1 Satu

Bunga musim gugur berjatuhan. Tanah pijakan berwana coklat, tertutup banyaknya daun kering yang berguguran mengotori jalanan. Namun hal itu juga indah di saat yang bersamaan.

Disini aku berpijak, di jalanan Seoul yang ramai lancar. Aku menenteng tas kecil yang isinya berkas-berkas dan laptop.

Aku menatap ke depan, sebuah gedung yang megah berdiri kokoh menjulang. Tempat itu adalah tempat kerjaku.

Bukan. Aku bukan seorang kepala divisi atau sekertaris CEO. Aku hanyalah pekerja biasa diantara ratusan staff yang bekerja di gedung itu. Gedung dengan dominasi warna pink yang bertuliskan,

SM Entertainment.

Ya. Aku bekerja di salah satu agensi terbesar di negaraku, dan aku cukup bangga karena itu. Aku adalah salah satu staff yang mengurus keperluan para idol di agensiku.

"Huft!" Aku menghela nafas.

Aku melangkahkan kakiku kedalam gedung SM Entertainment. Kurasa pekerjaanku kali ini cukup banyak, karena banyak idol yang akan akan comeback dan ada idol SM yang akan debut awal tahun nanti.

Sekarang sudah musim gugur. Aku harus menyiapkan diri untuk bekerja lebih keras.

"Pagi, Hyukie!" Itu Sungmin. Pria bergigi kelinci itu melambai ke arahku, aku hanya tersenyum menanggapinya. Setelah itu aku menghampiri Sungmin lalu menjabat tangannya.

Sungmin, dia satu divisi denganku. Bahkan meja kerja kami berdampingan. Dia sangat baik dan lucu, namun sayangnya cerewet.

Ups! Maaf Minie-ya.

"Selamat pagi, Sungminie." Lalu aku menaruh tas dimeja kerjaku. Sungmin tersenyum cerah.

Terkadang aku heran kepadanya, bagaimana dia bisa seceria itu padahal sedang dalam kondisi yang tidak mengenakkan.

Seperti saat ini contohnya, aku menyerngit. Berapa banyak lembaran kertas yang tertumpuk di atas meja kerja Sungmin sekarang?

Dan lihat, dia bahkan dengan santainya mengotak-atik komputer sambil bersenandung ria, terkadang mulutnya juga menyedot susu kotak rasa stroberi dari sedotan kecil didepannya.

Dia juga menyapa setiap orang yang lewat atau yang baru datang. Sungguh, Sungmin adalah orang kelewat ceria yang pernah aku kenal sebelumnya.

Mengingat susu stroberi, aku sama sekali belum meminum minuman manis itu hari ini. Huft! Salahkan si Donghae bodoh yang sangat menyebalkan tidak pulang semalam.

Padahal aku sudah mengirimnya seribu-satu pesan untuk membelikanku susu stroberi jika pulang. Dan melihat Sungmin sekarang, aku jadi iri.

Aku juga ingin minum susu stroberi :(

Daripada menahannya, aku memutuskan untuk membeli susu stroberi sebentar di cafetaria. Aku beranjak dari dudukku dan berjalan keluar.

Saat aku hendak membuka pintu, tiba-tiba saja pintu kaca yang sedikit buram itu terbuka. Disana berdirilah seorang pria yang tinggi menjulang.

Kulitnya putih dan rambutnya sedikit ikal. Ah, sepertinya ia baru saja mengecat rambutnya.

Warna pink? Seperti permen kapas saja.

Wajahnya sangat tampan, apalagi dengan pakaian kasual yang di kenalannya sekarang. Dia hanya memakai kaus putih dan celana jeans, sangat tampan.

"Pagi, Hyung" dia menyapaku.

"Pagi juga, Kyu" aku menjawab. Setelah itu dia tersenyum dan berjalan melewatiku, sangat tampan, batinku.

Cho Kyuhyun.

Kyuhyun adalah salah satu idol asuhan agensiku. Dia seorang penyanyi solo. Ia sangat populer bahkan hingga internasional.

Salahkan wajah tampannya dan bakat menyanyinya yang sangat indah.

Suaranya sangat lembut dan halus, seperti kulitnya Sungminie, eh?!

Aku menoleh ke belakang, dan benar saja. Kyuhyun sedang memeluk Sungmin.

