webnovel

Seorang gadis

" kau sudah sadar Ray?"

disampingnya, Zayne duduk diatas tanah.

" Zayne, kau baik-baik saja?" tanya Ray.

" seharusnya aku yg bertanya seperti itu" ucap Zayne " kau menggunakannya lagi kan?"

" itu... terpaksa"

" kumohon jangan gunakan itu lagi Ray" Monica tiba-tiba datang dan mendekati Ray. " aku tidak mau kau mati..aku tidak mau kau mati ditempat seperti ini"

Ray terdiam. melihat Monica yg sangat khawatir itu sedikit membuat dirinya tersayat. mata Monica terlihat berkaca-kaca. ia sangat mengkhawatirkan Ray lebih dari siapapun, bahkan dirinya sendiri. Ray tau, ia tak boleh membuatnya menderita lebih dari ini.

" terimakasih sudah mengkhawatirkan ku Monica. tapi.." Ray yg tadi menunduk kebawah mengangkat wajahnya. ia tersenyum kearah Monica "tenang saja, kita pasti akan keluar dari sini bersama-sama"

Monica tersenyum lebar. air matanya masih mengalir.

" ya, aku akan sangat menantikannya" jawab Monica

dari dalam lorong, Lily datang menghampiri mereka. saat ini mereka masih berada di ruangan cerberus yg waktu itu.

" oh, kau sudah sadar Ray." ucap Monica " bagaimana keadaanmu?"

" aku sudah baikan, terimakasih sudah merawat ku"

" ya, tidak masalah" jawab Lily." ngomong-ngomong, diujung lorong ini ada tanah kosong. apa kita tidak kesana saja?"

" jangan, nanti saja. bisa jadi ada jebakan lain disana" jawab Zayne. " lagipula bukankah kita harus makan sekarang? Ray sepertinya sudah lapar."

" begitu ya... baiklah"

ruangan mereka saat ini adalah ruangan teraman. setelah mengalahkan cerberus ruangan ini kosong, tak ada satupun monster di sana. karena itu, Lily dan Monica bisa menyiapkan makanan dengan tenang.

" rotinya sudah mau habis" ucap Lily. ia melihat kearah mayat cerberus yg masih tergeletak disana." apa sebaiknya kita jadikan makanan saja cerberus itu?"

" k-kau yakin Lily?" seru Zayne." kurasa itu tak bisa dimakan"

" kita tidak akan tau sebelum mencoba" jawab Lily.

"t-terserah padamu" ucap Zayne. Ray dan Monica tertawa mendengar perdebatan kecil mereka.

Lily membuat makanan dari tubuh cerberus yg mereka kalahkan itu. ia memotong beberapa bagian dari daging badan cerberus dan membakarnya sampai layak dimakan. ini pertama kalinya mereka makan daging setelah masuk ke Dungeon ini. setelah matang, mereka pun mulai memakannya tak terkecuali Zayne yg tadi menolak ajakan Lily. tak disangka rasa daging itu tak seperti yg diperkirakan. daging itu sangat enak. entah itu memang karena rasa daging itu atau karena Lily yg pandai masak kokinya.

" hey Zayne. bukannya tadi kau menolaknya?"

" kutarik kata-kata ku, daging ini benar-benar enak" ucap Zayne yg sudah menghabiskan beberapa potong daging. mereka pun tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Zayne.

setelah hampir sejam beristirahat, mereka pun melanjutkan perjalanan. mereka memasuki lorong yg dikatakan Lily tadi. seperti yang dikatakan Lily tadi, hanya ada tanah kosong disini. dan disana ada enam buah lorong. tempat itu terlihat seperti hilir lorong.

" tempat apa ini?" tanya Zayne.

" Vission!"

Ray kembali menggunakan vission. ia melihat kedalam lorong itu satu persatu. didalam salah satu lorong, ia melihat sesosok makhluk seperti minatour (manusia raksasa berkepala banteng). dan ditangannya, ia menggenggam seseorang.

" ada minatour...dan dia menggenggam seseorang" ucap Ray

" seseorang?! maksudmu manusia?!" tanya Lily

" sepertinya begitu"

Monica membuat cahaya dan menerangi tempat itu. mereka bergegas masuk hendak menolong orang itu. minatour itu pun muncul dan hendak menyerang mereka. seperti yg dikatakan Ray, ia menggenggam seorang gadis. melihat kedatangan mereka, minatour itu meraung keras. gadis ditangannya itu berteriak meronta meminta tolong. suara langkah kaki yg lain terdengar berat. dan bukan hanya di satu tempat. suara itu kian terdengar. tiba-tiba serombongan minatour yg tampak lebih kecil dari yg sebelumya muncul. sekitar lima ekor minatour muncul mengepung mereka. minatour-minatour itu mulai menyerang.

