1 Prolog,.

Surabaya, Jawa Timur; akhir April, 2020

Pagi itu, terlihat seorang pemuda sedang berjalan cepat di sepanjang koridor sekolah, toga lengkap masih melekat di tubuhnya yang jakung, di hari kelulusannya ini, seharusnya dia ikut berkumpul di aula sekolah bersama dengan teman temannya, merayakan kelulusan mereka tentu saja, namun dia harus melakukan sesuatu sebelum akhirnya benar benar lulus.

"di sini?"tanya pemuda itu saat kakinya berhenti tepat di salah satu loker sekolah, menatap sekeliling dengan awas lalu terdiam.

Sampai akhirnya sebuah bayangan muncul menembus plafon di atasnya, melayang mengelilingi pemuda itu sontak berhenti di depannya.

Terlihat jelas darah segar mengalir dari wajahnya yang hancur, tersenyum ke arah pemuda itu

"loker 038, baris terakhir, kau benar sekali Ivan,"ucap bayangan itu sumringan, menatap pemuda di depannya sambil sibuk melayang ke segala arah.

Bagaimana dia bisa salah? Hantu di depannya ini selalu merapalkan letak loker yang mereka cari 3 kali sehari setiap saat selama seminggu terakhir, membuatnya ingat bahkan melebihi waktu makannya sehari-hari

"lalu aku harus apa? kau mati 15 tahun yang lalu, belum tentu benda itu masih ada di dalam loker tua ini." Hantu itu berhenti lalu tertawa, melayang mendekati Ivan yang masih menatap loker di depannya frustasi

"aku tidak pernah bilang kalau jepit itu ada di dalam loker," ucap bayangan itu kelewat santai, sedangkan pemuda di depannya menatap bayangan itu horror

"Tio! aku tidak sedang bercanda saat ini! Jika kau hanya bermain main saja, lebih baik aku kembali ke aula sekarang!!" ucap Ivan bersiap melangkah ke luar dari ruang loker, "eehh! tunggu! coba kau geser loker ini, aku serius! Jepit itu aku simpan di belakangnya."

Ivan menghela nafas jengah, menatap hantu di depannya yang melayang berputar-putar dengan semangat

'andai dulu aku menolak mata ini'

_____

Surabaya, Jawa Timur; awal Juli, 2019

Satu tahun yang lalu, di awal bulan juli yang dingin. Ivan Pramantha baru saja terbangun dari tidurnya setelah orang-orang berbaju putih itu menyuntikkan bius padanya, mengganti korneanya yang rusak akibat inveksi yang terjadi pada matanya beberapa minggu lalu, memaksanya menerima kenyataan bahwa matanya sudah bukan mata miliknya yang dulu lagi, tapi apa boleh buat?

Beruntung ada seorang pasien tua yang memang sudah lama di rawat di rumah sakit ini yang bersedia menjadi pendonor mata untuknya sebelum kematiannya

Seorang kakek tua pengidap penyakit hati yang aneh, seorang kakek tua yang senang menatapnya saat ia rutin kontrol mata di rumah sakit ini, bertanya siapa namanya bahkan di saat dia sedang sibuk memainkan hpnya. Ahh…Ivan bahkan lupa nama kakek itu

Nama yang kakek itu sebutkan saat Ivan mengacuhkan kehadirannya, namun Ivan tak peduli. Buat apa mengetahui nama kakek itu di saat dia tak ingin mengenalnya? Memikirkan matanya yang hampir buta saja sudah berhasil membuatnya frustasi.

Sebenarnya, Ivan selalu ingin mengusir kehadiran kakek itu saat dia kontrol mata, tapi entah kenapa ia tak tega. Beralih meladeni pertanyaan-pertanyaan aneh yang kakek tua itu lontarkan padanya selagi menunggu giliran kontrol

Bahkan saat dia mendengar kabar bahwa kakek itu sudah meninggal, Ivan tak begitu peduli. Namun yang paling mengejutkan adalah, saat dia akan melakukan oprasi mata, dokter bilang kalau dari dulu sudah ada yang bersedia menjadi pendonor kornea yang sangat cocok untuknya, hanya untuknya!

