1 Inilah kisahku (Prolog)

Takdir seseorang sudah tertulis jelas di Lauhul Mahfuz sebelum mereka lahir ke dunia.

Tak ada yang bisa mengubahnya atau pun menghentikannya. Semua atas kehendakNya. Secepat apa pun manusia ingin menghindarinya, sedalam apapun manusia ingin bersembunyi dan sekuat tenaga manusia ingin menghalanginya jika Allah berkendak maka jadilah dengan seizinNya.

Allah SWT berfirman:

"Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu Dia hanya berkata kepadanya, Jadilah! Maka jadilah sesuatu itu."

(QS. Ya-Sin 36: 82)

Sama halnya dengan Alifah, gadis cantik usia 18 tahun yang ingin menghindari Alif, seorang pemuda tampan yang angkuh dan dingin, tetapi tak sejalan dengan apa yang ia harapkan. Bahkan mereka disatukan dalam ikatan pernikahan yang tentu saja bukan kemauannya melaikan karena terpaksa. Bukan karena dipaksa tapi karena terpaksa! Tolong digaris bawahi yah kata 'Terpaksa'.

Otaknya masih blank, syok dan kaget atas rencana pernikahan yang bukan termasuk kesepakatan awal perjanjian mereka. Belum habis rasa kagetnya, kini rasanya ia ingin menangis sejadi jadinya. Saat Alif berlutut dihadapan Mama, nenek dan dirinya sambil memegang kotak perhiasan yang imut barwarna biru tua yang didalamnya terdapat cincin bermata berlian yang manis nan elegan.

Gayanya itu lhoo.... mirip pria Bucin yang ada di novel atau sinetron alay. Melamar sang Mantan, eh salah sang kekasih maksudnya.

"Alifah, maukah kau menikah denganku?" kata Alif terlihat bersunggu- sungguh tapi menyimpan senyum mengerikan, yang hanya Alifah saja yang bisa melihatnya. Dirinya juga merasakan aura permusuhan yang kental.

Bukannya menjawab Alifah malah melebarkan matanya menatap Alif dengan horor yang juga menatapnya setajam mata elang, seakan mengatakan "mati kau!!".

Kepalanya tiba-tiba pusing, otak encernya memerintahkannya ia untuk segera berakting pingsan plus kejang- kejang agar terhidar dari drama keluarga Alif yang mirip novel picisan. Andai dia bukan Alifah yang sekarang mungkin dia akan nekat mempermalukan dirinya seperti itu. Tapi itu tidak lagi..rencananya hanya tersimpan di otak encernya.

Pikiran Alifah terbang jauh saat kejadian kemarin siang. Saat Ia berjalan lambat seperti siput yang sudah menjadi ciri khasnya. Tiba-tiba pesawat kertas melintas dan berhenti tepat di dapannya. Dia mendongak keatas mencari sang pelaku, menengok kekanan kekiri arah belakang tapi sang pelaku tak ada.

Dia pikir hanya sampah, tapi akan berakibat fatal jika dia yang dituduh sebagai pelaku. Karena terdapat peraturan jika membuang sampah tidak pada tempatnya maka ada sanksi yang harus di bayar. Jadi dengan terpaksa Alifah mengambilnya untuk membuangnya ke kantong sampah yang tersedia tidak jauh dari tempatnya berdiri.

Tapi tiba-tiba rasa penasaran menyerangnya. Biasanya ini penyakit si Fira sahabatnya yang penasarannya sudah ketingkat akut tak tertolong lagi, kok dia ikut tertular sih??! Dibongkarnya pesawat kertas itu siapa tahu ada pesan terselebung di dalam lipatan kertas untuk dirinya. Sungguh ini konyol dan dia merasa ini bukan dirinya.

Dan...simsalabin abda kababraaaa ternyata beneran ada. Kata hati memang tak pernah berbohong. Tetapi setelah di baca jantung Alifah terasa ingin copot, ingin lepas dari tempatnya. Ini lebih mengerikan dari teror Wahai pemirsa.

