1 Prolog

Manusia memang tak pernah merasa puas. Terkadang sebagian dari mereka yang merasa belum puas atas pencapaian nya dan masih suka mengeluh dengan yang mereka punya.

Terkadang juga di kasih harta berlimpah bukan buat sedakah malah buat pamer kekayaan di sosial media dan juga sering menyombongkan diri bahwa dialah orang yang paling kaya di dunia.

Bahwa kenyataannya masih ada langit di atas langit.

Itu juga yang sedang di lakukan oleh seorang pria tampan terhadap wanita berjilbab tosca dan gamis yang senada dengan jilbabnya.

Pri tersebut yang tak lain adalah Daffa Ramdan Althaf yang tak lain. Dia merupakan anak dari pengusaha terkenal yang ke 4 di seluruh Asia dan juga pemilik kampus Universitas Negeri Althaf. Di daerah Jakarta.

Mohon map nih nama kampus nya gue sengaja buat sendiri.. disini kan ceritanya kampus nya milik bokapnya si Daffa ya jadi itu cuman karangan author ke :) mohon dimaklumi dan di maafin :v

Perempuan yang ada di depan yang tak lain namanya adalah Abidah Khairiyah. Ia sebenarnya juga anak dari pemilik rumah sakit terkenal dan pemilik rumah makan terkenal di salah satu kota Semarang dan juga ada di Jakarta. Tapi dengan sikapnya yang sederhana membuat orang banyak mengira bahwa Abidah adalah orang yang tak punya. Ia masuk kampus itu karena mendapat beasiswa.

Ia tak ingin merepotkan kedua orang tuanya untuk biaya kampus yang sekarang ia tempati.

"Kalau jalan tuh pakai mata! lihat nih baju mahal gue basah kan gara-gara lho!" Bentak Daffa kepada Abidah.

"Maaf ya Kakak yang terhormat, setau Abidah jalan itu pakai kaki bukan pakai mata" ucap Abidah kesal dia kan gak sengaja tumpah in minumannya.

Semua orang yang ada di kantin menahan tawanya dengan ucapan Abidah. Karena sekarang mereka berdua menjadi pusat perhatian semua mahasiswa-mahasiswi yang ada di kantin. Mereka semua takut dengan Daffa. Takut nanti di keluarkan dari kampus.

"Yang bener ucapannya gini kak, kalau jalan itu sambil lihat orang juga, bukan malah 'kalau jalan tuh pakai mata' emang mata buat jalan kak bukan kan" ucap Abidah sambil mengulangi kata yang di ucapkan Daffa tadi.

"Terserah Lo deh gue pusing sama Lo!" Ucap Daffa dengan kesalnya

"Kalau pusing ya minum obat dong kak" ucap Abidah dengan wajah polosnya yang membuat dia semakin imut

Daffa yang melihat wajah Abidah yang seperti itu hanya bisa terhipnotis dengan keimutan gadis itu. Langsung saja ia tepis pikiran itu.

"Gue gak mau tau pokok ya Lo harus ganti rugi baju mahal gue!" Sarkas Daffa

"Ya udah sini in bajunya nanti aku cuci baju kakak biar bersih gak perlu ganti yang baru itu masih bisa di pakai kok kak" ucap Abidah

"Gue gak mau baju mahal gue Lo cuci nanti yang ada malah baju gue tambah kotor lagi dengan tangan Lo yang kotor itu" ucap Daffa dengan nada sinis nya.

Sedangkan Abidah ia hanya mampu beristighfar dalam hatinya, supaya ia tak ikut terpancing emosinya.

"Astaghfirullah kak, tangan aku bersih kok gak ada kumannya" ucap Abidah sambil menunjukkan kedua tangannya di depan wajah Daffa.

"Bersih dari mananya coba, paling masih ada sedikit kuman yang menempel di tangan Lo itu" ucap Daffa dengan senyum sininya.

