat luas dari kejauhan sosok wanita paru baya telah berdiri di ambang pintu . keluar dari mobil austin melihat sang ibu hanya manarik nafas dan menggeleng pelan kepalanya .

" masih tau pulang kamu " wanita paru baya cantik itu merajuk yang tak terima kalo putra sulungnya ini tak menghiraukannya.

memanglah austin tak menghiraukan perkataan ibunya ia hanya berjalan melewati sang ibu dan memasuki rumah .

dengan itu sang ibu marah tak terima bisa bisanya austin mengabaikannya lagi dan lagi .

" austin apa kamu masih menganggapku ibumu dasar anak tak berbakti hum "

" bu biarkan austin duduk dulu kenapa teriak teriak "

tak jauh dari itu seorang lelaki setengah baya yang mirip dengan austin yang melihat tingkah sang istri akan mulai memarahi anak sulungnya ini akhirnya membuka suaranya untuk menenangkan istrinya ia tahu jika istrinya tak sabaran.

" ayah " menegur sang ayah austin pun duduk yang tak jauh dari tempat sang ayah.

" bagaimana kantor " sang ayah yang telah lama meyerahkan jabatanya kepada austin ia yakin anak sulungnya ini akan mampu mengembangkan perusahaan tapi memanglah terbukti selama 6 tahun perusahaan itu sangatlah sukses dan berkembang semakin pesat di bawah pimpinan austin ia bangga terhadap anak sulungnya ini .

" baik " austin tak banyak bicara hanya menjawab seadanya sang ibu yang melihat ayah dan anak itu mengabaikanya seolah olah ia tak ada itu membuatnya jengkel.

" hey pak tua jangan hanya menanyakan urusan perusahaan, perusahaan terus kapan dia akan memberikan kita cucu kita ini semakin tua dan ibu mau cucuk yang gemuk " celoteh sang ibu .

membayangkan bayi imut kecil nan gemuk saja sudah membuat ibu hara ( ibu austin ) merasa senang bukan kepalang.

mendengar itu pun ayah austin tak menimpali hanya lanjut membaca koran yang berada di tanganya . sama halnya dengan austin tak ada kata yang keluar dari bibirnya ia hanya beranjak dari tempat duduk dan siap keluar dari rumah.

" austin mau kemana kamu. kamu baru saja tiba " melihat itupun sang ibu tak rela dan dengam cepat membuka suaranya.

" kantor " tanpa berhenti atau pun menoleh austin tetap melanjuti langkahnya.

" austin jika kamu tak cepat memberikan ibu cucu dan menantu ibu akan mencarikan kamu wanita dan kamu harus mau dengan pilihan ibu "

tak mau mendengarkan sang ibu austin telah keluar dari rumah malas dengan omong kosong sang ibu.

sedangkan di dalam rumah sang ibu terkulai lemas di sofa .

" pak tua apa yang telah kita lakukan di kehidupan silam kenapa tuhan memberikan anak sedingin itu sikap austin dan el sangatlah beda "

" bu biarkan austin memilih jalan hidupnya sendiri apa lagi menyangkut pendamping hidup ibu tau bagaimana austin "

" tapi pak tua kita sudah semakin tua , tidak mungkin ibu menyuruh el untuk menikah hanya austin harapan kita ibu pengen cucu " ucap sang ibu

mendengar itu ayah austin hanya bisa menggeleng bukan hanya sang istri yang menginginkan cucu ia juga ingin sangatlah ingin tapi ia tak bisa berbuat banyak anak sulungnya itu tak bisa di paksa dan ia tak ingin austin menikah karena paksaan ia selalu memberikan. kebebasan terhadap anak anaknya dengan siapa pun pilihan anaknya ia akan mendukungnya maupun orang tersebut berasal dari keluarga biasa biasa pun ia akan menerimanya .

keluarga mereka tak pernah mempermasalahkan status ekonomi keluarga seseorang. bagi ayah austin kebahagian anak anaknyalah yang utama .