7 6. Hey, Little Girl

Pagi ini adalah hari yang cukup melelahkan untuk Junsu. Dimana dia harus menghindar dari kejaran cewek-cewek dari berbagai sekolah di sekitarnya yang sedari tadi menunggu kedatangannya saat memasuki gerbang sekolah. Hal ini sering terjadi pada Junsu, kadang dia harus lewat pintu belakang sekolah jika ada ulangan di pelajaran pertama, supaya ia lebih dapat waktu belajar lebih lama. Dan kali ini dia mau nggak mau harus lewat pintu belakang lagi karena dia sudah janji dengan tim basketnya untuk rapat sebentar sebelum pelajaran pertama dimulai. Dia bergegas menuju ruangan di sebelah ruang ganti yang merupakan ruangan serbaguna tempat anak basket ngumpul diskusi dari seluruh kelas. Ruangan ini cukup luas dengan dilengkapi meja dan kursi yang tertata berbentuk huruf U dan ditambah papan tulis serta OHP Proyektor untuk Presentasi. Fasilitas baru dan selalu bikin betah anak-anak sehabis latihan basket yang selalu mampir kesini adalah dua AC di samping kiri dan kanan ruangan. Baru sekitar dua minggu dipasang oleh hasil sumbangan pemberian orang tua murid Eskul Basket.

Rapat kali ini membahas persiapan Final Pertandingan Basket Class meeting yang akan digelar Sabtu mendatang. Yang secara tak terduga kelas Jojo, yaitu XI IA 5 akan melawan XII IA 1 yang merupakan kelas Junsu. Junsu memang dekat dengan Jonghyun tapi ketika di sekolah mereka jarang berinteraksi karena sibuk dengan urusan masing-masing. Jadi mungkin banyak yang mengira kalau mereka tidak saling mengenal. Keduanya tampan, tinggi dan atletis yang membuat siapapun yang melihat langsung terkesima melihatnya. Dan jika mereka tidak saling mengenal pun pasti bakal nggak percaya, karena siswa berasal dari Korea bersekolah disini.

Setelah berbagai persiapan dibahas, sudah saatnya seluruh siswa disana membubarkan diri karena lima menit lagi bel masuk berbunyi. Saat keluar ruangan, dia melihat seorang gadis kecil terhuyun-huyun berlarian dari lapangan parkir dengan kunci sepeda motor di tangan kanannya menuju ruang kelas yang jaraknya sekitar lima menit dari tempat mereka berdiri. Hey little girl. Ini kan gadis kecil yang kemarin. Junsu pun mengamati gadis ini dari belakang yang kebetulan kelas mereka satu arah. Sebuah tas ransel berwarna biru mungil dan beberapa buku yang diletakkan di lengannya sembari melihat jam tangan di pergelangan tangannya sesekali.

"Bener-bener gadis kecil yang menarik." Gumam Junsu dalam hati.

♥♥♥

Sore hari di di ruang sekretariat Majalah Sekolah, STARLIGHT...

"Apa!? Wawancara?? Boleeh ga kak, kalo bukan saya yang wawancara Kak Junsu??" pinta Anne sore itu.

"Well, itu sudah jadi amanah, Ne. Please..kita udah kekurangan orang nih. Anak kelas XII pada sibuk belajar try out dua hari lagi. Dan Majalah Starlight udah harus terbit seminggu lagi. Udah deadline. Kamu akan ditemani sama Arya kok. Junsu juga orangnya baik kok. Kamu tenang aja." Pinta Kak Fresha pimpinan redaksi Majalah Starlight.

"Iya, Ne.. Ntar Gue bantu sebisanya..." sahut Arya sekretaris majalah yang juga sepantaran sama Anne. Dia anak kelas Bahasa.

Sore itu merupakan hari yang tak terduga bagi Anne, karena Anne yang baru dua bulan pindah ke Malang, dia juga mengikuti STARLIGHT, ekskul majalah Sekolah. Yang pasti dia akan meluangkan waktunya seminggu sekali untuk ikut dalam pertemuan di sekretariat ekskul. Dan sekarang dia dihadapkan akan mewawancarai Kak Junsu, cowok yang paling populer di sekolahnya. Tiba-tiba wajah Anne entah kenapa menjadi memerah dan panas. Membayangkan saja untuk ngobrol sama Kak Junsu aja ga pernah. Ini malah disuruh wawancara.

