'Haiss.. Aku akan membunuh mereka jika aku menemukan mereka lain kali' rutuk sipemudah dalam hati.
Namun bukan itu yang harus dia pikirkan sekarang, yang terpenting adalah bagaimana caranya agar dia bisa lolos dari bencana yang akan menimpa dirinya sebentar lagi.
"Ah..ah..." teriak si pemuda saat Rafael memelintir telinganya dengan cukup keras.
"Ampun... Ampun.. Aku tidak akan melakukannya lagi kakak!" si pemuda berusaha melepaskan telinganya dari tangan baja Rafael.
"Kakak?" ucap Indah bingung.
Jadi pemuda ini adalah adik Rafael? Pantas saja dia begitu berani, tapi sekarang sepertinya dia dalam masalah besar.
"Ah kakak lepaskan! Telingaku terasa akan lepas, ampuni aku kak!" berontak pemuda itu dengan susah payah, namun semua usahanya sia-sia.
Setelah beberapa saat, Rafael akhirnya melepaskan cengkraman tangannya di telinga si pemudah.
Pemuda itu adalah Linggar Pradianata, merupakan satu-satunya adik kandung Rafael.
Selama ini dia melakukan study di luar negeri, dan baru hari ini kembali. Setelah mendarat di bandara, dia memutuskan untuk mencari Kakanya dan memamerkan dirinya yang terlihat luar biasa menurutnya.
Siapa yang menyangka bahwa dirinya akan berakhir seperti ini.
Melihat adiknya yang tidak berjumpa cukup lama, membuat suhu dingin di sekitarnya mulai meredup.
"Kakak sungguh kejam, sudah lama tak berjumpa dan memperlakukanku seperti ini pada saat kita pertama kali bertemu?" ucap Linggar dengan wajah cemberut, dia seolah merasa telah di aniaya.
Namun Rafael hanya menatapnya dalam diam.
'Ck, pangeran es ini tidak berubah sedikitpun setelah sekian lama' pikir Linggar dalam hati.
Setelah melihat adiknya, Rafael lalu berencana untuk pergi. Pada saat dia akan membuka pintu mobil, Linggar tiba-tiba menghentikannya.
"Apa kakak ingin pergi begitu saja? Kau bahkan tidak menyambutku sedikitpun?" ucap Linggar tidak senang.
"Ah.. Siapa pria yang berada di dalam mobilmu?" Linggar terlihat sangat terkejut saat melihat Indah yang duduk di kursi penumpang.
"Kakak sungguh membiarkan orang asing masuk kedalam mobil?" Bukankah dia sangat tidak menyukai orang lain berada di sekitarnya, bahkan sampai membiarkannya duduk di kursi depan? Dan yang paling penting kakak mengemudikan mobil untuk orang lain. I..ini mustahil, apakah aku sedang nermimpi sekarang? Pikir Linggar sambil menutup mulutnya tak percaya.
Melihat ekspresi aneh di wajah adiknya, seolah mengatakan bahwa hal yang luar biasa telah terjadi, membuat alis Rafael berkerut tak senang.
"Kakak.. Jangan-jangan kamu... Isu itu apakah sungguh benar bahwa kamu.." Homoseksual? Linggar tak berani meneruskan perkataannya.
Meskipun Linggar tak meneruskan kalimatnya, namun Rafael sangat tau pasti apa yang dimaksud oleh adiknya.
Dengan ekspresi dingin, Rafael melirik ke arah Aldy yang berdiri di samping.
Setelah melihat Aldy mengangguk, Rafael lalu masuk ke dalam mobil dan menginjak pedal gas.
"Maafkan saya tuan muda!" ucap Aldy sopan, lalu setelah itu menggeledah seluruh tubuh Linggar dengan paksa.
"Hei apa yang kamu lakukan!" Linggar berusaha memberontak, namun usahanya sia-sia.
Aldy dengan mudah mengambil kunci mobil dan dompet dalam saku Linggar, setelah itu dia pergi meninggalkan Linggar yang meraung di belakangnya.
"Arrrgg kalian semua keterlaluan!" Linggar tak berdaya melihat mobil dan seluruh uangnya di bawa pergi, bagaimana dia harus pulang sekarang?
Kakaknya tidak berubah sedikitpun, dia masih saja sekejam dulu, bahkan terhadap adik satu-satunya. Bagaimana dia harus pulang sekarang? Semua uang dan kartunya sudah di sita, bahkan mobilnya pun di rampas darinya.
Saat Linggar mulai putus asa, tiba-tiba sebuah ide muncul di benaknya.
"Kakak tunggu aku, kali ini aku tidak akan diam saja di tindas olehmu!" pikir Linggar.
Linggar lalu mengeluarkan ponselnya dan mulai menghubungi seseorang.
"Aku butuh bantuanmu sekarang!" ucap Linggar setelah ponselnya terhubung.