1 Perjalanan

Fajar hampir datang dan kami masih dalam perjalanan menuju rumah baru, hidup baru, atau lebih tepatnya pelarian diri yang baru. Sesekali ibuku menguap. Sudah hampir 24 jam kami berkendara, melintasi satu kota ke kota yang lain. Aku masih tidak bisa memejamkan mataku. Alasan keselamatan dan juga ibu menjadi hal yang menakutkan untukku.

"Sebentar lagi kita sampai Jessi," lirih ibu.

Ya, kalau tidak salah, ibu sudah mengatakan itu tepat 3 jam yang lalu. Aku menatap ke kursi belakang, Mello mengerjapkan matanya yang menyipit, ia menguap, merenggangkan otot-ototnya lalu menghampiriku.

"Eeooyong." Mello menepuk lenganku, sepertinya dia sama bosan dan lelahnya seperti aku. Aku raih tas, membuka sachet terakhir makanan kucing miliknya.

"Isshh!" ibuku mengeryitkan dahinya, ia tidak begitu menyukai kucing. Ya, walaupun sudah hampir setahun ini kami bersama, tapi ibu tidak pernah bisa berusaha menyukai Mello, menurutnya Mello kucing yang menyeramkan, memang ia bukan kucing yang menyenangkan, ia benci di belai, ia benci kebisingan, ia benci terhadap kucing lain, bulunya yang berwarna hitam, terlihat sangat mengkilap, aku rajin memandikannya, walau harus sering berakhir dramatis. Mello tidak pernah meninggalkanku sendiri, saat ia datang ke rumah, ia hanya sebesar genggaman tanganku.

Mello melompat ke pangkuanku, ia akan menggigitku, bila aku membelainya, ia kembali tertidur. Kami terus berkendara sampai rasanya aku ingin muntah, ibu meraih ponselnya.

"Tidak ada sinyal!"

"Dan aku rasa tempat ini tidak ada di peta." Ucapku. Ibu mengelus rambutku, ia tersenyum.

Kami melewati sebuah gerbang tua, yang bertuliskan selamat datang, sepanjang perjalanan aku melihat beberapa rumah warga dengan jarak yang berjauhan, minimnya lampu jalan, membuat bulu kudukku berdiri,di kanan dan kiri jalan kami melewati hutan pinus, ibu memperlambat laju kendaraannya, kabut mulai menebal dan sepertinya akan sampai. Kami melewati areal pemakaman tua yang sangat menyeramkan, entah seberapa menyeramkan lagi rumah yang akan kami tinggali. Berjarak sekitar 50 meter dari pemakaman kami tiba di depan sebuah gerbang tua berkarat yang lebih menyeramkan dari areal pemakaman yang kami lewati. Ibu keluar dari mobil. Ya, dia memang lebih berani dari yang terlihat, aku memeluk Mello, ia memberontak.

Ibu menarik beberapa tanaman merambat yang seakan memeluk gerbang tua itu. Ia meraih kunci dari saku celananya, wajahnya tersenyum saat berhasil membuka gembok. "Oh Jessi! apa kau akan diam saja disana sampai matahari benar-benar terbit?!" ibu menatapku, aku benar-benar lelah.

"Jessi! Jessica!" baiklah. Ibu mulai berteriak, sepertinya kali ini ia tidak bisa membuka pintu itu sendirian.

Suara desiran angin seakan membelai rambutku, saat aku menginjakan kakiku. Ini menyeramkan. Kami mendorong gerbang tua yang menyeramkan itu, ia bergerak sangat lambat, suara derit dari besi yang berkarat seakan menertawakan kami berdua.

Aku dan ibu kembali ke dalam mobil. Kami menyusuri jalan yang tidak kalah menyeramkan. Aku melihat kedip cahaya lampu dari kejauhan.

"Apa ini benar rumah yang akan kita tinggali? Ibu?" rengekku

"Kita tidak punya pilihan lain sayang." Mungkin lebih tepatnya tidak menginginkan pilihan yang lain. Kami berhenti tepat di depan sebuah rumah tua yang terlihat menakjupkan, seram, tapi menakjupkan, aku tidak sanggup berkata apa-apa lagi! Ini hebat, untuk lokasi syuting film horror. Dan Ayahku memang memiliki selera yang aneh.

Kami sudah tiba di depan pintu besar terbuat dari kayu jati, jendela besar terbingkai berwarna hitam mengkilat menghiasi sisi kanan dan kiri rumah. Ibu membuka pintu. "Bawa seperlunya, sisanya kita bereskan setelah istirahat!" ucap Ibu.

Ku raih tas ranselku, dan menggendong Mello, ia mendesis saat kami memasuki rumah, namun tak berani melompat kabur seperti biasanya. Aku rasa dia pun takut untuk menjelajah sendirian.

