1 Hari Pertama

Dua cowok itu tergeletak di atas ubin lantai dingin. Sudut bibirnya memiliki bercak darah segar, dan ada warna merah keunguan pada bagian sudut bibir beserta matanya.

Tak ada kekuatan untuk berdiri atau mengubah posisinya menjadi duduk. Keduanya hanya bisa menatap cowok yang berdiri di depannya dengan tatapan marah.

Cowok tinggi itu menghela panjang, melipat kedua tangannya di depan dada sambil menyandarkan punggungnya pada dinding lorong.

"Aslan?!" teriak pria paruh  baya sambil berjalan menghampiri cowok yang sedang bersandar pada dinding.

Aslan segera menjauh dari dinding, menatap guru BK-nya, sambil menghembuskan napas panjang. Ia tahu apa yang akan terjadi sebentar lagi.

"Ikut saya ke kantor!"

****

Ruangan sempit, dan panas itu di isi empat orang sekarang. Mereka saling menatap dalam diam, cowok berseragam putih abu-abu itu terlihat tenang. Padahal tiga orang tua lainnya terlihat tegang.

Pria paruh baya itu menghela panjang, "Pak Hamdan, saya minta maaf sebagai gurunya Aslan. Saya sudah tidak bisa lagi, saya angkat tangan."

Hamdan menoleh, dan menghembuskan napas jengah. Ia tahu akhir dari percakapan ini, dan dirinya juga tahu jika putera semata wayangnya itu tidak  bisa berlama-lama di sekolah ini.

"Baik, saya mengerti Pak Bambang. Maaf untuk kesalahan anak kami," ucap Hamdan.

Pak Bambang mengangguk, dan menjabat tangan Hamdan sebentar.

Keluarga itu mulai beranjak, di ikuti dengan Pak Bambang. Mereka memberikan senyuman, sebelum melenggang pergi meninggalkan ruang konseling sekolah.

"Pindah kemana lagi Yah?" tanya Aslan.

"Ayah juga bingung Lan, hampir semua sekolah udah kamu masukin," sahut Hamdan lemas.

"Kita pikirin nanti aja, sekarang kamu ambil tas terus ikut kita pulang!" titah Ana.

Aslan mengangguk, dan segera berlari menuju kelasnya.

Koridor sekolah yang sepi membuat langkahnya berganti menjadi berjalan dengan pelan. Suara sepatunya terdengar begitu nyaring dalam lorong kosong itu.

Aslan memperhatikan setiap dinding yang di lewatinya. Menurut Aslan, hanya dinding yang tidak memiliki masalah. Kehidupannya di isi dengan berbagai macam masalah, terutama sekolah yang selalu menjadi musuh terbesarnya.

"Yang salah siapa, yang di hukum siapa?" gumam Aslan sebelum masuk ke dalam kelasnya yang ramai.

"Aslan, mau kemana?" tanya Bambam yang melihat temannya menggendong ranselnya.

"Pindah lagi," sahut Aslan.

"Lagi? Masalah apa?" Bambam berjalan mendekati Aslan.

Aslan menghela berat sambil menatap langit-langit kelas yang bersih dari debu, dan sarang laba-laba.

"Berantem sama jerry, niko. Masalah biasa, tapi yang di keluarin gue," sahut Aslan.

"Kenapa gak di jelasin? Kenapa malah diem aja? Lo kebanyakan diem!"

"Bodo ah! Gue bakalan pindah hari ini, lo harus jaga diri baik-baik!" ucap Aslan sebelum akhirnya pergi meninggalkan kelas.

****

Aslan berjalan memasuki rumahnya. Melempar ranselnya ke arah sofa, dan merebahkan tubuhnya pada sofa panjang yang tak jauh dari tempatnya.

Cowok itu menghela panjang, badannya terasa begitu letih.

"Di meja ada lembaran sekolah Lan, kamu liat semua ya! Di pilih, mana yang kamu suka," ucap Hamdan sambil menuruni tangga.

Aslan membenarkan duduknya, mengambil beberapa lembaran itu, dan mulai ia baca dengan teliti.

Cowok itu kembali menghela dalam, menyentuh pelipisnya yang mulai terasa sakit. Aslan pusing, ia tidak tahu sekolah mana yang akan menjadi rumah keduanya nanti.

Apakah sekolah barunya nanti akan membuatnya nyaman sampai ia lulus? Atau tidak sama sekali.

"SMA Senopathi bagus kayanya," ucap Ana, meletakkan satu cangkir berisi teh di atas meja.

"Gak ada brosurnya di sini Mah."

"Emang gak ada, mama cuman kasih tau aja. Sekolahnya juga deket dari sini, gak begitu jauh."

"Tapi kalau aslan di keluarin lagi gimana?"

Ana menatap puteranya dengan senyuman tipis. Beranjak dari duduknya, dan mendekap Aslan sambil berdiri.

