1 Malam Pengantin

"Saya terima nikahnya Yalena Sofia Brawijaya binti Satrio Brawijaya dengan mas kawin satu set berlian dan uang tunai sebesar sepuluh milyar rupiah dibayar tunai."

Janji suci pernikahan Yalena dan Bastille terucap sakral. Detik ini mereka sudah sah menjadi pasangan suami istri. Keduanya dipertemukan melalui perjodohan. Keluarga mereka memiliki hubungan kekeluargaan yang erat. Ayah mereka bersahabat sedari kecil. Mereka tumbuh dari kalangan yang sama.

Satrio Brawijaya, ayah Yalena, merupakan seorang profesor terkenal di Indonesia sedangkan, Samuel Labrinth Thimoty ayahanda Bastille, seorang pembisnis besar serta pemegang lima belas persen saham perusahaan raksasa System Technology Thimoty yang dirintis kakek moyangnya, Ryan Labrinth Thimoty. Di tangan Bastille saat menjadi CEO, perusahan itu tumbuh dengan pesat menjadi salah satu perusahaan terbesar di dunia sekaligus pemegang dua puluh lima persen saham global.

System Technology Thimoty merupakan perusahaan yang bergerak di bidang kedirgantaraan dan pertahanan. Produksi mereka meliputi pesawat, peluru kendali, radar, satelit, dan lainnya. Laba bersih tahun ini kembali mengalami kenaikan sebanyak tiga puluh tujuh ribu dua ratus tiga belas miliar USD. Sehingga membuat nilai saham System Technology Thimoty selalu melonjak setiap tahunnya dan semua itu tak lepas dari kerja keras Bastille.

Karena kekayaan Bastille Labrinth Thimoty yang melimpah ruah membuat pria itu masuk dalam daftar sepuluh orang terkaya di dunia. Namun, sebab gelarnya itu, banyak yang mengincar nyawanya dan ingin menggulingkannya dari posisi saat ini. Setahun yang lalu terjadi sebuah insiden yang hampir menewaskannya. Bastille mengalami kecelakaan yang sangat berat hingga membuatnya koma selama lima bulan lamanya. Insiden ini memberikannya pelajaran agar lebih berhati-hati dan juga membuatnya memiliki sebuah ide gila untuk mengungkap siapa dalang dibalik rencana pelenyapannya tersebut. Aku pasti akan menangkap kalian semua para Bed*bah. Aku bersumpah. Batin Bastille.

***

Sementara kebutaan Bastille menjadi satu-satunya alasan bagi Yalena menyetujui perjodohan tersebut. Menurut Yalena, memiliki suami yang buta merupakan keuntungan besar. Karena dengan keadaan suaminya yang seperti itu, dia takkan merasa gugup apalagi tertekan saat beradu pandang dengannya. Untuk Yalena yang memiliki gangguan panik dan kecemasan, tatapan merupakan intimidasi yang membuatnya merasa tidak nyaman. Yalena tak tahu rahasia besar Bastille yang ternyata hanya berpura-pura buta.

"Bagaimana ini?" Yalena bergumam sambil duduk beringsut ke kanan dan ke kiri. Dia meringis sembari menggigit bibir bawahnya, tangannya pun tak dapat berhenti meremas-remas gaun pengantin indahnya.

Terdengar suara pintu terbuka. Yalena menoleh dengan cepat ke arah pintu. Ya Tuhan, ternyata benar dia. Batinnya. Yalena melihat Bastille suaminya yang telah masuki kamar pengantin mereka. Pria bertubuh tegap dengan tinggi badan yang jauh di atasnya itu tampak berjalan ke arahnya.

Melihat sosok tersebut masuk, ganguan paniknya pun menyerang. Dia tak tahu harus bagaimana menghadapi Bastille. Bagaimana ini? Dia membatin. Seketika degup jantung berpacu, keringat berlebihan melumuri tubuh, badannya gemetar hingga sulit bernapas dengan dada yang terasa agak nyeri, tangan dan kakinya bahkan kesemutan, serta merasa pusing tidak stabil. Yalena amat panik. Gangguan panik ini sungguh telah menyiksanya cukup lama. Ya Tuhan, lindungi aku. Benaknya bergumam. Dia merasakan kedinginan di sekujur tubuh.

Bastille tersenyum samar saat melihat Yalena yang tengah duduk di sisi ranjang. Lumayan. Hatinya. Bastille pun mendekati gadis itu lalu duduk di sampingnya. Tangannya tak sabar ingin menyentuh dan membelai istrinya. Bastille menyentuh pipi Yalena dengan tangan dinginnya yang seketika membuat tubuh gadis tersebut menegang. Yalena menutup matanya gugup saat merasakan hal itu. Ya Tuhan, tolong aku. Batinnya. Tubuhnya masih menegang, dadanya berdetak kian kencang tak karuan, wajahnya semakin memucat, benih keringat dingin bermunculan dengan deras di balik gaun. Yalena mengepalkan tangannya yang basah dan gemetar. Tidak bisa. Dia tak bisa seperti ini. Dia bisa mati kalau terus menahannya begini.

Bastille tersenyum kala melihat tingkah Yalena yang lucu. Dia mendekatkan wajahnya hendak mencium bibir gadis itu. Namun, tanpa peringatan Yalena malah berdiri dan memberikan jarak. " Ma- maaf Bast, a- aku harus mandi du-dulu, tu-tu-tubuhku penuh keringat," ujarnya sambil berdiri dengan tubuh bergetar. Yalena benar-benar diserang kepanikan hebat.