"Astagfirullah hal adzim..sia.. siapa yang memberinya kertas ini." tanya Alifah dalam hati sambil menjerit. Ini ungkapan main-main kah? Atau keisengan belaka? tapi pelakunya siapa?? Apa dia serius?? Mendadak dia seperti Fira saat penasaran,memburu jawaban dengan pertanyaan yang belum memuaskan dirinya. Yah, kalo diajak pacaran tanpa harus berpikir, lansung di tolak. Kan pacaran haram. Kita dilarang mendekati zina sementara pacaran itu awal dari zina. Ibarat kita berada di depan pintu..dan pacaran itu adalah pintunya.

Jika membiarkan diri kita memasuki pintu, itu artinya kita sendiri mengundang mala petaka dan mengudang murkanya Allah. Alifah sih Ogah di murkai Allah..kalian juga kan??!!Makanya kita di larang untuk mendekati yang namanya pacaran.

Kita mesti berlari menjauh sejauh mungkin dari pintu gerbang tersebut, kalau perlu bikin tuh tembok yang tebal dan tinggi menjulang serta siapkan senjata beserta pasukan agar virus cinta tak bisa menyerang kita.

Jangan biarkan setan berteman dengan kita dan tertawa atas perbuatan kita. Karena Virus cinta akan berkah pada sesuatu yang halal, kalo masih pacaran itu mengundang bencana pemirsa. Setan tak akan membiarkan kita hanya berpegangan tangan saja, tapi dia akan berusaha keras agar kita melakukan yang lebih dari pada itu.

Bahkan lebih dan lebih lagi. Nah kalo dilamar?? Waow nekat bener ??Patut di ajungi jempol nih jika Niatnya karena Lillah. Emang si cowok sudah mampu?? Mampu dalam segala hal?? Apa jangan jangan Alifah keseringan berkoar ya jika ada yang 'menyet' langsung di beri ayat. Tentang larangan pacaran, lantas seseorang ingin melamarnya??

Belum habis rasa penasaranya sang pelaku ternyata datang dari depan berlari ke arahnya. Alifah sudah tahu, Alifah yang di maksud bukan dirinya, tetapi Alifah yang lain. Rasa penasarannya hilang seketika dan berganti dengan malu yang disembunyikan sedalam mungkin karena sempat mengira jika yang dimaksud adalah dirinya.

Meskipun rona merah dipipinya masih terlihat, tanpa sang pelaku meminta kertasnya Alifah menyodorkannya dan berlalu begitu saja tampa suara.

"Aku minta maaf" kata Alif sang pemilik kertas.

Langkah Alifah terhenti, tapi tak menoleh sekalipun. Kemudian melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda.

"Kamu enggak dengar?? Aku bilang aku minta maaf" kata Alif menaikkan dua oktaf volume suaranya.

"Di maafkan" balas Alifah singkat sambil berlalu dengan cuek.

Alif tak mengganggunya lagi, toh dia sudah meminta maaf dan Alifah juga sudah bilang di maafkan. Jadi ngapain repot repot mengkofirmasi yang sudah selesai. Dimaafkan secara tulus maupun enggak itu bukan urusan Alif lagi, yang jelas dia sudah meminta maaf. Beres. Rasa bersalah abaikan.

Belum jauh Alifah melangkah karena memang langkahnya mirip siput, tiba tiba suara tamparan terdengar jelas di telinga Alifah. Spontan dia berbalik semoga dia salah dengar. Tetapi tidak, pendengarannya ternyata tajam. Bekas merah cap tangan dipipi Alif tergambar jelas dengan indah. Membuat bukan hanya dia saja yang kaget, tapi seluruh siswa yang ada disekitar lapangan, karena memang posisinya di pinggir lapangan Voly.

Mereka memfokuskan kekejadian yang mustahil terjadi. Andai ini bukan anak pemilik sekolah, Alif sudah jadi sasaran kamera oleh teman temannya yang tiba tiba ingin jadi wartawan seketika secara berjamaah.

Tapi sayang berita hot yang akan diterbitkan hanya bisa sampai dikepala saja. Mereka takut beurusan dengan sang nenek penguasa sekolah yang sangat melindungi cucunya itu. Tak ada yang menyangka jika Alifah, sahabat Alif sendiri pelakunya. Pencetak cap tengah di wajah tampan Alif.

"Aku benci sama kamu" kata Alifah kepada Alif dengan suara lirih dan air mata yang hampir tumpah.