"Ini terlalu besar untuk kita berdua." Ucap ibu.

"Bertiga, Mello ikut dalam hitungan." Bantahku, ibu hanya menatap dan sudah terlalu lelah untuk berdebat denganku.

"Kamarmu di atas sebelah kiri, Ayah katakan semua sudah siap." Ibu memijat keningnya. Ia hempaskan tubuhnya ke atas sofa besar berwarna pastel.

"Ibu, apa Ayah akan datang?" ya aku hanya akan berbicara yang penting saja, dan kali ini Ibu menatapku, ia meremas lenganku.

"Terlalu berbahaya untuk sekarang, istirahatlah!" Ibu pergi seakan ia mengenali rumah ini, bahkan aku tahu ia sama takutnya denganku.

Ya, ruangan ini sangat menyeramkan, dan baunya lebih mirip kaus kaki basah yang disimpan dalam lemari untuk waktu yang sangat lama, Mello kembali mendesis, ujung kupingnya bergerak, matanya mengawasi setiap ruangan. Pijakan tangga ini berderit, debu mulai beterbangan, sepertinya Ayah tidak sempat membereskan semuanya dalam sekejap mata. Aku melangkah seakan dipandu oleh keheningan malam. Dan sepertinya ini kamarku. Sama seperti kamar-kamarku sebelumnya, dengan pintu bercat putih bertuliskan Jessica zone tertempel di depan pintu, aku tak tahu harus senang atau merasa hidupku menyedihkan, tapi kali ini Ayahku menepati janjinya. Tempat tidurku, aromanya, lemari pakaianku, dan bahkan kasur kecil milik Mello yang biasanya aku simpan di depan rumah tertata rapi di ruangan ini. Mello melompat, ia mengendus kasurnya, dan melingkar manja, sambil menjilati tangan dan kakinya.

Aku hempaskan tubuhku, sungguh melelahkan, dan entah sampai kapan aku akan terus hidup dalam pelarian. Bersembunyi di balik hubungan terlarang antara Ibu dan Ayahku. Aku sudah terlalu lelah. Biarkan aku memikirkannya kembali nanti malam.

******

Aku berjalan di dalam kegelapan, ada sekelompok orang berbisik dengan bahasa yang tidak pernah aku dengar sebelumnya. Dan ada sebuah pintu besar dengan gagang besi bulat dengan motif naga. Tanganku bergetar ketika aku menyentuh gagang itu. Dan ketika aku mendorong pintu itu. Bayangan hitam bertubuh tegap menghadangku, aku mendongak untuk menatap wajahnya yang tersenyum menatapku.

"Jessica!"

Aku terbangun, Mello melompat dari atas tubuhku. Oh yang benar saja.

"Sudah pagi! Bangun!" teriak Ibu.

Aku bisa mendengar derit langkah kakinya menjauh, ya, syukurlah aku tinggal di rumah tua berlantai kayu mahoni yang akan berderit bila diinjak. Mimpi itu, kenapa sering sekali datang dan aku tidak pernah bisa membuka pintu itu. Dan lelaki itu, hampir saja aku dapat benar-benar melihat wajahnya.

Aku langkahkan kaki menuju lantai bawah, ibu sudah terdengar sibuk sekali, padahal ia hanya menyiapkan sarapan untuk dua orang saja.

"Untuk pertama kalinya malam tadi kamu tidak bangun," ucap Ibu, ia menaruh beberapa tumpuk pancake berlumur sirup mapple lalu meletakkannya di hadapanku.

"Yeah, aku juga heran." Ucapku. Mello membelai kakiku,

"Eeeooyong." Hidungnya yang basah menyentuh kakiku. Cepat-cepat Ibu meletakan sepotong ikan tuna kalengan ke atas piring kecil dan membiarkan Mello mengurusnya.

"Hari ini tahun ajaran baru, Ayah sudah mendaftarkan kamu, cepat bersiap, ibu antar!" Ibu sungguh bersemangat. Padahal, aku tidak akan ada di sana kurang dari enam bulan.

"Dan, kulitmu, kilauannya makin terlihat, padahal ini sudah pagi. Jangan lupa menyamarkannya saat berangkat sekolah!"

Aku takjup melihat tanganku, ibu benar, kilauannya makin jelas terlihat, indah seperti berlian, dan hangat seperti sinar matahari pagi.

Kulitku mengkilat? Ya, aku bukanlah manusia biasa, aku, aku, sulit menjelaskan ini. Ibuku? Ya dia manusia, Ayahku? Hmm. Aku bingung menjelaskannya, dia sedikit berbeda dengan manusia kebanyakan, oke, tidak sedikit tapi banyak! Selama aku hidup hanya beberapa kali aku bertemu dengannya, ibuku berkata aku adalah anak yang seharusnya tidak pernah ada.

