2 Desert Rose #2

Di bawah terik matahari gurun yang panas. Aku dan Jeanne melesat dengan cepat. Kudaku Draft President berlari dengan penuh semangat di atas pasir yang panas ini. Sudah sekian lama aku tidak membawa dia berlari menyaingi seseorang. Dia begitu cepat melaju di gurun melawan kecepatan tongkat sihir Jeanne.

"Ada apa August... kau kelelahan."

"Jangan remehkan kudaku kawan, Hiya !"

Rambut Jeanne berkibar-kibar terbawa angin. Dia mengendarai tongkat sihirnya dengan santai dan elegan. Kecepatan tongkat sihirnya yang melaju setara dengan kecepatan kuda yang aku kendarai. Benda itu dapat terbang lebih cepat daripada yang aku bayangkan. Dengan kecepatan seperti ini, mungkin saja kita dapat menuju tujuan lokasi lebih cepat dari perkiraanku.

Sejauh ini aku baru menemukan tiga Pemegang Kartu Tarot termasuk diriku. Yang pertama adalah Roi Thermamu. Dia adalah seorang raja di kerajaan kami yang memberikanku tugas ini. Kartu yang dia pegang adalah The Emperor. Dengan kartunya itu, dia dapat melihat masa depan dan membuat pasukan setianya hidup lebih lama juga menunda proses penuaan. Benar-benar kekuatan yang mengerikan.

Kedua ada Jeanne Abigail. Seorang penyihir perempuan yang sedang menemani perjalananku saat ini. Dia memegang kartu High Priestess. Dengan kartunya itu, dia dapat meningkatkan seluruh aspek aliran sihirnya. Aku pernah berhadapan sekali melawan sihir luar biasanya itu dan beruntungnya aku masih hidup karena pedang suciku ini. Terlebih lagi, karena kekuatannyalah dia menjadi kartu as di kelompok pencarian ini. Dia akan menjadi sangat berguna kemudian hari.

Tujuan kami saat ini adalah menuju dataran Ijiraq atau yang lebih dikenal sebagai dataran tak menentu. Kenapa disebut demikan, karena gunung yang menjadi pusatnya tidak memiliki peta yang pasti. Ahli geografi pun kewalahan begitu disuruh melukis peta di gunung itu. Area disana tidak ada yang sama maju ataupun mundur. Jalan setapak disana selalu berganti-ganti secara misterius.

Bukankah itu ide cemerlang untuk mengawali petualangan. Dan pemegang kartu yang pas disana menurutku adalah The Hierophant karena kekuatannya yang bisa berganti-ganti bentuk. Antara Hukum dan Kebebasan.

"August, berhenti !"

Seketika Jeanne menikung dan mengepot jauh dihadapanku. Tangkas, aku kemudian menarik tali kudaku dan membuatnya melambat. Aku dan kudaku menjadi heran, kenapa Jeanne tiba-tiba berhenti seperti itu ?

"Aku melihat sesuatu... sesuatu yang langka dan hanya terdapat di gurun pasir." Jeanne berjalan di atas pasir sambil membawa tongkat sihirnya. Dia mengubah tongkat sihir itu menjadi sebuah payung. Udara yang berada di bawah payung itu seketika terlihat sejuk.

"Apa yang kau lihat Jeanne ?"

"Desert Rose."

"Oh ! Aku pernah mendengarnya dari paman Evans. Katanya tanaman itu sangat langka dan bagus untuk ramuan sihir. Namun, baru kali ini aku melihatnya."

"Ada alasan mengapa bunga ini langka..."

Jeanne menggenggam batang bunga itu erat-erat. Darah mengalir dari tangannya tertusuk duri-duri yang berada di batang dan menembus kulit telapak tangannya. Jeanne kemudian terlihat bahagia dan tersenyum kepada darah-darahnya yang mengalir. "Sudah lama aku tidak merasakan sensasi ini... Ini ciumlah !"

