1 Bab 1. Perburuan Pertama ( Eksekusi Pertama Si Tua Bangka )

"Apa kau tahu, dari mana asal dari semua penderitaan manusia? Yaitu dari hatinya, ketika hati dipenuhi oleh kedengkian, oleh keserakahan, maka kau tak akan pernah merasakan sedikit pun kebahagiaan."

🥀 Black Rose🥀

Happy reading 💓

Maaf kalau ada typo🙏

Seorang pria muda bertubuh jangkung melenggang di sebuah jalan suatu kompleks perumahan. Rambutnya berwarna hitam pekat, senada dengan warna iris matanya yang menyorot tajam ke mana pun pandangannya mengarah, tak ada seulas pun senyum yang terbingkai di wajahnya yang dingin tanpa ekspresi.

Ia menghentikan langkah di depan pagar besi sebuah rumah bergaya klasik bercat putih tulang. Temaramnya lampu jalan menyinari wajahnya dengan remang-remang, matanya perlahan berkaca-kaca, dengan sebuah emosi terpendam yang tak sanggup dibaca. Apakah itu emosi kemarahan? Atau justru emosi kekecewaan dan kesedihan? Pria itu sedang membuka pintu pagar rumah itu ketika sebuah suara muncul di belakangnya.

"Oh! Kau cucu nenek Saras, sudah kembali?"

Pria itu membalikkan badannya perlahan. Tampak di hadapannya seorang wanita berambut ikal sebahu tengah tersenyum padanya, bukan sebuah senyuman yang ramah, namun sebuah senyuman yang penuh keangkuhan. Dan itu membuatnya merasa jijik seketika.

Pria itu tetap bersikap tenang, ia tersenyum tipis meskipun tak ada segurat pun kebahagiaan yang terlihat di wajahnya. "Ya," balasnya singkat.

"Astaga! Padahal kau sudah lama meninggalkan rumah ini, karena itu kukira kau tak akan kembali lagi sejak ibumu bunuh-" Wanita itu buru-buru menutup mulutnya, seakan tengah menyesali perkataannya, namun entah mengapa wajahnya justru tak memperlihatkan sedikit pun rasa penyesalan. Dan sepertinya pria itu mengetahuinya, senyumnya mendadak sirna.

Namun dengan cepat pria itu kembali menyunggingkan senyum yang bahkan lebih lebar dari sebelumnya. "Ah, benar juga, aku sudah lama tidak kembali ke sini," ujarnya. "Oh, bagaimana kabar, Anda?"

Senyum wanita itu kembali lagi. "Tentu saja baik, bagaimana kabarmu? Kau sama sekali tak terlihat berubah, masih sama seperti dulu." Ia mengamati pria itu dari atas sampai bawah dengan tatapan meremehkan khasnya.

"Tentu saja baik. Anda juga sama sekali tak terlihat berubah, masih 'sama' seperti dulu." Pria itu tersenyum misterius. "Oh, sepertinya aku harus masuk sekarang."

"Oh, baiklah, sampai jumpa lagi."

Pria itu seketika berbalik, senyum di wajahnya perlahan memudar, wajahnya semakin terlihat dingin dan memperlihatkan api amarah.

"Dasar penggunjing!" desisnya pelan. Ia masuk ke pekarangan rumahnya dan meninggalkan wanita paruh baya itu.

***

"Ibu, bagaimana kabarmu? Maaf ... aku baru kembali ..." Pria itu bersuara lirih, matanya mengedar ke seluruh penjuru ruangan itu.

Ia berjalan pelan menuju ranjang, tangannya bergerak perlahan menyentuh seprai berwarna biru kusam, tempat tidur itu sudah tertutup debu, begitu pula dengan barang-barang lainnya yang berada di dalam kamar itu.

Pria itu kembali bergerak, mendekati sebuah pigura foto berukuran sedang yang terpajang di atas meja kecil berbentuk bundar. Ia mengambilnya, memandang pilu potret wajah cantik yang ia rindukan kini telah tertutup debu tebal.