" semuanya menghindar!!"

mereka berempat berusaha keras menghindari semua serangan yg diluncurkan minatour-minatour itu. tubuh dan kulit mereka begitu keras. sangat susah dikalahkan. minatour yg paling besar tadi berjalan mendekati mereka. gadis yg ditangkap itu berteriak minta tolong

" Ray, kita harus menyelamatkan gadis itu!" ucap Lily

" tapi bagaimana?" tanya Ray.

" serang saja pergelangan tangannya. buat pegangannya mengendur" ucap Lily.

" pergelangan nya ya...."

Ray berpikir sejenak. ia kemudian memanggil Gan dan Gin dalam wujud pedang gandanya. setelah itu Ray bergerak mendekati minatour besar yg menangkap gadis itu. Lily mengikuti dari belakang. Ray maju menebaskan pedangnya ke pergelangan tangan minatour itu. makhluk itu mengerang kesakitan. walaupun kuat, makhluk itu sangat lambat. saat cengkramannya mulai melemah, Lily melompat keatas tangannya dan menarik tubuh gadis itu keluar. akhirnya gadis itu berhasil selamat dari tangkapan minatour.

" Zayne, Monica, buat minatour-minatour itu buta sementara!!" perintah Ray.

" baiklah!!"

Zayne dan Monica membuat ledakan cahaya. efek cahaya itu berhasil membutakan mata makhluk-makhluk itu untuk sementara. Ray dan Lily yg membopong gadis tadi menjauh dari minatour-minatour itu diikuti oleh Zayne dan Monica. Ray mengikuti insting Vixy untuk. mencari jalan keluar. setelah melewati satu lorong, mereka akhirnya benar-benar kabur dari minatour-minatour itu.

" kita berhasil..." ucap Zayne " kita berhasil selamat.."

" ya..kau benar" jawab Ray.

Ray menoleh ke gadis yg barusan mereka selamatkan itu. gadis berambut merah itu tak sadarkan diri. mungkin karena lelah atau shok akibat serangan makhluk tadi. tapi ada satu pertanyaan dikepala Ray. kenapa ada manusia selain mereka disini? selain itu sepertinya Ray pernah melihat gadis ini. tapi bukan ditempat ini. dan itu sudah sangat lama.

" ayo kita lanjutkan" ucap Ray.

" ha?! kenapa cepat sekali?!" protes Zayne.

" bisa bahaya kalau kita berlama-lama disini" jawab Ray. "ayo pergi. Lily, gendong gadis itu"

" huh, baiklah"

merekapun terpaksa mengikuti perintah Ray dan lanjut berjalan. Ray berjalan didepan diikuti oleh Monica, Lily, dan Zayne secara berurutan. setelah beberapa menit berjalan, Lily memanggil Ray. gadis itu sudah siuman.

" Ray, dia sudah sadar " panggil Lily

mereka pun terpaksa berhenti sejenak. Ray mendekati Lily yg masih memegang gadis itu. gadis itu terlihat lemas. ia menatap Ray malu-malu.

" apa kau baik-baik saja?" tanya Ray. gadis itu mengangguk pelan.

" terimakasih sudah menolongku " jawab nya. " n-namaku Silvia... petualang"

" petualang? dari kota?"

" y-ya. aku dari kota"

"Silvia.. petualang dari kota ya.." gumam Ray.

" tiga hari yang lalu aku dan dua orang temanku masuk ketempat ini..tapi mereka berdua terbunuh dan hanya aku yg tersisa" lanjut gadis yg mengaku bernama Silvia itu.

" kota mana yg kau tempati?"

" kalau itu...aku tak terlalu ingat" jawab Silvia " kepalaku sedikit terbentur tadi"

" hmmm.. begitu ya..." gumam Ray, ia menoleh kearah Silvia." kau bisa berjalan?"

" y-ya.. sepertinya"

" baiklah, kalau begitu kita lanjut berjalan" ucap Ray

" b-baiklah.."

mereka kembali berjalan. kali ini Silvia berjalan di deretan paling belakang dan Ray berada diantara Monica dan Zayne. sedangkan Lily diurutan paling depan. ketika Ray merasa sudah dekat dengan pintu keluar, ia berhenti. tiba-tiba saja ia melesat dengan sangat cepat. ia memanggil Gan dalam wujud dragon sword dan melesat kebelakang Zayne. suara dentingan pedang terdengar nyaring. mereka semua terkejut dan mendadak berhenti.

