1 Our First Meet

MASA KINI: 2020

Senada memasukan seluruh pakaian yang ia punya dalam Koper bewarna Putih kusam satu-satunya itu.

Ia harus keluar dari Rumah ini secepat mungkin karena Kontraknya dengan pemilik Rumah sudah habis sejak 1 hari yang lalu.

Tak banyak rencana di umur 30. Seolah rencana hidupnya sudah tertebak seperti bekerja, makan, lalu memikirkan dimana ia akan tinggal besok. Seolah tujuan hidup Senada hanya berporos pada tiga hal itu.

Tidak memiliki Orang tua dan teman yang bisa diajak bertukar cerita menjadikan Senada memilik kepribadian yang cukup unik. Selain sikapnya yang sederhana, Senada juga memiliki tampang yang rupawan. Tak heran juga kalau isi Sosial Media Sena dipenuhi oleh lelaki yang minta berkenalan.

"Selesai!" pekik Senada kegirangan kala semua ruangan itu sudah kosong. Tapi memang Sena menyewa tempat ini sudah lengkap dengan isinya. Jadi Sena hanya tinggal membawa pakaian serta kebutuhan lainnya.

Sena berdiri didepan cermin Meja Rias didepannya, lalu tersenyum seringan awan, "Let's gow!"

Sena melangkahkan Kakinya sambil menggeret Koper yang menimbulkan suara Khas itu. Ia harus memikirkan sekarang ia akan kearah Utara atau Selatan, jangan tanya kenapa tidak ada Barat dan Timur karena Sena juga tidak tau arah tersebut.

"Eh? Sudah mau pergi ya, Kak?" terpogoh-pogoh wanita paruh baya itu sambil menggendong Balita yang bisa Sena taksir umurnya baru 5 bulan.

Sena tersenyum segaris, "Iya nih, Bu. Terimakasih ya, saya pamit dulu Bu,"

"Iya sama makasih sama juga, Kak. Semoga dapat tempat bagus yang lagi nyaman ya,"

Sena tertawa kecil kala mendengar Bu Wina berbicara dalam mode tersebut. Terdengar lucu.

"Mari Bu,"

"Dadah!" lanjut Sena sambil melambaikan tangannya kearah Balita itu.

Sena mulai kewalahan kala melihat langit sudah gelap, ia mulai berpikir keras dimana ia akan bermalam. Apa harus ia menyewa satu kamar Hotel untuk semalam? Atau ia pergi ke KSM saja?

Oke, Sena memilih opsi kedua. Ia akan pergi ke Kamar Satu Malam dipinggir Kota, hanya ada satu jalan untuk menuju KSM.

Gang yang gelap, kumuh, dan lembab sudah cukup untuk menggambarkan kondisi Gang yang dipenuhi oleh Rumah Warga yang berdempetan itu.

Sena membulatkan tekadnya, ia mulai memasuki Gang gelap itu.

Setelah melangkah sedikit jauh dari depan Gang, mulai terlihat sekumpulan Pria yang dipenuhi kepulan asap Rokok.

Sena terdiam kaku, tangan nya gemetar hebat, begitu pula jantungnya. Ciri seorang Sena jika melihat keramaian.

Sena mengepalkan tangannya kuat, ia harus melewati sekumpulan Pria itu.

Langkah kaki Sena mulai mendekat kearah kumpulan lelaki itu, lampu temaram yang menerangi jalan sempit itupun tampak lebih seram sekarang.

"Permisi," Sena mengusahakan tetap sopan walau dirinya ketakutan setengah mati.

"Hey, cantik amat,"

"Main dulu dong cantik,"

Sena melindungi tubuh atasnya dengan Slingbag yang memang sedari tadi dipakainya.

"Saya mau lewat aja," Sena masih tetap berusaha tetap tenang walau suaranya sudah bergetar menahan tangis.

Demi apapun mereka sangat seram.

Lelaki yang memakai Kemeja Satin itu berlari mencari beberapa Gang. Hari ini kejadiannya.

"Gue mau cari itu cewek, San. Gue gak bisa diem aja ngeliat nasib buruk cewek itu!"

Kakinya terus berjalan tak tau arah, "Kalo lo mau ngomel, besok aja!"

Lelaki itu sudah tau, lelaki itu sudah sangat tau dari lama. Hari ini, entah kenapa hati Xasean tergerak untuk menolong Perempuan yang hari ini akan melalui takdir terburuknya.

Xasean juga tau, kalau Senada sudah banyak menerima takdir buruk. Hanya kali ini, izinkan Sean membantu wanita yang sepertinya sedang menangis itu.

Sean menajamkan pendengarannya kala mendengar suara banyak lelaki, dipadukan dengan tertawaan mereka. Sepertinya para bajingan itu menjadikan Senada lelucon.

"Sial!" Sean berlari sebelum para lelaki itu bertindak lebih jauh terhadap perempuan itu.