Pria itu mengusap kaca yang melindungi selembar foto di baliknya, kini permukaan kaca itu berwarna kemerahan. "Ibu, aku merindukanmu ..." Ia memeluk erat pigura foto itu.

Pria itu berbalik, menghadap sebuah cermin besar penuh debu yang kini ada di depannya, refleksi dirinya terpampang nyata di sana, terlihat begitu kontras dibanding beberapa menit sebelumnya. Bercak-bercak kemerahan yang mengotori wajahnya bisa ia lihat melalui pantulan cermin itu, begitu pun kaos yang seharusnya berwarna putih polos, justru kini dihiasi oleh percikan warna merah berbau amis.

Mata pria itu mulai menghangat, cairan bening memenuhi pelupuk matanya. "Ibu, kau tahu? Aku baru saja menumpas iblis kotor itu ..."

***

Beberapa menit sebelum kejadian

Ruangan itu terlihat remang-remang, karena hanya mendapat sedikit pencahayaan dari lampu di halaman. Pria itu menekan sakelar lampu yang terletak di dinding sebelah kiri pintu, ia bisa melihat pemandangan yang tak asing lagi baginya. Bagian ruang tamu rumah itu masih sama seperti dulu, disesaki dua buah sofa yang memiliki corak warna hitam putih dan sebuah meja kaca yang berukuran tak terlalu besar. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan itu, menatap satu-persatu benda yang ada di sana, terakhir, perhatiannya jatuh pada sebuah vas bunga keramik berukuran kecil yang terbaring begitu saja di dalam lemari kaca. Ia menghampirinya, menatap vas itu dari jarak lebih dekat, retakan-retakan kecil tampak di permukaannya.

"Ibu, maaf ... seharusnya dulu aku membawanya, menghiasinya dengan mawar putih kesayanganmu." Ia menatap sendu vas bunga berwarna putih bergambar mawar hitam sebagai hiasan. Wajahnya yang biasanya tanpa emosi tiba-tiba dipenuhi kesedihan.

Pria itu membuka lemari kaca, mengeluarkan vas bunga itu dari penjara si wanita tua. Ia memegang vas bunga itu dengan kedua tangannya, begitu hati-hati, seakan sedikit guncangan saja bisa membuatnya hancur berkeping-keping. Ia menaruh vas bunga itu di atas meja.

Dia kembali melangkah keluar rumah, langkahnya menuju pekarangan belakang rumah itu. Tak ada yang aneh di sana, hanya sebuah pekarangan rumah yang luas yang dipenuhi dengan beraneka ragam tanaman, mulai dari sayur-sayuran hingga bunga berbagi jenis bermacam warna, semuanya tumbuh subur di sana. Namun, jika di teliti lebih lanjut, sebenarnya ada sesuatu yang berbeda, dan pria itu sepertinya menyadarinya. Ia berjalan ke arah pot besar yang berada di sudut pekarangan dan cukup jauh dari tanaman-tanaman lainnya, seperti sengaja di kucilkan.

Matanya kembali berkaca-kaca tatkala memandang tanaman yang ada di hadapannya. Bunga mawar putih yang seharusnya tumbuh subur seperti hari-hari yang lalu, namun kini kenyataannya yang ia lihat justru bunga mawar putih yang telah layu dan hampir mengering, seperti telah lama tak tersentuh air.

"Bahkan setelah kau mati pun ia tetap saja membuatmu menderita dengan berbagai cara, wanita tua yang biadab, bukan?"

Dia kembali lagi ke ruang tamu. Tangannya kini menggenggam setangkai mawar putih yang tadi baru saja ia petik, bunga itu masih terlihat indah meskipun telah layu. Ia memasukkan mawar putih itu ke dalam vas bunga kesayangan ibunya, iris matanya yang sepekat langit malam ia biarkan puas memandang benda berharga di depannya. Sorot mata itu perlahan mulai sayu, menatap kosong dan hampa, seperti sebuah raga tanpa adanya nyawa yang mengisinya.