Ya, orang itu adalah kakek yang selama ini selalu mendatanginya dengan berbagai macam pertanyaan aneh yang selalu keluar dari mulut keriputnya.

Awalnya Ivan menolak, dengan alasan kalau dia takut mata kakek itu sudah rabun dan segalamacam alasan lainnya, namun itu tidak mungkin kan? Mana mungkin dokter mencarikannya pendonor dengan mata yang bermasalah

Sebenarnya bukan hal itu yang membuat Ivan menolak donor mata dari kakek itu. Ayolah, selama ini dia selalu mengacuhkan kakek tua itu, rasanya tidak pantas untuknya menerima donor mata suka rela dari orang yang selama ini dia anggap pengganggu.

Namun dia bisa apa? Bisa saja kornea dari pendonor lain malah ditolak mentah-mentah oleh tubuhnya, masalahnya akan lebih rumit nanti. Karena itulah, Ivan memilih menyerah dan menerima donor dari kakek tua itu.

Seperti yang di harapkan. Setelah oprasi, kornea baru itu di terima baik oleh tubuhnya, tidak ada tanda- tanda sedikitpun kalau tubuhnya menolak. Malahan rasanya, pandangannya jadi lebih baik, bahkan melebihi matanya yang dulu.

Teman-temannya bahkan berkata bahwa matanya yang sekarang sudah lebih tajam dari sebelumnya. Walaupun begitu, Ivan lebih menyukai matanya yang dulu, matanya yang asli yang sudah menemaninya sejak lahir

Ivan bahkan sedikit takut karena semua terlihat terlalu baik baik saja, mengingatkan terus pada dirinya sendiri kalau mata itu bukanlah matanya yang asli,mengucap syukur berkali-kali karena tuhan tidak membiarkannya buta begitu saja, mendoakan semoga kakek tua itu tenang di alam sana.

Hingga suatu hari, di saat Ivan sedang asyik mengobrol bersama teman temannya di kantin sekolah, sebuah kepala wanita menyembul keluar dari meja kantin tepat di depannya. Dengan luka robek yang terukir acak di wajah, mata melotot yang hampir keluar dari tempatnya, jangan lupakan darah segar menghiasi hampir seluruh bagian wajahnya

Ivan terjungkal ke belakang, jatuh bedebum ke lantai, bahkan mie ayam pesanannya pun ikut terjatuh mengenai tubuhnya yang limbung, berserakan mengotori seragamnya

Namun Ivan tak peduli, tubuhnya yang gemetar bergerak mundur menabrak meja kantin di belakangnya, berteriak keras seperti kesetanan, menghiraukan puluhan pasang mata yang menatapnya horor, menunjuk-nunjuk ke arah meja kantin sambil berteriak kalut

"HANTUUU!!!"

saat itulah awal mula mimpi buruk terjadi dalam hidupnya.

_____

Surabaya, Jawa Timur; akhir April 2020

Ivan menatap lemari loker di depannya frustasi, dia sudah mencoba berbagai macam cara untuk memindahkan loker didepannya, tapi lemari itu baru bergerak beberapa senti

"ahhh… kau sangat lemah ternyata! Bagaimana mungkin anak muda sepertimu tidak kuat hanya untuk memindahkan satu lemari loker" sumpah demi apapun, Ivan ingin sekali meninju wajah hantu di atasnya itu berkali kali, menambahkan luka di wajahnya yang memang sudah hancur setengah, namun percayalah, sekuat apapun Ivan mencoba, tangannya hanya akan menembus tubuh transparan itu seperti menembus angin, dia sudah pernah mencobanya beberapa kali.

