Pagi yang sangat cerah, sinar matahari nampak malu-malu ke luar dari persembunyiannya. Udara pagi yang segar ikut menambah betapa indahnya cuaca di pagi hari itu.
Tok ... tok ... tok ...
"Tuan. Sudah bangun atau belum? Tuan Leo." Tidak ada jawaban dari dalam, hanya hening dan sunyi yang menjawab. "Sepertinya Tuan belum bangun, lebih baik aku kembali lagi nanti," gumamnya sendiri.
"Selamat pagi, Pak Bowo," tiba-tiba terdengar suara dari belakang tubuhnya yang membuatnya kaget.
"Kamu mengagetkan saja, b
Silvi mengajak Kiara pulang Sekolah bersama-sama. Kebetulan hari itu Silvi membawa motor kesayangannya.
"Kita langsung pulang ya? kasihan Ibuku di rumah sendirian. Ini juga sudah sore," kata Kiara.
"Iya, aku juga mau langsung pulang. Perutku agak sakit," jawab Silvi. "Pakai nih helmnya." Silvi memberikan helm untuk dipakai Kiara.
Silvi melajukan motor matic kesayangannya yang berwarna merah dengan sangat hati-hati. Kiara yang berada di belakang nampak nyaman memeluk pinggang sahabatnya.
"Akhirnya sampai juga," kata Silvi, berhenti tepat di depan pagar rumah Kiara.
Kiara turun dari motor dan langsung membuka helm yang dipakainya. "Terima kasih ya. Kamu hati-hati pulangnya." Kiara menyerahkan helmnya.
"Ok." Setelah menggantungkan helm yang tadi dipakai Kiara di motornya, Silvi menjalankan kembali motor kesayangannya.
Dari halaman rumahnya, Kiara bisa mencium bau wangi kue yang sedang dipanggang.
"Bu," panggil Kiara dari depan tetapi tidak ada jawaban. "Ibu!" Kiara sedikit meninggikan suaranya. "Kenapa tidak ada jawaban? ke mana Ibu?" Kiara mulai bertanya-tanya dalam hati. "Sebaiknya aku lewat belakang saja," gumamnya.
"Tadi Kiara panggil Ibu berulang kali dari pintu depan, tidak dijawab. Kiara sudah khawatir, ternyata Ibu ada di sini." Hati Kiara sangat lega setelah melihat Ibunya ada di teras belakang sedang membuat kue.
"Ibu tidak mendengar kamu panggil," jawab Ibunya tenang sambil mengatur kue-kue yang ada dimeja.
"Banyak sekali kuenya, ada pesanan?" tanya Kiara.
"Iya, katanya kue untuk acara pesta. Teman Ibu yang merekomendasikannya ke sini. Besok pagi baru diambil."
"Pantas saja banyak. Aku mandi dulu, badan rasanya lengket. Nanti aku bantu." Kiara berlalu pergi masuk ke dalam rumah.
Beberapa menit kemudian, Kiara sudah kembali lagi dengan wajah yang lebih segar dan baju yang sudah diganti.
"Makan dulu, ada ayam goreng kesukaanmu. Setelah makan bantu Ibu."
Kiara segera mengambil nasi dan goreng ayam yang sudah tersedia dimeja makan. Dengan lahapnya Kiara makan, hanya dalam hitungan menit, nasi dan ayam goreng sudah berpindah ke dalam perutnya.
"Biar Kiara yang masukin ke toples." Kiara segera membantu Ibunya setelah selesai makan dan mencuci piringnya.
"Hati-hati, jangan rusak," kata Ibunya.
Kiara mulai menyusun kue-kue ke dalam toples dengan hati-hati. Satu per satu kue yang menumpuk dimeja mulai tertata rapih di dalam toples.
"Bu, besok Bagas mengajak Kiara ke acara Papanya. Kiara tadinya mau menolak tetapi tidak sampai hati. Bagas sangat baik, Kiara tidak tega." Kiara membuka percakapan.
