1 Altair Club

Sebuah kota yang tidak terlalu besar, dan juga tidak terlalu kecil, disanalah berdiri sebuah bangunan sekolah yang cukup megah, nuansa Asia-Eropa yang masih kental dengan balutan cat merah tua di yang mendominasi memberikan kesan kuno pada sekolah ini untuk orang yang pertama kali melihatnya.

Cuaca hari ini tidak terlalu baik, awan gelap masih menyelimuti dari pagi hingga siang kini, membuat hampir seluruh murid mengurungkan untuk makan siang di tempat terbuka.

Seorang gadis duduk diantara 2 temannya yang lain, menikmati makan siang sambil mengobrol didalam kelas.

.

.

.

"Mira? Mira?!", tanya seseorang, aku terperanjak dari lamunan.

"ah, ada apa?", tanyaku.

"apa kau mendengar ceritaku? Dari tadi kamu cuman melamun", tanya temanku.

"ah, maaf aku cuman sedikit terpikir dengan topik yang sedang kalian bicarakan tadi", kataku.

"yang mana?", tanyanya.

"apa tentang si 'Gadis Waktu'?", tanya temanku yang satu lagi.

"iya, kadang aku suka lewat sana kalau mau pergi ke rumah temanku, jadi sedikit kepikiran", kataku.

"hmmm"

"yah, soalnya dari cerita kalian tadi, aku jadi mengingat-ingat jalan itu, dan memang benar disana tidak ada toko donat, jadi rasanya sedikit menakutkan", kataku.

"benar, toko donat itu sudah tutup 2 tahun yang lalu", kata temanku.

"iya, tiba-tiba menerima telpon dan menanyakan hal yang tidak jelas seperti 'Maria' , kalau aku sih pasti akan langsung tutup telponnya"

"aku juga sama, oh iya, apa kalian tahu, katanya Kak Emi dari klub voli juga dapat telpon itu sabtu kemarin, dan karena hal ini sudah seperti menjadi legenda kota, dia juga menanyakan hal itu, dan benar saja, gadis disebrang telpon itu bilang kalau rumahnya didekat toko donat di sebrang stasiun", katanya.

"polisi juga tidak dapat melacak darimana nomer telpon itu berasal"

"benarkah? bahkan mereka saja tidak bisa", kataku terkejut, bagaimana mungkin polisi yang memiliki tim khusus dan juga peralatan yang diperlukan bahkan tidak bisa melacak siapa sebenarnya si 'Gadis Waktu' ini.

Bel sekolah berbunyi, hari berlangsung dengan cepat, dan disinilah aku…sedang berbaring dikasurku , jam sudah menunjukan pukul 11, ini sudah lewat dari jam tidurku namun aku bahkan belum merasakan kantuk sama sekali, aku ini adalah tipe orang yang 'penasaran', jadi ketika ada seseorang yang memberiku cerita yang berbau misteri aku pasti akan terus memikirkannya, kedua temanku itu memang sialan, mereka tahu kalau aku tipe orang yang seperti ini, tapi tetapi mereka tetap saja memberitahuku tentang si 'Gadis Waktu' ini, mereka pasti sengaja.

"kalau sudah begini yang bisa kulakukan hanya tinggal menunggu sampai aku melupakan hal ini, yah, biarpun agak lama sih", kataku bicara sendiri.

Maksudku aku pasti tidak akan tenang sampai kasus ini terpecahkan, tapi…bahkan polisi saja tidak sanggup, seolah tutup mata pada kasus yang cukup meresahkan seperti ini, dan melimpahkannya dengan menganggap kalau ini cuman bualan anak-anak atau legenda kota.

Hari itupun tanpa kusadari berlalu, aku terbangun oleh suara alarm, dan dengan wajah kantuk karena kurang tidur, akupun berangkat ke sekolah.

Disana aku disambut tawa ejek dari kedua temanku itu, seolah mereka berdua berhasil membuatku seperti ini.

Jam pelajaranpun berlalu, karena diluar masih hujan seperti kemarin, kamipun memakan makan siang kami dikelas dengan posisi yang sama seperti kemarin

"gara-gara kalian aku jadi susah tidur semalam", gerutuku pada mereka, wajah mereka terlihat puas.

"sudah kuduga", kata temanku.

"sejak dulu kau selalu seperti itu", kata temanku satu lagi dengan senyum lebar diwajahnya.

"kalian ini menyebalkan, minggu depan kan ada ulangan, kalau nilaiku jelek karena kurang tidur, apa kalian mau tanggung jawab?!", kataku kesal.

"maaf-maaf", katanya dengan cengengesan membuatku tambah jengkel.

"sudah jangan marah begitu", kata temanku satu lagi mencoba menenangkan.

"ah !", katanya seperti terbesit sesuatu dipikirannya, membuatku dan temanku saling pandang dan melihat karahnya.

"apa kalian tahu, kalau anak kelas satu baru-baru ini membuat klub?", katanya lagi.

"lalu apa hubungannya?", tanyaku malas.

"namanya adalah 'Klub Serba Ada'", katanya

"'Klub Serba Ada'? klub macam apa itu?", kata temanku.

"katanya mereka bisa memberikan pertolongan apa saja, jadi mereka mereka menamai klub itu seperti itu", katanya.

"wah, besar kepala sekali mereka, mereka masih junior dan mereka merasa bisa melakukan apa saja", kataku sedikit sebal.

"benar memangnya mereka pikir mereka itu siapa?", kata temanku yang satunya.

"tapi karena mereka tidak kunjung mendapat permintaan, jadi yang mereka lakukan saat ini cuman bantu-bantu guru merapihkan file sampai membersihkan tempat", katanya.

"memang sepantasnya seperti itu", kata temanku.

"dan juga katanya kalau sampai selesai UTS depan mereka tidak kunjung juga dapat permintaan dari murid sekolah ini, mereka akan dibubarkan", katanya.

"ppffft…apa itu, kasihan sekali", kataku menahan tawa.

"dan inilah yang akan kuusulkan, bagaimana kalau kita meminta mereka untuk menyelesaikan kasus ini", katanya.

"Uwaahhh…kejam sekali pikiranmu itu", kataku.

"hehehe, hebat bukan?"

"membuat mereka berharap pada permintaan ini, tapi mereka tidak bisa melakukannya, mereka akan menolaknya dan dianggap gagal, benar-benar seperti memberi harapan dan menghancurkannya, tapi aku suka dengan ide itu", kata temanku yang satunya.

"kalau begitu ayo lakukan", kataku.

"mungkin ini yang disebut dengan 'Pembullyan kakak kelas'"

Bel pulang sekolah berbunyi, kini waktu yang kami nanti-nantikan akhirnya tiba, awalnya memang aku sendiri merasa kalau ini cukup berlebihan, tapi entah kenapa aku sedikit berharap, atau mungkin aku mau melakukan ini karena ingin hiburan dari stress yang kudapatkan.

Kami sepakat kalau aku saja yang akan menemui anggota klub itu, karena kalau beramai-ramai mereka akan curiga kalau kami datang hanya untuk main-main.

