1 Suami Penyayang

Dear Jeno,

Kau mungkin tidak tahu namaku, tapi namaku adalah Na Jaemin. Aku sangat menyukai dirimu yang pintar dan berpenampilan baik. Jantungku berdebar sangat kencang ketika melihatmu dari jauh dan hatiku mengatakan bahwa kau adalah lelaki sempurna. Aku sangat gugup saat menuliskan surat ini, karena itulah tulisanku jadi bergetar begini… anu, aku sebenarnya sejak dulu ingin menjadi pacarmu. Aku berjanji akan membawa bekal untukmu setiap pagi, merapikan dasimu sebelum berangkat sekolah, tidak cemburuan, dan selalu setia. Aku menunggu jawabanmu.

With love,

Na Jaemin

.

Jaemin memandang surat cinta yang ia temukan di gudang dengan kesal. Kenapa dirinya begitu bodoh saat itu? Yah, saat itu ia masih kecil, masih lugu, masih SMA. Dirinya yang sekarang adalah seorang dokter dan ia telah tumbuh menjadi seorang wanita yang pintar dan berpendidikan. Ia tidak lagi menyukai Jung Jeno yang dingin dan tidak berperasaan itu. Ia ingin mencari seorang suami yang penyayang, bukan seorang robot penghasil uang yang menyebalkan.

"Dokter Na, sebentar lagi pasien pertama anda akan datang," ucap seorang suster, "ini daftar pasien anda hari ini."

Jaemin menganggukan kepalanya dan merapikan meja kerjanya yang berantakan. Ia dapat mencium bau yang sangat dikenalnya— bau rumah sakit. Mungkin bau ini tidak disukai oleh banyak orang, tapi Jaemin menyukainya. Ia adalah orang yang suka bekerja. Kesibukan membuatnya bersemangat dan lepas dari stress. Jaemin menatap daftar pasiennya dan menghela nafasnya. Pasiennya sedikit sekali. Ah, Jaemin adalah dokter yang spesialisasinya adalah operasi plastik. Jadi setiap hari ia akan merawat orang yang ingin mengubah penampilan mereka. Ia merasa pekerjaannya ini adalah pekerjaan yang menyenangkan, namun sayangnya operasi plastik tidak begitu digemari di kota ini. Begitu banyak orang yang konserfatif dan menentang operasi plastik.

Jaemin dapat mendengar suara ketukan pintu dan ia pun memanggil orang dibalik pintu itu untuk masuk. Ia dapat melihat seorang gadis yang sangat cantik masuk dengan baju yang indah dan tas kulit yang terlihat mahal. Jaemin tidak tahu hal apa lagi yang perlu dirubah dari wajah gadis itu. Ia tidak mengerti kenapa orang yang begitu cantik seperti ini masih saja tidak memiiki rasa percaya diri.

"Dokter," panggil pasiennya, "aku ingin mengubah mataku jadi lebih besar sedikit. Sedikit saja. Lalu mungkin hidungku dapat dimancungkan."

Jaemin tersenyum hangat dan mengambil spidol hitamnya. Ia mencoret-coret wajah gadis itu untuk mendapatkan gambaran. Dengan spidol, ia lingkari bagian bawah mata gadis itu, sayangnya Jaemin masih belum yakin seperti apa ia akan mengganti hidung gadis itu. Jaemin kemudian mulai mencari gambar-gambar artis di komputer dan mulai mencari hidung yang paling tepat untuk gadis itu.

"Ah, Dokter," gadis itu tertawa malu, "sebenarnya aku sudah menyiapkan hidung seperti apa yang ingin kumiliki."

Jaemin kemudian berhenti sejenak dan tersenyum senang, "ah, kenapa tidak bilang dari tadi? Nah, jadi, hidung seperti apa yang kau mau?"

