1 "Kau bisa lari dengan cepat?"

Devan terus saja mengayunkan kaki meski langkahnya terlihat terseok-seok. Nafasnya terlihat tak beraturan dengan sesekali tangannya mengepal erat menahan rasa sakit di perut. Asam lambungnya naik hingga membuat mulutnya terasa pahit dan hampir saja memuntahkan makanannya tadi pagi. Udara malam yang semakin dingin membuat tubuhnya semakin bergetar. Ia tak tau harus kemana, tak punya tujuan. Hari makin larut membuat jalanan bertambah lenggang. Ia takut sekarang.

"Sepertinya doamu terkabul kan Lis?! Aku begitu menderita hingga ingin mati rasanya," lirih Devan dengan air mata yang perlahan menuruni pipi tirusnya. Isakan itupun perlahan terdengar saat sakitnya tak mampu ia tahan lagi. Tubuhnya bertambah lemas hingga membuatnya limbung dan terjatuh di dinginnya aspal jalanan. Tangannya kini memukul-mukul kepala melampiaskan rasa amarah yang begitu memuncak. Masalah berat menimpanya secara tiba-tiba. Hidup damainya menjadi jungkir balik tak karuan. Jujur saja ia belum siap, belum siap menanggung beban seberat ini di balik mental lemahnya.

"Hey, bocah! Kau sedang tidak kerasukan, kan?!"

Sayup-sayup remaja tersebut mendengar suara bariton di balik isakannya. Kepalanya perlahan terangkat dengan menghapus air mata menggunakan ujung baju miliknya. Dihadapannya kini menjulang tinggi sosok pria yang mengenakan kaos tipis hitam pudar dipadukan dengan celana jins yang terlihat robek di beberapa bagian. Lengan kirinya tampak dipenuhi tatoo yang membuat Devan sedikit bergidik ngeri. "Dia bukan orang jahat, kan?" pikir Devan dengan wajah berubah cemas.

"Tidak kusangka, memang seorang bocah ya?"

Pria dewasa itu terkekeh pelan menatap bocah pria yang dengan polosnya mengusap ingus di baju bagian kerahnya hingga membuat air bening itu belepotan di sekitar hidungnya. Wajah ketakutan sekilas terlihat juga oleh pria dewasa itu.

Kernyitan di dahi remaja itu muncul. Bocah katanya? Sekuat tenaga ia berdiri namun sepertinya memang tenaganya begitu terkuras hingga membuatnya limbung. Ia bersiap merasakan kerasnya aspal jalanan sampai sebuah tangan merengkuh pinggang rampingnya. Matanya perlahan terbuka dan langsung berhadapan dengan dada bidang yang entah mengapa terlihat begitu menggiurkan untuk dijadikan tempat bersandar.

"Maaf," ucapnya dengan suara serak karena dehidrasi. Ia perlahan menjauh dari rengkuhan pria itu setelah sadar dari khayalannya.

"Hem, kenapa bocah sepertimu berkeliaran tengah malam seperti ini?" tanya pria dewasa itu. Ia secara tiba-tiba merasa prihatin dengan wajah bocah yang terlihat lelah dengan bekas air mata yang meninggalkan jejak kemerahan pada mata dan pucuk hidung lancipnya.

"Aku bukan bocah, umurku sudah 17 tahun!" balas Devan dengan nada agak sengit, tak terima dianggap masih anak-anak.

"Benarkah? Meski begitu tak baik berkeliaran sendiri di waktu tengah malam begini kan? Apa kau tak lihat, tempat ini sepi dan gelap?" nasehat pria itu membuat Devan memutar bola mata kesal. Apa bedanya dengan pria itu, mereka sama-sama sudah dewasakan? Belagak menasehati, tapi dia sendiri bertindak sama bersalahnya! Sebutan untuk orang seperti itu, cocoknya apa?

"Sedang tidak punya tujuan," sahutnya Devan pada akhirnya. Ia sedang tidak ingin berbasa-basi di balik kepusingannya memikirkan tempat sementara untuk tidur malam ini.

"Kabur dari rumah? Percayalah, kau akan bertambah masalah kalau berkeliaran malam-malam begini, jadi pulanglah!" ucap pria bertatto itu dengan ragu. Entah mengapa niat jahat yang sedari tadi ia rencanakan hilang begitu saja saat tatapan sendu itu bersinggungan dengan mata tajamnya. Hatinya seperti berdesir aneh, tapi pria itu sadar rasanya begitu menenangkan.

"Tidak bisa," balas Devan dengan menunduk lesu, sedang bibirnya mengerucut lucu. Devan yang semula bersikap sok pemberani menjadi lemas ketika mendengar kata "pulang" Pulang kemana, ia tak akan pernah lagi menggunakan kata itu!

Tingkahnya tak pernah lepas dari pandangan pria dewasa itu, tanpa sadar ia tersenyum lebar begitu merasa gemas dengan remaja yang ada di hadapannya, terlepas dari ingus maupun bekas lelehan air mata. Ia berusaha menahan tangan nakalnya yang begitu ingin menyingkirkan rambut poni yang hampir menutupi mata sendu yang menatapnya memelas. Secara keseluruhan bocah itu nampak begitu manis dan polos.

"Kau hanya tidak tau kehidupan malam seperti ini sungguh berbahaya untukmu. Dan sebelum mereka merusakmu!" ucap pria tersebut dengan melanjutkan dalam hati kata-kata terakhirnya. Hatinya seperti tak rela jika pria mungil di hadapannya ini terluka. 'Shit! Kenapa ia terlihat gay sekali?!'