Kini aku berdiri dihadapan sebuah pintu bertuliskan nama Klub itu, biar berapa kalipun kulihat nama klub ini, rasanya tetap menjengkelkan.

Dengan menarik nafas panjang, akupun mengetuk pintu itu.

"masuk", terdengar suara dari balik pintu ini, akupun membuka pintu itu.

Aku memicingkan mataku karena cahaya yang masuk lewat jendela, dengan samar aku melihat 5 orang yang berada diruangan ini, satu orang sedang duduk sambil memegang cangkir, yang satu sedang duduk didepan computer, yang satu sedang memakan bekalnya, dua lainnya sedang bermain PSP dikursi, tunggu…bukankah yang mereka lakukan disini cuman bersantai?.

Kini sosok yang terlihat samar itu mulain nampak jelas, gadis yang sedang memegang cangkir itu meletakan cangkirnya diatas meja dan berdiri.

"anda siapa? Dan apa ada yang bisa kami bantu?", katanya.

"ah, namaku Mira dan aku datang kemari untuk memberikan permintaan", kataku.

"ah, begitu yah, silahkan masuk", katanya, aku masuk kedalam.

"kalau begitu perkenalkan namaku Anzu, aku adalah ketua sekaligus pendiri klub ini", katanya.

Gadis ini berambut lurus hitam panjang, biarpun wajahnya terlihat sedikit mengantuk namun sorot matanya menegaskan rasa percaya diri, kulitnya terlihat pucat, dan biarpun dia bersikap sopan, namun aku merasakan hawa intimidasi dan tatapannya juga sedikit arogan.

"dia adalah Nao", kata Anzu sambil menunjuk gadis yang sedang duduk dihadapan computer.

"osu !", katanya singkat sambil tersenyum.

Gadis berkacamata, rambutnya pendek dan sedikit ikal, senyumnya terlihat ramah, berbeda dengan Anzu, namun hawa malas seolah mengelilingi dirinya, sangat terlihat jelas kalau gadis ini adalah tipe gadis indoor.

"yang sedang makan itu namanya Rin"

"salam kenal", katanya.

Gadis berambut sebahu,matanya sedikit sipit, namun aku tahu dari wajahnya kalau dia adalah orang yang ramah, 'Friendly', itulah kata yang pertama kali aku pikirkan ketika melihatnya, dia terlihat seperti tipe orang yang mudah diajak bicara.

"dan mereka berdua ini adalah Mai dan Mei"

"salam kenal"

"mohon bantuannya"

"apa mereka kembar?", tanyaku.

"iya, mereka kembar tidak identik, oh iya, Mai adalah kakaknya", kata Anzu.

Terlihat 2 orang gadis dengan rambut kuncir sebelah, yang satu disebelah kanan dan yang satu disebelah kiri, bairpun mereka anak kembar, namun aku benar-benar bisa melihat perbedaan yang jelas diantara keduanya, Mai terlihat lebih ramah dan bersahabat, dia mungkin tipe anak yang populer dikelasnya, sedangkan adiknya Mei terlihat lebih tenang dan pendiam.

"kami berlima adalah anggota 'Klub Serba Ada', jadi mari kita lihat permintaanmu"

Akupun menceritakan tentang permintaanku tentang kasus si 'Gadis Waktu' ini, awalnya aku hanya melihat mereka cuman sekumpulan orang yang ingin bermalas-malasan saja, tapi aku sedikit memperbaiki pemikiranku tentang mereka ketika mereka mendengar ceritaku dengan serius.

"begitulah, permintaan ini diluar dari lingkungan sekolah apa tidak apa-apa?", kataku dengan senyum seadanya.

"'Gadis Waktu' yah, sebenarnya ini kali pertama aku mendengar tentang hal ini, Nao apa kau tahu tentang ini?", kata Anzu.

"aku sedikit tahu, ini cerita yang cukup terkenal dikota ini, jadi selama ini kau ini tinggal dimana?", tanya Nao pada Anzu, mendengar hal itu aku juga cukup tersindir karena aku juga baru mengetahui tentang hal ini kemarin.

"ah, teman sekelasku juga ada yang pernah ditelpon", kata Mai.

"benarkah?", tanya Rin.

"iya, kalau tidak salah namanya…..emmm…siapa yah?", kata Mai sambil berpikir.

"nomer absen 17 Mio", kata Mei cekatan.

"nah itu", kata Mai.

"hmm…jadi ini tentang legenda kota yah, sebelum itu boleh aku tahu kenapa kamu ingin agar kami menyelesaikan masalah ini?", tanya Anzu, aku sedikit gelagapan.

"ah, anu…itu, karena aku ini orang yang suka tentang hal-hal seperti ini, dan aku juga orang yang sangat penasaran akan sesuatu, jadi aku tidak akan tenang sebelum masalah ini terselesaikan, bahkan aku juga jadi susah tidur karena terus memikirkan hal ini, minggu depan akan ada UTS, jadi ini akan jadi masalah besar kalau terus seperti ini", kataku tak sadar malah berkata jujur.

"tidak ada petunjuk yang jelas, dan kau juga bukan orang yang terlibat didalamnya…merepotkan juga", kata Anzu.

"jadi tidak bisa yah?", tanyaku.

"baiklah, akan kuterima", katanya membuatku terkejut.

"eh? Benarkah? Maksudku ini kasus diluar sekolah loh", kataku.

"tidak apa-apa, lagipula kali ini kami sedang dalam kondisi bahaya, kalau kami tidak menyelesaikan 1 permintaan, setelah UTS nanti klub ini akan dibubarkan", katanya.

"ah…begitu yah, kalau begitu terima kasih"

"karena kami tidak tahu terlalu banyak, maka kami akan mencari tahu terlebih dahulu, jadi datanglah lagi besok", kata Anzu.

Dengan sedikit melamun aku menapaki jalan menuju gerbang sekolah, 'Klub yang aneh', pikirku, karena kupikir mereka tidak akan menerima permintaan itu, apa mereka begitu putus asa karena deadline pembubaran mereka?, tapi bagaimanapun juga kita lihat hasilnya besok.

Hari berganti, dengan wajah masih terlihat mengantuk seperti kemarin akupun berangkat kesekolah, aku membicarakan tentang klub itu dengan teman-temanku.

"apa itu? Dari yang kau jelaskan mereka seperti klub bersantai", kata temanku.

"seolah orang-orang pengangguran berkumpul disatu tempat", kata satunya lagi.

Sepanjang istirahat makan siang ini kami terus membicarakan hal jelek tentang klub itu, sepulang sekolah aku bergegas menuju ruang klub itu.

Entah kenapa aku menjadi antusias dengan hal ini, mungkin aku mengharapkan wajah kecewa mereka karena mereka sadar kalau menyelesaikan hal ini adalah pekerjaan yang mustahil, belum lagi dengan tenggat waktu yang ada yaitu sampai akhir UTS nanti.

Akupun sampai disana, suasana yang tadinya ringan diruangan itu, kini berganti menjadi sedikit berat, kami semua duduk dikursi.