***

Saras POV

Saat aku membuka mata, tiba-tiba di sekelilingku berubah menjadi gelap gulita. Tidak, aku tidak buta, aku hanya lupa menyalakan lampu di kamarku, rupanya aku ketiduran sejak sore tadi. Huh! Mengingat kejadian tadi benar-benar membuatku menjadi muak, anak itu benar-benar membuatku naik darah.

Aku sedang berjalan menuju ruang tamu saat dibuat kebingungan karena adanya perubahan di depan mataku, aku belum pikun meskipun sudah berusia lanjut. Aku sangat yakin kalau lampu ruang tamu sore tadi belum sempat aku nyalakan, tapi kenapa sekarang menjadi begitu terang benderang? Setelah melihat sekeliling, aku baru mengetahui penyebabnya, rupanya pria itu yang telah menyalakannya. Dia bukanlah orang asing bagiku, karena dia adalah cucuku sendiri. Namun kehadirannya kembali di rumah ini sama sekali tidak membuatku senang, justru malah membuatku menjadi naik pitam, karena dia mengingatkanku pada ibunya yang merupakan putri tiriku, huh! Sungguh membuatku benar-benar kesal.

Dia hanya berdiri di sana sambil terus menatap vas bunga milik mendiang ibunya, padahal sebelumnya vas bunga itu sudah aku singkirkan, tapi kini ia malah kembali meletakkannya di atas meja dan menghiasinya dengan mawar putih yang sudah hampir mati. Benar-benar tak bisa dibiarkan!

Aku segera menghampirinya dengan tergesa-gesa, kekesalan akibat peristiwa sore tadi tiba-tiba kembali kurasakan. "Apa yang kau lakukan di sini?! Kenapa kau kembali lagi!" bentakku tanpa peduli bagaimana reaksinya nanti.

Ia memutar tubuhnya menghadapku, manik pekat itu terlihat jelas di matanya, sungguh kegelapan yang indah. Masih sama seperti saat ia kanak-kanak dulu, matanya yang cantik mampu menghipnotis siapa pun yang melihatnya. Dan aku rasa, mata yang indah itu ia dapatkan karena mewarisi gen dari ibunya, karena harus aku akui kalau putri tiriku itu memang memiliki mata yang cantik.

Seperti biasa, dia hanya menatapku dengan wajah datar tanpa emosi. Dan inilah yang paling membuatku takut, aku lebih suka jika seseorang marah karena perbuatanku, daripada hanya diam seperti ini, karena aku tak akan tahu apa yang sedang dipikirkannya. Dia lebih menakutkan dibanding ayahnya!

"Bukankah kau tak ingin menginjakkan kaki di rumah ini lagi! sejak ibumu mati! Hah!" Tanganku bergerak spontan, menunjuk-nunjuk ke arahnya. Dan di saat itu, sesuatu yang tak terduga terjadi.

Tanganku tanpa sengaja menyenggol vas bunga itu hingga jatuh menghantam lantai, vas bunga itu hancur berkeping-keping. Aku hanya bisa terdiam beberapa saat, menatap pecahan benda yang berada di bawah kakiku--seakan-akan aku terlalu takut untuk sekedar bersuara. Aku memandang sosok di depanku, dia masih belum bereaksi apa-apa, sepertinya dia benar-benar terkejut.

Dia akhirnya mengangkat kepalanya dan tersenyum, sungguh! Sekarang jantungku rasanya dipaksa bekerja lebih ekstra. "Nenek ... apa kau mau tahu, di mana tempat ibuku menyimpan perhiasannya? Aku tahu tempatnya."

Apa ini? Apa aku salah dengar? Tidak, dia benar-benar mengucapkannya, tapi apakah dia sudah gila? Seingatku, dia selalu mati-matian menjaga barang-barang ibunya.