"Oh God..please help me." Gumam Anne dalam hati.

"Ok, deal yaa??" lanjut Kak Fresha memastikan jika Anne setuju mewawancarai Junsu.

"iya deh kak.." jawab Anne yang akhirnya tak bisa menolak lagi.

"Ok.. ntar gue kabarin jadwal wawancaranya setelah gue wa Junsu." Balas Fresha lagi.

"ok, sekian dulu pertemuan kita kali ini ya.. thank you juga Anne, Arya. " lanjut Fresha menutup pertemuan sore itu.

♥♥♥

Dua hari kemudian..

Jadwal wawancara telah ditentukan. Hari itu dia akan wawancara Kak Junsu. Rencananya sih mereka akan ketemu Junsu di taman belakang sekolah setelah try out anak kelas XII selesai. Taman belakang sekolah tidak begitu ramai sore itu, karena sebagian siswa telah pulang dan sebagian lagi mengikuti ekskul masing-masing. Dan ternyata di sebuah bangku kecil yang di pojok taman tampak seorang lelaki familiar berkulit putih sambil membawa tas berisi peralatan basket.

"itu pasti kak Junsu...Yuk Nee.. kita kesana." seru Arya mengajakku ke tempat Kak Junsu berada.

"Halo Kak Junsu, namaku Anne dan temanku ini Arya. Kami dari Starlight." Kataku memulai pembicaraan sambil memperkenalkan diri.

Find authorized novels in Webnovel, faster updates, better experience, Please click www.webnovel.com/book/a-bittersweet-love_19236494005745505/6.-hey-little-girl_51731895754487567 for visiting.

"Hai juga. Aku Junsu. Salam kenal. " Jawabnya sambil berjabat tangan.

"Kamu, Anne yang kapan hari pingsan kan?" lanjutnya lagi.

Wah..Kak Junsu kok bisa inget ya. Pake inget yang acara pingsan di pinggir lapangan basket lagi. Gilaaa.. muka udah ditaruh dimana ini..

"Hahaha.. Iya Kak, yang pingsan waktu itu memang saya. " Jawab Anne malu-lalu dengan pipi memerah.

"wah...wah..wah..aku ketinggalan berita ini.. pingsan kenapa Ne...Kapan??" cerocos Arya yang sedari tadi hanya mendengarkan temannya dan Kak Junsu berbicara.

"Ntar Gue ceritain Ar...kita langsung mulai wawancaranya." Kata Anne mengalihkan pembicaraan.

"Iya deh..tapi beneran lho ya.aku penasaran soalnya." seru Arya pasrah.

Akhirnya wawancara itu dimulai dan kurang lebih satu setengah jam, Anne dan Arya gantian melakukan wawancara. Wawancara berlangsung dengan lancar dan sesekali terdengar candaan entah dari Arya, Anne bahkan Junsu yang terkenal irit ngomong sekalipun juga mulai bercerita sembari mengeluarkan jokesnya. Tanpa terasa jam sudah menunjukkan jam 17.00 WIB, wawancara pun akhirnya selesai. Arya harus pamit duluan karena dia harus menjemput adeknya pulang sekolah. Tinggallah Anne dan Junsu di taman itu.

"Nee, udah sore. Boleh aku anter?" Ajak Junsu tiba-tiba.

"Ga usah repot-repot Kak. Makasi." Balas Anne sambil membereskan peralatan tulisnya ke dalam tas.

"Ga papa kok. Dari pada kamu sendirian. Kasian. Udah sore." Ajak Junsu agak khawatir.

"Ehm...Ya udah deh..." Anne pun tak bisa mengelak lagi. Dia hari ini juga sebenarnya tidak membawa motor kesayangannya.

Dan sore itu semua mata tertuju pada Anne. Berita Anne dibonceng Junsu udah bikin kehebohan satu sekolah. Banyak anak yang jam segitu pada stand by di parkiran karena barengan sama selesainya kegiatan ekskul mereka dan otomatis mereka melihat Anne yang menunggu Junsu di pintu parkir sekolah. Banyak yang bertanya siapakah Anne ini. Anne sebenarnya juga berkulit putih dan cantik. Namun karena dia sering menguncir rambutnya ke belakang membuat dia terlihat tomboy dan easy going. Di sepanjang perjalanan ketika dia dibonceng Junsu, pikiran Anne pun melayang. Ga pernah sekalipun dia kepikiran bakal boncengan sama seorang Junsu, kakak seniornya. Saat motor Junsu melaju menuju kostnya. Terdengar suara Junsu sambil menyetir motornya.