"jadi…bagaimana?", tanyaku memulai pembicaraan.

"Nao, apa kau sudah memeriksanya?", kata Anzu.

"ya, aku sudah menyelidiki kasus ini secara lengkap di internet, kasus ini sudah terjadi sejak 1 tahun yang lalu, dimana korban pertama merupakan seorang perempuan pekerja swata berusia 37 tahun tiba-tiba menerima sebuah telpon dari nomer 'private', suara disebrang telpon terdengar seperti tergesa-gesa dan ketakutan, maka dari itu korban merasa panik dan ingin melapor ke polisi, namun kepanikan tersebut berubah menjadi ketakutan ketika dia menanyakan alamat gadis tersebut, gadis itu bilang kalau rumahnya tak jauh dari stasiun kota ******, korban yang kebetulan tinggal di kota sebelah dan bekerja dikota ini tentu tahu tempat dimana dia turun kereta setiap pagi untuk berangkat kerja, namun saat dia menanyakan jelasnya, gadis itu bilang kalau rumahnya berada didekat toko donat yang ada disebrang stasiun, korban merasa heran karena toko itu sudah lama tutup, tapi ketika korban menanyakan hal itu, gadis itu bilang kalau baru beberapa hari yang lalu dia lewat situ, mulai dari situlah legenda ini berawal, lalu laporan yang sama selalu masuk ke polisi tentang adanya kasus telpon iseng yang dilakukan setiap 1 bulan sekali dengan topik yang sama, polisi awalnya hanya mengabaikan hal itu, namun 7 bulan yang lalu,telpon dari si 'Gadis Waktu' datang lebih banyak dari biasanya, yang awalnya 1 bulan sekali kini menjadi 1 minggu sekali dan pada akhirnya menjadi setiap hari, karena menurut laporan suara si 'Gadis Waktu' ini terdengar seperti tergesa-gesa dan membutuhkan pertolongan, akhirnya polisipun menyelidiki kasus ini dengan dugaan penculikan dan karena dianggap mengganggu ketengangn publik, namun tanpa ada keterangan jelas kasus ini ditutup setelah 2 bulan berjalan tanpa hasil", kata Nao memberikan laporannya.

"begitu yah", kata Anzu sambil menarik nafas malas, sepertinya dia akan menolak permintaanku.

"jadi bagaimana?, apa kalian masih sanggup?", kataku dengan nada kemenangan.

"hmmm…ini akan merepotkan, aku akan mulai pekerjaan ini besok", kata Anzu.

"heh? diundur lagi?", tanyaku dengan sedikit kecewa.

"sudah-sudah, kalau Anzu bilang besok, kita turuti saja", kata Mei.

"yasudah kalau begitu, aku akan kembali besok."

Akupun pergi dari ruangan klub itu dengan rasa sedikit kecewa, namun ada bagian dari diriku juga yang merasa janggal, kalau memang mereka hanya mengulur waktu seperti yang kukira, seharusnya mereka tidak memasang wajah yang terlampau tenang seperti itu, mungkin mereka memang hebat dalam urusan 'Poker Face', hanya saja aku seperti merasa ada yang mengganjal di dadaku.

Keesokan harinya seperti biasa aku mengobrol dengan temanku, aku menceritakan kalau 'Klub Serba Ada' akan melakukan pekerjaan mereka mulai hari ini, dan seperti biasa kami berbicara hal buruk tentang mereka, seperti mengatakan kalau mereka itu hanya mengulur waktu dan mecoba menutupi ketidakmampuan mereka.

Bel pulang sekolah berbunyi, waktu yang dijanjikan sudah tiba, aku berencana jika mereka kembali menunda kasus ini aku akan berpura-pura marah dan membatalkan permintaanya.

Kini aku sudah berdiri di depan pintu, setelah mengetuk pintu, dan mendengar suara mempersilahkan masuk dari dalam, akupun masuk, mereka semua kini duduk di kursi, seolah mereka siap untuk melakukan sesuatu.

Aku tersenyum, dan seluruh anggota klub itupun membalas senyumanku dan mempersilahkanku duduk disamping Rin dan Mai, aku duduk berhadapan dengan Anzu, lalu setelah merasa semua siap, Anzu seakan menyuruh mereka untuk memulai rapat ini.

Aku cuman menganggap kalau mereka ini cuman akan menggali informasi seadanya dan pada akhirnya akan menyerah, agar mereka terlihat kalau mereka sudah mencoba, tapi aku abaikan dulu pemikiran itu dan mengikuti permainan mereka.

"jadi bagaimana? Apa kalian yakin benar-benar sanggup menangani masalah ini?", tanyaku mencoba meyakinkan.

"kami pikir kami sanggup melakukannya, dan pertama-tama aku ingin berterimakasih pada anggota klub-ku yang sudah mengumpulkan informasi dan hal-hal yang dibutuhkan untuk menyelesaikan kasus ini", kata Anzu.

"tentu saja, kami bahkan sudah memulai penyelidikan tadi pagi", kata Mei.

"benar, aku bahkan sudah melakukan tugasku, sejak tadi pagi, Anzu memang kejam kalau sudah memberi perintah", kata Mai.

"heh? Jadi kalian sudah mulai?", tanyaku sedikit terkejut dengan pernyataan mereka.

"yah, semua bahan mentahnya sudah dikumpulkan, sekarang cuman tinggal kesimpulannya saja", kata Nao.

"kami sudah melakukan hal-hal tidak berprikemanusiaan yang kau pinta pada kami, jadi jangan sampai gagal yah", kata Rin.

"ah…tidak perlu khawatir, dengan semua informasi yang sudah dikumpulkan, aku yakin kalau kita bisa memecahkan kasus ini", kata Anzu.

Aku hanya terdiam mendengar obrolan mereka, mereka seolah tidak merasa kalau ini adalah kasus yang berat untuk anak SMA seperti mereka, apa mereka cuman mau membual, dan membuat kesimpulan asal-asal pada akhirnya karena hal ini hanya sebatas 'legenda kota' bagi mereka.

"Mira-senpai", kata Anzu, aku sedikit terperanjat.

"ah, iya", jawabku.

"bisa kita mulai?", tanyanya, aku hanya mengangguk, Nao berdiri dan berjalan menuju meja PC, dia mengambil kertas yang berada di dekat printer, dan membawanya kembali ke tempat duduknya semula, dia memberikan kertas itu pada Anzu.

"pertama, dari hal yang kami dapat, tentang bagaimana kesaksian orang-orang yang pernah menjadi korban dari si gadis waktu itu, suara berat, dan suara seolah seperti minta tolong, tidak ada satupun korban yang pernah memberi keterangan kalau si 'Gadis Waktu' ini pernah menampilkan 'pertunjukan' yang berbeda, jadi bisa kita asumsikan kalau dia cuman menggunakan satu 'setting'", kata Anzu menjelaskan, aku hanya mengangguk saja.

"tadi pagi aku dan Mai sudah mencari tahu tentang siapa saja orang yang pernah ditelpon oleh si 'Gadis Waktu' disekolah ini", kata Mei.

