"Ibunda mencariku?" pria paruh baya itu mulai berbicara.
Sekarang dia berada di ruang pribadi tetua yang memegang posisi yang paling penting di keluarga nippi, semua barang-barang yang terlihat di dalam ruangan tidak terlihat glamor.
Namun jika seorang ahli memperhatikan nya, setiap aset yang berada di ruangan itu merupakan barang yang sangat berharga. Sehingga untuk biaya perawatan nya saja akan menghabiskan beberapa puluhan juta.
Susunannya juga terlihat sangat teratur dan elegan, siapa saja yang melihatnya akan tau bahwa ruangan ini hanya di khususkan kepadansleorang bangsawan sejati.
"Kemari lah Adryan! Sudah cukup lama Ibunda tak melihatmu, terakhir kali adalah ketika acara ulang tahun Lia." ucap seorang perempuan tua yang duduk di depan meja hiasnya.
Lia adalah anak dari pria paruh baya yang sedang berjalan ke arah perempuan tua itu.
Usia lerempuan paruh bayah itu sebenarnya sudah sangat tua, namun karena perawatan yang rutin dan teratur membuatnya terlihat lebih mudah dari usianya yang sebenarnya.
Setiap gerak geriknya memberikan kesan yang sangat anggun dan beribawa. Adryan kini duduk di samping perempuan tua yang cantik itu.
"Aku dengar akhir-akhir ini kamu jarang berada di perusahaan, apakah kamu mengurus sesuatu hal lain yang sangat penting?" tanya nyonya tua dengan suara yang lembut.
"Ibunda terlalu banyak berfikir, bukannya dengan berada di luar perusahaan bukan berarti aku tak memperhatikan kondisi perusahaan. Namun aku mencoba membiarkan Lia untuk belajar mengelolah perusahaan secara mandiri!" jawab Adryan.
"Huh.. Jika begitu kasusnya aku cukup prihatin dengan tanggung jawab yang harus di pegang Lia, di usianya yang sangat muda dia harus membawa sebuah tanggung jawab yang besar di pundaknya. Jika saja kamu memiliki seorang putra, mungkin kita tidak akan mendapati kesusahan seperti ini." desah nyonya tua prihatin.
Lia adalah putri tertua dari Adryan, dia baru berusia 16 tahun bahkan belum menginjak bangku kuliahan. Lia telah di didik dengan sangat disiplin, membuatnya tak memiliki kehidupan layaknya seorang remaja putri yang normal.
Perusahan Kejayaan Nippi tidak memiliki seorang putra untuk di jadikan sebagai ahli waris, maka sebagai putri tertua Lia telah di nobatkan sebagai ahli waris.
"Bukan kah Ibunda juga adalah perempuan pertama yang menjadi penerus perusahaan? mengapa ibunda begitu khawatir?" tanya Adryan.
"Justru karena aku perna mengalaminya, maka aku tau benar cobaan berat apa saja yang akan dia hadapi kedepannya!" ujar nyonya tua.
"Apakah Ibunda meragukan kemampuan lia?"
"Bukan seperti itu, ah lupakan saja! Sebenarnya ada hal lain yang ingin kubicarakan dengan mu!"
___Hari ketiga Demian berada di rumah Rafael. Sejak di malam pertemuan pertama antara Indah dan Demian, Demian berusaha segala cara dan alasan untuk mendekati Indah.
Membuat Indah malas untuk keluar dari dalam kamarnya. Setelah mendapat sedikit kebebasan di rumah ini, sosok pria tidak menyenangkan muncul dan menghancurkan semuanya.
Kini dia merasa kembali ke awal dan terkurung di kamar ini, hal itu membuatnya sedikit frustasi.
Tok..tok..tok..
Suara ketukan pintu terdengar, membuat Indah tersadar dan berbalik ke arah pintu.
Pintu perlahan terbuka dan memperlihatkan sosok pria tampan yang sangat menawan. Dengan posisi kepalanya yang di sodorkan terlebih dahulu Demian bertanya.
"Bolehka aku masuk ke dal...!" sebelum dia menyelesaikan kalimatnya, sebuah bantal melesat dan mendarat dengan sempurna tepat di wajahnya.
"Jangan coba kau masuk! selangkah saja kaki mu melangkah ke dalam kamar ini, aku akan memanggil bagian keamanan!" ancam Indah.
Namun sepertinya Demian tidak menggubris perkataan Indah, secara perlahan dia membuka pintu dan masuk ke dalam kamar.
Indah lalu melotot marah ke arah Demian, bukankah aku sudah memperingatkan? orang gila ini mengapa tidak mendengar perkataanku?" kutuk Indah dalam hati.
"Berhenti di situ! apakah kau tidak mengerti bahasa manusia? aku melarang mu masuk!" ucap Indah jengkel.
Demian masih tetap melangkah maju, lalu duduk di tepian kasur di samping Indah.
"Apakah kamu tidak bisa memberiku kesempatan? aku benar-benar tulus mengejarmu!" ucap Demian to the point.
Demian memandang Indah Dengan ekspresi yang sangat teguh, tatapan matanya memancarkan rasa ingin di terima dan di sayangi.
"Ada apa dengan tatapan mata itu? apakah sekarang dia berubah menjadi sosok anak anjing yang di telantarkan?" ucap Indah dalam hati.
"Itu...." Indah memalingkan wajahnya tak sanggup melihat kedua mata itu yang berbinar-binar, layaknya mata seorang bocah kecil yang meminta sebuah permen padanya.
"Aku tidak bisa." lanjut Indah.
"Mengapa?" ucap Demian dengan suara serak yang terdengar kasihan.
"Aku...aku sudah mempunyai orang yang kusuka!" elak Indah. Berbohong untuk kebaikan tidak akan menjadi dosa bukan? Indah menghibur dirinya sendiri dan lanjut berucap.
"Aku sudah menyukai orang lain sejak dulu, jadi aku tidak bisa menyukaimu! aku sangat mencintai dia!" kini Indah berbalik menatap ke arah Demian, mencoba meyakinkan Demian.
Mendengar kata "Dia" dari mulut Indah membuat dadanya sesak.
"Apakah pria itu juga menyukaimu?"
"Te..tentu saja!" jawab Indah gugup.
"Lalu di mana dia sekarang?"
Dari arah pintu, sepasang mata elang memperhatikan kedua sejoli dari depan pintu.
Rafael yang semula berangkat ke kantor berbalik arah dan kembali ke rumah, dia melupakan berkas penting di ruang kerjanya.
Namun tak di sangka, saat Rafael berjalan melewati kamar Indah yang terbuka, dia melihat Demian yang duduk cukup dekat dengan Indah.
Dia tak bisa melangkah kan kakinya dan berhenti melangkah detik itu juga, tiba-tiba aura yang sangat mencekam mulai terpancar dari tubuhnya.
Ekspresi seekor anak anjing yang kasian di wajah Demian terlihat berbeda di mata Rafael, dia melihat seolah Demian memancarkan pesona terbaiknya di hadapan Indah.
Lalu apa-apaan ekspresi Indah yang canggung itu, apa dia sedang terlihat malu sekarang? pikir Rafael.
Rafael kembali mengingat tatapan Demian di malam itu, tatapan lembut dan seperti mengandung sebuah rencana setelah meninggalkan mereka berdua.
Tanpa sadar Rafael mengepalkan ke dua tangannya, dan berlalu.