"Tio! Kau tidak sedang mengerjaiku kan?!" tanya Ivan geram, sedangkan hantu yang masih setia menemaninya itu hanya terbang ke segala arah menembus tembok beberapa kali lalu berhenti di depan wajahnya, tinggal beberapa senti sampai wajah setengah hancur itu menembus kepalanya

"percayalah padaku Ivan, kau tau arwah sepertiku lelah berada di dunia ini?"hantu itu terdiam sejenak, terkekeh geli lalu menembus tubuhnya cepat

Jujur saja, saat ini Ivan ingin sekali muntah, menatap wajah hancur didepan mata bukanlah hobinya! Namun semenjak kemunculan Tio, dia harus belajar membiasakan diri, pasalnya hantu itu sangat senang mendekatkan wajahnya di hadapan Ivan, walau sudah beberapa kali Ivan larang

Bahkan terkadang, di saat Ivan sedang asyik bersama teman temannya, hantu itu tiba-tiba datang menembus tembok kelas, tertawa nyaring memenuhi ruangan yang tentu saja hanya bisa di dengar oleh Ivan saja, terbang kesana kamari lalu berhenti tepat di depan wajah nya, memamerkan wajah hancurnya sambil tertawa riang

Butuh waktu cukup lama bagi Ivan untuk bisa membiasakan diri dengan Tio, membuat teman temannya bingung jika tiba tiba Ivan terdiam dengan wajah pucat pasi seperti mayat.

Tentu saja, tidak semua teman temannya tau kelebihannya itu, tapi tunggu, apakah hal itu bisa dia anggap kelebihan? Di saat Ivan sendiri sama sekali tidak menginginkannya…

Sekali lagi Ivan mencoba menggeser lemari di depannya dengan seluruh tenaga yang ia miliki, hingga di saat hantu itu berteriak menyuruhnya untuk berhenti, terbang mendekatinya yang sedang sibuk menetralkan nafas

"sudah ku bilang! Benda itu masih ada!!" ucap Tio kegirangan, Ivan tidak peduli, dia hanya diam menatap dinding di depannya dengan nafas terengah, ada setumpuk lakban hitam tertempel di dinding, namun sudah sedikit mengkelupas, seperti menutupi sesuatu

Ivan mendekat, menarik lakban itu paksa, memperlihatkan sebuah lubang kecil yang hanya muat untuk telapak tangannya saja. Ivan terdiam, jantungnya berdetak lebih cepat, dia julurkan tangan kanannya meraba-raba ke dalam lubang yang tidak seberapa besar itu, lalu menarik sesuatu

Sebuah jepit dengan ukiran bunga yang sudah tidak terlalu jelas bentuknya karena berkarat, Ivan menoleh, tersenyum senang ke arah hantu di sebelahnya "nih!! Bawa ke neraka sana! Jangan ganggu aku lagi!" ucap Ivan sambil menyerahkannya ke hadapan hantu di sebelahnya

Tio terdiam sejenak, tersenyum tanpa kata ke arah Ivan lalu menggeleng. Ivan lupa, hantu itu hanya bisa menembus apapun, tak kan bisa membawa jepit rambut di tangannya, Ivan tersentak

"jangan bilang kalau aku masih harus menyimpan benda ini di kuburanmu?!" Ivan panik, ayolah! Dia bisa benar benar gila kalau sampai harus datang ke kuburan, banyak mahluk yang tak kalah seramnya dengan Tio menjadi penunggu di sana, siapapun tau itu. Tapi untungnya, Tio hanya tersenyum lalu menggeleng mendengar pertanyaan Ivan

"aku sudah baik baik saja, sebenaranya benda itu mau kau buang pun tak apa, tapi kalau boleh, aku minta tolong padamu sekali lagi untuk membuangnya di laut, tapi terserah padamu Ivan, begini saja aku sudah lega"katanya terdengar tulus.

Ivan bisa melihat Tio yang melambaikan tangan ke arahnya sambil membisikkan terimakasih berulang kali lalu lenyap begitu saja, tugasnya selesai…

Hah?

HAH?!

BENAR-BENAR SELESAI?!!!

"lalu buat apa aku bersusah payah selama ini kalau akhirnya di buang Tio?!!!"Ivan meledak marah, ia menatap toganya yang kotor, setumpuk lakban yang tergeletak di lantai, lubang di dinding, dan loker yang harus di geser kembali ke tempatnya, sendirian.

"Oi,setan!!!"umpatnya dengan sepenuh hati

TBC

Next chapter