"Nee, kamu di Malang ngekost?? " tanya Junsu membuyarkan lamunan Anne.

"Oh iya Kak." Sahut Anne sedikit kaget.

"Memang kamu pindahan dari mana?" tanya Junsu keheranan.

"Jakarta Kak. Baru dua bulan kemarin." Lanjut Anne singkat.

"Lho... kenapa Nee.." tanya Junsu keheranan.

"Ga papa kak, pengen nyoba suasana baru. Bosen di Jakarta. " Balas Anne jujur.

"nee.. nee,, Kamu kok lucu." Kata Junsu sambil tertawa.

"kok bisa, Kak?" jawab Anne tak mengerti.

"orang kebanyakan malah pengen tinggal di Jakarta. Kamu malah kebalikannya." Ucap Junsu sambil tersenyum.

"mungkin saya antimainstream, Kak. " bercandaan Anne yang membuat Junsu tersenyum dan ketawa.

"Okay..okay.. keren nih commentnya." Sahut Junsu menimpali.

Nggak kerasa motor Junsu telah berhenti di depan Kost Anne. Dan secara kebetulan Kak Suci dan Kak Amel, Kakak Kost Anne juga baru pulang dari kuliahnya. Seketika mereka pun hanya mengamati Anne dan temannya di balik pagar kost dan menunggu teman Anne berpamitan.

"Nee..gue pamit dulu" Ucap Junsu sambil melihat jam tangan di pergelangan tangan kanannya sore itu.

"makasi ya Kak udah dianterin." Ucap Anne sembari tersenyum.

"Iya...sama-sama.."

Entah kenapa Junsu sore itu merasa dia dan Anne seperti telah kenal lama. Seperti ada ikatan batin yang tak bisa ia jelaskan sendiri. Ia ingin menanyakan langsung dengan Anne. Namun diurungkan lagi niatnya. Dan motornya melaju pergi meninggalkan kost Anne sore itu.

"Anne...Anne..." Panggil Kak Amel saat Anne menutup pagar kostnya.

"iya Kak,,," Jawab Anne sambil berjalan menuju kostnya.

"tadi sapa hayoo?? " goda Kak Suci disebelahnya.

"oh tadi .. itu kakak Kelas Anne." Jawab Anne sambil tersenyum.

"orang korea???" lanjut Kak Amel bersemangat.

"Iya kak" lanjut Anne sambil berjalan menuju kamar kostnya.

"Waah Bureupda.. iri banget ada siswa korea di sekolah...hahhaha" jawab Kak Amel dan Kak Suci kompak.

Anne sudah menduga kedua Kakak kostnya ini akan berkata demikian. Karena seringnya mengobrol dengan mereka. Membuat Anne menyadari kalau mereka penggemar kpop dan kdrama. Dan bakal nggak lepas dari laptop mereka masing-masing jika substitle drama yang mereka sukai sudah keluar.

"kok bisa Nee?" tanya Kak Amel keheranan.

"iya Kak. Di sekolahku ada dua orang korea. Yang satu seumuran denganku dan satu lagi Kakak kelas yang barusan kesini." Sahut Anne menambahkan.

"Dua orang?...Oh keren banget yaa.. secara di Malang jarang lho ketemu sama orang korea. Kalau orang bule pasti sering banget liat. Apalagi di daerah kahuripan dan balai kota. Pasti bakal ada satu dua bahkan beberapa orang bule dengan membawa kamera untuk memotret." lanjut Kak Suci.

"Iya, bener banget. Mereka biasanya sibuk memotret lokasi wisata dan bangunan bersejarah yang ada di Malang." Sahut Kak amel.

"Anne juga awalnya heran.. kok bisa ada cowok korea di sekolah. Tapi kadang-kadang Anne bakal lupa mereka beneran orang korea, saking fasihnya ngomong bahasa indonesia." Lanjut Anne bercerita sambil tertawa.

"Waah ada-ada aja temen kamu, Ne.." seru Kak Amel sambil tertawa.

♥♥♥

Next chapter