Dan dia sekarang masih mempertahankan senyum manis di depanku, senyum yang kurasa memiliki makna tersembunyi. "Apa kau benar-benar tahu?!!!" Sungguh! Aku benar-benar gila harta, perasaanku sudah tidak enak namun aku tetap saja tidak memedulikannya.

Dia tersenyum lebih lebar. Tolong ... berhentilah tersenyum seperti itu, benar-benar membuatku ketakutan. "Tentu, akan aku tunjukkan," ucapnya pelan, ia lalu melangkah mendahuluiku.

Aku pun melangkah ragu-ragu di belakangnya. Tidak, tunggu ... kenapa dia menuju ruang bawah tanah? Itu kan difungsikan sebagai gudang, apa mungkin ibunya menggunakan tempat itu sebagai tempat menyembunyikan perhiasan? Ah, sudahlah, yang penting aku bisa menambah koleksi emas di tubuhku.

Sepertinya tangga kayu ini sudah lapuk dimakan usia, sampai berbunyi nyaring ketika diinjak. Di bawah sini sungguh pengap karena sama sekali tak ada ventilasi udara, apalagi ruangan ini sudah lama sekali tak pernah dibuka, aku sampai terbatuk berkali-kali karena debu masuk ke dalam saluran pernapasanku. Aku sibuk melihat barang-barang di sekelilingku, sampai tak sadar kalau cucuku kini berada di belakangku.

Find authorized novels in Webnovel, faster updates, better experience, Please click www.webnovel.com/book/bercak-kegelapan-kelopak-mawar_17811622806161905/bab-1.-perburuan-pertama-(-eksekusi-pertama-si-tua-bangka-)_47812934574858553 for visiting.

"Di mana ibumu menyembunyikan perhiasannya? Cepat beri tahu aku!" ucapku tanpa melihat ke belakang, aku masih sibuk mengacak-acak barang.

Telingaku menangkap sebuah suara, tampaknya dia sedang melakukan sesuatu, dan kini ia berjalan menuju ke arahku. Langkah kakinya terasa semakin dekat, dan perasaanku semakin terasa tidak enak. Dan benar saja, aku merasakan ada sesuatu yang menjerat leherku dengan keras hingga membuatku terjengkang ke belakang, rasanya sakit sekali, kepalaku sampai membentur lantai dengan keras. Apakah berdarah? Tidak, aku tidak peduli, karena sesuatu yang menjerat leherku kini jauh lebih menyakitkan.

Cucuku sendiri yang melakukannya, ia menjerat leherku menggunakan jaket yang tadi ia kenakan. Tuhan ... rasanya sakit sekali, aku tidak bisa bernapas. Aku berusaha keras melepas jaket yang melilit leherku, namun apa daya, tubuh rentaku sudah tidak sanggup berbuat apa-apa.

"A--apa ya--yang kau laku--kan--" aku bertanya dengan susah payah, seraya menatap nanar pada wajah itu. Namun aku tak mendapatkan jawaban apa pun, hanya tatapan penuh kemarahan dan kebencian yang aku terima. Sebegitu besarkah rasa bencinya padaku?

Air mataku terus mengucur tiada henti saat nyeri yang luar biasa mulai menjalar ke sekitar tengkuk dan dadaku, mataku rasanya tak mampu berkedip lagi, rasanya perih. Oh Tuhan ... apa yang terjadi pada tubuhku? Kenapa tiba-tiba kejang-kejang seperti ini? Dan dia, kenapa dia tidak melepaskannya? Apa dia sungguh ingin membunuhku? Tolong jangan bunuh aku ... kumohon.

"Apa kau tahu, dari mana asal dari semua penderitaan manusia? Yaitu dari hatinya, ketika hati dipenuhi oleh kedengkian, oleh keserakahan, maka kau tak akan pernah merasakan sedikit pun kebahagiaan."