Bastille yang sempat terkejut pun segera menyadarkan diri. "Baiklah," jawabnya yang membuat Yalena melesat masuk ke kamar mandi. Dia sempat menunjukan senyuman ramah kepada istrinya. Tidak perlu terburu-buru, Bast. Malam masih panjang. Pikir Bastille sambil menyeringai puas. Pria itu sudah tak sabar ingin menyentuh istrinya yang cantik dan telah berhasil membuatnya gereget. Kemudian Bastille pun menjatuhkan tubuhnya ke atas katil. Wajahnya menengadah ke langit-langit dengan mata terpejam. Lelah, itulah yang sedang dia rasakan setelah menjadi raja ratu sehari. Dia menghela napas dalam.

Sedangkan di dalam kamar mandi, Yalena sedang berusaha keras mengendalikan gangguan paniknya. Dia menghela napas beberapa waktu sampai detak jantungnya normal. Hingga pada akhirnya dia bisa bernapas seperti biasa. Yalena merasa dadanya plong karena akhirnya bisa melepaskan diri dari tekanan paniknya. "Syukurlah," ucapnya.

Namun, Yalena teringat lagi tentang sosok suaminya yang seketika membuatnya kembali tertekan. "Lena, bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan? Tuhan, bagaimana?" Wajahnya berubah sedih. Yalena mengacak-acak rambutnya merasa tak berdaya. "Aku nggak boleh lari. Bast sudah menjadi suamiku. Aku nggak boleh egois." Dia meneguhkan hati. "Andai saja di sini ada Call, aku pasti bisa lebih tenang," keluhnya dengan butir air mata menyembul dari setiap sudut maniknya. Tiba-tiba saja Yalena amat merindukan Callena, kakaknya. Namun, Yalena segera menghapus air matanya lalu menarik kedua sudut bibirnya memaksakan tersenyum.

Yalena mandi dengan enggan. Dia mandi sangat lama. Yalena membiarkan rambutnya diguyur derasnya air sower. Dia berusaha dengan amat keras untuk menenangkan diri. Lalu, lekas membersihkan tubuh, Yalena baru sadar jika dia tak membawa baju ganti. "Ya Allah, kenapa harus lupa?" Kali ini Yalena menangis. Dia kuasa menahan semua rasa buruk yang bergejolak dalam dadanyan. Yalena menjambak rambutnya frustasi. Puas menangis, Yalena pun terpikir sesuatu tentang suaminya. Bast buta. Pikirnya. Yalena pun memantapkan diri keluar dari kamar mandi hanya berselimutkan handuk pendek.

Bastille yang sedang duduk di atas kasur pun segera menaruh kembali ponselnya kala mendengar pintu kamar mandi dibuka. Ya Tuhan, aku pikir dia sudah mati di dalam. Sanubarinya bergumam. Namun, seketika tatapannya seolah terpaku dan membelalak saat melihat sosok istrinya yang keluar hanya memakai handuk. Dia mencoba menelan salivanya dengan susah payah. Seketika tubuhnya terasa memanas dan gersang. Istrinya terlalu menonjol bahkan hanya dengan memakai handuk pun Yalena tampak sangat menggoda. Yalena terlihat sangat seksi sehingga membuat mata Bastille tak kuasa berkedip.

Yalena menghampiri ranjang untuk mengambil baju tidur pemberian kakaknya sebagai hadiah pernikahan. Dia ingat perkataan Callena. Awas! Pakai ini di malam pengantinmu. Begitu kira-kira pesan dari kakaknya. Yalena tak kuasa menatap Bastille yang duduk diam di dekatnya berdiri. Dia sungguh tak menyadari kalau dirinya sedang diperhatikan sang suami. Yalena bermaksud kembali ke kamar mandi, tetapi dia berubah pikiran. Bast, kan buta. Pikirnya. Saat itu juga dia langsung melepaskan lilitan handuknya lalu mengelap tubuhnya yang basah kemudian membiarkan handuk itu jatuh teronggok di kakinya.

Mata Bastille kian menjenggil kala melihat kelakuan Yalena. Shit. Bastille mengumpat dalam hati. Apa-apaan ini? Apa dia sudah gila? Matanya seolah akan melompat keluar saat melihat dengan jelas setiap lekukan tubuh istrinya yang putih bersih dari dekat. Dia tak bisa mengalihkan pandangannya. Matanya dipenuhi hasrat. Bastille sangat menginginkan Yalena. Kemudian dia merasa ada sesuatu yang bergerak pada tubuhnya. "Argh sialan!" makinya yang berhasil mengagetkan Lena.

"A-ada apa Bast?" Teriakan Bastille membuat Yalena ketakutan.

"Ng-nggak, gapapa. Aku hanya merasa sedikit gatal," bohongnya. Sesuatu di bawah sana telah menegang. Bastille merasa sedikit frustasi. Apa kau selemah ini? Hah? Kukira kau lebih baik dari yang kupikirkan. Sialan! Hatinya menggerutu kesal kepada salah satu anggota tubuhnya.

Yalena menatap Bastille tegang. Sempat dia merasa curiga. Yalena mendekati Bastille perlahan dengan kedua tangan memeluk dadanya, lalu mengibas-ngibaskan sebelah tangannya di depan wajah Basttile. Saat melihat pria itu tak menunjukan rekasi apapun, Yalena dapat menarik napasnya dengan agak longgar. Kemudian dia kembali fokus pada pakaiannya, Yalena bercermin ingin melihat penampilannya saat mengenakan baju pemberian sang kakak tersayang. Bajunya sangat pendek dan juga tipis. Bajunya sangat seksi tetapi, tak masalah, toh Bastille tak dapat melihatnya.

Bastille kembali tersenyum saat melihat istrinya berkaca. Yalena tampak sangat polos seperti anak kecil. Yalena Sofia Brawijaya, kamu milikku malam ini. Bastille membatin dengan penuh kepuasan.

Next chapter