"itu benar-benar melelahkan", keluh Mai.

"sejak awal aku sudah merasa aneh, kenapa si 'Gadis waktu' ini hanya menelpon orang orang dari kota ini saja, dan hanya 20 persen dari jumlah korban yang berada diluar kota ini, tapi semua jelas ketika aku tahu kalau provider yang dia hubungi itu selalu sama dan semua berasal dari seri yang sama, yaitu seri 'Summer Promotion' yang diadakan 3 tahun lalu dan hanya diperjual belikan dikota ini, ini memang informasi yang tidak terlalu penting, hanya saja aku tidak pernah mengira semuanya akan berjalan semulus ini", kata Anzu.

"orang-orang diinternet banyak yang menyambungkan hal ini dengan hal-hal gaib seperti seri nomer kutukan dan semacamnya,juga dikarena kan yang dicari si 'Gadis Waktu' ini adalah 'Maria' hal ini juga sering disangkut pautkan dengan hal-hal berbau agama, sepertinya si 'Gadis Waktu' ini benar-benar menjadi pusat perhatian bagi orang-orang pecinta 'Occult'", kata Rin.

"dari informasi yang kami dapat, inilah daftar siswa sekolah ini yang pernah menjadi korban", kata Anzu sambil menunjukan kertas yang diberikan oleh Nao tadi.

"mungkin ini sudah agak telat, tapi aku ingin tanya, memangnya data seperti itu ada gunanya?", tanya Mai.

"benar, maksudku biarpun kita tahu orang-orang yang pernah dihubungi, bukan berarti mereka tahu tentang keberadaan si 'Gadis Waktu' ini atau semacamnya, mereka juga tidak akan menjadi petunjuk yang jelas bagi kita", kata Nao, aku hanya mengangguk setuju, rasanya perintah mengumpulkan informasi ini tidak cukup bijaksana dan hanya membuang waktu.

"tentu saja ini ada gunanya, setidaknya mereka adalah orang yang kita tahu, dan informasi yang mereka berikan itu bersifat pasti, tidak seperti informasi yang ditunjukan di internet, tanggal pasti mereka dihubungi tidak dicantumkan dengan jelas, dan kupikir sumbernya juga tidak cukup kredibel", kata Anzu, aku merasa omongannya ada benarnya.

"baiklah kalau begitu, mau kau apakan daftar ini? Aku tidak mau kalau usahaku dan Mai sia-sia", kata Mei.

"iya aku tahu", kata Anzu, dia memperhatikan kertas itu.

"hmmm…begitu yah, aku mengerti", katanya sambil melihat kertas itu, dia menulis sesuatu dibalik kertas tersebut.

"ini lihatlah, aku cuman mengambil orang yang dihubungi bulan lalu saja", kata Anzu.

[Kyo / 1 – D / *********127 / 30 September / 17 : 00

Lia/ 1 – B / *********111 / 14 September / 17 : 00

Ami / 2 – C / *********098 / 1 September / 17 : 00

Rona / 1 – B / *********114 / 17 September / 17 : 00]

"lalu apa maksudnya dengan itu?", tanya Rin.

"kalau yang kau maksud cuman kesamaan pada jamnya saja itu tidak akan mengubah apapun", kataku.

"bukan itu maksudku, tapi yang kumaksud adalah 3 angka terakhir pada nomer mereka dan tanggalnya", kata Anzu.

"3 angka terakhir?", tanyaku bingung

"tanggal?", tanya Nao.

"memang benar informasi ini tidak terlalu berguna untuk menjadi petunjuk", kata Anzu.

"oy !!" kata Mai.

"tapi…kalau kita bisa susun semuanya…", kata Anzu sambil menulis sesuatu lagi, tak lama kemudian dia menunjukannya.

[Ami / 2 – C / *********098 / 1 September / 17 : 00

Lia / 1 – B / *********111 / 14 September / 17 : 00

Rona / 1 – B / *********114 / 17 September / 17 : 00

Kyo / 1 – D / *********127 / 30 September / 17 : 00]

"lalu?", tanyaku spontan.

"kalau kita menggunakan sedikit perhitungan...-98 + 111 = 13 dan 1 September jika ditambah 13 hari akan menjadi 14 September bukan...begitu juga dengan perhitungan-perhitungan lainnya", kata Anzu menjelaskan.

"AH?!", kata Mei.

"sepertinya kau sudah mulai mengerti", kata Anzu pada Mei.

"benar juga", kata Rin.

"tepat sekali...nomer telepon dan tanggal sangat berkaitan dalam hal ini, bisa kusimpulkan kalau si 'Gadis Waktu' ini sedang mencari sesuatu, menelpon nomer secara berurutan setiap hari, berharap kalau nomer yang dia hubungi adalah nomer yang tepat...", kata Anzu, aku sedikit terperanjat, dan merasa sedikit merinding, tidak kusangka kalau dia bisa menemukan hal seperti ini dalam waktu sesingkat ini.

"apa yang dikatakan olehmu mungkin memang benar, tapi itu hanya akan menguatkan unsur misteri disini, ini tidak menunjukan sesuatu tentang apa yang dia cari dan motifnya", kataku.

"tidak, bukan hanya itu",katanya, dia kembali menulis sesautu yang menunjukannya lagi, kami melihatnya dengan seksama.

"sekarang tanggal 15 Oktober, tepat 15 hari sejak kasus terakhir berlangsung, jadi 3 angka terakhir dari nomer yang dimiliki oleh Kyo dari kelas 1 – D ditambah 15 adalah nomer *********142, itulah yang keluar, kita bisa memprediksi nomer yang akan dia hubungi hari ini", kata Anzu, kami semua terkejut dibuatnya, aku kagum dengan kemampuan berpikirnya.

"jadi, itu sebabnya tadi pagi kau memintaku untuk melakukan hacking?", tanya Nao.

"benar, sekarang giliranmu", kata Anzu.

Dengan segera Nao bergegas ke PC, memasukan nomer yang diberikan oleh Anzu, dia bilang tidak perlu membajak nomer tersebut sepenuhnya, dia hanya ingin panggilan pada nomer itu dialihkan untuk waktu singkat saja, tapi Nao bilang kalau semuanya lancar, karena nomer itu tidak digunakan atau tidak pernah terjual.

Waktu sudah menunjukan pukul 5 kurang 3 menit, aku begitu tegang karena kalau ini berjalan lancar, dalam beberapa saat lagi kita bisa berhubungan langsung dengan si 'Gadis Waktu', Nao sudah mengalihkan panggilan pada nomer tadi kepada handphone yang sudah disiapkan, tinggal menunggu sampai waktunya tiba.

Jam 5 sore sudah lewat sekitar 2 menit, tidak ada tanda-tanda bahwa 'Gadis Waktu' akan menghubungi kami, aku hanya bisa menahan rasa kecewa, tapi, yasudahlah, lagian mereka juga sudah mencoba dengan cukup baik.