Warna bunga Deser Rose itu kemudian memerah tajam. Jeanne mendekatkan bunga itu ke hidung kudaku. Awalnya kudaku enggan menciumnya. Namun kemudian, terciumlah bau wangi yang menyengat oleh kudaku. Tiba-tiba saja dia berteriak kegirangan. Mulutnya bersuara terus menerus seperti berbicara.

"Ahahaha... Trik ini masih bekerja." girang Jeanne.

"Apa yang telah kau lakukan Jeanne ?"

"Aku hanya memberi makan bunga ini. Dan aroma bunga ini keluar begitu saja sehingga disukai oleh para hewan. Aku juga bisa membuat ramuan yang sangat hebat lagi dengan tanaman ini. Ahahaha aku jadi teringat masa lalu."

Seperti yang aku duga terhadap Jeanne. Dia adalah penyihir yang serba bisa dalam membuat ramuan. Kehebatan membuat ramuannya itu tidak dapat diremehkan begitu saja. Ya lihatlah maksudku. Dia menyembuhkan luka duri di tangannya dengan hanya mengalirkan cairan asal di tas nya. Tangannya langusng terlihat sehat begitu saja.

"Aku akan menyimpan Desert Rose ini untuk nanti. Selanjutnya, mari kita bergegas sebelum malam."

Aku ragu, pasti ada efek samping lain dari aroma Desert Rose itu. Tanaman langka tidak mungkin hanya memiliki satu efek samping dan kegunaan saja. Pasti ada sesuatu yang lain.

Tiba-tiba, aku merasakan goyangan aneh pada kudaku. Mungkinkah ini efek samping yang lain itu ? Segera aku bertanya kepada kudaku, "Kau tidak apa-apa Drafty ? Perutmu sakit ?"

"Aku tidak bisa merasakan getarannya dengan jelas namun aku sudah yakin darimana asal getarannya, West August..." ujar Jeanne tiba-tiba.

"Apa maksudmu Jeanne ? Bukannya kudaku ini kelaparan setelah mencium aroma darahmu ?"

"Kau tahu pepatah 'dimana ada gula, disitu ada semut' bukan... Maka hal yang sama terjadi pada Desert Rose."

Getaran itu semakin kencang. Aku merasakan kehadiran makhluk bawah tanah dari dalam pasir. Dia bergerak dengan cepat sehingga membuat bumi bergoyang. Kudaku menjadi histeris merasakan guncangannya.

"Aku masih tidak mengerti apa yang kamu bicarakan tapi aku tahu itu adalah pertanda sesuatu yang buruk akan terjadi."

"Desert Rose... Makanan spesial hewan paling buas di gurun..."

Langsung aku pecut kudaku dan membuatnya berlari dengan cepat. Getaran itu terasa semakin kuat, pertanda makhluk itu semakin dekat. Namun aku bisa sedikit tenang, kudaku dapat mengimbangi dan sedikit melampaui kecepatan makhluk buas tersebut.

"Woy, Jeanne ! Makhluk apa itu dan kenapa dia mengejar kita ?" tanyaku sambil terengah-engah.

"Makhluk buas itu adalah Cacing Gurun Raksasa... Dia lapar akan aliran sihir yang berasal dari Desert Rose ini... Setelah diberi makan !"

"Jadi kau penyebabnya ! Asam lah..."

"Hehe..." jawab Jeanne sambil tersenyum polos.

Entah mengapa namun aku merasa dijahilinya. Dan itu membuatku sangat kesal.

Tiba-tiba saja getaran itu mengecil. Makhluk itu sepertinya masuk ke tanah lebih dalam. Namun aku tidak punya waktu untuk santai. Karena aku telah mempelajari bahwa makhluk seperti itu akan melompat dari dalam pasir.

"Dia akan datang Jeanne ! Percepat kecepatan mu !"

Aku memecut kudaku sekali lagi. Draft President kini bergerak semakin cepat. Tongkat sihir Jeannepun tidak kalah cepatnya dengan kudaku dan sepertinya akan jauh lebih cepat lagi.