Ayahku, boleh dikatakan dia, sejenis vampir, drakula, atau apapun itu tapi aku lebih senang menyebutnya "alien", ya karena itu terdengar lebih masuk akal, sampai saat ini belum ada yang mengetahui dengan pasti apakah ada kehidupan di luar galaksi planet yang kita tinggali, kan? Ya, aku rasa ayahku berasal dari sana. Ayahku berusaha menyembunyikanku dari para leluhur alien atau apalah itu yang merasa kehadiranku itu pertanda apa? Hasil hubungan terlarang antara makhluk yang berbeda. Yang seharusnya tidak sanggup bertahan walau hanya sedetik. Dan jangan paksa aku bercerita tentang proses kelahiranku, karena bila ibu dan aku sedang bertengkar, ia akan terus bercerita betapa menderitanya ia saat melahirkanku. Si makhluk tanpa identitas.

Aku mengoleskan krim penyamar noda ke wajah, telinga, leher, lengan, oh, sungguh merepotkan. Tetapi aku memang makin terlihat begitu berbeda. Mello melompat ke atas meja rias. Ia menatapku seakan berkata jangan meninggalkan aku.

"Aku akan cepat sampai rumah, sekolah sepertinya tidak menyenangkan sama sekali!" aku mengusap kepalanya, ia melompat turun.

"Jessica!" Ibu sudah berteriak, dan jangan menunggu ia berteriak lagi. Bergegas aku menuruni tangga, yang seakan tidak mampu menopang langkahku. Aku membuka pintu, mataku terpaku menatap halaman rumahku. Beberapa pohon beringin tua menyeramkan tertanam kokoh di sana, daun yang berserakan seakan akan menandakan rumah ini memang sudah lama ditinggalkan. Ibu sudah berdiri di samping mobil.

"Rumah ini terlihat lebih indah saat malam." Ucapku sekenanya.

Kami kembali melintasi pemakaman tua yang menyeramkan, aku tak bisa berhenti mengutuk diriku sendiri, betapa semua yang menyeramkan selalu berdampingan denganku. Sepertinya akan menjadi hari yang melelahkan, kami melewati beberapa areal perkebunan, hutan pinus, sawah, dan sampai pada akhirnya aku bisa melihat rumah warga, rumah yang terlihat seperti seharusnya ia berada.

Kami tiba di sebuah sekolah menengah atas, beberapa murid terlihat bergegas memasuki gerbang sekolah, halamannya sangat luas, entah mengapa jantungku berdegup sangat kencang. Aku merasakan hal aneh yang seakan meremas-remas jantungku. Aku mengenggam lengan ibuku.

"Ibu, aku merasa sesak!"

"Tenang Jessi, mungkin kamu hanya gugup, ini pertama kalinya kamu sekolah, tenang, oke?"

Dengan langkah kakiku yang seakan terasa sangat berat aku mengikuti langkah ibu, ia terlihat susah payah mengakrabkan diri dengan kepala sekolah, aku sungguh tidak peduli dengan percakapan mereka, jantungku seakan akan meledak, aku berusaha mengatur nafasku. Keringat dingin mulai bermunculan di dahiku, telapak tanganku seakan membeku.

Mereka berhenti bercakap, ibu memapahku, beliau benar-benar tidak bisa melihat aku dalam masalah, kami tiba di kelas, ibu meninggalkanku. DIA MENINGGALKAN AKU...!

Semua memandangku, aku meremas dadaku, aku benar-benar tidak bisa bernafas, ada sesuatu yang menghantam dan terus menghantam jantungku. Aku benamkan wajahku di atas tas, tanganku meremas dadaku, sedang yang lainnya mencengkeram erat ujung meja. Aku akan mati.

Tangan dingin menyentuh tanganku, mata kami bertemu, ia tersenyum. Matanya berwarna coklat wallnut, rambutnya kemerahan, dengan pipi yang merona, dan bibir mungil sempurna, ia sangat cantik.

"Biarkan alirannya mengalir, jangan ditahan, jangan dilawan, karena kamu bisa hancur karenanya!" ia meremas tanganku. "Tutup matamu, dan ikuti arusnya!"

Entah mengapa, aku mengerti, aku mengikuti setiap ucapannya, seperti berendam dalam sungai dangkal berarus deras, yang arusnya berdamai dengan tubuh dan jiwaku.

Ketika aku membuka mata, ia tidak lagi sendiri, seorang lelaki berdiri di ambang pintu, aku tidak bisa menatap wajahnya, dan seorang wanita cantik berdiri di sebelahnya.

"Sudah lebih baik?" aku mengangguk, dan aku tetap tidak bisa mengalihkan pandanganku darinya.