3 Bingung

Mengingat pengakuan dari Haru, hati ku seperti dilema antara menerima dan menolak haru. Sebenarnya tak ada alasan satu pun untuk menolak Haru, tapi rasanya melihat 'kasta' kita yang berbeda, aku semakin tak percaya diri menjadi kekasihnya.

Sembari memikirkan ini di dekat pagar lantai 2, pria itu berdiri di samping kanan ku dengan membawa kaleng minuman di tangannya dan menatap lurus ke depan melihat lingkungan sekolah.

Entah apa maksudnya, pria itu hanya berdiri sambil meneguk minuman miliknya.

"kamu mau ini??" menawarkan minumannya

"enggak" diikuti gelengan kepala.

"lagi mikirin apa di sini??"

"kenapa?? Kamu penasaran??" balik tanya ku kepadanya

"enggak" singkatnya.

Bel masuk berbunyi, pria itu pun pergi. Tapi sebelum benar-benar pergi, dengan jarak sekitar 7 meter dari ku dia berteriak.

"nama ku Bima" setelah itu dia lanjut pergi.

Perkenalan antara aku dan Bima berbeda dari yang lain, dan menurutku ini adalah perkenalan yang paling berkesan.

6 hari sudah berlalu dan hari ini aku harus mengambil keputusan. Rasanya aku tak ingin melewati hari ini sampai-sampai malas sekali pergi sekolah. Tapi ibu ku, aku lebih tidak mau mendengar omelannya. Karena tidak satu kelas dengan Haru, jadi aku bisa menghindari dia.

kali ini aku berangkat pagi sekali agar tak berpapasan dengan Haru di gerbang sekolah. Dan ternyata benar, aku tak bertemu dengannya.

"aku harap dia gak sekolah" pintaku dalam benak.

Tapi ketika aku sudah duduk di bangku kelas, Haru datang ke kelas.

"Aura, kenapa kita gak bertemu di gerbang??" tanya dia di dekat pintu.

"sampai ketemu nanti" sambungnya yang membuat iri wanita seisi kelas.

Sebelum bel istirahat bunyi, aku memasang strategi untuk keluar kelas lebih awal yakni berpura-pura sakit.

Dengan akting yang penuh penghayatan "pak, izin ke toilet ya perutku tiba-tiba sakit"

"boleh silakan" ucap pak Bedi yang mengizinkanku

Bukan ke toilet, aku justru pergi ke UKS. Bisa-bisanya aku membodohi guru ku sendiri hanya untuk menghindari seseorang.

Pas buka pintu UKS, kaget dong tiba-tiba ada Bima yang sedang mengobati luka di kakinya. Mau keluar lagi takut ketemu Haru, mau diam di sini pasti bakalan canggung.

"kamu kenapa??" tanya Bima pada ku yang masih berdiri dekat pintu.

"enggak kenapa-napa"

"terus kenapa ke sini??" lanjutnya

"heuh?" ujarku yang bingung menjawab pertanyaan Bima.

Melihat dia yang tak bisa memasangkan perban di kakinya, aku bergegas membantunya.

"biar aku aja!!"

Romantisme langsung tercipta di ruangan kecil ini, dia menatapku, begitu pun dengan aku yang sesekali menatapnya.

"pasti sakit" ucapku.

"segini mah gak ada apa-apanya" balas Bima

Sontak saja langsung aku pukul kakinya dan dia pun merintih kesakitan.

"bohong! Katanya gak sakit"

Dia tersenyum dengan manisnya.

Selesai mengobati luka Bima, aku duduk di sampingnya, sempat tak ada percakapan dalam beberapa menit.

"eumm" ucap kami berdua yang merasa tak nyaman dengan keheningan

"kamu duluan" pinta Bima kepadaku

"kamu luka karena apa?"

"tadi aku main bola, terus yah gitu deh" ringkas Bima yang tak mau menjelaskan

"gitu gimana?" kembali tanya ku

"ya gitu lah, pokoknya dua atau tiga hari juga udah sembuh. Kalau kamu? Sakit apa?"

