1 1 - Pembakaran Iblis

Suara derak kuda dan gemerincing rantai yang mengikat seorang gadis muda berambut panjang teredam oleh seruan cemoohan para penduduk di sepanjang jalan ibukota Kerajaan Sekta Loka.

Selain gadis muda itu, Ada enam ekor kuda yang ditunggangi para pengawal dari belasan tahanan yang lain. Jalanan di ibukota kerajaan dipenuhi sesak oleh pria, wanita dan anak-anak, termasuk para pendekar yang ingin menyaksikan hukuman mati para tahanan.

"Dasar Iblis..! Mati kau..!"

Gadis muda yang ditarik paksa tersebut nampak memekik kesakitan saat terkena timpukan batu oleh seorang wanita. Dia sebenarnya mempunyai kulit yang putih dan indah andai tidak banyak luka yang nampak di tubuhnya.

"Ayo cepat jalan!"

Akh!

Sambaran cambuk salah satu prajurit membuat seorang tahanan pria terjatuh. Seluruh tubuhnya penuh luka dan jari-jari pada tangannya nampak mengeluarkan darah akibat alat penjepit yang pernah dipakaikan secara paksa kepadanya.

Belasan tiang pembakaran telah dipersiapkan, halaman luas istana sesak oleh orang-orang yang ingin menyaksikan Pembakaran Iblis secara langsung.

Raja Bayu Lodra menatap merendahkan ke arah para tahanan yang merupakan keluarga bangsawan Lumina. Dia pun memberi isyarat mata pada putranya, Gajah Sakti untuk memulai pembakaran para iblis.

Beberapa tahanan perempuan, termasuk anak-anak nampak menangis tersedu-sedu. Mereka mulai diikat pada tiang dan sama sekali tidak bisa memberontak.

Gajah Sakti menghampiri seorang gadis yang memiliki luka pada kulitnya yang kotor. Gadis itu terlihat seperti manusia pada umumnya, sangat cantik, namun yang membedakannya dengan manusia lain adalah matanya yang berwarna merah.

Gajah Sakti berbisik di telinga gadis berambut panjang itu, "Jika saja kau menerima tawaranku .... Kau pasti sudah menjadi istri dari seorang calon raja."

Gajah Sakti mendengus, "Benar-benar tidak terduga. Kau ternyata keturunan Iblis, menjijikkan sekali."

"..." gadis cantik berambut panjang itu hanya terdiam. Dia menahan rasa sakit pada seluruh tubuhnya.

Gajah Sakti berbisik menambahkan, "Kau pasti menyesal. Namun sayang, aku tidak menaruh rasa iba pada kaum seperti kalian. Meskipun aku memang pernah mencintaimu,"

"... Tidak sama sekali," suara pelan dan serak dari gadis bermata merah itu membuat Gajah Sakti tersentak. "Satu-satunya penyesalanku adalah aku hanya menampar dan memberikan bekas luka di wajahmu waktu itu. Harusnya .... Aku menusuk lehermu,"

Gadis yang sudah banyak mengalami berbagai siksaan itu masih mampu tersenyum dan meledek pria yang memiliki segaris luka di pipi kanannya.

"Tanda yang kutinggalkan di wajahmu dan kejadian pada hari ini akan kau ingat seumur hidupmu." gadis itu kemudian mengeraskan suaranya, "Akan tiba saat di mana kalian menerima balasannya...! Kerajaan ini akan runtuh...!"

Keriuhan yang memekakkan mendadak mereda. Orang-orang yang mendengar seruan itu tersentak dengan sorot mata yang ketakutan mulai terlihat di wajah mereka.

"Raja Bayu Lodra!" seorang pria tua berseru. Dia mempunyai tatapan mata yang penuh kebencian, "Aku akui kami bukanlah manusia. Tapi tidak pernah sekali pun kami menyakiti bangsa kalian! Jika ada yang layak disebut 'Iblis', itu tidak lain adalah kalian! Para Manusia!"