"Terserah kakak mau bilang apa tentang tangan aku" ucap Abidah

"Dan satu lagi jadi orang itu jangan suka sombong ingat harta hanya titipan dari Allah yang sewaktu-waktu Allah akan ambil lagi" sambung Abidah.

"Kalau mau ceramah itu di masjid bukan di kampus!" Ucap Daffa dengan wajah yang memerah menahan amarahnya.

"Dan satu lagi Lo itu gak pantes kuliah di sini dengan penampilan Lo yang kampungan banget!" Ucap Daffa dengan nada meremehkan nya.

"Astaghfirullah... Aku pakai pakai an kayak gini di bilang kampungan lah sedangkan orang yang pakai baju kurang bahan itu namanya apa hah!" Ucap Abidah dengan wajah yang marah.

Gimana yang gak mau marah pakaian yang tertutup kayak gitu di bilang kampungan lah terus orang yang pakai baju kurang bahan itu di sebut apa coba? Dunia makin sempit aja.

Perempuan dengan pakaian tertutup dihina sedangkan perempuan dengan pakaian terbuka di sanjung-sanjung, di puji-puji. Dunia memegang keras.

"Jelas mereka bukan cewek kampung kayak Lo itu!" Ucap Daffa dengan nada sinis dan senyum miring nya

"Terserah kakak mau bilang apa tentang aku, sekarang maunya kakak apa hah!" Ucap Abidah dengan nada kesal dan marah.

"Gue mau Lo ganti rugi dengan beli in baju baru yang kayak gue pakai sekarang!" Teriak Daffa

"Oke. Nanti aku beli in yang baru sama kayak yang kakak pakai itu" ucap Abidah

"Palingan juga gak mampu buat belinya"

gadis itu terus beristighfar di dalam hatinya. sungguh penghinaan itu membuat hati nya sakit apalagi banyak mahasiswa yang berbisik-bisik tentang dirinya.

'benar yang di bilang oleh pangeran black mana mungkin cewek kampung itu mampu buat beli baju yang mahal kayak gitu itu mustahil banget' ucap salah satu gadis dengan rambut yang panjang berwarna hitam itu.

'benar itu mana sanggup dia beli' ucap salah satu gadis yang tak lain sahabat gadis dengan rambut yang panjang berwarna hitam itu sambil tersenyum sinis.

'cewek kampung kok bisa kuliah di sini ya'

'cewek kampung itu kok berani banget sama pemilik kampus Sik, gak takut apa kalau di keluar in dari kampus ini'

begitu lah bisik-bisik dari sebagian mahasiswi yang ada di kampus itu. sungguh iya tak tahan dengan semua ucapan itu.

Daffa hanya tersenyum miring yang mendengar bisik-bisik dari mahasiswi di kampus ini.

"siapa bilang aku gak mampu beli, aku mampu kok belinya" ucap Abidah

"oke Minggu depan Lo baju itu harus ada kalau gak sampai Lo beli! Lo akan dapat akibatnya dari gue!" ancam pria itu

"oke Minggu depan aku akan beli baju yang sama kayak punya kakak" ucap Abidah

setelah itu Abidah pun pergi dari kantin tersebut di susul dengan sahabatnya itu.

setelah Abidah pergi cowok itu pun tersenyum miring melihat punggung gadis itu.

'lo akan jadi milik gue gadis manis' ucap Daffa dalam hati nya sambil tersenyum manis

yang melihat itu pun langsung berteriak histeris dan mereka tak pernah melihat senyuman itu dari pemilik kampus itu atau yang sering disebut pangeran black itu.

Daffa yang mendengar teriakan histeris dari beberapa mahasiswi itu, langsung merubah mimik wajah nya menjadi datar lagi.

dan setelah itu dia pergi dari kantin di susul tiga sahabat itu dari belakang. dan semua yang ada di kantin ikut bubar.

gimana ceritanya greget gak?

atau kurang greget?

maaf ya kalau kurang jelas dalam hal penulisan kata-kata harap di maklumi karena baru belajar kok

salam hangat dari author β€οΈπŸ˜šπŸ˜‹