Handphone tiba-tiba berbunyi, mengagetkanku yang setengah melamun, kami semua melihat ke layar handphone, tertera 'Private Number' disana, apa mungkin si 'Gadis Waktu' benar-benar menghubungi kami, Anzu bersikap tenang dan segera menjawab panggilan tersebut.

"Hallo", kata Anzu.

"Hallo, apa aku bisa bicara dengan Maria?", tanyanya disebrang telpon dengan suara yang sedikit ketakutan, perasaanku seolah berkata 'Jackpot !'.

"bisa kukatakan aku bisa mempertemukanmu dengan Maria ", kata Anzu, aku terheran karena apa yang dia katakan ini benar.

"benarkah?", tanyanya disebrang telpon

" namun sebelum aku menjawab pertanyaanmu, kamu harus menjawab pertanyaanku", kata Anzu.

"ba-baiklah", katanya, Anzu menyingsingkan senyum diwajahnya, pada detik ini aku menyadari sesuatu, mereka bukan cuman berlagak, tapi mereka benar-benar bisa sampai sejauh ini, mungkin aku terdengar terlalu optimis, tapi aku pikir mereka memang dapat memecahkan misteri ini.

"apa kau menggunakan telpon dengan sembunyi-sembunyi?", tanya Anzu memulai pertanyaannya.

"da-darimana kamu tahu itu?", katanya.

"dari suaramu, aku hanya menebak-nebak", kata Anzu.

"be-benar, sebenarnya aku menggunakan telpon ini tanpa pengetahuan siapapun", katanya.

"kalau begitu, apa waktumu menelpon terbatas? Kalau terbatas katakan padaku berapa batas waktunya?"

"emm, mungkin paling lama sekitar 5 menit", katanya.

"begitu yah, kalau begitu kita buat ini menjadi cepat", kata Anzu.

"apa benar rumahmu berada didekat toko donat ***** yang ada disebrang stasiun *****?", tanya Anzu.

"benar", jawabnya.

"dan apa benar kalau tidak lama ini kau masih melihat toko donat itu?", tanyanya lagi.

"apa kamu meragukan pernyataanku, sudah pernah ada yang bertanya hal yang sama seperti ini sebelumnya, ya, tidak lama ini aku memang masih melihat toko itu, biarpun kamu tidak percaya tapi itulah kebenarannya, aku tidak bohong !", katanya.

"tenang saja, aku percaya kok", kata Anzu.

"benarkah?"

"yah, kalau begitu tolong jawab 1 pertanyaanku lagi….tahun berapa sekarang?", tanya Anzu yang jelas membuat semua orang disini melongo, pertanyaan yang begitu lurus.

"tahun ****", jawab gadis tersebut yang membuat kami semua tambah tertegun, jelas-jelas yang disebutkan gadis itu adalah 2 tahun yang lalu.

"baiklah kalau begitu, sampai jumpa lagi", kata Anzu.

"tap—", sebelum gadis itu menyelesaikan kata-katanya, Anzu lebih dahulu menutup telponnya, aku sempat merasa apa yang dilakukannya itu cukup kejam, maksudku dia menggunakan umpan 'Maria' agar 'Gadis Waktu' itu mau menjawab pertanyaannya dan setelah dia mendapatkan apa yang dia inginkan, diapun memutuskan hubungan begitu saja, benar-benar orang yang mudah dibenci.

Untuk seukuran anak SMA mereka bisa dibilang cukup bagus, hanya saja cara yang seperti tadi, dan juga ada proses hacking yang dilakukan oleh Nao mengurangi nilaiku terhadap mereka, mungkin setelah ini mereka hanya akan bilang kalau 'Gadis Waktu' ini hanyalah orang iseng, orang gila, atau memang merupakan misteri yang tak terpecahkan

Namun anggapan itu seolah terjawab dengan sangat berbeda dari apa yang aku bayangkan,suasana disini tiba-tiba saja berubah menjadi lebih serius, dan dari pandangan mata satu sama lain, mereka seolah mengerti.

"Nao, coba buka dan carilah data penduduk rumah-rumah dekat stasiun itu, Mai dan Mei tanyai warga sekitar, batasi orang yang harus ditanyai hanya penduduk lama saja, Rin persiapkan dirimu untuk nanti", dengan satu hentakan Anzu mengkomandoi mereka.

"oh iya, dan satu lagi, senpai", tanyanya padaku.

"ya?", kataku yang masih sedikit terperangah.

"aku harap senpai tidak punya rencana malam ini, karena kita akan cukup sibuk malam hari ini", katanya.

Aku sedikit tidak megerti dengan maksudnya, bukan kepada kata 'kita akan sibuk malam ini', tapi lebih kepada 'memangnya kita akan melakukan apa malam ini?'.

Yah, sebenarnya aku juga tidak ada acara apapun malam ini, jadi aku memutuskan untuk menunggu diruang klub ini saja sampai nanti malam, tak lama setelah rapat tersebut Mai dan Mei pergi meninggalkan klub ini, Nao hanya fokus saja pada komputernya, Rin memakan beberapa cemilan sedangkan Anzu mengajakku mengobrol agar tidak bosan.

Waktu berlalu dengan cepat, sekarang sekitar pukul 7.30 malam, kami masih mengobrol santai, sampai telpon Anzu berbunyi, dia berbicara dengan orang di sebrang telpon dengan serius, lalu setelah menutup telponnya, dengan sigap Nao, menghampiri Anzu dengan beberapa kertas setelah Anzu memberi tanda.

Anzu membaca ketas itu, wajahnya berbeda dengan orang yang baru saja mengobrol bersamaku dengan santainya, bentuk mata yang sudah terllihat tidak menyenangkan itu, seolah menunjukan sisi aslinya, disini terasa sangat hening, bahkan Rin yang sedari tadi hanya bermain game, kini hanya duduk dengan tenang sambil menunggu keputusan.

"sudah waktunya senpai, maaf kalau ini lebih lama dari yang kuperkirakan, ayo kita pergi", kata Anzu, aku hanya menggangguk dan menuruti perkataannya seolah itu merupakan hal yang wajar.

Kami pergi menuju sebuah tempat yang sudah tidak asing lagi bagiku, benar…ini adalah distrik dekat stasiun, dan biar bagaimanapun aku sudah mengira kalau tempat ini adalah tujuan kami, namun hanya saja aku tidak percaya apa mereka benar-benar akan membongkar kasus ini.

Kami berhenti didepan salah satu rumah megah bercat putih, rumah ini memang berada tak jauh dari toko donat yang dimaksud, hanya saja jalannya sedikit berdeda dari rute yang biasa kuambil, jadi akupun baru kali ini melihat bangunan ini, sudah ada Mai dan Mei yang bediri didepan pagar, sepertinya mereka menunggu kedatangan kami.

"jadi ini tempatnya?', tanya Anzu, Mai dan Mei membenarkannya, tanpa ragu Anzu membunyikan bel rumah itu.

"permisi !", katanya, tak lama kemudian seorang wanita tua berpakaian rapi menemui kami.

"maaf ada yang bisa saya bantu?", katanya.

