1 Senja

~Hai, perkenalkan nama saya Aurora. Nama yang cantik bukan? Sama seperti wajahku, tapi dulu pas waktu muda. Sekarang usiaku menginjak 28 tahun, jadi paras cantik itu sudah berkurang. Saya menulis ini, karena kebetulan anak laki-laki semata wayang saya sudah terlelap. Usia anak ku saat ini adalah 6 tahun, dapat dipastikan ketika mengandungnya usia ku masih sangat muda.~

Kisah ini bermula pada saat SMA, saat usia menginjak 18 tahun sudah pasti setiap manusia akan merasakan fase remaja di mana waktu itu mudah sekali jatuh cinta. Dan kali ini, aku jatuh cinta dengan dia yang bernama Haru. Aneh Ya, nama dia bukan Heri atau Heru, melainkan Haru. Namanya memang terdengar nyeleneh dan seperti tak memiliki makna, tapi jika kamu mengetahui bahasa korea maka nama itu memiliki arti 'Hari', bisa jadi ibunya suka drama korea makanya ia diberi nama Haru.

Dia itu bisa dikategorikan berwajah tampan no 1 seantero jagat sekolah. Gayanya swag, berkarisma, pintar, tentunya orang tuanya juga kaya. Pokoknya Haru sama sekali tidak memiliki kecacatan di mata wanita, oleh karena itu tak aneh jika para gadis-gadis mendambakan sosok Haru menjadi kekasihnya, begitu pun dengan ku. Bedanya aku tak langsung luluh olehnya, karena seganteng atau sekeren apa pun dia, kalau dia nya buruk memperlakukan wanita ya untuk apa. di samping itu juga aku sadar, sekerasnya pun aku memantaskan diri untuknya aku tetap tidak pantas bersanding dengannya.

Seperti dugaan kalian, ternyata Haru juga jatuh cinta kepada ku. Tapi aku tak pernah menduga sebelumnya, kisah cintaku seperti Geum Jan Di yang dicintai Go Joon Pyo wkwkwk. Bedanya itu dalam drama korea sedangkan aku ahh bisa kalian simpulkan sendiri.

Hari itu, di kelas saat suasana hening hanya ada aku dan dia

Dia menghampiri meja belajarku, memberikan catatan kecil yang dilipat menjadi tanda love. Mataku kosong, seakan tak percaya dengan apa yang baru saja ia lakukan. ku bulak-balik lipatan itu, hanya saja ia langsung pergi begitu saja tanpa mengatakan sesuatu. pas aku buka, ternyata itu hanya sebatas kertas kosong yang disulap menjadi tanda love.

"apa maksudnya coba?" tanya ku sembari mikir kemudian bergumam "eyy gak mungkin" tapi sambil senyum sumringah.

Begitu selesai proses belajar mengajar, aku melaksanakan kewajibanku dulu yakni piket sebelum pulang. Hani teman sekelasku kebagian menyapu lantai, dan yang lainnya melakukan tugas masing-masing. Sedangkan aku membuang sampah ke belakang bangunan sekolah.

Berjalan santai sambil membawa kantung plastik yang berisikan sampah, aku melihat Haru berdiri bersender di tembok dengan posisi tangan di saku celana nya.

"masyaallah gaya seperti itu aja udah keren" terucap dalam benak.

Dia melihat ku kemudian menghampiri ku dan langsung merebut kantung sampah yang aku bawa.

"biar aku aja!!!" ucapnya sembari mengambil kantung itu dari tangan ku.

"apa ini? kenapa dia begitu?" tanya ku yang hanya dalam benak.

Di luar itu, aku sudah seharusnya mengatakan terima kasih padanya.

"makasih" ujar ku di barengi senyuman.

Dia berjalan ke arah belakang sekolah dengan membawa sampah itu, sedangkan aku pergi ke arah sebaliknya. Ketika baru berjalan sekitar 5 meter dari tempat bertemunya aku dengan Haru, tiba-tiba dia memanggilku.

"Aura" teriak Haru

Aku membalikkan badan menghadap ke arah nya

"kamu gak ikut aku??" tanya dia

"heuh.. kenapa??"

Dengan wajah yang nampak kesal ia menjawab "ini kan tugas,,,,, gak jadi. Biar aku aja" ujarnya yang kemudian pergi.

Benar, aku sadar itu adalah tugas yang seharusnya aku lakukan, jadi aku pergi menyusul Haru. Bodoh sekali aku ini sampai membiarkan 'sultan' melakukan sendirian.

Melihat Haru yang masih ada di tempat itu, aku menghampiri nya.

"udah selesai??" tanya ku.

Dia tak menggubris ku, jadi aku membujuknya.

"makasih ya! sebagai balasannya aku akan membelikan kamu minum"

"enggak,, enggak apa-apa" balas Haru melebarkan bibirnya.

Hari sudah sore, aku pikir jika melihat senja bersama Haru pasti akan terasa lebih indah dari senja-senja sebelumnya. Di atap sekolah pada waktu yang tepat, aku bersama Haru menikmati indahnya langit di temani 2 botol minuman teh.

"padahal langit menerima senja apa adanya. namun senja, tinggalkan langit tanpa aba-aba" ucap Haru yang menatap senja di ufuk barat.

Ya ampun, omongannya udah seperti anak indie. Tapi karena perasaan suka ku pada nya tetap saja aku menikmati semua adegan ini.

"tapi, aku gak akan pernah ninggalin kamu seperti senja" sambungnya sembari menatap mata ku.

Langsung dag-dig-dug ini jantung mendengar sesuatu yang keluar dari mulut Haru.

"aduh gimana ini? tenang tenang, tarik nafas dalam-dalam" ucapku dalam benak menenangkan diri.

Dengan tiba-tiba, Haru lebih mendekat kepada ku. Bibir indahnya seperti menuju ke arah bibir ku. Dengan gugup aku menutup mata, dan akhirnya...

"ada sesuatu di rambut kamu" pungkasnya sambil mengambil sesuatu di rambut ku.

Demi apa pun, aku malu setengah mati. Aku kira dia,,, ahh sudah lah.

Aku pergi meninggalkan dia dengan wajah menunduk, dan dia mengejar ku sambil meledek ku yang mengharapkan ciuman darinya.

~ "mama,," panggil rengek anakku yang terbangun dari tidurnya.

Cerita kali ini sudah dulu ya. Bye~

Next chapter