Bugh!

Satu tonjokan mulus berhasil mendarat di Pipi lelaki yang menurut Sean paling semangat menggoda Senada.

Sena memandang Sean dengan pandangan dan pikiran 'kayaknya ini pahlawan gue deh!' itu.

Sean memegang tangan Sena, menariknya ke sebuah pelataran salah satu rumah warga.

"Diem, saya yang beresin."

Sena masih terdiam sambil mengenggam Tas nya kuat, bahkan ia sudah tidak kuat untuk menyeret Kopernya.

"Lelaki cabul!" Sean membabi buta, seakan ia harus puas untuk memukuli lelaki yang jumlahnya 5 orang itu.

"Lemes banget, makanya, makan tuh beras di supermarket!"

Sean melenggang santai. Sepertinya ia melupakan sesuatu.

Sean yang baru berjalan beberapa langkah itu membalikan langkahnya sambil memaki sendiri.

"Lupa!"

Sean menatap Sena yang sedang memandang kosong tanaman yang sudah mati itu.

"Masalah lagi," celetuk Sena, seolah ia tak menyadari Sean berdiri didepannya.

"Kamu tau? Takdir buruk kayak udah temenan sama saya, sudah gak asing lagi."

"Sebenernya saya bisa bahagia nggak? Sebenernya saya itu menjadi manusia atau bukan? Itu yang selalu ada dalam pikiran saya,"

Senada menatap Sean yang sedang menatap nya juga dengan pandangan terkejut.

"Oh ya, kok kamu tolongin saya?" kata Sena dengan suara yang sudah kembali normal.

Sean mengendikan bahunya, "Kebetulan aja,"

"Saya bawain," Sean meraih Koper yang cukup berat itu. Apalagi Sena sekarang tenaga nya berkurang.

"Anyway, makasih lho. Saya jarang dibantuin sama orang, jadi pas dibantu kayak gini agak canggung."

Sena tertawa kecil.

Sean yang melihat itu menelan air liurnya. Tidak ada apa-apa. Hanya ingin seperti ini saja.

"Tujuan nya kemana? Saya anter,"

Sean menawari tumpangan terlebih dahulu.

Sena menggeleng sebagai jawaban, "Gak tau juga. Tadinya mau ke KSM, tapi udah gak pengen."

"Lagi cari rumah, ya?"

Sean sepertinya Dukun. Kenapa ia selalu tau tentang Sena seolah ia sudah mengenal perempuan itu?!

Sena bergidik ngeri, "Kamu stalker ya?"

"Bukan. Saya tau semua tentang kamu," Sean tersenyum miring.

Sena menjauhkan jarak dirinya pada tubuh Sean, takut.

"Dirumah saya ada satu kamar. Kamu bisa sewa kalau kamu mau,"

Sena menghentikan langkahnya, "Hah? Dirumah kamu? Ber.. dua?" ragu Sena saat mengucapkan itu.

"Ck, ada temen saya. Perempuan, siapa tau bisa jadi temen lo,"

"Owww, saya kira kamu gak bisa ngomong lo-gue," kata Sena seperti kagum.

"Bisa, gini-gini gue juga gaul."

"Naik," kata Sean dengan menunjuk Jok bagian depan itu.

"Ehm, makasih."

Kalian tau rasa canggung terhadap orang lain tidak? Perasaan yang seperti malu jika dibantu.

Seperti itulah Sena sekarang. Merasa malu karena lelaki asing itu melihat titik lemahnya.

"Santai aja. Gue gabakal culik lo,"

"Eh tapi kalau diliat-liat, semua pakaian yang kamu pake keliatan baru. Beli dimana? Saya ngerasa gak pernah nemuin baju modelan begini, deh."

Kata Sena bingung, modelnya aneh tapi entah kenapa itu menjadi bagus ketika lelaki itu memakainya.

"Belum launching. 1 tahun lagi baru ada disini," Sean menjawab seadanya. Tanpa menjelaskan detail.

"Wah, masih lama juga ya. Kalau begitu, kamu pemilik toko baju nya ya?"

"Berisik."

Sena melipat Bibirnya kedalam. Okay, Sena kamu terlalu berisik ke lelaki asing ini.

"I am sorry."

Setelah menempuh perjalanan sekitar 20 menit, Sena sampai pada sebuah Rumah besar yang lebih mirip seperti Rumah mewah di Televisi.

"Biaya kamar buat lo, 1 tahun 7 juta. Rumah gede, ada pembantu, fasilitas lengkap, bisa pake kendaraan kapan aja, makan 3 kali sehari. Semuanya lo dapet disini."

"Deal!" tanpa berpikir, Sena langsung menepuk bahu Sean tanda setuju.

Detik itu, saat Sena membuka Pintu Rumah besar itu, Sena langsung menyesali perbuatannya.

Next chapter