"kami ingin menemui penghuni rumah ini?", kata Anzu tanpa basa-basi.

"apa dengan tuan?",kata wanita itu.

"…"

"hey, Anzu, dia bertanya padamu", kataku mengingatkan Anzu, karena dia tidak menjawab pertanyaannya, yang dia lakukan cuman berdiri sambil menatap penuh arti.

"ah…ya", katanya lurus, membuat wajah wanita itu sedikit canggung karena tatapannya.

"ah, be-begitu yah, apa anda sudah buat janji?", tanyanya.

"sebenarnya belum, hanya saja aku punya sesuatu yang penting yang harus segera dibicarakan dengannya", kata Anzu.

"tapi, tetap saja, kalau belum punya janji, kalian tidak bisa menemui beliau", katanya.

"tapi, jika kami tidak menemuinya, hal ini juga akan melibatkan kepolisian", kata Anzu.

"kep—tunggu, apa kalian serius?", tanyanya dengan wajah yang sedikit memucat.

"mungkin tidak seperti yang anda kira, namun bukankah kalau ada pihak dari polisi yang kemari, semuanya akan menjadi sedikit lebih sulit? Tolong izinkan kami menemuinya, aku berjanji ini tidak akan memakan waktu lama", kata Anzu.

"tapi…hmm, ba-baiklah kalau begitu, ikut denganku", katanya akhirnya menyerah, dia berjalan masuk kedalam rumah, kami mengikutinya, ternyata bagian dalam rumah tersebut terlihat lebih mewah dari yang aku perkirakan, mungkin karena desain interior yang tertata dengan sangat rapi dan juga barang-barang antik yang terkesan 'mahal', membuatku tidak bisa memalingkan pandangan dari setiap sudut rumah ini.

Kami melihat seseorang pria dengan kemeja sedang duduk disebuah sofa dihadapan kami, raut wjahnya terkesan serius, memang beberapa bagian rambutnya sudah beruban, namun tataannya yang kelimis dan wajahnya yang memang rupawan, membuatku tidak berpikir kalau dia sudah setua itu, dia memandang kami.

"jadi siapa tamu-tamu muda yang kau bawa padaku Nany?", tanyanya dengan berwibawa.

"mereka bilang ingin bertemu dengan tuan, katanya hal penting, dan juga katanya polisi akan datang kalau mereka tidak bisa menemui tuan", katanya.

"hoo, itu sedikit merepotkan kalau polisi datang kemari, jadi apa yang ingin kalian bicarakan padaku?", tanyanya sedikit santai.

Anzu maju kedepan, aku merasa segan pada pria ini, tapi sepertinya orang ini tidak pernah merasakan hal itu pada siapapun.

"maaf, tapi sebenarnya bukan anda yang ingin aku temui", katanya.

"hm…lalu siapa? Apa kalian salah alamat atau semacamnya?", tanya pria itu.

"tidak bukan sesuatu yang seperti itu, hanya saja seperti yang kukatakan tadi, sebenarnya bukan anda yang ingin kami temui di rumah ini", katanya lagi.

"lalu? Apa salah satu dari para pegawaiku dirumah ini?", tanyanya.

"tidak juga"

"kalau begitu siapa yang ingin kau temui?", katanya.

"hm…bagaimana yah, mungkin keluarga anda"

"hmmm, begitu yah, tapi sayang sekali, yang kalian cari tidak ada disini, aku sudah lama bercerai dengan istriku, dan anakku juga ikut dengan istriku itu, kalau yang kalian cari adalah mereka, kalian tidak bisa menemuinya disini", katanya, Anzu melihat kearah Nao.

"apa yang dia katakan itu bukan kebohongan, dia sudah bercerai beberapa tahun lalu dengan istrinya, dan hak asuh anak mereka juga ada ditangan istrinya", kata Nao.

"aku memang tidak berbohong, jadi kalau sudah tidak ada perlu lagi, Nany, tolong antar mereka kembali", katanya.

"bisa tidak hentikan semua akting ini", kata Anzu.

"apa yang kau maksud, bukankah sudah kubilang kalau aku tidak berbohong", kata pria itu.

"memang benar, kalau anda tidak berbohong, tapi yang kumaksud adalah, fakta anda menyembunyikan sesuatu"

"menyembunyikan sesuatu"

"memang benar istri anda membawa anak anda, tapi yang dibawa hanya satu, sedangkan anda punya 2 anak"

"Ap—"

"Mai, Mei", kata Anzu dengan cepat.

"benar, menurut data yang sudah diperoleh, anda mempuyai 2 orang anak", kata Mai.

"memang istri anda mendapat hak asuh anda dalam persidangan, tapi tepat 1 tahun setelah bercerai, anda kembali mengajukan banding , dan berhasil mendapat hak asuh salah satu anak anda", kata Mei.

"dan saya juga sangat yakin kalau anak anda itu, berada dirumah ini", kata Rin, kini wajah pria itu berubah, dari yang tadinya santai, kini terlihat tegang, yah aku juga tidak bisa menyalahkannya, maksudku, aku juga sebagai orang luar cukup kagum dengan bagaimana mereka mendapat semua informasi itu secepat ini.

"kami sangat yakin bahwa dia ada disini, karena tadi saat didepan saat aku bertanya ingin bertemu dengan penghuni rumah ini, pelayan anda memastikan kalau andalah yang akan kami temui, itu berarti ada penghuni lain dirumah ini, dan itu adalah anakmu", kata Anzu

"keamanan !!!", teriak pria itu dengan kasar, seoah dia tidak ingin melihat kami lagi berada dikediamannya ini, 2 orang berseragam datang dengan cekatan.

"Rin !!", kata Anzu.

"dimengerti", kata Rin.

"semuanya berpencar, cari tempat gadis itu", katanya lagi, aku sedikit terkejut, bukannya ini sudah termasuk kejahatan, menerobos masuk property orang lain, aku tidak tahu bagaimana nasib kami setelah ini.

"ayo ikut aku", kata Anzu sambil menarik tanganku, kami semua kecuali Rin berpencar , aku dan Anzu naik kelantai dua, bangunan besar rumah ini sedikit membuatku bingung, namun Anzu seolah tahu betul apa yang sedang ia cari.

"mungkin sebelah sini", kata Anzu, dia membawaku berbelok, ada beberapa pintu disana, kami membukanya satu persatu dengan tergesa-gesa, ada yang bisa dibuka, dan ada juga yang terkunci, sampai akhirnya kami berada dipintu paling ujung, kami mencoba membukanya namun pintu itu terkunci, kamipun memutar mencari jalan lain, namun belum juga kami melangkah dari depan pintu itu.

"siapa? Ayah? Apa itu kau?", suara kecil dibalik pintu ini menghentikan kami.

"bukan, ini aku yang tadi bicara denganmu ditelpon", kata Anzu dengan cepat.

"eh? Benarkah? Kenapa kalian bisa berada disini?", tanyanya.

"kita bisa bahas itu nanti, ngomong-ngomong, apa kau bisa buka pintunya?",katanya.