Gadis itu mengeluarkan sebuah majalah bisnis dan membuka halaman yang sudah ditandainya. Disana Jaemin dapat melihat seorang gadis cantik yang sedang berdiri di sebelah orang yang sangat dikenalnya. Diatasnya terdapat kata-kata 'Mungkinkah pernikahan bisnis akan terjadi?' Jaemin tahu betul siapa kedua orang yang sedang berpose di majalah ini. Terlalu kenal sampai tidak percaya kalau hal ini sedang terjadi kepadanya.

"Gadis ini cantik bukan? Aku ingin memiliki hidung seperti ini Dokter," pasien itu tertawa pelan.

Jaemin kehilangan senyumannya dan ia pun menunjuk-nunjuk orang yang merangkul gadis itu, "pria ini… pria ini…"

"Ah, Jung Jeno," pasiennya menangguk, "ia dan keluarga Seo berencana untuk bekerja sama melalui pernikahan bisnis. Kasihan sekali putri dari keluarga Seo ini. Kudengar ia sudah punya pacar. Apakah ini artinya ia harus berpisah dengan kekasihnya?"

Jaemin kemudian melontarkan senyuman palsu kepada pasiennya dan bergegas mengambil spidolnya yang terjatuh karena kaget tadi. Sang dokter langsung mencoret-coret hidung gadis itu dengan tergesa-gesa.

"Kita akan melakukan operasi minggu depan," Jaemin menuliskan jadwal pertemuannya, "sementara itu jagalah kesehatan anda dan jangan khawatir."

Setelah pasiennya keluar dari ruangan kerjanya, Jaemin langsung menelpon sahabat lamanya dan berteriak dengan lantang, "apa maksudnya ini?"

Jaemin dapat mendengar suara sahabatnya yang kekanak-kanakan menjadi dewasa, "aku sedang mencoba untuk mendapatkannya kembali Nana."

"Renjun!" teriak Jaemin, "kau harus menyelamatkan Haechan dari orang gila brengsek itu!"

Jaemin menutup teleponnya dan menghela nafasnya dengan kesal. Bagaimana mungkin Jeno tega untuk menyutujui sebuah pernikahan tanpa dasar cinta hanya demi uang? Bagaimana mungkin ia tega untuk memisahkan Renjun dan Haechan? Ternyata lelaki brengsek itu telah menjadi lebih kejam dan lebih gila dari Jeno yang ia kenal.

Sebentar Jaemin dapat mendengar teriakan dari balik pintu dan dengan satu hentakan pintu rumah sakit itu terbuka.

"Tolong aku," Haechan muncul dari balik pintu itu, "hanya kau yang bisa menolongku Jaemin."

Pasien Jaemin mengeluh dari balik pintu dan sudah berteriak-teriak kepada suster karena sekarang seharusnya adalah gilirannya. Namun Jaemin tidak mempedulikannya karena Haechan terlihat seperti gadis kecil yang sedang menahan tangisan. Jaemin kemudian memberikan teh hangat kepada gadis itu dan mempersilahkannya untuk duduk.

"Pelan-pelan bicaranya," Jaemin menambahkan gula kedalam teh Haechan, "apa yang bisa kubantu?"

"Aku telah banyak memikirkan rencana yang tepat untuk membatalkan pernikahan ini dengan baik," Haechan mencoba untuk mengatur nafasnya yang memburu, "aku tahu keluarga Seo sangat menginginkan kerjasama ini dan mereka memang tidak begitu suka dengan Renjun, namun mereka tidak bisa bicara apa-apa kalau Jeno yang punya pacar bukan? Jaemin kau bisa menjadi pacar Jeno bukan? Bukankah kau juga suka padanya dulu?"

Jaemin tersedak dan terbatuk-batuk mendengarnya, "bukankah kalian sudah bertunangan? Memangnya bisa dibatalkan ya?"

"Bisa!" Haechan berdiri dengan semangat, "karena pertunangan belum dilakukan dan majalah hanya mengatakan, 'mungkin akan dilakukan pernikahan bisnis'. Keluargaku dan keluarga Jung belum melakukan pertemuan. Jadi kalau kalian berdua berpacaran, aku dan Renjun berpacaran, keluarga Seo tidak bisa berkata apa-apa."