"Kau sudah membuat kesalahan besar dengan menganggu keluargaku!" wanita yang menjadi tahanan lain ikut berseru, "Keangkuhan kalian telah membawa kerajaan ini menuju kehancuran!"

"Kalian yang menyaksikan ketidak-adilan ini akan membayarnya!" gadis cantik itu kembali berseru sebelum dia beradu pandang dengan Gajah Sakti, "Dan ketika saat itu tiba. Maka berakhir juga garis keturunanmu,"

Gajah Sakti terkesiap, tatapan matanya menajam. Dia berteriak dan memberikan perintah, "Bakar Mereka!"

Para prajurit mulai menyebar jerami di sekitar kaki para tahanan, salah seorang di antara mereka memegang obor yang menyala. Prajurit itu mendekat dan langsung menyulut jerami. Api seketika menyebar dengan cepat dan merabat ke arah belasan tahanan yang sama sekali tidak berdaya.

Jeritan tragis terdengar saat panas dari api mulai melahap dan membakar tubuh para tahanan. Sorakan gembira para penduduk kembali terdengar, kerajaan mereka memang hanya boleh dihuni oleh manusia. Iblis sudah seharusnya kembali ke neraka----tempat tinggal mereka yang sebenarnya.

Kejadian itu sungguh mengesankan, namun ternyata di hari yang sama-----tidak hanya Kerajaan Sekta Loka yang melakukan Pembakaran Iblis, tetapi juga kerajaan-kerajaan lain di Kekaisaran Langit Utara.

Mengejutkannya lagi adalah Pembakaran Iblis juga berlangsung di halaman istana Kaisar. Bau hangus daging tercium tidak beberapa lama. Setiap anggota keluarga kaisar menyaksikan bagaimana jasad para keturunan iblis tersebut yang telah menghitam.

Seorang pria yang merupakan orang terpercaya nampak berdiri dengan dada terbusung bangga. Dia menatap rakyat dan tersenyum lebar. Tidak lama lagi tanah airnya bersih dari keturunan Iblis.

Sorak-sorakan penduduk terdengar hingga jauh. Tanah di Kekaisaran Langit Utara itu seakan merayakan hari yang begitu besar.

Mereka berpesta, merayakan hari kemusnahan keturunan iblis dengan menyantap hidangan lezat yang disediakan oleh masing-masing pihak kerajaan.

*

18 Tahun kemudian.

Lembah Akar Merambat, Daerah Pinggiran, Kekaisaran Langit Utara, Benua Tengah.

Hujan deras membasahi tubuh seorang pemuda, berambut pendek berwarna merah gelap dengan mata coklat kehitaman.

Tubuhnya tidak terlalu berotot, bahkan terlihat biasa-biasa saja. Dia nampak bersandar pada sebuah pohon, tersengal-sengal dengan tatapan mata memburam.

Di tangan kanannya, terdapat sebuah kapak dengan pegangan kayu, senjata biasa yang dipakai para penebang pohon.

Bila diperhatikan lebih baik, ada darah yang mengalir dari bilah kapak ini, menyatu dengan hujan, terus turun dan menyentuh tanah.

Pakaiannya penuh koyakan, itu akibat dari cakaran hewan buas, terdapat bekas yang sama pada tubuh pemuda ini.

Bahkan pelipis sebelah kanannya juga nampak dua buah cakaran yang dalam, terlihat mengeluarkan darah.

Di depan pemuda itu, terbaring kaku seekor beruang hitam dewasa. Banyak luka di kaki, punggung dan kepala beruang itu, air hujan yang menggenang di sekitar tubuhnya nampak berwarna merah.

Binatang ini telah tewas. Satu hal yang pasti, luka di sekujur tubuhnya diakibatkan oleh kapak pemuda yang bersandar pada pohon di dekatnya.

Pemuda berusia 20 Tahun tersebut terbatuk, dia berusaha berdiri. Bima hanyalah pemuda biasa, salah satu warga Desa Serabut yang pekerjaannya selain menebang pohon juga menanak nasi di salah satu kedai kecil milik kepala desa.

