Akhirnya tandu telah selesai di buat, gerembolan Rafael bersiap untuk pergi.
Kmitri yang saat ini berdiri di samping kepala suku, mulai berurai air mata.
"Adik Kmitri, setelah tidak bertemu beberapa tahun, sepertinya kamu telah berubah menjadi gadis yang cengeng!" ucap Reyhan menggoda.
Rupanya, Reyhan dan Kmitri adalah sahabat yang baik. Selama Reyhan tinggal di desa ini dahulu, Kmitri adalah gadis yang selalu menemaninya.
Mereka sudah seperti seorang saudara, apa lagi Reyhan sangat di senangi oleh para warga desa, terutama oleh ayah Kmitri.
Dahulu ayah Kmitri berusaha menjodohkan mereka, namun Kmitri telah mencintai pria lain sedangkan Reyhan tidak memiliki perasaan apapun terhadap Kmitri. Baginya Kmitri hanyalah seorang adik yang harus dia lindungi.
"Jangan bercanda, ini adalah air mata pertamaku sejak aku di lahirkan. Dan aku bersedih akan berpisah dengan temanku!" elak Kmitri. Dia sungguh benci jika di sebut sebagai gadis yang cengeng.
Setelah bertukar beberapa kata, Reyhan akhirnya memimpin perjalanan mereka untuk pulang.
Aldy sudah di angkat di atas tandu, wajahnya memerah karena malu. Dia merasa seperti seorang kaisar saat dirinya diangkat tinggi-tinggi oleh ke empat orang itu.
Sial..!! Apa yang kupikirkan, apakah aku sudah menjadi tidak waras karena sakit ini? Memikirkan dirinya menjadi seorang kaisar, sementara kaisar yang sesungguhnya berada tepat di belakangnya. Ck, dia sungguh cari mati, jika tuan tau apa yang dia pikirkan.... "...." dia tidak bisa menebak akibatnya.
Sebelum pergi, kepala suku berbicara untuk yang terakhir kali.
"Tenang saja! temanmu akan segera sembuh dari lukanya!"
"Dan untuk istrimu jagalah dia baik-baik!"
Mendengar kalimat 'Istrimu' dari mulut kepala suku, membuat suasana hati Rafael yang kelam beberapa saat yang lalu, menjadi sedikit melunak.
"Tentu saja!" Jawab Rafael dengan sungguh-sungguh.
dia lalu berjalan pergi, tapi belum jauh dia melangkah, kepala suku kembali berbicara dengan nada yang sedikit keras, agar dia bisa mendengarnya dengan jelas.
"Ingat! Jagalah kedua hartamu itu dengan baik!" teriak kepala suku.
Rafael hampir terjatuh saat mendengar ucapan kepala suku, dia tidak berminat untuk berbalik lagi dan melangkah lebih cepat.
'Sial... jika kepala suku mengatakan Indah adalah hartaku yang berharga, itu tidaklah masalah. Tapi kenapa dia harus mengatakan Aldy juga merupakan harta berhargaku? aku masih normal!' pikir Rafael kesal sambil melirik ke arah Aldy dengan tatapan dingin.
Aldy yang merasakan aura mencekam dari belakang, membuat bulu kuduknya berdiri.
'Oh tuhan, jangan bilang kalau tuan sudah mengetahui apa yang sudah aku pikirkan tadi?' hati aldy berdenyut sakit saat mengeluarkan air mata berdarah.
Tanpa Aldy tau, orang yang berbuat kesalahan bukanlah dirinya, tapi kepala suku yang berucap tidak jelas kepada tuannya.
"Kepala suku apa maksudmu?" tanya Kmitri bingung yang berdiri di samping kepala suku.
"Mengapa kamu mengatakan bahwa pria yang di atas tandu itu orang yang berharga baginya?" jika kepala suku mengatakan Indah orang yang berharga bagi pria itu, maka kepala suku itu akan terdengar masuk akal! Tapi kenapa pria di atas tandu itu juga? Kedengarannya sangat aneh.
"Siapa yang mengatakannya?" ucap kepala suku dengan ekspresi yang tidak kalah bingung.
"Barusan kamu mengatakan pada pria itu untuk menjaga kedua harta berharganya!"
"Benar, tapi aku tidak menyuruhnya untuk melindungi pria lain!"
"Jadi siapa orang yang satu lagi dari kedua itu?"
"Tentu saja anak mereka!"
"Ah.. Maksudmu....!"
"Ya.. istrinya sedang mengandung, mungkin baru memasuki bulan pertama!"
pikiran Kmitri melayang-layang, tiba-tiba sebuah pemahaman yang besar menerpa masuk ke kepalanya.
"Oh itu Bukil!" ucap Kmitri tiba-tiba.
"Bukil?" tanya kepala suku sekali lagi dengan ekspresi semakin bingung.
sebelumnya Indah memakan buah bukil, buah itu benar-benar sangat mirip dengan buah terbaik yang dimiliki oleh desa ini.
perbedaannya akan terlihat jelas, jika seseorang memperhatikannya dengan seksama.
Buah bukil hanya di makan oleh para ibu hamil, bagi seorang yang mengandung rasanya akan sangat enak.
Ciri khas lainnya yaitu menarik perhatian bagi ibu hamil yang melihatnya, bahkan akan memberikan rasa kecanduan.
Bagi orang lain yang tidak mengandung sama sekali, rasanya sangat buruk, seolah buah yang dimakan seperti bekas muntahan orang lain, atau bahkan lebih buruk.
Pantas saja Kmitri merasa seluruh isi perutnya berteriak untuk keluar saat memakan buah itu.