"umm, ya, aku bisa, tunggu sebentar", katanya, tak lama kemudian suara kunci terbukapun terdengar, dan grendel pintu itu berputar, lalu terbuka setengahnya, penghuni ruangan ini menampakan setengah badannya, rambutnya ikal panjang berwarna kecoklatan, wajahnya seperti blasteran asia-eropa, hidungnya mancung, dan matanya besar namun nampak lucu, menggunakan pajama putih dengan pita biru dibagian leher, kulitnya putih sedikit pucat, namun tidak mengurangi kesan cantik wajahnya, jadi apa ini si 'Gadis Waktu' itu, awalnya kupikir dia akan terlihat berantakan, seperti seseorang yang sedang disekap atau semacamnya, namun setelah melihatnya terlihat segar dan terawat seperti ini, aku jadi sedikit bingung.

"apa benar kakak yang tadi di telpon?", tanya nya sedikit ragu, sepertinya dia tidak terlalu terbiasa dengan kehadiran orang asing.

"benar, akulah yang tadi meladeni panggilan isengmu di telpon", kata Anzu terdengar santai.

"maaf kalau aku merepotkan kakak", katanya.

"tidak perlu minta maaf", kata Anzu.

"jadi, ada perlu apa kakak datang kemari, aku kaget waktu aku dengar sepertinya ada keributan dibawah saat ayah teriak", katanya pelan.

"oy oy, bukankah aku sudah bilang kalau aku akan mempertemukanmu dengan Maria", kata Anzu, mimic wajah gadis itu langsung berubah terlihat senang.

"benarkah? Kalau begitu dimana Maria sekarang?", tanyanya.

"tapi sebelum itu aku ingin tanya sesuatu?", kata Anzu.

"apa?", tanyanya.

"kenapa saat ditelpon, suaramu terdengar seperti sedang ketakutan?", tanya Anzu, akupun menelan ludah, mungkin karena aku juga ingin tahu jawaban dari pertanyaan itu.

"itu…", katanya seperti ragu ingin menjawab pertanyaan itu.

"tidak apa-apa kalau kau tidak mau membicarakannya dengan kami—", belum selesai kalimat yang keluar dari mulut Anzu, gadis itu memotongnya.

"bukan seperti itu…ummm, baiklah, jadi begini sebenarnya Ayah tidak suka kalau aku menghubungi Ibu, jadi Ayah tidak pernah memberitahuku nomer telpon Ibu", katanya.

"lalu?"

"biar bagaimanapun juga aku ingin berbicara dengan Ibu, terutama dengan Maria, dia itu adalah kakakku, kami sangat akrab, jadi kuputuskan biarpun Ayah melarangnya, aku tetap akan menghubungi mereka", katanya.

"tapi, karena aku tidak tahu nomer ponsel mereka, aku cuman bisa menebak-nebak, tapi untungnya aku tahu kalau Ibu menggunakan nomer edisi special yang di jual waktu musim panas, jadi kupikir karena itu edisi special aku coba saja satu persatu secara berurutan setiap hari, tapi sayang aku belum berhasil menghubungi mereka, dan juga anehnya bahkan ada beberapa orang yang terdengar ketakutan saat tidak sengaja kuhubungi", terusnya.

'Jelas saja mereka takut, kau itu urban legend yang mereka sebut 'Gadis Waktu', kataku dalam hati.

"bisa aku bertanya, apa Ayahmu memperlakukanmu dengan buruk disini?", tanya Anzu.

"tidak, bukan seperti itu, Ayah sangat baik dan sayang kepadaku, dan para pegawai Ayah disini juga perhatian padaku, hanya saja"

"hanya saja?"

"semua orang disini termasuk Ayah terlalu over-protective padaku, bahkan Ayah tiba-tiba saja mengeluarkan ku dari sekolah agar aku bisa Home-schooling, dan dia juga bahkan membatasiku untuk pergi keluar rumah, dan biarpun aku dapat izin, aku pasti pergi dengan pengawasan Ayah—"

"Emi !!", tedengar suara teriakan tak jauh dari tempat kami, aku dan Anzu menengok.

"The Doting Parent has come", kata Anzu pelan, kini dihadapan kami terlihat sosok sang Ayah dengan raut wajah yang nampak murka.

"kalian ini ! sebenarnya apa tujuan kalian datang kemari?, aku bisa menuntut kalian karena masuk propertiku dengan paksa", katanya, aku yang mendengar itu langsung bergidik ngeri, tidak pernah terbayangkan olehku kalau niatku untuk mengerjai mereka akan sampai sejauh ini.

Disaat aku cuman gemetaran karena takut akan konsekuensi yang akan kami terima, Anzu nampaknya hanya berdiri dengan tenang.

"semua kepingannya sudah terkumpul, sekarang aku tahu dengan betul apa yang sebenarnya terjadi", katanya.

"apa maksudmu?", katanya.

"mungkin anda melakukan ini atas dasar rasa sayang anda kepada putri anda, tapi yang anda lakukan ini salah", kata Anzu, sambil menatap kearah pria itu dengan tatapan penuh arti.

"memangnya siapa kau? Kau itu cuman orang luar", katanya marah.

"memang aku ini cuman orang luar, tapi sekarang aku tahu apa yang sebenarnya terjadi dirumah ini, jadi aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja, aku tahu kalau anda sangat mencintai putri anda, tapi pikirkan juga tentang perasaannya, menyingkirkan semua duri di jalan hidupnya bukanlah pilihan tepat untuk dilakukan", kata Anzu lagi, kini pria itu seolah terperanga seakan menyadari sesuatu.

"biar bagaimanapun juga ini adalah caraku, kau tidak bisa seenaknya mencampuri urusan keluarga kami", katanya.

"tapi cobalah pikirkan dengan baik, dia masih muda, dan juga tidak tahu apapun, bagaimana kalau dia mendengar tentang hal ini dari orang lain, bukan dari anda, pikirkan bagaimana perasaannya, dan juga pikirkanlah, anda bukanlah mahluk yang abadi, anda juga lama kelamaan akan menua dan meninggal,dan bayangkan ketika anda tidak bisa melindunginya lagi bagaimana jika anda meninggalkannya dalam kondisi tidak tahu apapun?", kata Anzu, aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan tapi kini wajah pria itu menjadi lebih tenang.

"anda adalah orang tuanya, dan dia juga punya orang tua lain selain anda, dan juga seorang saudara, memang benar kalian sudah berpisah, tapi aku mohon, demi kebaikannya, tolong lebih terbukalah pada mereka semua, bukankah sudah tugas keluarga untuk saling membantu dan melindungi satu sama lain", kata Anzu lagi.

"untuk hari ini cukup sampai disini saja, aku akan segera pergi dari sini dan tidak akan mengganggu anda lagi", katanya.

"oh iya, dan satu lagi", kata Anzu, dia berjalan mendekati gadis yang sedari tadi melihat mereka tanpa mengeluarkan sepatah katapun.

"ini", kata Anzu sambil memberikan sebuah amplop.