Apa yang terjadi sekarang dimulai dari dua hari yang lalu. Malam bulan purnama dengan langit penuh bintang.

"..."

Di bawah cahaya Sang Bulan, Bima yang begitu senang karena akhirnya dapat membawakan gelang giok seharga lima puluh keping emas, hasil dari tabungannya bekerja selama ini pada kekasihnya tiba-tiba mendengar suara petir di dalam dada.

Tubuhnya membeku saat menyaksikan secara langsung bagaimana gadis yang paling dia sukai ternyata hanya memanfaatkan dirinya saja.

Sandiwara macam apa yang dilakukan lebih dari sepuluh tahun oleh gadis yang merupakan teman pertamanya ini?!

Bima yang bekerja sehari semalam, terkadang bahkan tidak tidur demi mendapat uang untuk mewujudkan keinginan gadis penuh kelembutan padanya tersebut. Tidak disangka, semua perhatian, bahkan senyum penuh kehangatan yang hanya ditunjukkan padanya adalah palsu.

Tepat di depan matanya sendiri, dia mendengar kebenaran yang begitu menyakitkan.

Entah sejak kapan gadis yang sebentar lagi menjadi tunangannya memiliki kekasih lain. Dia adalah pemuda yang merupakan anak dari Kepala Desa Serabut, seseorang yang selalu menganggu Bima, sosok yang baru kembali dari kota besar dengan begitu bangga diri terhadap gelarnya yang seorang pendekar.

'.... Kekasihku seratus kali lebih baik darimu! Dia pria yang kuat, cerdas dan berbakat. Selain putra dari kepala desa, dia juga seorang pendekar. Tidak sepertimu yang miskin, penyakitan dan tak punya masa depan..!'

'Kasihan sekali kau bisa diperbudak sampai seperti ini oleh perempuan. Kau tahu tidak? Sejak pertemuan awal kalian, dia sudah membohongimu,'

"..."

Ucapan yang disertai tawa ejekan terus terbayang di dalam pikiran Bima. Tubuhnya memberat setiap kali dia melangkah, seakan-akan tetesan air hujan yang menyentuh pundaknya adalah beban.

Pandangan matanya semakin memburam, langkah Bima disertai aliran darah yang keluar dari tubuh dan menyatu dengan hujan. Dia kembali ingat dengan ucapan gadis yang begitu dicintainya.

'.... Kau tidak lebih dari sapi perah bagiku..! Loka memiliki segalanya, tidak sepertimu. Aku tidak perlu berpikir dua kali untuk memilihnya. Perlu kau ketahui, sejak awal aku tidak punya perasaan apa pun padamu! Apa kau pikir aku mau hidup bersamamu? Hah! Jangan bercanda. Tidak ada dalam mimpiku sekali pun harus hidup dengan pria miskin sepertimu..! Mulai sekarang, tidak ada hubungan apa pun di antara kita! Dan jangan sekali-kali mengatakan bahwa aku pernah memiliki hubungan denganmu!'

ZRAAASH!

Suara derasnya air hujan baru terdengar jelas, Bima yang penuh luka akhirnya bisa keluar dari Lembah Akar Merambat.

Dia tidak tahu ke mana kedua kakinya membawa dirinya melangkah. Di pikiran Bima hanya satu----terus berjalan lurus sampai menemukan pemukiman.

!

Sesekali dia memuntahkan darah kental, luka parah seperti ini harusnya telah membuat dia tewas. Namun, sepertinya langit masih belum puas menyiksanya.

Pikirannya sudah mulai kosong, penglihatannya semakin buram, dia bahkan tidak lagi mendengar suara hujan.

Tetapi, kakinya masih saja bergerak. Terus berjalan seakan memiliki pikiran sendiri. Mungkin hanya sedikit sandungan saja, dia pasti akan terjatuh tanpa bisa bangun kembali.

*******