"Tapi—" Jaemin tersedak lagi, "tapi apakah tidak ada gadis lain selain aku?"

"Jeno sendiri yang mengatakan kalau ia tidak ingin dengan gadis lain selain mu."

Bohong. Kata-kata itu tidak mungkin keluar dari mulut Jung Jeno. Tidak mungkin keluar dari mulut pria dingin yang gila itu. Jaemin kemudian menelan ludahnya sendiri dan keringat dingin turun dari dahinya. Ini tidak mungkin terjadi padanya. Tidak mungkin terjadi kepada Jaemin.

"Bahkan… Jemo mengatakan akan lebih baik kalau kau menikah dengannya. Paling tidak diatas kertas."

Jaemin menghela nafasnya dan menutup matanya. Ini mimpi. Ini adalah mimpi buruk. Bangun Jaemin. Bangun.

.

Duak!

Satu tonjokan dilontarkan kepada Jeno. Jeno menghindarinya dengan cepat dan menahan tangan kanan peninju itu dengan erat. Pria itu menghela nafasnya dan memberikan tatapan yang dingin kepadanya.

"Ah, kau melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan Renjun kemarin," Jeno melepaskan tangan kanan gadis itu, "bagaimana, mau langsung menikah atau pacaran dulu? Lebih baik jika langsung menikah saja... Nana."

Jaemin menahan emosinya dan melontarkan satu tinju lagi. Tangannya ditahan lagi oleh Jeno dan kali ini pria itu memojokannya pada tembok. Jaemin dapat melihat wajah pria itu semakin mendekat, ia dapat merasakan kehangatannya, mendegar suara nafasnya, dan mencium parfum pria yang mahal dari tubuh pria itu.

"Hanya ini jalan keluarnya," bisik Jeno, "hanya ini jalan terbaik untuk menolak keluarga Seo tanpa mempengaruhi hubungan perusahaan kami."

Jaemin kehabisan kata-kata. Ia hanya bisa membeku disana dan ditawan oleh kata-kata Jeno yang menyebalkan. Ia ingin membantu Haechan, tapi ia tidak ingin lagi berhubungan dengan Jeno.

"Lebih baik menikah saja," Jeno melepaskan tangan Jaemin dan mundur beberapa langkah, "kalau kita menikah keluarga Seo benar-benar tidak bisa berkata apa-apa."

"Dengar ya Jeno bodoh," Jaemin mengatur nafasnya, "aku ingin seorang suami yang penyayang, bukan seorang dingin sepertimu. Menikah denganmu? Lebih baik kau bermimpi saja!"

Jeno kemudian tersenyum sinis dan berkata, "kau seorang dokter operasi plastik bukan? Operasi plastik tidak begitu popular disini karena banyak dikritik orang… kau juga masih sulit untuk membayar tagihan… Kalau kau pintar kau akan datang dengan mengenakan cincin pertunangan ini besok pagi."

"Aku sudah bilang, aku ingin seorang suami yang penyayang bukan orang dingin sepertimu yang gila dan— mmph."

Jaemin dapat merasakan bibir Jeno yang dingin bertemu dengan bibirnya. Rasanya tidak seperti yang ia bayangkan. Rasanya bibir dingin itu perlahan menjadi hangat. Ciuman itu adalah ciuman paksa dari Jeno, tapi entah kenapa Jaemin tidak ingin ciuman itu untuk berakhir.

"Sudah," ucap Jeno, "aku sudah menjadi penyanyang. Jadi, kau akan membantu Renjun dan Haechan atau tidak?"

Jaemin mengambil cincin berlian itu dan menyisipkannya pada jari manisnya. Ia sudah gila. Ia memang sudah sangat gila. Tapi ada sisi dalam dirinya yang merasa bahwa ia telah membuat keputusan yang tepat.

.

.

.

Tbc/End?

Thanks for reading!

Let me now if you want a second chapter:')

With Love

Ayasoo 💕