1 @Tetesan darah

Oleh : Andi Anitha Ashari

"Tia, Apakah kau mau jadi pendamping hidupku?" ucap seorang Lelaki tampan melamar seorang gadis berpakaian Mini di taman megunakan salah satu mawar merah yang ia petik di taman itu.

Gadis itu mematung, meneteskan bulir hening dari sudut matanya."Iya, aku mau Dev!" jawabnya sambil mengabil bunga dari sang Lelaki.

"Saat ini, detik ini. Dengan semua pasangan dan bunga-bunga mawar yang bermekaran. adalah saksi bahwa kau adalah calon pedampingku!" jelas sang Devan sembari memegang erat tangan Tia.

"HARIMAU!" teriak salah satu pengunjung sambil berlari, sontak saja keadaan menjadi riuh, Devan dan Tia terpisah.

"Dev!" teriak Tia, yang terselubung di dalam keramaian sambil memegang erat mawar merah berduri pemberian Dev dan membuat tanganya berdarah.

"Tia!!" teriak Devan mencari kekasihnya menerobos keramaian.

"Aaaakhh!" teriak seorang wanita di balik keramaian, membuat keramaian terpecah menjdi dua.

"DEVV!" teriak Tia ketika harimau menerkamnya dan mencabik cabik dagingnya, gemercik darah berhamburan membuat Devan marah besar.

Melihat orang yang ia sayang dicabik cabik dan dimakan hidup-hidup emosi Devan meluap-luap, dan tampa ia peduli menyerang harimau dengan sebilah pisau milik pengunjung.

"AAaaaaakh!" teriak Devan menusukan pisau tepat ke jantung sang harimau saat ingin berbalik meyerangnya.

"Grauww!" suara jeritan Sang Harimau terakhir terdengar saat pisau menancap tepat di dadanya.

Devan menusuk nusuk dada sang Harimau, dan bangkit melihat Tia kekasihnya yang tertelungkup dengan bersimbah darah dan organ tak utuh lagi.

"Sayang, Bangun sayang!" titah Devan sambil membalik badan Tia.

"Tia, kita bakalan nikah kan. Kita bakalan punya anak-anak yang lucu sayang, kamu bangun yah!" titah Devan menepuk pipi sang kekasih. Namun tak kunjung bangun.

Sejenak taman yang semula ramai kini hening, rintik hujan kini turun membasahi tanah dan raga kedua pasangan itu, sinar mentari kini tak Nampak lagi. Bagai hati Devan melihat Tia sudah menutup matanya untuk selamanya.

Sayup bunga bunga mawar ditaman, seolah olah sedang ikut merasakan kesedihan Devan. Hanya bunga mawar merah dengan siraman darah saksi bisu rasa sakit yang Tia rasakan.

"Ngak, kamu ngak mungkin mati. Ngak, Niaaa! Bangun sayang Bangun!" teriak Randa dengan keras. Tampa ragu ragu memeluk erat tubuh yang bersimbah darah dan menagis tersendu-sendu

"Tiaaaaa!" teriak Devan dengan kencang hingga melampaui kapasitas pita suaranya.

Detik demi detik rintik hujan kian deras menyapu bersih darah segaryang menempel di rerumputan. Sedang Devan masih setia menemani jasat sang kekasih dan mengenggam erat bunga mawar pemberiannya

****

Wiw ...

Suara serena ambulance di ikuti mobil polisi, melalui tiap pohon memasuki gerbang taman yang berada di tengah hutan.

^^^^

Dua orang polisi turun di ikuti oleh empat orang suster lengkap dengan tandu menuju tempat Devan dan Tia

"Angkat!" titah seorang lelaki bertubuh tegap pada empat orang suster yang beruturun dari Ambulance.

Devan masih terdiam, perlahan jasad kekasihnya itu di angkat naik ke tandu. Lepas dari dekapan dirinya.

Lelaki itu hanya menunduk tak ada pergerakan, kecuali bibir tersenyum menyamping. Bak seorang pesikopat.

Serkk ...

Suara pisau di cabut dari badan harimau dan di lempar balik mengarah suster yang tengah melangkah menjauh dari dirinya.

Sark ...

Pisau menembus jantung salah satu suster hingga terjatu tak bernyawa.

Dorr ...

Sebuah timah panas menembus tengkorak Devan membuatnya terkulai lemas

Dua Tahun Kemudian ...

Bertahun sudah Devan terkulai di ranjang perawatan. Semua alat lah yang membantu ia hidup dan memberitau bahwa jantung dan nadinya masih berpacu, tampa sadar diri.

****

"Bagaiman? Kapan dia sadar, Dok?" tanya Seorang Pria berbaju polisi pada seorang dokter yang mengawasi Devan

"Denyut nadinya normal, detak jantungnya juga. Tapi ... kami masih bingung kenapa dia tidak sadakan diri juga," tutur dokter yang merawat Devan

"Baiklah, kita tunggu," ucap Polisi tersebut sembari melihat Devan yang terbaring di ranjang perwatan

****

Ceklek ...

Dokter dan polisi itu pun berlalu pergi, meninggalkan Devan sendiri. Di dalam ruangan.

"Dasar, Bodoh!" tutur Devan bangun dari kasur perawatanya

Satu minggu, ternyata pria itu telah menipu Suster, Dokter, dan Polisi yang mengawasinya dengan berpura pura masih koma.

"Selamat tinggal. Dokter, Polisi, terimah kasi atas perawatanya!" tutur Devan menghadap ke depan jendela kaca yang berhadapan langsung dengan jalan raya sembaru memegang Vas bunga

Brak ...

Tak butuh waktu lama, kaca itu pecah berkeping. Dokter dan Polisi tadi berlari masuk, namun tak ada gunanya lagi Devan telah kabur berlari menyusuri jalan.

Langkah kaki Devan terhenti di sebuah rumah seorang gadis cantik melambai dengan gaun mini dan wajah pucat pasih.

"Tia," lirih Devan

Tatapan  memfokus langkah kakinya tertuju pada si gadis, senyum manis itu kembali di tatap sosok lelaki bernama Devan itu.

"Hei, ini kamu sayang," lirih Devan menyapu tiap sudut wajah gadis itu

Gadis itu menganguk, rambut tergerai mengikuti irama angin dengan suasana sunyi senyap.