1 prolog

Tampak gumpalan awan hitam datang dari arah pesisir pantai. Hari itu merupakan musim hujan tahun pertamaku ketika masih SMP. Sepulang sekolah tiba-tiba hujan turun. Aku berlari dan berteduh di sisi pondok kecil sambil menatap tetesan air yang turun dari atas genting. Hujan turun dengan lebatnya, aku pun melepaskan sepatu dan duduk didalam pondok itu.

Tepat disaat itu ada seorang lelaki yang duduk di sudut pondok. Kami bertatap muka dan hanya menganggukkan kepala.

" Hujannya turun mendadak, ya?" tanyanya .

" Iya", jawabku dengan nada yang rendah.

Aku menatap wajahnya dan dia juga menatap wajahku. Sontak aku memalingkan wajahku kearah yang lain. Suara rintik hujan mengisi kesunyian kami, aku tak tahu harus berkata apa. Terdapat selembar poster yang jatuh disampingku bertuliskan Festival Remaja Sekolah.

"Alfa! Apa kau akan pergi ke festival?"

"Eh?", jawabnya dengan heran.

Wajahku memerah, perasaan malu timbul seketika.

" Lissa mau pergi apa tidak, ya? Apa aku harus mengajaknya?" ujarku untuk mengalihkan pertanyaanku tadi.

Hatiku berdegup kencang. Dia menatapku dengan heran.

" Ini. Pakailah", ujarnya sambil menaruhkan baju olahraganya diatas kepalaku.

" Nanti kau bisa kena flu, keringkan bajumu dengan itu",ujarnya lagi dengan tatapan cuek.

"Seragam olahraga?"

"Tidak apa-apa. Aku belum memakainya. Kecuali sekali"

" Heh?! Kalau begitu kau sudah pernah memakainya!" sambil menatapnya dengan kesal.

Dia tertawa dengan senyum yang indah, hatiku berdegup dengan sangat kencang, wajahku memerah kembali ketika melihatnya tertawa.

" Baik! Aku akan menggunakannya!"

Sambil mengeringkan rambutku, aku meliriknya. Alfa tersipu malu, sambil menatap rintik hujan yang turun. Hujan pun reda, Alfa melihat jam di ponselnya. Lalu ia berlari sambil melambaikan tangan kepadaku dengan senyum yang lebar. Di saat itulah momen yang tak pernah aku lupakan.

Esok harinya, ketika jam istirahat aku berencana kekelasnya untuk mengembaikan seragam olahraganya. Alfa kelasnya ada disebelah kelasku. Tubuhnya pendek dan berbicara halus seperti perempuan.

" Terima kasih...", ujarku. " Apa kau akan pergi ke Festival Remaja Sekolah?"

" Hah?" jawab ku dengan heran.

"Apa kau sudah punya janji dengan temanmu?"

"Belum..."

"Jam..tujuh..", ujarnya dengan gugup, sambil mengangkat lengan untuk menutup wajah yang tersipu malu.

"Jam tujuh malam di Taman Queen Light" ujarnya lagi. Baru kali ini aku melihat dirinya seperti itu. Tanpa sadar aku mengiyakannya.

Aku kembali ke kelasku. " Hei! Ada apa denganmu dan Alfa?" tanya brian yang merupakan salah satu temannya Alfa.

" Bukan apa-apa", ujarku.

"Kau bilang itu bukan apa-apa? Ayo ceritakan semuanya!" ujarnya dengan paksa.

"Menjengkelkan! Ini sebabnya aku benci laki-laki!".

"Aku..."

"....benci semua laki-laki", bentakku dengan raut muka marah.

Tepat disaat itu, Alfa melintas, berhenti dengan wajah terkejut dan berjalan kembali dengan wajah menunduk.

Jam tujuh di Taman Queen Light, aku menunggunya dibawah pohon bungur. Aku menunggu dan menunggu, tapi Alfa tidak pernah datang.

Jam Istirahat pun berbunyi, aku berjalan menuju kantin sambil melirik kearah kelas Alfa dan melihat teman-teman Alfa sedang berbincang-bincang.

" Hah? Alfa pindah sekolah?"

"Ya. Aku dengar dia pindah setelah Festival Remaja Sekolah."

"Dia tidak bilang apa-apa padaku!"

"Hah? Bahkan kau juga, Brian?"

Aku berjalan kearah kelas setelah mendengar hal itu. Dia memang cepat canggung. Dia tampak selalu berhati-hati dalam segala hal. Tapi ..., aku sungguh mencintai Alfa. Bahkan sekarang, Alfa sudah memilki tempat di dalam hatiku. Terkadang aku berpikir ingin kembali ke masa itu.

Next chapter