"(aku merasakannya) Dia datang... Jeanne !"

Seketika ledakan besar muncul dari belakang kami. Sang Makhluk Buas memperlihatkan sosok dirinya yang mengerikan. Dia melompat dari dalam pasir ke udara sejauh 45 meter. Badannya silinder seperti cacing pada umumnya. Namun di dalam lubang mulutnya terdapat gigi-gigi tajam yang menempel di dinding-dinding mulut. Makhluk itu besar sekali sehingga menutupi sinar matahari.

Aku sudah salah menduganya. Makhluk buas seharusnya tidak dapat disamakan dengan kolosal seperti ini. Disamping itu, Jeanne malah asyik tertawa di atas tongkat sihirnya itu. Seperti yang aku duga bahwa Ultimate Witch akan berlagak sesantai ini.

Setelah mencapai ketinggian 50 meter, cacing kolosal itu kemudian menikuk tajam ke daratan lagi sehingga memotong jarak kami yang sebelumnya sangat jauh.

"Jeanne ! Kita harus menghindar ! Dia akan turun..."

"Lakukan sesukamu koboi namun jangan tinggalkan aku !"

Aku tak bisa meladeni omong kosongnya. Secepat mungkin aku harus menghindari hantamannya itu. Dengan begitu, kemudian aku berbelok menikung dan menjauhi area hantamannya. Aku sudah tidak peduli lagi kepada Jeanne karena aku tahu dia pasti akan selamat.

Kutarik tali kuda di tangan kananku dengan kuat. Draft President kemudian menukik dengan tajam kemudian langsung melesat kembali di atas pasir. Aku seketika kehilangan sosok Jeanne di samping kiriku. Dia pasti lambat menyadari bahwa aku telah berbelok.

Find authorized novels in Webnovel, faster updates, better experience, Please click www.webnovel.com/book/arcadian-crusader-great-flower-plain_17622426506983705/desert-rose-2_47308471623804322 for visiting.

"Aku harap dia baik-baik saja..."

Seketika ada sebuah tangan misterius yang mengikat leherku dari belakang. Tangan itu kemudian bergerak menuju mukaku dan menyeka pipiku.

"Terima kasih August, ternyata kau mempedulikanku. Hehe..."

Ternyata itu adalah Jeanne yang tiba-tiba naik ke punggung kudaku. Aku tidak kaget karena hanya dia yang kemungkinan dapat melakukan hal itu saat ini. Meskipun aku penasaran bagaimana dia dapat naik ke atas sini.

"Tidak masalah... Sekarang duduk dan pegangan erat-erat. Buatlah dirimu senyaman mungkin di belakang sana."

"August kau ramah sekali... Hehe..."

"Huft..."

Cacing kolosal itu mendarat. Dia menghantam pasir dengan sangat kuat sehingga membuat ledakan yang begitu kuat. Angin ledakannya terasa sampai sini padahal kami sudah 25 meter lebih jauh darinya. Sepertinya butuh waktu lama cacing itu dapat mengejar di dalam tanah.

"Hei, Kapten ! Bagaimana kita sekarang ? Kaburkah...? Atau kita lawan ?" tanya Jeanne menyeringai.

Pertanyaan yang Jeanne ajukan benar-benar membuatku bingung. Apabila kita melarikan diri, itu sama halnya kita membahayakan orang-orang yang berada di perbatasan sana. Makhluk itu tidak menandakan ciri-ciri akan menyerahkan kami begitu saja. Sementara apabila aku melawannya, kemungkinan aku kalah sangat besar karena perbedaan ukuran tubuhku dan kecepatan pergerakannya. Namun hal itu mungkin dapat dicegah oleh sihirnya Jeanne. Akan tetapi, aku belum mengenal Jeanne lebih jauh terlebih lagi dengan kekuatan sihirnya yang sangat luas.

