2 Dimulai dari sang pewaris

Gadis itu menatap sebuah bangunan besar, mewah dan yang pasti sangat dikenal masyarakat luas.

Baxter Company. Sebuah perusahan terbesar di bidang properti milik keluarga Baxter. Tempat di mana seluruh hidupnya yang indah berubah menjadi duri.

Diandra mengepalkan tangan. Sudah dua tahun ia mempelajari semua seluk beluk keluarga Baxter dan kini waktunya pembalasan. Ia akan memulainya dari sang pewaris tahta Baxter Company yakni tuan Darren Baxter.

****

"Saya mempunyai beberapa gadis baru tuan." Pria paruh baya itu tersenyum penuh semangat ketika pria muda berstelan jas hitam dengan langkah aristrokat mengunjungi klubnya. "Saya akan memanggil mereka." Pemilik bar melirik anak buahnya, memberi isyarat agar membawa tiga gadis baru untuk memanjakan sang tuan muda.

Darren tak menjawab. Lelaki itu segera masuk ke dalam ruang VVIP yang dikhususkan untuknya lantas segera duduk di sofa hitam sembari menikmati birr dan memandangi kelap-kelip lampu disco yang tampak di dinding kaca ruangannya. Darren tersenyum masam. Hari ini pikirannya sedang kacau. Tiba-tiba saja ayahnya membawa anak haramnya ke rumah. Apalagi di tengah krisis perebutan ahli waris. Dia harusnya menjadi satu-satunya, tetapi ternyata ada anak laki - laki lain yang juga berhak menjadi penerus Baxter Company.

Sialan.

Darren meneguk wine hingga tandas lantas melirik tiga perempuan cantik yang telah sampai. Diamatinya tiga perempuan itu. Mereka memang cantik, tubuhnya bagus, satu diantaranya terlihat lugu. Masih muda.

CK

Tapi tidak ada yang membuatnya berminat. Lalu tiba-tiba pandangannya tertuju pada wanita pengantar minum di seberang kaca. Mata Daren menyimpit.

"Aku mau dia!" Tunjuk Darren. "Bawa dia pada ku!"

****

( Sebelumnya. )

Bola mata hitam nan tajam. Padangan yang tidak pernah menunjukkan ekspresi apapun. Wajah yang begitu datar di balik senyumnya yang menawan tanpa arti.  Dia hanya tersenyum, untuk menunjukkan interaksinya.

Namun, jika diperhatikan lebih detail. Bola mata itu menyimpan banyak cerita. Yang ia sembunyikan di balik tatapan dan sikapnya. Sebuah kesakitan, kesenduan yang amat dalam, dendam hingga ke dasar jurang.

Di balik cermin, iris kelam sewarna tinta itu melihat pantulan dirinya di dalam cermin. Ekspresinya tak terbaca, tetapi bola mata itu berkaca - kaca. Lalu sedetik kemudian, bulir air mata jatuh di pipinya.

Ingatan akan peristiwa pahit itu berkelana di otaknya, hingga membuat jiwa raganya menjadi beku.

Kalina Diandra Vinn. 28 tahun. Mantan narapidana. Lebel yang kini melekat di setiap langkahnya. Orang-orang melihatnya seakan dirinya adalah iblis yang perlu dihindari. Berbagai pandangan ia terima. Pandangan takut, cemooh dan berbagai pandangan menjijikkan dari setiap orang yang berpapasan dengannya.

Tak ada yang mau memperkerjakannya. Bahkan para tetangga mengucilkannya. Alhasil, Diandra memilih pindah ke apatemen kecil sembari menyusun rencana balas dendamnya.

Enam tahun dia hidup terpenjara atas kesalahan yang sama sekali tidak ia perbuat. Ketika usianya 20 tahun, Diandra menjadi karyawan magang di Baxter Company.  Hari-hari yang Diandra jalani awalnya berjalan lancar. Dia menjadi karyawan bagian marketing dan karena keahliannya, ia dipercaya oleh managernya. Sampai kemudian ia bertemu dengan Nyonya Baxter.

Sang manager memperkenalkanya kepada Nyonya Baxter, mengingat ia menjadi salah satu karyawan yang dapat diandalkan dan juga ahli dalam strategi. Lalu suatu ketika, managernya membuat kesalahan fatal dan itu juga melibatkan Nyonya Baxter.

Diandra tahu semuanya. Oleh karena itu mereka sengaja melakukan segala cara untuk membungkam Diandra. Termasuk menghancurkan karier serta keluarganya.

Usaha kecil orangtuanya dibangkrutkan, kehormatannya terampas. Dan tak cukup itu, ia dituduh melakukan penggelapan dana perusahaan hingga akhirnya mendekam ke dalam jeruji besi. Orangtuanya syock, hingga akhirnya ibunya meninggal, lalu ayahnya menjadi temperamental.

Detik itu juga ia bersumpah akan menuntut balas. Keluarga Baxter harus hancur sehancur - hancurnya.

"Nyonya Alexia Baxter, tunggu aku di istana megah mu." Ucap Diandra. Tangannya terkepal. Tatapannya penuh tekad dan ambisi untuk balas dendam.

***

Menjadi pelayan Bar adalah satu-satunya pekerjaan yang ia dapat. Tidak memandang latar belakang bahwa dirinya mantan napi, yang terpenting hanyalah penampilan menarik. Selain gajinya yang lumayan besar, Diandra memilih bekerja disini agar bertemu dengan Darren Baxter.