"Acara apa? sampai harus ikut dengan keluarganya, nanti kamu malah membuat masalah di sana," kata Ibunya melihat ke Kiara.
"Katanya sih acara kantor Papanya. Mereka mengizinkan Kiara ikut."
"Kamu ke sana mau memakai baju apa? Tidak ada baju yang bagus. Di sana nanti banyak orang yang datang dari kalangan atas. Kamu akan malu."
"Bagas akan membelikan Kiara baju. Tidak tega kalau menolak." Kiara melihat ke Ibunya, ternyata Ibunya juga sedang menatap tajam dirinya.
"Kiara, Ibu tidak pernah mengajarkanmu meminta apa pun dari orang lain. Walaupun kita hidup pas-pasan, hanya cukup untuk makan dan biaya Sekolah kamu tetapi jangan sampai kita meminta belas kasihan orang."
"Ibu, kenapa ke sana bicaranya. Kiara tidak meminta, Bagas sendiri yang memaksa Kiara untuk ikut. Saksinya Silvi kalau Ibu tidak percaya," potong Kiara sebelum Ibunya bicara panjang lebar ke mana-mana.
"Kamu bisa menolaknya Kiara, jangan memaksakan kalau kamu tidak sanggup," Ibunya berkata dengan ketus.
"Sudah Kiara bilang, tadinya mau menolak tetapi tidak tega Bu, Bagas sangat baik ke Kiara. Masa cuma minta ditemani ke acara Papanya saja tidak mau. Boleh ya, Bu." Kiara meminta izin Ibunya dengan mimik muka yang di buat sesedih mungkin.
"Tidak, nanti kamu malah mempermalukan keluarganya Bagas," jawab Ibunya.
"Bu, please. Sekali ini saja, Kiara tidak akan membuat ulah di sana," wajah Kiara di buat memelas sedemikian rupa agar diizinkan Ibunya.
"Perasaan Ibu tidak enak," Ibunya melihat ke Kiara. "Ibu takut terjadi apa-apa denganmu di sana."
"Ibu, bagaimana sih. Tadi masalah baju sekarang takut terjadi apa-apa. Tenang saja Bu, Kiara sudah 18 tahun bisa menjaga diri. Di sana juga ada Bagas yang akan menjagaku."
"Ibu tetap saja khawatir, kamu harta Ibu yang paling berharga. Kalau terjadi sesuatu sama kamu, lebih baik Ibu mati saja," Ibunya memandang Kiara dengan mata yang berkaca-kaca. "Ibu menyayangi kamu melebihi nyawa Ibu sendiri."
Kiara berdiri dari duduknya, mendekat dan memeluk Ibunya dari belakang. "Ibu segalanya buatku. Jangan sedih, Kiara tidak mau melihat Ibu sedih. Kalau Ibu melarang Kiara untuk pergi, Kiara tidak pergi. Yang penting Ibu jangan sedih lagi."
"Ibu hanya takut terjadi sesuatu di sana. Duduklah." Ibu menyuruh Kiara duduk disampingnya. "Kamu yakin mau ikut ke sana?" lanjut Ibunya setelah Kiara duduk.
"Ibu tidak mengizinkan, aku tidak ikut," jawab Kiara.
"Ibu izinkan tetapi kamu harus janji satu hal," kata Ibunya terdiam sejenak.
"Apa Bu?" mata Kiara berbinar.
"Jaga dirimu baik-baik, jangan jauh-jauh dari Bagas. Kamu masih kecil, tidak tahu betapa kejamnya dunia ini."
"Jadi Ibu mengizinkan Kiara?" tanya Kiara untuk menyakinkan.
"Iya," jawab Ibunya.
"Terima kasih Ibu, Kiara janji tidak berbuat aneh-aneh di sana." Kiara memeluk Ibunya yang di balas pelukan sayang seorang Ibu ke anaknya.