"Kenapa harus takut kalau yang kamu lakuin baik? Kenapa harus takut kalau kamu menegakkan kebenaran Aslan?"

Aslan terdiam, ia sadar jika ketakutan yang memenuhi pikirannya itu hanya sebuah sampah.

"Jadi aku harus apa?"

"Jadi diri kamu sendiri!"

****

Kaki jenjang itu menelusuri pekarangan sekolah. Salah satu tangannya di simpan dalam saku celana berwarna abu itu. Banyak pasang mata yang menatapnya kagum, beberapa gadis di sekolah itu saling berbisik satu sama lain.

Semuanya membicarakan tentang Aslan. Pergunjingan telah di mulai, Aslan tak terlalu memikirkannya. Ia sudah khatam dengan semua ini, lagi pula ini juga bukan kali pertamanya ia mendengar kalimat sampah itu.

"Woy! Anak baru ya?" tanya seorang cowok sambil menenggerkan tangan kanannya pada bahu Aslan.

Aslan hanya meliriknya sekilas, dari tampangnya sudah jelas jika cowok asing itu adalah berandal sekolah.

"Santai Dude! Gue ini anak baik-baik, gak kaya yang lo pikirin!" ucapnya lagi, seakan-akan tahu isi kepala Aslan.

"Lo kelas berapa?" tanya Aslan.

"Sebelas IPS empat, lo sendiri?"

"Sama."

"Wah! Kita emang di takdirin buat jadi temen. Ngomong-ngomong kursi samping gue kosong, nanti lo duduk aja di sana!"

Aslan hanya berdeham sebagai jawabannya.

"Lo sekarang mau kemana? Kantor kepsek atau langsung ke kelas?"

"Ke TU dulu, baru kantor guru, abis itu ke kelas," jelas Aslan, "Oh iya, nama lo siapa?"

"Wildan, tapi cewek-cewek di sini pada panggil gue idan."

"Idan?" tanya Aslan dengan dahi bertaut dalam.

Wildan tertawa kecil, "Iya, katanya gue ini lucu. Jadinya di kasih nama itu."

Mendengar pernyataan Wildan, Aslan tertawa keras. Sampai-sampai langkahnya pun terhenti di depan sebuah ruangan tak bernama.

"Kenapa lo ketawa?" tanya Wildan bingung.

"Itu gara-gara lo bego! Idan itu bahasa Jawa, yang artinya gila bego!"

"Oh, jadi... itu? Tapi gapapa deh, gue suka kok."

"Terserah lo aja dah! Gue duluan." Aslan melenggang pergi meninggalkan Wildan yang masih berdiri di depan pintu ruangan tak bernama.

Menatap punggung Aslan sampai akhirnya punggung itu tak terlihat lagi. Ia mulai menghela panjang, kemudian pergi menuju kelasnya yang ada di lantai dua.

****

Pria tinggi yang terlihat masih muda itu berjalan memasuki kelas XII IPS4. Raut mukanya terlihat sedikit bahagia.

"Selamat pagi anak-anak!" ucapnya.

"Pagi Pak Ilham!"

Pak Ilham menghembuskan napas gusar, raut muka bahagianya mulai luntur. Bergantikan dengan ekspresi khawatir, dan bingung.

"Kenapa sih Pak?" tanya salah satu siswi di dalam kelas.

"Ada anak baru, tapi saya bingung."

"Bingung kenapa Pak?" tanya Wildan dengan dahi yang bertaut dalam.

Pak Ilham menggeleng, "Gak tau, saya juga bingung."

Seluruh siswa dalam kelas itu bersorak, mereka semua bingung dengan Pak Ilham. Padahal hanya anak baru, dan beliau pun tidak tahu alasan tentang kekhawatiran yang melanda dirinya.

"Mana anak barunya Pak?" tanya salah satu siswa laki-laki yang memiki name tag Raka.

"Itu dia," ucap Pak Ilham melihat ke arah pintu kelas.

Cowok tinggi itu berjalan masuk ke dalam kelas. Tatapannya yang tajam membuat siswi perempuan berteriak mengapresiasi.

"Hai! Gue aslan, salam kenal semua!" ucap Aslan datar.

"Wah!! Ganteng!!"

"Aslan, duduk di bangku kosong nomor empat itu ya!" titah Pak Ilham.

Aslan mengangguk, mengucapkan terima kasih, dan segera melenggang menuju bangku kosongnya.

Ia duduk dengan Wildan, teman barunya tadi pagi. Cowok itu memang benar, jika Aslan akan duduk dengannya di kelas ini.

"Sekarang waktunya apa?" tanya Pak Ilham.

"Seni Pak!" sahut seluruh siswa.

"Oke, semoga hari kalian menyenangkan. Saya pamit ya!"

Next chapter