Penyelidikan yang telah ia lakukan menyebutkan bahwa Darren Baxter sering mengunjungi Club ini. Dan di malam inilah, waktu berkunjung pria itu.

Diandra memoles make up di wajahnya. Mengenakan pakaian mini memperlihatkan lekuk tubuhnya yang menawan. Ia cukup risih dengan pakaian itu, tapi apa daya ini semua harus ia lakukan. Matanya mencermati, menunggu sang tuan muda agung Baxter datang. Lalu tak lama kemudian pria itu pun tiba.

Sembari melakukan pekerjaannya meletakkan serta menuangkan minum ke para pengunjung, diam-diam ia mengikuti Darren. Membuat ia terlihat oleh mata pria itu. Dan ya, tak berselang lama seorang pria yang diketahui adalah kaki tangan pemilik bar datang membawanya ke ruangan VVIP, tempat dimana Darren berada.

***

Darren tentu saja mengenalnya karena dulu mereka sempat beberapa kali berjumpa serta Diandra juga pernah meminta pertolongan pada pria itu atas fitnah keji yang dilayangkan padanya.

Tetapi para anggota keluarga Baxter ternyata sama saja, tak berhati, sombong dan arogan. Kesalahan terbesar Diandra ialah meminta pertolongan pada darah daging orang yang telah menghancurkannya.

Setelah bertahun-tahun berlalu, sebenarnya Diandra juga tak yakin jika Darren masih mengingatnya. Tapi apa salahnya ia mencoba, karena misinya ialah mendekati pria itu.

Di kursinya, Darren menatap Diandra dari ujung kepala hingga kaki seolah pria itu tengah menelanjanginya. Tak lama kemudian ia berdiri.

"Vinn?" Darren melirik tage name yang ada di pakaian wanita itu. "Rupanya benar ini kau."

Find authorized novels in Webnovel, faster updates, better experience, Please click www.webnovel.com/book/ambisi-cinta_17612989306917905/dimulai-dari-sang-pewaris_47279553860658793 for visiting.

Diandra tersenyum, "Tak ku sangka anda masih mengenali saya, Tuan Muda Baxter."

"Dan tak ku sangka kau bekerja di sini, nona Vinn."

"Hanya di sini pekerjaan yang dapat menampung mantan napi."

Darren tahu tatapan wanita ini begitu penuh kebencian, apalagi nada sarkas yang ditunjukkan padanya. Ia juga tak menyangka setelah bertahun-tahun berlalu akan bertemu lagi dengan perempuan ini. Di tempat seperti ini pula.

"Well, karena kau berada di sini. Maka temani aku!"

Diandra segera menepis jemari Darren yang hendak menyentuh rambutnya. "Tentu saja, aku akan menuangkan minum untuk anda." Diandra bergeser  mengambil botol bir lalu menuangkan minum untuk Darren. "Silahkan diminum, tuan muda Baxter."

Darren mengernyit tak suka dengan sikap perempuan ini. Dia ingin bersenang-senang untuk meredakan emosinya, tetapi perempuan ini malah membuatnya bertambah emosi.

"Maksud ku bukan menemani minum, tapi seperti ini.." Tanpa peringatan, Darren menarik lengan Diandra membuat gelas bir yang Diandra pegang jatuh. Pun dengan dirinya yang terhuyung jatuh ke sofa sementara Darren menindihnya lalu mendaratkan ciuman panas di bibirnya.

Diandra terkesiap. Ia berontak, refleks menampar pipi Darren.

"Brengsek. Aku bukan pelacur. Aku hanya pengantar minum."

Darren melepas cekalannya sembari mengelap bekas lipstik Diandra yang menempel di bibirnya. Ekspresinya tenang, tampak tak terpengaruh dengan tamparan wanita itu.

"Ohh.. Benarkah?" Darren sengaja mengarahkan pandangan mengejek pada pakaian minim Diandra yang memperlihatkan bagian-bagian seksinya. Termasuk belahan dada perempuan itu yang terlihat jelas.

Rasanya Diandra ingin menampar laki-laki itu sekali lagi. Tetapi ia tahan. Sebenarnya tujuannya memang untuk menggoda laki-laki itu dan menjebaknya di ranjang. Tetapi ketika ia bertatapan langsung dengan Darren, kebencian langsung meletup.   Dia seperti melihat Nyonya Baxter di dalam wajah Darren dan itu membuatnya muak. Apalagi ditambah dengan sikap laki-laki itu yang begitu kurang ajar membuatnya menyurutkan rencananya. Dan mencari cara lain untuk balas dendam.

Diandra menarik sudut bibir berusaha tersenyum. "Terserah jika anda tak percaya." Diandra bangkit, merapikan pakaian serta rambutnya. Menunduk sopan. "Silahkan anda mencari perempuan lain. Saya permisi."

"Berapa yang kau mau?" Seru Darren ketika Diandra hendak keluar dari ruangan itu.

"Kau mau berapa? 80? 90? 100? Berapapun yang kau mau sebutkan? Aku juga akan memberikan mu fasilitas mewah. Asal kau menemani ku di ranjang."

Sejenak Diandra terdiam. Ia pun berbalik, menatap Darren dengan sunggingan senyum.

"Aku mau seluruh harta mu, Mr. Baxter. Bagaimana?"

****

Sebenernya cerita ini sudah lama. Sejak 2017 tapi baru saya post. Semoga kalian suka. Dan semoga gak mandek di tengah jalan. Hehe

Jangan lupa votment.