"Kalau sudah selesai acara, kamu langsung pulang ya," kata Ibunya lagi.
"Tenang saja Bu, aku pergi dengan keluarganya Bagas ke acara perusahaan Papanya bukan pergi ke Medan perang. Begitu selesai aku pasti langsung pulang."
"Sudah, sudah lanjutkan pekerjaanmu biar cepat selesai. Masukin kembali kuenya ke dalam toples."
...
"Bagas, kamu sudah bicara ke Kiara?" tanya seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik.
"Sudah Ma," jawab Bagas.
"Dia mau ikut?" tanyanya lagi.
"Tadinya dia tidak mau tetapi Bagas meyakinkannya sampai akhirnya mau ikut."
"Kenapa?" tanya Mamanya lagi.
"Masalah kecil Ma, cuma karena tidak punya baju yang pantas di pakai saja. Besok Bagas mau belikan dia baju, sepulang Sekolah."
"Ajak ke Butik langganan Mama saja, biar nanti Tante Susi yang memilihkannya," kata Mama.
"Iya Ma, rencana Bagas juga begitu. Biar nanti Tante Susi yang memilihkannya, baju apa yang cocok untuk pergi ke acara Papa besok."
"Sudah malam, Papa belum pulang?" tanya Bagas mengalihkan pembicaraan.
"Mungkin banyak pekerjaan di Kantor, apalagi besok ada acara besar." Jawab Mama duduk di sebelah Bagas yang dari tadi sedang menonton film.
...
Di tempat lain di dalam kamar yang bernuansa putih-putih, terlihat seorang wanita cantik sedang duduk sambil mempermainkan ponselnya. Wajahnya seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Aku besok harus tampil lebih cantik di antara para wanita yang datang ke acara perusahaan. Pak Leo harus tertarik padaku, semakin lama aku mengenalnya aku semakin menyukainya. Aku jatuh cinta padanya. Tetapi Pak Leo hanya tertarik dengan tubuhku saja, baginya aku hanya boneka pemuas nafsunya saja." Wanita tersebut berbicara sendiri di dalam hatinya, matanya sekali-kali melihat ke layar ponsel yang dimainkannya. "Aku merindukan Pak Leo, di mana dia sekarang? Monika merindukan Bapak," gumamnya sendirian.
Angin malam yang masuk lewat jendela kamar yang tidak tertutup, nampak ikut larut dalam kerinduan seorang Monika. Cinta yang dipendam, cinta yang bertepuk sebelah tangan. Cinta atau sebuah keegoisan?
Bapak kena serangan jantung?" kata Pak Bowo sedikit kesal sambil mengelus-elus dadanya.
"Begitu saja kaget. Bapak malah sering ngagetin aku," jawab Ratih. "Bapak lagi ngapain di sini?" tanya Ratih kemudian.
"Bangunin Tuan Leo, tetapi sepertinya Tuan belum bangun."
"Tuan pasti bangunnya siang, pulangnya larut sekali. Semalam aku melihat Tuan baru ke luar dari mobil, sepertinya Tuan habis mabuk. Jalannya sempoyongan, wanita nakal mana lagi yang Tuan tiduri semalam, bau minyak wangi wanita tercium menyengat begitu lewat di depan aku." Panjang lebar Ratih menerangkan.
"Hush, jangan sembarangan kalau ngomong," kata Bowo menaruh jari telunjuk di bibirnya sendiri.
"Siapa yang sembarangan? fakta nyata, aktual tajam terpercaya. Bukan sekali ini saja, Tuan pulang dengan kondisi seperti itu. Aku sering melihatnya. Aku malah kasihan. Menurutku Tuan lebih baik menikah saja. Umurnya sudah cukup dewasa, 30 tahun sudah matang sekali. Wanita mana coba yang tidak mau, Ratih juga mau." Ratih mengoceh seperti air yang mengalir.
"Ingat posisimu, jangan berani ikut campur urusan pribadi Tuan kita?" Bowo memotong perkataan Ratih.