Alifah yang tidak berada jauh dari tempat mereka berdiri sontak saja kaget mendengarnya, persahabatan mereka terkenal sudah sejak lama. Selama ia memasuki sekolah ini hingga sudah akan lulus yang artinya sudah tiga tahun lamanya mereka belum pernah cekcok seperti yang terjadi sekarang. Mereka tetap mesra bagaikan sahabat rasa pacar bahasa anak zaman sekarang.

Dan sekarang dia menyaksikan secara live, tangan Alifah sahabat Alif mendarat mulus di wajah tampan Idola mereka.Termasuk Alifah yang masih terbengong yang tak jauh darinya. Apakah dia beruntung atau tidak, karena dirinya bukan hanya menyaksikan tapi juga bisa mendengarkan perkataan kebencian dari Alifah sahabat karib Alif itu.

Sementara teman temannya tentu tidak, karena perkataan Alifah sahabat kecil Alif terdengar lirih. Alifah yakin hanya mereka bertiga lah yang mendengarnya.

'Ahhh pura pura tuli saja lah.' pikir Alifah.Tapi dirinya masih berdiam diri, masih enggan untuk beranjak. Hehe dia masih penasaran Apakah Alif akan membalas perlakuan sahabatnya itu. Ok Fiks, virus Fira sudah tersebar kedalam tubuhnya.

Setelah menampar Alif dan mengatakan kebenciannya Alifah berlari dengan kemarahan yang hanya dirinya saja yang tahu. Bahkan Alif masih bingung kesalahan apa yang pernah dibuatnya sehingga Alifa sahabatnya itu menamparnya dan mengucapkan kata benci kepadanya

Alif kemudian menoleh kearah Alifah, tatapannya tiba tiba langsung menusuk kemata Alifah yang masih mematung. Alifah salah tingkah ditatap seperti itu, memutus tatapan Alif padanya. Melarikan bola matanya kesegala penjuru selain ke arah Alif karena gugup tiba- tiba melandanya, menyembuhkan virus Fira yang menyerangnya barusan.Tetapi dia tahu Alif masih menatapnya dengan tajam. Seolah ingin mengataka sesuatu lewat matanya. Alifah ingin meneriaki Alif rasanya dengan peringatan Zina mata wooee sadarr!!!

Find authorized novels in Webnovel, faster updates, better experience, Please click www.webnovel.com/book/alifah-kaulah-yang-kumau_16663349706864605/inilah-kisahku-(prolog)_44731098776788749 for visiting.

Alifah berbalik dengan kikuk secara perlahan seolah mengatakan.

"Aku tidak melihat dan mendengar apa apa kok, jangan khawatir!!" dia lalu melangkah secepat mungkin, bukan gaya siput lagi tapi langkah ketika dia berkejaran dengan sesuatu yang mendesak. Hampir dikatakan lari sih.

Akan tetapi kali ini, bukan hanya kertas saja yang bertuliskan lamaran tapi ucapan lamaran pun terdengar oleh sang pemilik kertas. Apa Alif sakit?? Jelas jelas dia tahu, kata-kata itu bukan untuknya tapi kenapa kata-kata itu seakan tertuju untuknya dengan berlian yang cantik?? Ini salah!! Bukan ini yang Alifah harapkan, ekpektasinya melayang jauh dari jangkauan. Bukannya mengiyakan lamaran Alif, Alifah rasanya ingin bertanya balik..."apakah kamu sakit?"

"Alifah apa kamu tidak mendengarnya?? Aku melamarmu?!" ulang Alif menyadarkan Alifah dari lamunan panjangnya.

Ohh tidak!! semua mata tertuju padanya mengharap jawaban. Dia seperti saksi pelaku atas sebuah kasus pembunuhan yang jadi tersangka dihadapan sang Hakim, karena tiba tiba bukti mengarah padanya. Bisakah ia berlari saat ini??! Menghilang atau apapun itu!! Tapi...bayangan makam ayah yang akan di bongkar satu minggu lagi menari nari dalam matanya.

"Alifah, izinkan aku melamarmu" Ulang Alif sekali lagi, gemas melihat Alifah yang masih terdiam, akan tetapi Alif berusaha agar terlihat sabar menanti jawaban.

Next chapter