Apa maksudnya? Aku benar-benar tidak mengerti, apa ini semua karena keserakahanku? Atau karena perbuatan burukku pada ibunya? Ya Tuhan, aku benar-benar menyesal. Tatapan kebencian dan kemarahan itu benar-benar menyadarkanku, dia bahkan sampai meneteskan air matanya di atas wajahku. Tapi apa aku masih punya kesempatan? Sementara kematianku sudah di depan mata.

"Apakah sakit ... ? Ini belum seberapa jika dibandingkan dengan rasa sakit yang selama ini ibuku rasakan ..." tandasnya, ia mendekatkan mulutnya ke telingaku. Ia kemudian berbisik dengan suara lembut, namun aku bisa merasakan emosi tersirat di dalam suaranya itu. "Dengar, ibuku juga mati karenamu, karena mulutmu dan mulut wanita penggunjing itu ... dia mati sia-sia karenamu ..." Air matanya semakin deras berjatuhan. Tuhan ... apakah aku sudah sangat keterlaluan?

Ia kembali menarik wajahnya. Tubuhku semakin meronta-ronta tak keruan. Tolong lepaskan! Sakit!!! Kenapa pandanganku menjadi semakin gelap? Tidak! Aku tidak mau mati sekarang!

Air mukanya seketika berubah, pupil matanya menjadi sangat kecil, apakah dia begitu marah? Ia tiba-tiba tertawa pelan. "Kenapa? Kau sudah akan mati ... ? Kau tidak boleh mati dengan cepat, kau harus merasakan penderitaan ibuku dulu ..." desisnya, ia seakan tak rela jika wanita tua bangka sepertiku mati begitu saja. "KAU SUDAH MEMBUNUHNYA BERKALI-KALI SEMASA IA HIDUP!!! KAU TAK BOLEH MATI DENGAN MUDAH!!!" Ia meneriakiku, kemarahannya semakin menjadi-jadi saat tubuhku perlahan lumpuh, oh Tuhan, apakah aku sudah menemui ajalku ... ?

Kepergianku hanya menyisakan tatapan hampa, kosong, dan tak bernyawa. Sungguh menyedihkan. "KENAPA KAU SUDAH MATI!!! KENAPA KAU SUDAH MATI!!! DASAR BRENGSEK!!!" Ia akhirnya berhenti menjerat leherku, namun tetap saja tak akan ada yang berubah, karena nyawaku sudah terlanjur hilang.

Ia kini memegangi kepalanya dengan frustrasi, berteriak-teriak dan menangis seperti orang kesetanan, tak terima jika aku mati dengan begitu mudah. Sebegitu besarkah rasa bencinya padaku ... ? Cucuku, maafkan aku. Selama ini aku begitu jahat pada ibumu, pada kalian ... bahkan kematianku pun tak akan sanggup untuk menebus semua kesalahan yang sudah aku lakukan.

Beberapa detik berikutnya, pandangannya tiba-tiba tertuju pada sebuah benda di sudut ruangan. Ia tersenyum puas, tunggu ... apa maksud dari senyuman itu? Ia berjalan menuju kotak perkakas itu, matanya sibuk mencari-cari sesuatu, apa yang sebenarnya dia rencanakan? Tak perlu menunggu lama, matanya kembali tertuju pada tubuhku yang sudah terbujur kaku. Sebuah pisau lipat sudah ia genggam erat, apa maksudnya? Jangan bilang ....

Dia menduduki tubuhku, menatapku dengan tatapan yang tak sanggup lagi tuk kuartikan. "Kau memang sudah mati dan tak akan bisa merasakan sakit lagi, tapi akan kupastikan, perjalananmu menuju neraka akan dipenuhi oleh penderitaan."

Dendam kesumat ia lampiaskan melalui sebuah tusukan yang sangat dalam di dadaku, sampai menembus jantungku. Aku memang tak bisa merasakan sakit fisik lagi, tapi rasanya lebih menyakitkan saat melihat tubuhku yang sudah tak bernyawa dicabik-cabik seperti itu.