"Bukan ikut campur, Ratih hanya kasihan saja melihatnya selalu seperti itu. Walau pun Ratih tidak pernah mengobrol dengan Tuan, tetapi Ratih tahu kalau Tuan itu kesepian."
"Kamu bicara melantur kemana-mana. Sudah, nanti Tuan dengar," Bowo menyudahi obrolannya dengan Ratih. Di dalam hatinya, Bowo juga membenarkan kalau Tuan Leo memang kesepian.
Bowo berlalu dari hadapan Ratih untuk melanjutkan tugasnya, begitu pun dengan Ratih melanjutkan kembali pekerjaannya.
.....
Suasana kelas yang ramai sudah menjadi pemandangan yang biasa di jam-jam istirahat.
"Kamu melihat Bagas?" tanya Kiara ke salah satu teman sekelas Bagas.
"Tadi aku lihat ada di kantin bareng anak-anak lainnya," jawabnya.
"Ok, thanks Anto." Kiara pun pergi dari sana dengan tersenyum manis.
"Sama-sama cantik," jawab Anto. "Memang benar-benar cantik ceweknya si Bagas," gumam Anto melihat kepergian Kiara yang menghilang dibelokkan ujung kelas.
"Kenapa bengong begitu?" tanya seseorang yang menepuk bahu Anton. "Lihat setan?" tanyanya lagi.
"Bukan setan, justru bidadari yang turun dari khayangan."
"Lebay, memang siapa sang bidadari itu?" tanyanya lagi.
"Kiara, ceweknya si Bagas. Barusan ke sini cari si Bagas."
"Si Kiara memang cantik, beruntung si Bagas jadi pacarnya. Aku mau ke Perpustakaan, mau ikut nggak?" ajaknya.
"Ayo, aku juga mau cari beberapa buku buat bahan ujian." Mereka lalu pergi ke arah Perpustakaan yang letaknya agak jauh dari ruangan yang lain.
Suasana kantin di jam-jam istirahat memang selalu ramai. Tidak ada satu pun kursi yang kosong.
"Di mana Bagas?" gumam Kiara yang celingukan mencari sosok keberadaan kekasihnya.
"Cari siapa," tanya seseorang dari belakang, menepuk bahu pelan.
"Cari Bagas. Apa kamu lihat Bagas, Rara?" tanya Kiara.
"Tadi sih si Bagas di sini, sekarang tidak tahu ke mana," jawab Rara.
"Begitu ya, aku cari ke tempat lain deh. Thanks ya, Rara."
"Iya, nanti kalau ketemu si Bagas, aku kasih tahu kalau kamu mencarinya," jawab Rara.
"Ok." Kiara pun pergi dari kantin, melanjutkan kembali mencari sang pujaan hati.
"Kiara," panggil seseorang dengan suara khas cemprengnya.
Tanpa melihat pun Kiara sudah tahu itu suara siapa.
"Aku cari-cari kamu dari tadi, ke mana saja sih kamu?" tanya Silvi.
"Keliling dunia," jawab Kiara asal dengan muka yang kesal.
"Si Bagas sekarang ada di kelas, nungguin kamu. Makanya aku muter-muter cari-cari kamu."
"Pantas saja aku dari tadi cari dia tidak ketemu, ternyata dia ada di kelas." Kiara memasang muka kesal dengan bibir yang cemberut.
"Ayo, kita ke kelas. Mungkin si Bagas mau ngomongin acara buat nanti malam," ajak Silvi menarik tangan Kiara.
"Bagas, Kiara tadi juga lagi cari-cari kamu. Aku ketemu dia lagi celingukan seperti induk ayam yang lagi cari anaknya." ucap Silvi yang berjalan di depan, di ikuti Kiara dibelakangnya.
"Benarkah?" tanya Bagas melihat ke arah Kiara.
Kiara langsung duduk di sebelah Bagas dengan memasang wajah cemberut.