"didalamnya ada nomer telpon Ibumu dan Maria, juga beberapa foto terbaru dari social media mereka yang sudah dicetak, aku memang tidak bisa mempertemukanmu dengan Maria secara langsung, tapi kuharap ini bisa membantu", katanya sambil tersenyum

"te-terima kasih", kata gadis itu dengan pelan, dia sepertinya masih bingung dengan apa yang terjadi, begitupun aku, dan disaat aku masih tertegun disana, Anzu menarik tanganku dan membawaku menjauh dari mereka, dan kami semuapun keluar dari rumah itu.

Kamipun berjalan pulang bersama sambil mengobrol kejadian tadi.

"yah, akhirnya selesai juga", katanya Rin sambil meregangkan badannya.

"benar, tapi kupikir tadi itu seru juga", kata Mai.

"tapi kenapa polisi tidak bisa memecahkan kasus itu yah?", kata Mei.

"kau lihat kan ukuran rumah tadi dan semua benda yang ada didalamnnya, bukannya aku bersifat menuduh, tapi kupikir pemilik rumah itu sudah membungkam polisi", kata Nao.

"ada benarnya juga", kata Mai.

"tapi tetap saja, data dari si Maria ini susah juga untuk dicari", kata Nao.

"yah, siapa yang menduga kalau dia mengganti namanya setelah perceraian itu", kata Mei.

Kamipun tertawa santai.

"tapi tunggu sebentar", kata Rin, kami semua melihatnya dengan seksama.

"ada yang janggal dari cerita yang barusan Mia-senpai katakan", katanya.

"janggal? Apanya?", tanyaku bingung.

"benar, kita masih belum mengetahui penjelasan tentang inti dari kasus ini", kata Rin.

"benar, ini tidak menjelaskan si 'Gadis Waktu', tentang kenapa dia menyebut toko donat yang sudah tidak ada,dan kenapa juga dia menyebutkan kalau sekarang adalah 2 tahun yang lalu", kata Nao.

"benar juga?", kataku baru teringat, aku terlalu focus pada apa yang terjadi tadi, sehingga aku lupa tentang inti permasalahan kenapa dia bisa disebut sebagai si 'Gadis Waktu'

Kami semua melihat kearah Anzu, karena kami yakin kalau dialah yang paling bisa diharapkan untuk memenuhi jawaban yang kami inginkan.

"ah, kalau masalah itu, gampang saja, itu adalah penyakit", katanya santai, kami terkejut dengan apa yang keluar dari mulutnya.

"tu-tunggu sebentar…maksudmu…apa dia mengalami gangguan kejiwaan?", kata Mai sedikit ketakutan, kami juga merasakan hal yang sama, namun Anzu hanya tersenyum.

"bukan-bukan begitu, jadi kalian tidak menyadarinya saat masuk rumah itu", katanya.

"tidak", jawabku.

"tadi dirumah itu, tepatnya diruang tengah dimana Ayah gadis itu duduk disofa aku melihat sekeliling dan mendapati sebuah kalender yang menunjukan 2 tahun yang lalu", kata Anzu.

"benarkah? Aku tidak sadar, jadi sebenarnya apa yang terjadi disana?", kataku.

"akan kujawab tapi sebelum itu, bisakah kalian berjanji untuk tidak mengatakan tentang hal ini pada siapapun?", tanyanya, kami mengangguk.

"kalau begitu akan kujawab, mudah saja, apa kalian tahu tentang istilah 'Sleeping Beauty'?", katanya kami berpikir sejenak.

"itu adalah istilah dalam ilmu kedokteran dimana pasien yang terkena penyakit tersebut mengalami kelainan tidur, pasen tertidur sangat lama, berhari-hari, sampai berbulan-bulan, bahkan ada kasus yang tercatat kalau ada yang tidur selama setahun lebih, tapi penderita penyakit ini akan tetap merasa kalau mereka hanya tidur satu malam saja", katanya menjelaskan.

"kalau begitu, itu berarti…", kata Nao.

"yah, singkatnya sih, Emi, gadis yang tadi itu menderita penyakit ini, sejak 2 tahun yang lalu, tapi karena kondisi keluarga yang seperti itu, dan juga sifat Ayahnya yang terlalu over-protective, Ayahnyapun memutuskan untuk menutupi hal itu darinya, Emi mungkin tidur sangat lama, tapi Ayahnya tetap men-setting agar semuanya terasa seperti hanya terlewat satu malam dirumah itu, dia bahkan rela mengeluarkan banyak uang agar hal itu terjadi, penyakit itu jugalah penyebab dari rasa rindu pada Ibunya dan saudaranya Maria yang tak tertahankan, memang pikirannya merasa cuman melewati satu malam saja, namun perasaan seperti perasaan rindu tidak akan tertipu oleh hal itu", kata Anzu.

"begitu yah, tapi tindakan Ayahnya itu…", kata Mei.

"memang benar itu terdengar seperti sebuah 'kebodohan', tapi biar bagaimanapun itu juga merupakan bentuk kasih sayang orang tua terhadap anaknya, jadi aku tidak bisa menyalahkannya", kata Anzu.

Malam itu entah kenapa merasa sangat lega, bahkan aku tidur dengan sangat lelap, keesokan harinya aku menyempatkan diri datang ke klub mereka untuk berterima kasih pada mereka, dan juga untuk mengisi data kalau mereka sudah benar-benar menerima client.

Aku tidak pernah menyangka kalau hasilnya akan seperti ini,awalnya aku melakukan ini untuk bercanda saja, namun saat ini aku merasa benar-benar puas akan semua pengalaman yang sudah kudapat ini.

Sudah satu minggu terlewat, dan si 'Gadis Waktu' dikabarkan sudah tidak melakukan pemanggilan jam lima sore, jadi desas-desus diinternet tentang hal ini menjadi perbincangan hangat, terutama tentang topic kalau legenda kota 'Gadis Waktu' sudah terpecahkan.

Aku tidak menyangka kalau mereka berlima benar-benar akan mampu untuk menyelesaikan kasus ini, tapi bagaimanapun harus kuakui kalau mereka ini adalah orang-orang yang hebat, dan ini adalah kekalahan telak untukku.

"hey, Mia, kenapa kau melamun terus", kata seorang gadis yang merupakan sahabatku ini.

"kau selalu seperti ini sejak seminggu yang lalu", kata gadis satunya lagi.

"ah, maaf-maaf", kataku.

"oh iya, bagaimana dengan Klub Serba Ada itu?", tanyanya.

"benar, aku sampai lupa, bagaimana pendapatmu tentang mereka?", kata yang satunya lagi.

"hm…mereka itu terdiri dari 5 orang yang aneh, ada seseorang yang computer addict, ada juga situkang makan, ada sepasang kembar yang tidak jelas, dan juga ketua mereka itu orang pemalas dengan tatapan angkuh", kataku.

"apa itu?"

"aneh sekali", kata mereka sambil tertawa dan menjelek-jelekan mereka.

"tapi biarpun begitu, Aku sangat puas dengan hasil kinerja mereka"

-Bersambung-