Seketika keringat dingin membanjiri tubuhku. Memikirkan apa yang harus kulakukan begitu saja sudah membuat tubuhku keringatan. Aku tidak bisa membiarkan penduduk mati karenaku dan aku juga tak bisa mengorbankan nyawaku begitu saja. Namun aku yakin, suatu saat pasti ada jalan.

"Hei ! Jangan melamun, ada monster raksasa di belakang kita..."

"Tidak tidak tidak ! Aku hanya memi..."

"Kau ketakutan bukan ?" ujar Jeanne memotong pembicaraanku. "Keringatmu yang mengalir di lehermu terasa beda dari biasanya..." ujarnya sambil mengusap leher belakangku.

"Diamlah ! Aku sedang berpikir..."

"Tidak usah khawatir, August. Ingatlah kau punya senjata mematikan di belakangmu. Ouranios... dan Aku..."

Kekuatan Ouranios sepertinya masih kurang untuk menghadapi cacing itu sendirian. Aku belum menguasai seluruh potensial pedang suciku ini. Namun apakah kekuatan Jeanne cukup untuk mendukungku ?

"West August ! Memangnya siapa dirimu ? Apakah kau benar-benar The Chariot yang telah mengalahkanku ? Apakah benar kau adalah didikannya Evans Juliet The Chariot sebelumnya ?"

Seketika aku menghentikan kudaku karena ucapannya. Kudaku berteriak saat aku menarik kedua tali di tanganku.

"Terima kasih. Sekarang aku ingat siapakah diriku. Kau telah mengingatkanku pada dirinya kembali." aku menarik pedang rapier di pinggangku. Menempatkannya di depan wajahku. "Kita melawan. Apapun resikonya jangan biarkan makhluk itu mendekati warga sedikitpun. Karena ini akan menjadi perlawanan yang dahsyat."

Jeanne tersenyum kepadaku, angin-angin berhembusan membuat rambutnya berkibar seperti bendera. "Ini baru West August yang aku kenal. Sisi keren jiwa kepahlawananmu."

"Kalau begitu bantu aku Jeanne, pinjamkan aku sihirmu yang dahsyat itu !"

"Ahahaha... Tentu saja bodoh, kita sudah satu tim sekarang." ujar Jeanne sambil turun dari punggung kudaku. "Akan tetapi August, aku tak akan membantumu menghajar makhluk itu."

"Kenapa...?"

"Dia adalah spesies terakhir dalam jenisnya dan sedang mengerami telurnya. Mana mungkinkan aku dapat membunuhnya begitu saja..." ujar Jeanne sambil turun dari kudaku.

Seketika aku dapat merasakan hawa ketenangan dalam dirinya. Sifat aslinya yang selalu membawa teror kini lenyap sejenak. Kesejukan angin gurun dapat aku rasakan begitu dia tersenyum dan mengatakan hal itu.

Dasar penyihir terkuat. Kau selalu saja tahu ramuan apa yang aku butuhkan setiap saat.

"Baiklah Jeanne terserah apa katamu. Kalau begitu lindungi aku saja dengan sihirmu. Aku akan membuat dirinya tertidur sebentar."

Aku membalikkan badanku dan juga kudaku. Sambil membenarkan topi, aku tatap makhluk buas itu dalam-dalam.

"Tangkap ini." ujar Jeanne sambil melemparkan Desert Rose kepadaku, "Benda itulah yang menjadi pemicu kita dikejar. Jangan hilangkan ya... aku butuh itu suatu saat nanti."

"Ya serahkan saja kepadaku... Kalau begitu aku berangkat !"

Ku cambuk kudaku dengan tali yang berada di tanganku. Dia mulai berlari dengan kencang menuju makhluk buas itu. Angin pertarungan dapat aku rasakan. Adrenalin yang mengalir terasa di dalam tubuhku. Sudah saatnya aku bertarung menaruhkan nyawaku kembali.

Karena akulah The Chariot. Sang Kereta Kuda yang menerobos musuh-musuhnya untuk membawa kemenangan !

Bersambung

Next chapter