"Sepertinya kau banyak tanya ya paman?! Sial!" umpat remaja tersebut saat sakit di tubuhnya bertambah parah. Dan untuk kedua kalinya ia didekap oleh pria tubuh tinggi itu.

"Tsk… tak baik mengumpat, boy!" peringatnya dengan tangan yang secara inisiatif bergerak dengan seduktif mengelus pinggang ramping remaja tersebut. Pria itu begitu menikmati kenyamanan dalam dekapannya pada remaja pendek yang hanya mencapai batas lehernya itu. Aroma manis menyeruak kala udara malam menyapu rambut halusnya.

"Aku mencintaimu Dev," dengungan suara yang begitu jelas berputar di memorinya. Tangan besar itu secara erat memerangkap tubuh kecilnya. Hembusan nafas yang begitu menderu menatap lekat kearahnya. Bayangan itu kini semakin jelas hingga membuat tubuh remaja tersebut seketika terjebak dalam dua dimensi berbeda.

"Brengsek! Aku tak butuh bantuanmu, pergilah!" makinya dengan menghempas kasar tangan besar yang lancang menyentuhnya. Ia takut, tubuhnya bergetar semakin hebat. Bayangan sentuhan pria itu terasa sama dengan pria asing dihadapannya ini. Tak mau kejadian buruk terulang kembali, ia harus segera menjauh.

"Jadi mau kemana?" tahan pria dewasa itu dengan meremas tangan milik Devan. Bisa gawat kalau bocah ini dihabisi oleh para berandal yang sayangnya ia termasuk dalam salah satunya.

"Bukan urusanmu paman!" balas pria bertubuh mungil tersebut dengan berusaha melepas tautan tangan yang sial nya begitu erat menggenggamnya.

"Ku rasa aku tidak setua itu. Tapi aku sungguh-sungguh memperingatkanmu, disini daerah berbahaya. Bahkan sedari tadi kau sudah dimata-matai oleh gerombolan pemabuk disana," ucapnya dengan menunjuk segerombolan pemuda yang tengah meminum minuman keras. Devan menggigil ngeri saat menyadari tatapan sekelompok pemabuk itu terarah ke dirinya. Tawa cekikikan yang dengan jelas terdengar walau jarak mereka yang terbilang cukup jauh membuat tangannya mengepal waspada.

"Bicara dirimu sendiri?" balas Devan sarkasme. Bagaimana tidak, bicara buruk tentang orang lain sedangkan dia malah membawa satu botol minuman yang ia yakini sebagai alkohol. Mereka sama saja kan?

"Oh? Meskipun begitu aku berbeda. Kau tidak lihat aku yang tampan begini malah disamakan dengan pemabuk jalanan seperti itu," belanya dengan meringis canggung. Tangannya membuang botol yang masih tersisa se per empat tersebut. Botol kaca itu pecah berhamburan dan alkohol itu mengalir habis kejalanan.

"Terserah kau mau bilang apa, tapi yang jelas sekarang aku sedang tidak ingin berdebat dengan orang asing seperti mu."

"Percaya saja padaku ya... Mereka itu pria-pria brengsek, kau akan terluka nanti," Dan untuk kedua kalinya pria bertatto itu mengumpati dirinya sendiri. Jangan-jangan ia tertarik dengan pria polos di depannya ini?!

"Aku kan juga pria, apa yang harus aku takutkan?"

"Kau memang begitu polos, ya? Kalau mereka mabuk memangnya bisa berfikir, lagi pula tubuhmu….seperti wanita. Begitu indah," ucap pria jangkun tersebut tanpa tahu malu menyusuri tubuh mungil dari ujung kepala hingga ujung kaki. Desiran aneh kini memerangkap tubuhnya, udara malam yang perlahan menyusup ke daerah sensitive miliknya malah membuatnya semakin parah. Ini karena pengaruh alkohol kan? Ya, pasti karena alkohol!

"Apa kau bilang? Kau fikir aku-"

"Mike!"

Suara Devan terhenti saat suara lain menyelanya. Langkah kaki yang terdengar bergantian mendekat ke arah mereka dengan langkah yang terlihat sempoyongan.

"Mike? Apakah itu namamu? Kau gerombolan mereka, dan akan berbuat jahat padaku?" pria bertubuh mungil itu sudah tak bisa berkutik lagi. Apalagi dengan tangan besar yang kini tanpa sadar telah melingkup lengannya dengan kasar.

"Kau bisa lari dengan cepat?"

"Heh? Maksudmu…"

"Ah…kau sedang sakit. Naik ke punggungku sekarang!"

Kejadian itu begitu cepat hingga tanpa disadari, Devan kini sudah bertengger di punggung tegak dengan tangan yang menyusup diantara lekukan kakinya. Tangannya secara naluriah tersampir di leher pria asing itu. Devan sudah tak mau berfikir lagi kenapa pria ini begitu ingin menolongnya. Matanya kini malah terpejam, kepalanya tertunduk nyaman di bahu tegap di hadapannya. Hembusan nafasnya kini terdengar beraturan. Biarlah ia jadi orang bodoh saat ini. Orang mabuk mana bisa dipercayakan? Tapi ia tak bisa memungkiri, aroma jantan ditambah cengkraman tangan yang terasa begitu melindungi membuat ia memejamkan mata. Nyaman.

"Mike kenapa kau bawa lari dia? Itu bagian kami sekarang, Mike!"

Next chapter