Kyuhyun berujar, "Sungminie, kau lihat warna rambutku? Warna pink, seperti warna favorit mu!" Sementara Sungmin sudah berteriak heboh karena terlalu gemas dengan rambut baru kekasihnya.

Kekasih? Ya, mereka sepasang kekasih. Kalian pasti tidak asing dengan hubungan seperti ini. Maksudku dengan sesama laki-laki.

Karena jika kalian membaca cerita ini, maka terbukti bahwa kalian adalah seorang fujoshi, hahaha.

Melihat interaksi sepasang kekasih itu, membuatku berpikir. Seperti apa jika aku memiliki kekasih nanti? Apa dia seorang perempuan atau laki-laki?

Jika laki-laki, apa aku yang akan jadi semenya? Atau malah jadi ukenya?

Aku menerawang, aku pasti jadi semenya, iya tidak? Secara kan aku tampan, tubuhku juga manly. Aku punya otot perut. Yah, walaupun tipis dan tidak seperti milik Donghae.

Belalaiku juga besar, walaupun tidak sebesar milik Donghae, eh?!

'Ah, Hyuk! Kenapa malah memikirkan hal yang tidak penting.' Aku menggeleng.

'Ayo fokus bekerja dan cari uang yang banyak.' iya, aku meyakinkan diri.

Aku berjalan keluar, seperti tujuan awalku tadi untuk membeli susu stroberi.

Sesampainya aku di cafetaria, aku langsung membuka kulkas dan mengambil tiga kotak susu stroberi. Setelah itu aku pergi ke kasir dan membayarnya.

Sambil menyedot susu stroberiku, aku berjalan. Sesekali juga menyapa pegawai lainnya.

Tanganku yang satu menenteng kantung kecil berisi dua kotak susu stroberi yang belum aku minum –untuk aku minum nanti.

Saat aku sampai di meja kerjaku, aku dikejutkan oleh puluhan pesan dan telepon yang masuk di ponsel ku.

Sungmin mengatakan jika sedari aku pergi ke cafetaria, ponselku sudah berdering. Sungmin juga berkata jika ia tidak berani mengangkat telepon nya, makanya ia mendiamkannya saja.

Aku mengangguk-angguk mengerti.

Tak berselang lama, ponsel ku berdering lagi. Dari nomor yang sama, nomor asing yang belum aku tau siapa pemiliknya.

Aku bergegas menerima telepon tersebut, "Halo, benarkah ini dengan saudara Lee Hyukjae?" Tanya orang itu, dia seorang laki-laki

"Iya, ini saya. Boleh saya tau ini dengan siapa?"

"Saya dari pihak super market. Adik anda, Lee Donghae membuat kegaduhan disini, apa bisa anda datang sekarang?"

Hah, aku menghela nafas lesu, apalagi dengan si bodoh itu? Semalam tidak pulang dan sekarang malah membuat onar di super market.

Ya, Tuhan. Ini masih pagi, Lee Donghae.

Bahkan aku belum memulai pekerjaanku. Aku memijat pangkal hidungku pelan.

"Baik pak, kirimkan saja alamatnya. Saya akan datang."

"Baiklah" dan panggilan itu terputus.

Sungmin menatapku, "Ada apa?" tanyanya.

Oh, kelihatannya Kyuhyun sudah pergi. Pria berambut pink itu sudah tidak terlihat batang hidungnya lagi.

"Donghae membuat ulah lagi," aku menghela nafas, entah untuk yang keberapa.

"Kau harus pergi?" Tanyanya lagi.

"Iya, Sungminie. Tapi bagaimana dengan pekerjaanku?"

Sementara itu, Sungmin mulai berfikir. Telunjuknya ia taruh di dagu dan kepalanya sedikit mendongak, sangat imut.

Tak lama setelah itu, dia menyeringai. Sementara aku menyerngit tidak paham.

Aku lihat arah pandang Sungmin.

Aku mengikutinya, dan tertujulah aku pada seseorang yang di belakangku, atau lebih tepatnya di samping meja kerjaku.

Heechul-Hyung. Nampaknya dia tengah fokus dalam pekerjaannya.

Setelah menangkap apa yang Sungmin pikirkan, aku ikut menyeringai.

Hmmm, Heechul-Hyung.

Sepertinya tidak buruk.

Next chapter