webnovel

Melumpuhkan

Di pinggir sungai, dua orang laki-laki dan seorang perempuan duduk dengan sebuah tongkat pancing di tangan mereka.

alat pancing yang mereka gunakan terlihat sangat sederhana, terbuat dari ranting kayu yang di poles hingga cukup kokoh untuk digunakan, dengan memanfaatkan umpan cacing untuk menarik perhatian ikan.

Vigor yang duduk di samping kiri menghembuskan nafas lega, mengingat kejadian sebelumnya membuat bulu kuduknya berdiri.

Vigor mencoba melirik ke samping kanan untuk mengintip ekspresi pria yang duduk tepat di sebelahnya, masih terbayang dengan jelas di benaknya, bagaimana cara pria itu menyelesaikan antek-antek Giordano.

Sebelumnya, satu jam yang lalu.

"Kau bertindak berlebihan! Toto tidak bermaksud untuk melukaimu! Dia hanya ingin mencoba mengukur kemampuan bertarungmu itu saja!" ucap Giordano dengan nada menuntut, dia bahkan mengeraskan suaranya untuk menarik perhatian lebih banyak lagi

"Kami tidak memiliki niat sedikitpun untuk melukai kalian dan bahkan memperlakukan kalian dengan hormat, tapi hanya karena masalah seperti ini, kamu sampai melukai Toto bahkan mematahkan tangannya!" sambung Giordano dengan ekspresi kecewa di wajahnya.

Bagaimanapun dia mencoba membuat Rafael semakin tersudut.

"Apa kau dengar itu? Orang asing ini menyerang warga desa hanya karena hal sepele!?"

"Apakah mereka pikir kita warga desa mudah di tindas begitu saja? Begitu sombong dan tak tau malu!"

"Kepala suku pasti salah menilai mereka sebagai orang yang baik, dan bahkan menganggap mereka sebagai tamu terhormat!"

"Bagaimanapun ini tidak bisa di biarkan begitu saja, kita harus memberi pelajaran kepada mereka! Kita juga harus memperjelas bahwa desa kita bukanlah tempat orang-orang yang lemah!"

"Hukum saja mereka, lalu kita usir dari desa! seorang pendatang yang tak tau diri seperri mereka tidak pantas menginjakkan kakinya di desa ini!"

"Benar sekali! hukum dan usir mereka!"

Beberapa warga desa mulai berkumpul di sekitar mereka, mendengar ungkapan provokatip dari Giordano memicu amarah mereka.

Giordano yang mendengar ketidak senangan dari setiap warga tersenyum licik, jika dia tidak bisa mengalahkan Rafael dengan cara adil, maka dia akan menyingkirkannya dengan rencana yang licik.

Indah yang mendengar cibiran dari warga desa menjadi sedikit bingung, dia tidak mengerti dengan bahasa yang mereka gunakan. Namun melihat ekspresi tidak senang dari setiap orang, Indah memahami bahwa mereka dalam suasana hati yang buruk.

Dan perasaan tidak senang itu jelas di arahkan ke arah dirinya dan Rafael, membuat dirinya gugup dan merasa was-was.

dia masih belum memahami dengan pasti bagimana sifat dari penduduk pribumi ini, jika mereka merasa tidak senang, bisa saja mereka akan melukai dirinya dan Rafael.

Vigor yang berdiri paling dekat dengan mereka berdua terlihat pucat, memandang ke arah Giordano yang berdiri di hadapan mereka.

Hanya segelintir orang yang tau bagaimana sifat Giordano yang sesungguhnya, dan Vigor merupakan sebagian kecil orang itu.

Vigor sangat tau, selain dari Nefertari yang memiliki sifat buruk dan tercela masih ada pria ini, yaitu Giordano.

Nefertari mungkin terkenal dengan sikapnya yang jahat dan kejam kepada siapa pun orang yang tidak dia senangi, namun berbeda dengan Giordano, meskipun dia terlihat memiliki kepribadian yang sopan dan baik, namun di balik itu sifat jahatnya tertutupi dengan sempurna.

Kata jahat atau kejam tidak cukup untuk menggambarkannya, lebih tepatnya dia adalah seorang maniak kekerasan, dimana dia akan menjadi lebih dari sekedar kejam untuk melukai siapapun yang mencoba melawannya.

Meskipun Nefertari kejam dalam setiap hal yang dia lakukan, namun dia akan menunjukkannya secara terang-terangan, berbeda dengan Giordano yang akan melancarkan aksinya di sisi kegelapan tanpa terdeteksi, bahkan tidak sedikit dirinya akan melakukan manipulasi kepada orang di sekitarnya untuk mengikuti keinginannya.