Kumohon cucuku, kau memang boleh membunuhku. Tapi tolong, jangan rusak juga tubuhku seperti itu, biarkan aku pergi dengan tenang.

"Selamat tinggal, Nenek. Pergilah ke neraka, semoga kau mendapatkan siksaan yang lebih pedih di sana."

Ia menusuk tubuhku hingga berkali-kali, dan setiap tusukannya meninggalkan luka yang sangat dalam, seolah menggambarkan betapa dalam kebencian yang selama ini ia rasakan. Bahkan ia tak peduli saat telapak tangannya ikut tergores pisau yang ia pegang, ia terlalu larut dalam amarah dan kebencian. Tak pernah aku sangka, kalau selama ini ia ternyata memendam rasa marah dan benci yang begitu dalam padaku.

Dan aku lebih tak menyangka lagi, kalau ia ternyata akan menjadi pembunuh seperti ayahnya ....

***

Ia keluar dari kamar ibunya, berjalan pelan ke arah ruang tamu, darah segar yang menetes dari telapak tangannya mengotori lantai yang ia lewati. Tak perlu kostum monster untuk membuatnya tampak mengerikan, karena tanpa itu pun penampilannya saat ini benar-benar persis seperti seorang monster yang baru saja memangsa korbannya.

Sorot matanya benar-benar layu, persis seperti setangkai mawar putih di antara serpihan vas yang mengotori lantai saat itu. Bibirnya terkatup, memerhatikan tetesan darah yang mengucur tepat di atas kelopak kering mawar putih itu, memberikan kesan kontras di antara dua warnanya yang saling bersinggungan. Seolah mendapatkan ide baru, ia tiba-tiba tersenyum, pupil matanya yang melebar mengindikasikan kebahagiaan.

"Wanita tua itu hanya salah satu dari sekian banyak iblis berwujud manusia yang harus ditumpas. Dan sekarang, haruskah aku memulai perburuanku untuk menumpas para iblis itu ... ?"

***

Rian duduk di sofa ruang tamunya dengan gusar, secangkir teh hangat untuk menenangkan diri sudah habis dari tadi. Ia berkali-kali mengecek jam dinding yang menempel di tembok rumahnya, tak sabar menunggu kedatangan anaknya yang ia harapkan akan membawa kabar baik. Pintu utama rumah itu terbuka, ia segera bangkit dari kursinya, berjalan tergesa-gesa menghampiri seorang pria bertubuh jangkung yang baru saja tiba di dalam istananya. Ia kini sudah berdiri di hadapan Derian, seorang pria tampan yang memiliki iris mata hitam sekelam gelapnya malam. Yang menyimpan banyak rahasia tersembunyi di balik keindahannya.

Derian tersenyum hangat melihat wajah cemas ayahnya. "Tenang saja, Ayah. Kondisiku baik-baik saja, tak perlu cemas."

Raut kekhawatiran masih terlihat kentara di wajah Rian. "Benarkah?" ujarnya tak percaya.

Derian mengangguk, masih tersenyum hangat. "Iya, Dokter Ilham bilang kalau kondisiku baik-baik saja." Senyum hangat itu tiba-tiba berubah sendu. "Kalau begitu aku ke kamar dulu ya, Yah." Ia langsung berjalan menuju kamarnya, sebelum sempat mendapat balasan dari ayahnya yang tampak tidak puas mendengar jawabannya.

Ia merebahkan tubuhnya di atas kursi panjang yang terletak di samping jendela kamarnya, sebuah bantal ia biarkan melindungi punggungnya dari permukaan keras kursi kayu itu. Jendela kamar itu ia biarkan terbuka, berharap semilir angin yang lewat akan mampu menjernihkan pikirannya. Namun, angin yang berembus pelan justru membuat matanya semakin lama semakin terpejam rapat, ia hampir memasuki fase pertama tidurnya.