"tadi sih sakit perut, tapi sekarang udah sembuh"

"bohong!!" celetuk Bima yang membuatku tersipu.

Bel masuk berbunyi, itu tandanya para siswa harus kembali masuk kelas melanjutkan jam pelajaran berikutnya.

Bima berdiri dengan kesakitan, dia bertanya "kamu gak masuk kelas?"

"heuh" memikirkan apa yang akan terjadi sedikit membuatku khawatir, maka dari itu aku memutuskan untuk tidak mengikuti pelajaran.

"gak mau" balasku kepada Bima, kemudian melanjutkan "kamu harus pergi!"

"kalau gitu aku akan tetap di sini" balasan Bima tak terduga

Aku tidur di kasur yg bersebelahan dengan kasur yang diduduki Bima,aku menutupnya dengan tirai agar tak ada orang yang melihatku. Terdengar seseorang membuka pintu kemudian bertanya kepada Bima.

"kamu lihat Aura? Bukan, maksudku Aurora?" yang terdengar seperti suara Haru

Aku harap Bima tak mengatakannya, "siapa?" tanya kembali Bima.

"iya juga, kamu gak akan kenal dia" gumam Haru kepada Bima, kemudian pergi dengan menutup pintu

"makasih" ucapku kepada Bima, dan setelah itu tak ada percakapan lagi.

Sebagai ungkapan terima kasih karena Bima sudah membantuku, aku membopong Bima menuju kelasnya. Begitu sudah dekat kelas, para teman-teman Bima melihat dan segera menolongnya. Sebelum masuk, sembari dibopong oleh kedua temannya, Bima mengucapkan terima kasih kepada ku.

Di sana pula aku melihat Haru memperhatikanku dari kejauhan, aku merasa dia akan salah paham dengan apa yang di lihatnya barusan. Dengan sigap, Aku mendekatinya dan berusaha menjelaskan.

"Haru,," panggilku yang tak digubris sama sekali

"kamu, suka sama pria itu??" tanya nya dengan wajah serius

"enggak,, bukan gitu"

"terus apa??" ekspresinya tak bergeming

"kita bicarakan nanti saja" pinta ku

"kenapa? Bukannya kamu menghindari aku??"

"bukan gitu. Kita bicara di tempat lain saja, enggak di sini" pinta ku ke dua kalinya.

Karena waktu sudah sore, jadi aku membawanya ke atap di mana pada saat itu kami melihat langit jingga bersama-sama.

"katakan!! Aku tau kamu menghindari ku. Tapi kenapa??" tanya dia yang menatapku dengan tajam

"maaf, karena sudah menghindari kamu" balas ku dengan menunduk

"tatap aku, kamu gak suka sama aku??" tanya tegas Haru

Aku menatapnya "enggak.... aku bingung, aku memang suka kamu, tapi..... aku gak bisa kalau harus pacaran sama kamu" sembari berkaca-kaca

"kenapa?"

"realistis saja, kamu terlalu sempurna buat aku. Kamu kaya, ganteng, pintar, sedangkan aku? Aku tak punya apa-apa untuk disandingkan sama kamu. Dan juga, orang tua kamu gak akan setuju sama hubungan kita" jelasku yang dibarengi jatuhan air mata.

Haru menghapus air mataku dengan berkata "karena itu?" sambil tersenyum

"kok senyum?" tanya ku keheranan dengan prilaku nya.

"kamu jangan terlalu menghayati peranmu, lagian persetujuan orang tua, kita bisa lakukan nanti. Sekarang kita jalani saja dulu, jangan berpikir terlalu jauh, karena kita baru berusia 18 tahun. Kita pikirkan itu nanti ya??"

Sejak itu lah aku berpacaran dengan Haru.

~ "Sayang,,,,, " panggil suami ku dari luar kamar

Ceritanya cukup sampai di sini dulu ya. My Husband baru saja pulang kerja jadi aku harus melayaninya dulu. Eitsss jangan mikir yang macam-macam dulu ya karena aku cuma mau menyiapkan makan malam untuknya. Bye~