" ada apa Ray?!" tanya Lily

" serangan?!" Zayne mulai pucat.

Ray berdiri dengan pedang dragon sword nya menghadap ke Silvia yg terlihat ketakutan dan agak panik.

" a-apa yg terjadi?" tanyanya

" Silvia..apa kau benar-benar petualang dari kota?" tanya Ray.

" a-apa maksudmu?..aku tak melakukan apapun" jawab Silvia.

" serigala berbulu domba adalah sebutan yg cocok untuk mu" ucap Ray. " kau mungkin bisa menipu teman-teman ku, tapi penampilanmu tak bisa menipu insting seorang pengguna roh.."

" Ray, apa maksudmu?" tanya Lily

" dia tidak melakukan apa-apa!" Zayne mencoba membela.

" Silvia adalah kenalanku..yg dikatakannya memang benar, dia seorang petualang dari kota Barelight...dia memiliki misi penting untuk melindungi desa kita.." jelas Ray." tapi dia menghilang tiga tahun yg lalu..dan tak ditemukan sampai sekarang

" dan sebagai tambahan, dia adalah bibiku..Silvia Meg, adik bungsu dari istri pamanku Yugo Rayvold"

tambah Ray.

" aku mengenalmu Ray"

" kalau begitu panggil nama belakang ku" ucap Ray. Silvia terdiam.

" Silvia yg kukenal tak pernah memanggilku 'Ray'..ia selalu memanggilku dengan nama belakangku.."

sekali lagi Silvia terdiam.

" kau bisa saja menipuku kalau kau bilang hilang ingatan...tapi kau terlanjur memanggil namaku..memangnya dari mana kau tahu namaku kalau kau hilang ingatan dan kita belum berkenalan?" jelas Ray. " lagi pula bukannya aneh kalau kau bisa ingat kejadian tiga tahun lalu tapi tak tau dikota mana kau tinggal?"

Silvia semakin terpojok.

" nah, kutanya sekali lagi.." ucap Ray." siapa kau sebenarnya?"

Silvia masih diam.

" oh, pertanyaan ku salah" ucap Ray " makhluk apa kau sebenarnya?"

" cih, merepotkan"

tiba-tiba saja Silvia menghilang. ia menyatu dalam kegelapan. tanpa disadari sesuatu melesat dengan cepat dan menembus perut Zayne. benda itu terlihat seperti tanda panah berwarna hitam keunguan. Zayne berteriak kesakitan. ekor tadi menarik tubuh Zayne keujung lorong dengan cepat. Zayne mengalami benturan serius. suara tawa seorang wanita terdengar melengking.

" Dasar bodoh!! jika ada manusia di dalam Dungeon ini bagaimana mana mungkin pintu itu akan terbuka!!!" teriak makhluk itu.

mereka terus mengejar Zayne terseret dilorong itu menuju ke ujung lorong. disana mereka melihat sesosok wanita iblis berdiri ditengah ruangan berbentuk kubus. gadis itu berwarna hitam bagaikan bayangan. tangannya penuh dengan kuku yg panjang dan tajam. giginya bergerigi seperti seorang pemangsa. dua buah ekor berbenah anak panah mencuat dari tulang ekornya. dan diujung salah satu ekor itu, Zayne menggantung tak bergerak.

" Zayne..Zayne!!" teriak Ray.

" R-Ray..pergi dari sini.." ucap Zayne terbata. ia mulai kehabisan darah. ia sekarat.

" tidak..tidak..tidak boleh ada yg terbunuh lagi disini..tidak ada lagi!!" teriak Ray. " Gan, Gin dragon sword !!!!"

" Ray tenanglah!!" teriak Lily.

" Ability Boost!"

Ray mulai melesat kearah makhluk aneh itu. amarah sudah menguasai otak dan pikirannya. ia sudah dikendalikan oleh amarahnya sendiri. gerakannya mulai terlihat tak beraturan. ia menyerang dengan membabi buta. monster itu cukup lincah untuk menghindari serangan tanpa pola Ray. ia tertawa terbahak-bahak menikmati pertarungan ini.

" kau sama seperti orang yg terakhir kali kumakan dulu... menyerang dengan membabi buta dipenuhi amarah walaupun tahu itu percuma" ucapnya " kau dan orang bernama Silvia itu memang mirip" ucap makhluk itu.

" berisik!!!"

Next chapter