"Sampai kapan kamu akan menyembunyikan hal ini dari ayahmu? Dia harus tahu yang sebenarnya ..."

Derian membelalakkan matanya lebar-lebar, suara psikiater tua itu bahkan sampai masuk ke dalam tidurnya. Ia sebenarnya berbohong pada ayahnya soal Dokter Ilham, karena ia terakhir kali menemui psikiater itu dua Minggu yang lalu, bukan tanpa alasan, ia sudah lelah berkonsultasi dengan psikiater itu, karena baginya percuma saja, tak akan membawa perubahan apa-apa dalam hidupnya. Sore hari tadi alih-alih mengunjungi rumah sakit ia justru malah mengunjungi tempat lain, tempat yang paling ia benci sekaligus paling ia rindukan. Yang menyimpan kenangan-kenangan indah dan menyakitkan yang tak akan pernah bisa ia lupakan.

***

Sore hari tadi

Sebelah tangannya memegang erat pagar besi yang mulai berkarat, matanya terpaku pada rumah bergaya klasik di hadapannya. Derian berdiri mematung di depan pagar rumah bercat putih tulang itu, pandangan matanya tak beralih sedikit pun, terus memandangi rumah itu dengan tatapan tak terjelaskan--seperti ada kesedihan dan juga kemarahan yang terpendam.

Kini kepalanya tertunduk, matanya terpejam dan menghirup udara dalam-dalam. Seolah tengah mencoba menerima kenyataan tentang keadaan yang tak akan bisa ia kembalikan. Suara pintu yang terbuka membuatnya kembali menegakkan kepala, ia menatap seorang wanita tua yang berjalan tergesa-gesa ke arahnya. Engsel pintu pagar itu berbunyi nyaring ketika dibuka, ia melangkah sedikit ke belakang, memberi tempat untuk si wanita tua.

"Ada perlu apa kau sampai ke sini, ha?! Apa kau membawa uang?!" tukas Saras, ia tampak tak suka dengan kehadiran Derian. Bahkan secara terang-terangan wanita itu melayangkan tatapan benci pada pria di depannya.

Terbesit rasa kesal di balik wajah datar pria itu, agaknya ia berusaha menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya. "Aku hanya ingin minta tolong padamu," ucapnya. "Tolong, Nenek ... jangan peras ayahku lagi."

Saras tersenyum culas. "Kenapa? Masih untung aku tak membeberkan rahasia itu pada orang lain." Senyumnya kian bertambah lebar. "Ingat, ayahmu sudah membunuh seseorang .... Hukuman apa yang kira-kira akan dia peroleh?" bisiknya, seraya memberi tatapan ancaman pada Derian.

Diam-diam tangan pria itu terkepal kuat, buku-buku jarinya sampai memutih. Tatapan matanya berubah dingin dan mengintimidasi, ia kemudian membungkuk, menjajarkan wajahnya dengan wajah wanita tua itu. "Lalu bagaimana dengan dirimu? Bukankah kau juga telah membunuh ibuku sampai berkali-kali ... ? Dia juga mati karenamu?" ucapnya dengan suara dingin dan rendah. "Hukuman apa yang kira-kira akan kau peroleh?" bisikan itu membuat Saras meneguk ludahnya sendiri dengan susah payah.

Namun pada dasarnya wanita tua itu memang angkuh, dia tetap ingin menyulut emosi Derian meskipun saat ini jantungnya sudah berdegup tak keruan. Ia memandang wajah pria itu. "Lalu bagaimana dengan dirimu sendiri, Apa kau telah membunuh seseorang ... ?" cibirnya dengan senyum miring.

Hai teman-teman, ini adalah cerita mistery thrillerku yang pertama. Aku harap kalian akan suka ya🤗

See you next time, love you💞

Ig: estidevi3

Next chapter