1 Bagian 1

Suara dentuman jam dinding terdengar begitu kencang di kamar yang sunyi ini, detik, menit, dan jam berjalan begitu lama, aku duduk di ranjang sambil memeluk kedua kaki, sesekali jari-jari dari tangan kananku usil memainkan kulit bibir yang kering, dan mengelupasnya sampai berdarah.

Di luar sana, melalui jendela kamar aku bisa melihat langit yang gelap perlahan menutupi sinar matahari, tak lama rintik-rintik air mulai turun dari langit, semakin deras ditambah suara guntur yang menggetarkan. Terdengar suara pintu yang dibuka, seorang pria paruh baya menghampiriku, dengan tubuh gempal dan rambut putih menipis ia tersenyum hangat, salah satu tangannya membawa kotak kaca kecil.

"Pagi, Sarah." Sapanya berdiri di dekat ranjang.

Aku hanya membalasnya dengan senyum tipis, ia meletakan kotak kaca itu di atas nakas samping ranjang, dengan begitu aku bisa melihat jelas isi dari kotak kaca. Lima macam tablet obat yang aku konsumsi setiap hari, dua tablet bulat kecil bewarna putih, dua tablet lonjong bewarna merah muda, dan terakhir tablet bulat bewarna ungu muda.

"Astaga, jangan mengelupas kulit bibirmu seperti itu, lihat berdarah." Ujarnya sambil merogoh saku pada jas putih, dan mengeluarkan sapu tangan bewarna biru, "Bersihkan." Lanjutnya memberikan sapu tangan itu padaku.

"Terima kasih." Aku mengambil sapu tangannya dan membersihkan darah pada bibirku secara perlahan.

"Minum obatnya, Ayu akan membawakan sarapan untukmu." Ia berjalan lebih dekat kearah ku lalu mengulurkan tangan untuk mengelus kepalaku.

"Terima kasih dok."

Dia hanya mengangguk, setelah melakukan tugasnya untuk menyuruhku minum obat, dia langsung keluar dari kamar rawatku. Saat pintu sudah di tutup aku langsung menghenduskan napas kesal, ku lihat sapu tangan biru yang bernoda darah.

"Menjijikan." Dengus kesalku, menyimpan sapu tangan itu ke sela-sela ranjang samping dekat tembok, agar tidak ada yang tahu.

Aku menurunkan kedua kaki ke lantai yang dingin, berjalan mendekati nakas dan membuka tutup kotak kaca itu, ku ambil satu tablet bulat bewarna putih, satu bewarna merah muda, dan satu lagi yang bewarna ungu muda, ku genggam dengan kuat ketiga obat itu. Tangan kiriku secara hati-hati membuka jendela, hembusan angina hujan yang dingin masuk begitu saja, membuat rambutku menari-nari, aku melihat sebentar pemandangan yang ada di bawah sana, lalu ku lemparkan tiga obat tadi sejauh mungkin, ku tutup kembali jendela dan mengelap pinggiran yang basah dengan sapu tangan untuk menghapus jejak agar tidak dicurigakan.

Belakangan ini aku sudah tidak meminum obat lagi, entah sudah hari keberapa atau masuk minggu keberapa aku membuang obat itu secara diam-diam, baik keluar jendela, atau ku buang dalam kloset kamar mandi. Ini semua ku lakukan karena aku sudah muak sekali dengan bau bahkan kerongkonganku sudah tidak kuat untuk menelan rasa pahitnya.

Dan efeknya aku akan merasa pusing, tubuhku terasa melayang, kakiku lemas, dan juga jantung yang berdebar-debar. Sering kali saat efek itu muncul aku berpikir akan mati saat itu juga, namun tidak setelah efek itu selesai bereaksi, tubuhku seakan lepas, perasaanku menjadi campur-aduk, segala emosi aku bisa merasakannya, bahkan pikiranku sekilas menampakan mengenai masa laluku walau tidak jelas.

Aku duduk di ujung kasur, kedua kakiku menjuntai ke bawah, ku ayunkan dengan pelan. Akhir-akhir ini aku bermimpi buruk, tidak jelas, dan mereka yang ada dimimpiku seakan meminta aku untuk mengakhiri ini semua. Tadinya ku pikir aku sudah gila dan tidak tahan dengan mimpi berulang seperti itu, dan kembali untuk meminum obat, tapi setelah banyak pertimbangan aku memilih menahan rasa sakitnya ketimbang meminum obat itu dan menjadi orang bodoh.

Selama minum obat itu aku lebih sedikit berbicara, kosong, dan seperti tidak ada harapan untuk hidup, jiwaku seakan sudah hilang, berbeda ketika aku tidak meminumnya, sejauh ini aku lebih banyak berpikir, aktiv, dan juga banyak mengeluarkan berbagai perasaan. Namun saat aku berhadapan dengan dokter maupun para perawat aku mengeluarkan ekspresi kosongku, agar mereka tidak tahu kalau aku sudah tidak minum obat lagi.