Vigor ingin melangkah maju untuk memberikan peringatan pada Rafael, namun, dengan tatapan tajam yang penuh niat membunuh dari Giordano di arahkan kepadanya, membuat langkahnya terhenti.

Vigor tak mampu melangkah lebih jauh lagi, dia hanya bisa berdoa di dalam hati, semoga Rafael dan Indah tidak akan terluka dalam rencana jahat Giordano.

Rafael yang berdiri di tengah-tengah kerumunan tidak merasa takut sedikitpun, ekspresinya masih terlihat datar dan dingin.

Rafael kembali menarik Indah dalam pelukannya, membuat tubuh Indah yang bergetar takut menjadi lebih tenang.

Memeluk dengan lembut dan menatap ke arah Indah dengan tatapan yang menenangkan.

Sekali lagi jantung Indah berdegup kencang, di situasi seperti ini, mengapa dirinya harus terpesona dengan keberadaan Rafael? Tatapan mata itu sungguh meruntuhkan pertahanannya yang kuat selama ini, membuat wajahnya merona merah.

Setelah menenangkan Indah, Rafael segera memalingkan wajahnya dan melihat ke arah Giordano dengan ekspresi dingin. Semakin memperdalam Indah dalam dekapannya dan memberikan aura mendominasi.

Tentu saja Rafael sangat mengetahui tujuan tersembunyi Giordano, sejak awal Giordano tidak akan mengalihkan pandangannya dari Indah di setiap kesempatan, dia bahkan ingin menjadi pemandu dan berada di sisi Indah setiap saat? Orang paling bodoh pun akan tau tujuan yang dia miliki.

Giordano yang melihat tatapan mendominasi Rafael merasa tertantang, tanpa sadar dia mengepalkan kedua tangannya dengan sangat keras, membuat urat-urat di sekitar lengannya terlihat jelas.

"Kamu harus menerima hukuman atas apa yang kamu lakukan!" ucap Giordano dengan gigi terkatup, mencoba menahan amarahnya sebisa mungkin, dia tidak akan membiarkan pria itu lepas dengan mudah.

"Kalian semua tangkap dia dan bawah ke wilayah hukuman!" perintah Giordano kepada antek-anteknya, dia tidak memperdulikan keberadaan warga desa yang lain, karena dia sudah mempengaruhi pemikiran mereka sebelumnya untuk berfikiran negatif terhadap Rafael.

Semua orang hanya menyaksikan antek-antek Giordano menyerang ke arah Rafael. Mereka tidak berencana untuk menghentikan serangan itu, karena menurut mereka Rafael pantas mendapatkannya.

Giordano menjadi semakin tidak sabar untuk melihat kehancuran Rafael, mengalahkan satu orang mungkin mudah baginya, namun jika menghadapi tujuh orang sekaligus, dia tidak akan mampu!

Namun sebelum dirinya berpuas diri, raungan kesakitan menggema satu persatu di antara bawahannya.

"Arggh..!" "Ughh!"

Dengan mata melotot Giordano mundur selangkah.

"I...ini tidak mungkin! Ba..bagaimana bisa kamu..." menjatuhkan ketujuh orang yang memiliki kemampuan bela diri di atas rata-rata tidak cukup dalam satu menit!

Tidak hanya Giordano, bahkan Vigor dan semua orang yang melihat bergidik ngeri dengan serangan mematiakan Rafael.

Setelah menjauhkan Indah beberapa langkah, Rafael tidak membuang waktu dan menghajar ketujuh orang itu dengan sekali serangan yang melumpuhkan.

Dia sadar, jika dia tidak menyelesaikan masalah ini dengan kejam, maka mereka akan terus mencari masalah kedepannya.

Untung saja tidak lama setelah itu, kepala suku tiba-tiba muncul dan menghentikan perkelahian.

Kepala suku meminta maaf kepada Rafael dan Indah atas penyerangan warga desanya.

Sementara Giordano dan antek-anteknya, mendapatkan hukuman dan teguran yang keras dari kepala suku.

Tentu saja, kepala suku mengenal kepribadian Giordano yang buruk, jadi tidak sulit untuk menentukan siapa yang mencari masalah terlebih dahulu.

Sekali lagi Vigor kembali melirik ke samping kanan untuk mengintip ekspresi pria yang duduk tepat di sebelahnya, masih terbayang dengan jelas di benaknya, bagaimana cara pria itu melumpuhkan gerombolan antek-antek Giordano dengan sangat mudah.

Bahkan tak satupun di antara mereka yang tak mengalami cedera patah tulang.

Next chapter