"Aku dari tadi di sini nungguin kamu," kata Bagas melihat wajah kekasihnya.
"Dari tadi aku muter-muter cari kamu," jawab Kiara cemberut.
Bagas tersenyum melihat kekasihnya yang sedang cemberut. "Iya, maaf. Aku tidak langsung mencari kamu begitu bel istirahat berbunyi. Tadi aku lapar, makan dulu ke kantin."
"Makan sendirian nih, tidak ngajakin kita," celetuk Silvi yang duduk di belakang mereka.
"Kalian belum makan? ayo, kita ke kantin," ajak Bagas yang siap-siap mau berdiri.
"Tidak usah, seleraku sudah hilang," kata Kiara dengan wajah yang masih memasang muka cemberut.
"Jangan ngambek begitu, nanti cantiknya hilang," kata Bagas tersenyum.
"Sepulang Sekolah, kita pulang bareng ya. Langsung ke Butik langganan Mama, cari baju buat nanti malam."
"Aku boleh ikut ngga?" tanya Silvi dari belakang.
"Aku bawa motor, tidak mungkin kita naik bertiga," jawab Bagas.
"Mama kamu tahu kita akan ke sana?" tanya Kiara.
"Tahu, Mama sudah bilang ke Tante Susi kita akan ke sana. Nanti dia yang akan memilihkan baju untuk kamu pakai nanti malam. Tenang saja Mama sudah mengatur semuanya," kata Bagas tersenyum manis.
"Baiklah, sepulang sekolah kita ke sana," kata Kiara tersenyum.
"Jadi ceritanya sekarang sudah tidak marah lagi, tidak cemberut lagi," goda Bagas.
"Masih marah, kamu tadi makan sendirian di kantin. Sekarang aku lapar," kata Kiara, memasang wajah cemberut lagi.
"Betul, aku juga lapar," Silvi menimpali dari belakang.
Bagas tertawa melihat Kiara cemberut lagi, memang menggemaskan sekali kekasihnya itu. "Ayo, kita ke kantin. Sebelum jam istirahat habis," ajak Bagas berdiri memegang tangan Kiara. Mereka bertiga ke luar dari kelas menuju ke kantin.
.....
Di tempat lain, di ruangan Kantor. Terlihat Pak Presdir sedang berkutat dengan dokumen yang ada di depannya. Sesekali menyeruput kopi yang sudah hampir habis.
"Monika, buatkan kopi," perintahnya dengan memakai telepon yang ada di atas mejanya.
Tidak lama kemudian Monika masuk membawa nampan berisi secangkir kopi dan kue-kue kecil sebagai pelengkapnya.
"Kopinya Pak." Monika menaruh kopi dan kue di atas meja.
"Monika, apa semua persiapan untuk nanti malam sudah selesai?" tanya Leo tanpa melihat ke arah Monika.
"Menurut Pak Bayu, semuanya sudah selesai. Tinggal acaranya saja nanti di mulai, mudah-mudahan sampai selesai acara tidak ada masalah," jawab Monika.
"Bagus, aku tidak mau mendengar keluhan apa pun di dalam acara nanti. Jam 3 sore nanti, pulangkan semua karyawan biar mereka bisa bersiap-siap menyambut acara perusahaannya. Aku ingin mereka ikut bangga dengan perusahaanku."
"Baik Pak," jawab Monika yang tidak lepas menatap wajah Leo dengan begitu dalam.
"Apa kamu sudah membeli gaun?" tanya Leo yang membuat hati Monika seakan mau ke luar. Terkejut tidak menyangka, Leo akan menanyakan hal seperti itu.
"Sudah Pak," jawab Monika berusaha menenangkan keterkejutannya.
"Bagus. Sekarang ke luar, aku harus cepat menyelesaikan semua ini."
"Permisi." Monika melenggang ke luar dengan hati yang berbunga-bunga, ternyata Pak Leo memperhatikannya.