Pikiran pertama yang ada di kepalaku saat terbebas dari obat adalah keluar dari rumah sakit ini, entah bagaimana pikiran itu muncul secara tiba-tiba, dan mengejutkannya aku seakan tergerak untuk melakukannya. Dan sampai saat ini aku masih memikirkan, bagaimana aku keluar dari sini, dari rumah sakit yang mengurungku.

Aku tidak bisa bergerak sendiri untuk melakukan ini, harus ada seseorang yang membantuku, tapi siapa?

Clek!

Pintu terbuka, lekas aku mengubah posisiku kembali memeluk kedua kaki dan berpura-pura menatap kosong ke luar jendela. Seorang perawat wanita membawa nampan yang berisikan makanan serta segelas air putih, ia tersenyum kepadaku, dia Ayu, orang yang disebut oleh dokter tadi.

Nampannya ia letakan di atas nakas, menggeser posisi kotak kaca yang terlebih dulu berada disana, dia menarik kursi dan duduk memunggungiku, kotak kaca yang masih terbuka langsung ditutup olehnya.

"Selepas minum obat, ada baiknya tempat obatnya ditutup kembali." Ia menoleh sekilas kearahku.

Ayu Dewi Lestari, perawat yang sudah mendalami peran selama sembilan tahun, dia merawatku dengan baik sekali, tidak merasa terbebani dengan keadaanku. Walaupun begitu, aku tetap harus berakting dihadapannya.

"Makan." Ayu meletakan meja lipat di atas ranjang dan menaruh nampan makanan di atasnya.

Aku mengangguk, mematuhi perintahnya aku makan dengan tenang dan lama, dengan setia dia menungguku makan hingga habis. Terkadang disela makan ia bercerita padaku mengenai kehidupannya, atau mengungkapkan kehidupanku yang memprihatinkan selama di rumah sakit ini. Ceritanya sungguh mengejutkan, mulai dari dirinya yang berhubungan dengan Dokter Ilham yang ternyata sudah beristri, mengambil uang administrasi diam-diam bersama beberapa pegawai admin, memalsukan dokumen kematian guna mendapatkan uang dari keluarga pasien yang ternyata tengah terlibat korupsi. Dibalik baiknya dia merawatku, ternyata dia bisa menjadi seorang monster yang menyeramkan.

Dari sekian banyak ceritanya, cerita mengenai dirikulah yang paling aku nantikan. Aku ingin tahu seberapa menyedihkannya hidupku selama tinggal di rumah sakit ini, aku ingin tahu mengenai diriku sendiri, dan juga kemana orang-orang yang ada didekatku, orang tua, mengapa dia tidak pernah datang?

Tapi setiap dia menceritakan mengenai diriku, ceritanya selalu saja berputar membahas wajahku yang tidak pernah berubah, tubuhku yang kurus, selalu minum obat, seperti itu, aku ingin yang baru, konteks mengenai hidupku di luar rumah sakit.

"Ah, sudah satu tahun saja aku bersamamu, cepat sekali ya, lihat rambutmu sudah mulai memanjang. Jadi teringat saat aku pertama kali bertemu denganmu, kau sangat polos saat bangun dari tidur, seperti anak kecil, padahal umurmu sudah masuk 21 tahun, tapi bisa menggemaskan gini.

Sudah masuk tahun ke tiga kau ada disini, dikamar ini, tidak ada yang berubah sedikit pun. Pasti rasanya sesak ya, apalagi ditinggalkan oleh kedua orang tua, sejujurnya aku tidak tahu mengenai kehidupanmu, tapi saat aku dialih tugaskan untuk merawatmu, dia bilang kalau kau korban kecelakaan." Ayu berpindah duduk, dia duduk di atas ranjang dekat dengan ku,

Aku baru mendengar cerita ini, jadi aku bisa berada disini karena kecelakaan, dan sudah tiga tahun, bahkan aku baru saja tahu kalau umurku sudah 21 tahun. Dia bilang aku ditinggalkan oleh kedua orang tuaku, berarti mereka sudah me-

"-ninggal, jadi ada orang baru yang akan menempatinya."

Kembali tersadar dari lamunan, aku menatap isi nampan ku yang telah habis, ku kunyah makan yang ada di dalam mulutku tak lupa meminum segelas air.

"Pintar, sudah habis." Ujar Ayu sambil bertepuk tangan.

Aku sudah besar, tidak perlu berlebihan seperti itu, eh tapi, apa dia selalu melakukan itu ketika aku masih mengkonsumsi obat?

Ugh.

Ayu turun dari ranjang mengambil nampan dan gelas, ia letakan sementara di ranjang lalu mejanya ia lipat, di simpan didekat sela nakas dan ranjang. Dia mengambil nampan berserta gelas kotor, sebelum ia keluar kamar dia berkata padaku untuk membersihkan diri, aku mengangguk, lalu ia pun meninggalkan aku di kamar seorang diri.

Jadi sekarang hanya aku sendiri, mereka meninggal karena kecelakaan, tapi kecelakaan apa? Kalau mereka berdua meninggal, lalu siapa yang membayar biaya rumah sakitku selama tiga tahun ini?

Arg! Memikirkan ini semua membuat kepala ku pusing, lebih baik aku membersihkan diri saja.

Next chapter